SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 54


__ADS_3

Dila memutuskan tidak akan menunggu lebih lama untuk membujuk Mario. Ia ingin melihat Mario hidup apapun alasannya. Dila menelepon Mario. Namun setelah tiga kali ditelepon, Mario tidak juga mengangkatnya. Sesampainya di Sky, Dila menuju kamar Mario. Ia ingat Mario menyebutnya kemarin kamar 1212 dengan view pantai. Dila menekan bel. Tiga kali ia membunyikannya hingga akhirnya pintu itu terbuka. Mario muncul dengan muka pucat dan rambut yang berantakan. Kaosnya basah oleh keringat. Ia terlihat kaget dengan kedatangan Dila, tapi Mario seolah tidak memiliki tenaga untuk mengatakan apapun.


"Astaga Mario. Kamu kenapa?" Dila memapah Mario ke ranjangnya.


"Aku tidak apa-apa." jawab Mario. Ia baru saja menelan obat penghilang sakitnya. Begitulah Mario melewati hidupnya. Ia masuk ke kamar mandi untuk mengganti kaosnya yang basah.


"Kamu kenapa bisa ke sini Dila? Mana Richie?" tanya Mario.


"Aku sendirian. Maaf, aku mengganggumu. Tadi aku meneleponmu tapi tidak kamu angkat." Mario mendengarnya, namun sakit yang dirasakannya tadi membuatnya tidak bisa berpikir selain mengambil obat di dalam lacinya.


"Tidak mengganggu kok. Aku senang melihatmu. Katakan. Ada yang bisa aku bantu?" Mario tersenyum. Dila mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Buku biru. Mario tidak mengenalnya di awal. Ia mengambilnya dari tangan Dila.


"Dari mana kamu dapat ini?" tanyanya.


"Dari mamamu. Aku..sudah membacanya tadi. Maaf. Mario, aku mohon. Ikuti keinginan mamamu. Operasi adalah jalan terbaik." Mario menundukkan kepalanya. Ia tidak mau Dila mengasihaninya. Terlebih sekarang Dila mengetahui perasaannya yang sudah ada sejak lama. Ia ingin Dila mengetahui itu, tapi bukan begini jalannya. Mario merasakan wajahnya yang diangkat Dila.


"Lihat aku. Aku ingin kamu bisa tetap hidup Mario. Hidupmu terlalu berharga. Terima kasih untuk semua perasaanmu padaku. Walaupun itu hanya masa lalu tapi aku sangat menghargainya. Sungguh." Dila membelai wajah Mario. Mario memegang tangannya.


"Itu bukan hanya masa lalu Dila. Aku masih mencintaimu hingga sekarang." Dila terkejut dengan apa yang diucapkan Mario. Ia mencoba menarik tangannya, namun Mario malah mempererat pegangannya.


"Mario. Aku..juga sempat menyukaimu dulu. Aku mengatakan ini karena kamu juga sudah jujur dengan perasaanmu. Aku tidak pernah mengatakan perasaanku karena aku pikir aku tidak pantas untukmu. Tapi sekarang aku sudah menikah. Aku mencintai suamiku. Mungkin Tuhan sudah mengatur semuanya. Jangan pernah kita sesali. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah melakukan operasi. Hidupmu masih panjang. Mungkin Tuhan sudah mengatur jodoh terbaik untukmu." Dila memohon kepada Mario.


"Iya, jika berhasil. Jika tidak, aku akan mati di meja operasi." Mario berkata tanpa ekspresi. Pandangannya kosong.


"Dila, apakah kamu mau melakukan sesuatu jika aku bersedia dioperasi?" tanya Mario.


"Katakan, aku akan melakukannya jika itu bisa mengubah pikiranmu." jawab Dila.


"Jadi kekasihku selama satu minggu. Setidaknya jika aku mati, aku akan mati tanpa penyesalan." Dila terdiam mendengar permintaan Mario. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Menjawab iya, tapi ia memiliki suami, setidaknya Richie harus mengizinkannya. Menjawab tidak, tapi ia berharap Mario mau dioperasi. Dila bingung. Mario membelai wajahnya.


"Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Maaf kalau aku terkesan memaksamu. Tapi hanya itu yang bisa membuatku berubah pikiran. Tolong jangan melihatku dengan kasihan. Aku masih seperti Mario yang dulu." Mario tersenyum walau Dila tahu ia sedang menahan sakit kepalanya yang amat sangat. Wajah pucatnya tidak bisa berbohong.


*****


Richie menunggu Dila pulang di ruang tamu sambil menonton film. Sesekali ia melihat ponselnya. Dila tidak membalas pesannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Suara mobil terparkir di luar terdengar oleh Richie. Ia membuka pintu. Dila masuk, tampak lemas.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa sayang? Kemana saja? Kok tidak balas pesanku?" tanya Richie. Ia mengambil tas Dila dan membawanya ke kamar karena Dila langsung menuju ke sana.


"Kamu ada chat?" Dila memeriksa ponselnya.


"Astaga. Silent sayang. Mungkin terpencet. Maaf ya." Dila tidak tahu bagaimana menjelaskan hari panjangnya ke Richie.


"Kamu kemana tadi? Kok lama?" tanya Richie lagi.


"Mandi dulu yuk. Berdua. Aku ingin berbaring setelah mandi." Richie tersenyum nakal ke Dila. Berharap apa yang ada di pikiran istrinya sama dengan apa yang ia pikirkan.


"Kita berendam di bathtub ya." Richie memeluk Dila dari belakang dan mendorongnya masuk ke kamar mandi.


Begitulah mereka melepaskan penat untuk hari yang berat. Dila membutuhkan Richie untuk membuatnya tenang. Setidaknya ia merasa lebih siap sekarang untuk menceritakan semuanya kepada Richie.


"Kamu belum jawab tadi kemana." Tiga kali Richie menanyakan hal yang sama. Ya, Dila merasa inilah saatnya. Ia mengambil bantal guling kesayangannya, mencoba mencari benteng perlindungannya.


"Aku bertemu mamanya Mario. Ia meneleponku kemarin." Richie terdiam. Ia meletakkan ponselnya dan menoleh ke Dila.


"Mama Mario cari kamu? Aku tidak salah dengar?"


"Dia meminta bantuanku untuk membujuk Mario. Mario harus dioperasi karena ia memiliki tumor di otaknya." kata Dila.


"Astaga Rio. Aku tidak pernah melihatnya sakit selama ini. Lalu apa hubungannya denganmu?" tanya Richie lagi.


"Rio tidak mau dioperasi karena ia takut jika mati di meja operasi. Ia takut menyesal. Namun kata dokter ia tidak akan bertahan lebih lama lagi jika tidak dioperasi. Mamanya meminta aku untuk membujuk Mario." jawab Dila.


"Iya aku tahu kamu diminta untuk membujuk Rio. Tapi kenapa kamu?" Richie merasa Dila belum menjawab pertanyaannya.


"Karena..karena mamanya menemukan buku harian Mario zaman dulu. Di sana tertulis jika ia menyukaiku saat kuliah. Dan mamanya menebak jika Mario masih menyukaiku sekarang." Dila takut melihat reaksi Richie.


"Tuh kan. Benar kan apa yang aku rasakan selama ini? Aku sudah bisa melihatnya sayang. Rio menyukaimu." Richie berdiri dari posisi berbaringnya.


"Tunggu. Aku mau bertanya tentang ini sudah sangat lama. Kamu pernah bilang dulu suka sama teman Jeno kan. Apa dia Rio?" Pertanyaan Richie barusan membuat Dila tidak bisa menjawab.


"Waahh...Ternyata sepasang cinta pertama bertemu kembali. Bodoh sekali aku tidak menyadarinya."

__ADS_1


"Sayang, itu zaman aku kuliah dulu. Aku saja tidak tahu kalau dia menyukaiku. Baru tadi aku tahu. Sumpah. Lagian kenapa kalau aku dulu suka dengannya? Memangnya aku bukan wanita normal? Lalu perasaanmu ke Airin juga dosa?" Giliran Richie yang terdiam. Emosinya menurun karena takut Dila yang menjadi emosi. Demi kesehatan istri dan anaknya.


"Ok. Maaf. Jadi apa kamu berhasil membujuk Rio?" tanya Richie.


"Aku tadi menemuinya di Sky. Keadaannya sangat buruk sayang. Aku melihatnya sedang kesakitan hingga pucat. Mengerikan."


"Kamu menemuinya di Sky sendirian tanpa aku?" Sabar Richie. Demi anakmu.


"Iya. Tapi aku tidak mungkin mengajakmu ke sana."


"Hasilnya?"


"Ia mau dioperasi tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


"Dia ingin aku menjadi kekasihnya untuk satu minggu."


"Haaahhhh? Gila!! Benar-benar gila!!" Richie berkacak pinggang. Teriakannya menggema di seluruh rumah.


"Sayang, sabar donk. Dengar dulu. Katanya, jika dia meninggal saat operasi, setidaknya ia meninggal tanpa penyesalan." kata Dila.


"Lalu? Kalau dia tidak meninggal? Dia mau kejar kamu lagi?" Suara Richie masih setinggi tadi.


"Huss..Kamu doain dia meninggal? Richie, ini demi nyawa seseorang. Tolong kamu berpikir dengan kepala dingin."


"Bukan aku mengharapkan dia meninggal. Tapi ini tidak masuk akal Dila. Kamu memikirkan dia, tapi kamu pikirin aku ga? Adil ga untuk aku?"


"Aku bukan membelanya sayang. Aku milik kamu untuk selamanya. Jiwa dan raga aku cuma milik kamu. Apa tidak bisa kita mengesampingkan ego kita untuk membantunya? Aku juga berharap ia memiliki syarat dan keinginan yang lain. Tapi aku bisa apa jika ia menginginkan itu?"


"Kamu bisa tolak sayang. Atau kamu juga menginginkan kencan dengannya?" Richie menatap mata Dila tajam.


"Ya Tuhan. Kalau kamu tidak setuju, OK fine. Tapi jangan berpikiran macam-macam tentangku. Aku tidak akan menerima syarat itu kalau kamu tidak mengizinkannya. Aku mau tidur. Case closed." Dila mengambil posisi tidur, meninggalkan Richie yang masih berdiri menahan emosinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2