SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 14


__ADS_3

Richie terjebak dengan mama Desy yang siang tadi datang ke rumahnya bersama Hannah.


"Richie, apa benar yang Hannah katakan? Kamu mau putus?" tanya mamanya sambil duduk di ruang tamu rumah Richie. Richie melihat ke arah Hannah yang tertunduk.


"Iya Ma. Dan Mama ngapain sengaja ke Jogja cuma buat ini?" tanya Richie. Ia tahu sifat mamanya yang tidak mungkin menerima keputusannya begitu saja. Tapi ke Jogja cuma gara-gara ini kan tidak masuk akal? Apa tidak bisa telepon saja?


"Cuma buat ini kamu bilang? Dua tahun kalian pacaran dan putus begitu saja? Mama bahkan sudah berencana mempersiapkan pernikahan kalian." suara mama Desy meninggi.


"Cukup Ma. Richie tidak mau bertengkar dengan Mama karena masalah ini. Kami berdua bisa menyelesaikannya sendiri." Richie berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak menyangka Hannah akan meminta bantuan mamanya.


"Apanya yang bisa diselesaikan? Mama ga mau tahu, pokoknya kalian harus menikah."


"Mama, sudah donk. Dulu Richie mengorbankan perasaan Richie ke Airin demi Mama, dan sekarang apa lagi Ma? Harus menikah dengan Hannah? Richie merasa tidak ada kewajiban untuk menikahi Hannah hanya karena pacaran dua tahun." Richie langsung emosi mendengar permintaan mamanya itu. Hannah hanya menunduk sambil menangis mendengar apa yang diucapkan Richie. Hancur sudah kepercayaan dirinya selama ini. Ia tidak ada pilihan lain lagi selain meminta bantuan mama Richie. Dan sekarang ia hanya mempermalukan dirinya sendiri.


Richie merasa mood nya hancur karena ulah mama dan Hannah yang mendadak muncul di rumahnya. Ia ingat sekali dulu ketika ia sangat ingin memperjuangkan Airin, ia terpaksa mengalah demi mamanya yang memiliki penyakit jantung. Tapi sekarang ia tidak ingin mengalah lagi dan terjebak dalam pernikahan dengan Hannah. Ia ingin menikah dengan wanita yang dicintainya. Yang membuatnya bersemangat di setiap waktu. Seperti ia yang selalu menunggu Suara Cinta setiap malam, dan akan merindukannya di hari Sabtu. Ya, ia ingin wanita yang membuat jantungnya berdebar, tubuhnya bergetar, dan yang membuat Richie ingin terus menyentuhnya dan disentuhnya. Dan lagi-lagi ia mengingat Dila yang menyentuh lehernya. Seakan darah dari leher bergerak cepat ke jantungnya dan berhenti sekitar tiga empat detik hingga ia mengalir kembali. Ia menjauhkan ingatan itu, mungkin itu semua hanya kebetulan.


Richie menelepon Rena bertanya apakah acara Radio Future berjalan lancar dan jam berapa besok mereka check out.


"Jeno bilang mereka akan bubar setelah makan siang, mungkin sekitar jam 1." jawab Rena.


"Jeno di sana bagian apa Ren?"


"Dia yang punya Future Pak, tapi dia juga penyiar di sana."


"Ooo..Terus ada yang namanya Cinta ga di sana?" tanya Richie penasaran.


"Ada. Tapi saya ga lihat mukanya Pak, dia pakai masker terus. Katanya sih sedang flu. Bapak kenal?"


"Oh ga kenal kok. Cuma pernah denger aja. Makasih ya." jawab Richie.

__ADS_1


'Ooo Jeno itu yang punya. Pantesan gayanya selangit. Sayang sekali aku belum bisa bertemu Cinta hari ini. Tapi kalau sudah ketemu, mau bilang aku penggemar juga malu. Apalagi kalau konsultasi masalah Hannah? Kayaknya tidak mungkin, Hannah itu kan artis.' Richie bermonolog dalam hati. Besok ia akan mengantar mamanya dan Hannah ke bandara. Lalu Richie berencana akan ke menuju Sky.


*****


Dila terbangun karena lambungnya perih. Ia merasa asam lambungnya naik. 'Ini pasti karena aku tidak makan malam semalam.' Dila meminum segelas air hangat berharap itu dapat menyembuhkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiam dan istirahat di kamar. Dila menelepon Jeno untuk meminta izin. Tidak berapa lama, Jeno ke kamarnya.


"Cinta, makan obat ini ya. Tadi aku minta sama Rena. Kamu ga apa-apa sendiri?" tanyanya.


"Ga apa-apa Kak, makasih ya obatnya." Dila tersenyum.


"Senang bisa melihat senyumanmu tanpa masker." Jeno memeluknya. Dila tidak bereaksi apapun sampai Jeno meninggalkannya.


'Apa-apaan tadi?' Dila tidak terlalu menghiraukannya. Ia meminum obat lambung yang dibawa Jeno, lalu tertidur.


Richie terburu-buru menuju Sky Escape. Ia sudah merasa sangat telat untuk bertemu dengan tim dari Future, terutama Cinta. Ini semua karena penerbangan mamanya yang delay, sehingga Richie terpaksa menemani mereka makan siang dulu. Richie memarkirkan mobilnya. Saat turun ia melihat seorang wanita yang sepertinya ia kenal akan masuk ke mobil bersama seorang pria. Dila? Itu benar Dila. Mau apa dia di sini dengan seorang pria? Richie merasa ada sesuatu yang menonjok perutnya. Ia tidak tahan jika tidak memanggilnya.


"Dila!!" teriaknya. Sepasang pria dan wanita itu menoleh, terkejut seakan terpergok sedang selingkuh. Dila menganga. Richie sekarang sudah berada di depannya.


"Aku Jeno, pacarnya. Anda siapa?" jawab Jeno tanpa mengetahui siapa sosok di depannya. Ia memeluk pundak Dila. Ia hanya merasa ingin mendahului pria itu. Dila menatap Jeno tanpa bisa berkata apapun. 'Beraninya dia'.


"Jeno Radio Future? Pacar Dila? Benar itu Dila?" Richie ingin mendengarnya langsung dari Dila.


"Ti..tidak lah. Bukan. Kak Jeno apa-apaan sih?" Dila memelototi Jeno.


"Terus ngapain kalian di sini? Dila ikut aku." Richie menarik tangan Dila. Namun Jeno menarik tangan Dila yang satu lagi.


"Dia akan pulang denganku. Lagian kamu siapa sih?" tanya Jeno kesal dengan sikap pria itu.


"Aku Richie, atasannya di kantor." Jeno mengingat nama itu. Cinta pernah menceritakan soal pekerjaan dan atasannya yang memiliki Hotel Sky Escape ini.

__ADS_1


"Terus kenapa atasannya melarang kami pulang berdua?" Jeno seakan menantang Richie yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


"Masuk Dila, kita pulang." Jeno memaksa Dila masuk ke mobilnya meninggalkan Richie yang masih berdiri di sana.


"Hampir saja aku panggil kamu Cinta. Dia tidak tahu nama lain kamu kan." Dila menggeleng. Ia masih terkejut dan bingung dengan kejadian barusan.


'Mengapa Pak Richie tahu Kak Jeno dari Radio Future? Untung saja teman-teman yang lain sudah pada pulang sehingga tidak ada yang memanggilku Cinta. Kalau terdengar Pak Richie pasti dia curiga mengapa namaku Cinta.' Dila termenung.


"Lambung kamu masih sakit? Perlu Kak Jeno antar ke dokter?" Pertanyaan Jeno dijawab oleh mata Dila yang melotot tajam ke arahnya.


"Kok melotot gitu matanya?" ujar Jeno yang pura-pura takut sambil menyetir.


"Kak Jeno ngapain ngomong aku pacarnya Kakak?"


"Lah, memangnya Kak Jeno harus bilang kamu karyawan Kakak? Cinta bilang ga boleh ketahuan double job."


"Iya juga sih. Napa ga bilang aku salah satu penggemar?" tanya Dila lagi.


"Nanti dia tanya Rena gimana? Rena, Dila salah satu penggemar ya? Rena jawab bukan. Gimana coba?"


'Benar juga sih.' Dila menganggap alasan Jeno sangat masuk akal.


"Aku turun di depan saja Kak, jadi Kak Jeno ga usah putar."


"Yakin?" Dila mengangguk.


"Hati-hati ya, cepat sembuh. Kalau besok kamu ga siaran, Kak Jeno yang ribet hahaha.. bye."


Benar saja, Richie langsung memastikan ke Rena apakah Dila menginap di sana. Rena yang tidak mengetahui nama lengkap Dila langsung menjawab "Tidak". Berarti Dila sengaja ke Sky untuk bertemu Jeno. Richie uring-uringan di rumahnya. Jangankan bertemu Cinta, ia malah memergoki Dila berpacaran dengan Jeno. Ternyata itu yang namanya Jeno. Richie tadinya kesal dengan kedekatan Jeno dan Cinta di siaran radio. Sekarang ia malah bertambah kesal dengan Jeno yang...berani-beraninya ia merangkul Dila.

__ADS_1


Richie tidak jelas dengan alasannya marah-marah. Ia hanya tidak suka melihat kedekatan mereka. Seperti Richie juga tidak suka melihat kedekatan Dila dengan Chris. Tidak boleh ada yang dekat dengan Dila selain...dirinya. Apakah dia cemburu? Tidak mungkin. Richie mencoba menyangkalnya. Jadi apa alasannya? Richie ingin mencari jawaban lain. Namun ia belum menemukannya, selain cemburu dan cemburu.


*****


__ADS_2