SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 7


__ADS_3

Dila menunggu Richie di ruang tunggu. Boarding pass sudah ada di tangannya. Dila sangat bersemangat. Ia memakai sepatu high heels baru, hanya 5 cm, tapi dengan heels kecil. Ia juga membeli celana semi jeans hitam panjang, agar terkesan formal namun tetap casual. Dan satu lagi, blus putih cantik yang ia dapat di keranjang diskon. Dila terlihat cantik dan sedikit berbeda. Ya kapan lagi dia bisa ke Bali, GRATIS. Setidaknya ia harus bisa mengabadikan fotonya di Bali dengan baju yang tidak lusuh. Tidak berapa lama Richie datang dengan mengenakan kacamata hitam. Jangankan para wanita, para pria di bandara pun menatapnya iri. Inilah salah satu alasan Dila menyukai pekerjaannya. Walaupun ia tahu, bahwa dirinya dan Richie bagai bumi dan langit. Dila bahkan tidak berani berpikir untuk mencintainya, hanya sebatas mengagumi. Itulah batas yang sudah dipatok oleh Dila. Untuk apa mencintai jika sudah tahu pasti tidak akan memiliki. Sakit pastinya.


Sudah lama Dila tidak naik pesawat. Terakhir saat ia mewakili kampusnya lomba Manajemen di Jakarta. Dan dulu sekali saat ia masih kecil, saat Vio masih bayi, Dila ingat pernah liburan dengan orang tuanya naik pesawat. Namun ia lupa ke mana, kenangan itu begitu indah namun pahit untuk dikenangnya.


Sesampainya di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali, mereka dijemput oleh mobil beserta driver yang sudah disewa oleh Dila untuk dua hari.


"Kita langsung aja ya Dila, kamu belum lapar kan?" Richie bertanya dan tentu saja Dila akan menjawab...


"Belum Pak." Dila bersyukur ia masih sempat sarapan di rumah.


"Kalau lapar ngomong ya." Buseet..tumben baik, tersambar apa bos aku kemarin.


"Iya Pak." Dila duduk sendiri di kursi belakang. Richie memilih untuk duduk di depan sebelah Pak Made yang menjadi driver mereka hari itu.


Mereka langsung menuju ke pusat pahatan Bali, tempat Richie memesan patungnya. Ia mengecek dengan seksama setiap sudut patung yang berukuran dua setengah meter itu. Richie juga memilih banyak pajangan untuk lobby dan beberapa sudut ruangan untuk hotelnya. Dila takjub melihat selera Richie, dia tidak menilai dari harga, namun dari nilai artistik dan tentu saja sesuai dengan konsep klasik modern yang dipilih Richie sejak pertama. Mereka menghabiskan waktu tiga jam di sana. Dila menerima invoice pemesanan barang. Ia sangat shock melihat nominal yang tertera di sana. 'Berapa orang yang nginep baru bisa balik modal beli pajangan?'  tanyanya dalam hati.


"Tu mulut ditutup, nanti lalat masuk!" Richie geli melihat mulut Dila yang menganga sambil menatap kertas yang dipegangnya.


Mereka berjalan di sepanjang jalan Pantai Kuta untuk mencari makanan. Mobil sudah terparkir di ujung. Richie memilih untuk berjalan kaki.


'Waduh, ni sepatu sakit banget. Harga juga ga murah-murah banget sudah diskon 70 persen. Mana si Bos jalan cepet banget pula.' Dila berjalan sambil menahan lecet di belakang kakinya dan kelingking kakinya, mencoba mengejar bos nya. Akhirnya Dila sudah tidak tahan, ia cepat menarik lengan jaket Richie. Richie yang kaget pun langsung menoleh ke belakang.


"Napa Dila? Kelaperan?" tanyanya panik ketika melihat Dila yang tertunduk. Dila menunduk mencopot kedua sepatunya. Dilihatnya kelingkingnya yang sudah sangat merah, belum lagi belakang kakinya yang terluka. Perih yang ia rasakan sudah mengalahkan rasa malunya sekarang. Ia tidak peduli lagi.


"Maaf Pak, kaki saya lecet." Dila langsung merasa begitu pendek di depan Richie tanpa sepatunya.


"Kamu sih pakai sepatu baru high heels gitu." Richie tertawa.


"Bapak tahu baru dari mana?" tanya Dila heran.


"Ya saya tahulah, tiap hari kamu kerja pakai sepatu apa. Mana ada size tag masih nempel di belakang sepatu kamu yang kiri hahaha..." Sudah Dila. Mukamu tidak dapat diselamatkan lagi. Pasrah saja.

__ADS_1


"Ya uda, tunggu bentar di sini." Richie meninggalkan Dila, menyeberang jalan, dan menghampiri seorang penjual souvenir. Ia membeli sepasang sandal jepit.


"Pakai ini dulu." Richie memberikannya kepada Dila. Dila terharu melihat kebaikan Richie. Jika saja ia tidak tahu batasnya, pasti ia akan jatuh cinta.


'Sadar Dila, ia pasti melakukan hal yang sama kepada semua orang dalam kondisi seperti ini.' hati kecilnya seakan mengingatkannya.


"Makasih Pak." Dila memakai sandal itu. Nyamannya memakai sandal. Ia merasa bodoh mengikuti filosofi "beauty is pain".


"Pegang ujung jaketku saja biar ga ketinggalan. Nanti kamu hilang di sini aku harus cerita apa ke orang tuamu?"


'Stop Pak Richie..Stoppp...Don't do something sweet like that.' tapi sekali ini ego Dila berhasil mengalahkan logikanya. Ia memegang ujung jaket Richie. Sebenarnya jalan Richie tidak terlalu cepat, hanya saja kakinya yang panjang itu membuat langkahnya hampir dua kali lipat lebih lebar dari Dila. Mereka masuk ke sebuah restoran ramen Jepang.


"Makan yang banyak, ga diet lagi kan?" Richie menyantap ramen yang porsinya besar itu.


"Saya ga diet kok Pak." Dila menyantap ramennya dengan lahap.


"Emang orang tua kamu ga marah ya lihat kamu sudah kurus gitu tapi ga makan kayak kemarin?" Richie bertanya santai. Dila terdiam sebentar. Tapi dia melanjutkan makannya.


"Oops..sorry." ucap Richie. Mereka memang tidak pernah membicarakan hal pribadi sama sekali.


Suara ponsel bergetar. Dila menjawabnya ponselnya. Nomor yang tidak dikenal.


"Halo..Ooo Pak Chris? Bisa dibantu Pak?" jawabnya bingung dari mana Chris bisa mendapatkan nomornya.


"Saya lagi di Bali dengan Pak Richie." Richie penasaran dengan apa yang Chris katakan dengan Dila. Ia merebut ponsel Dila.


"Napa lo cari asisten gw?" tanya Richie.


"Napa jadi lo yang jawab? Gw mau ngomong ma Dila, kangen..hahaha.." jawab Chris sambil tertawa.


'Lah, bukannya Airin bilang Chris itu gay. Kok kangen sama Dila?' Bukan karena Richie mengharapkan Chris kangen padanya ya. Bukan sama sekali.

__ADS_1


"Ngapain kangen sama Dila? Dia lagi kerja sekarang." Dila yang merasa namanya disebut langsung berhenti makan.


"Kerja kok ke Bali? Awas ga bayar lembur ye, gw laporin ke Disnaker! Kasian cewek gw dianiaya bos nya..hahaha" Chris tertawa. Dia menutup teleponnya.


"Mabok kali si Chris. Sejak kapan dia mulai telepon kamu?" tanyanya ke Dila sambil melanjutkan makannya.


"Baru pertama Pak, kayaknya dia telepon ke kantor tadi."


'Baru pertama telepon dan dia bilang Dila ceweknya? Beneran mabok tu anak.'


Selesai mereka makan, Richie mengajaknya pulang ke hotel. Dila bingung apakah ia harus ngomong ke bos nya itu. Ia takut disemprot lagi. Namun Dila takut menyesal nantinya. Peduli amat lah jika Richie marah.


"Pak, boleh ga saya nanti baru balik ke hotel? Kalau Bapak mau duluan silahkan Pak." Richie terdiam.


'Mati aku.' baru ia akan meminta maaf, Richie membuka suaranya.


"Nah gitu donk, belajar mengungkapkan pikiranmu. Jangan iya iya terus. Ya sudah, kita masuk Pantai Kuta aja dulu. Sudah mau sunset juga." senyum Dila merekah lebar. Ternyata Richie tidak begitu menyeramkan. Mereka berjalan menuju ke Pantai Kuta. Dila melihat banyak bule yang berbaring di atas pasir dengan bikini seksi. Seketika ia menjadi insecure melihat tubuh kurusnya. Sebenarnya Dila tidak terlalu kurus. Dengan tinggi 158 cm dan berat badan 44 kg, bisa dibilang mungil. Ya sedikit kuruslah, keadaan yang membuatnya begitu.


Dila merasa seperti dejavu ketika Richie duduk di sebelahnya memandang lurus ke arah matahari di depannya. Pemandangan terindah di Parangtritis akan terulang di Kuta. Jantung Dila berdegup kencang.


'Jangan Dila, jangan gila kamu ya! Jangan berani berharap!' begitu banyak jangan di pikirannya. Dila pun mengalihkan pandangannya, menatap apa yang ditatap atasannya itu. Dila tidak tahu kapan dia bisa ke Bali lagi. Jika tadi ia langsung kembali ke hotel, ia akan sangat menyesal tidak menikmati Bali sebentar saja. Kehidupan yang begitu kejam semenjak kehilangan kedua orang tuanya, membuatnya bahkan tidak bisa bermimpi. Ia harus belajar giat agar bisa menghasilkan uang. Uang yang dihasilkannya akan dipakai untuk membiayai Vio hingga ia bisa mencapai cita-citanya. Tidak ada yang tersisa bagi Dila. Dila menatap sepatu di depannya, yang ditentengnya dari tadi. Bahkan di saat ia ingin membeli sepatu bagus untuk dirinya, pada akhirnya ia membeli sepatu dengan diskon tinggi yang membuatnya lebih memilih memakai sandal. Seketika air matanya mengalir melihat warna matahari terbenam yang begitu indah. Menyadari bahwa masih ada hal indah di hidupnya yang kelam. Dila membuka kacamatanya. 'Aku harus semangat. Vio membutuhkan aku. Aku tidak boleh menyerah. Pasti Tuhan akan membantuku.' Dila meyakinkan dirinya.


Richie melihatnya. Air mata yang terpantul sinar matahari seakan membuat wajah Dila berkilau. Richie baru menyadari bahwa Dila memiliki mata indah berwarna coklat gelap dengan hidung yang cukup mancung. Sesuatu yang tidak ia sadari jika Dila tidak melepas kacamatanya. Cantik. 'Tapi apa yang dia pikirkan sampai meneteskan air matanya?' Richie mengalihkan pandangannya ke arah matahari.


Dila berusaha menahannya. Suara 'JANGAN' di kepalanya seakan berteriak. Namun ia tidak sanggup. Sekali saja. Izinkan ia sekali lagi menikmati indahnya dunia melalui pria di sampingnya. Ia menoleh ke Richie. Deg. Deg. Richie sedang menatapnya. Wajah tampan itu, mata itu menatapnya. Mereka berdua menjadi salah tingkah dan sama-sama berdiri. Menganggap pertunjukan sunset sudah berakhir.


*****


PS: Hai readers.. Author kasih visual Ardila ya..biar kalian bisa berimajinasi ^^


__ADS_1


__ADS_2