
Mereka kembali ke hotel. Dua kamar bersebelahan. Saat itu sudah pukul 19.40. Richie bersyukur malam itu Suara Cinta memang sedang absen, setidaknya bukan salahnya jika tidak mendengarkan Suara Cinta. Ia berniat turun sebentar berkeliling hotel. Ingin mencari inspirasi untuk hotelnya. Sekedar studi banding. Richie bingung apakah harus mengajak Dila. 'Ah, biarkan saja dia istirahat.' pikir Richie.
Pertama Richie menuju lobby, melihat konsep, perabotan dan fasilitasnya. Ia kurang memperhatikan di awal kedatangannya tadi. Harusnya ia mengajak Dila untuk mencatat apa yang menjadi idenya sekarang. Richie mengeluarkan ponselnya, mencatat sendiri point pentingnya saja. Lalu Richie menuju ruangan gym, memperhatikan apakah ada peralatan olah raga yang belum ia beli. Kemudian ia menuju ke rute terakhirnya, kolam renang. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis sedang selfie tidak berkesudahan. Dan sepertinya itu Dila. Richie menghampirinya.
"Mau aku bantuin foto?" tanya Richie tiba-tiba. Dila berteriak kaget.
"Pak Richie? Ngapain Bapak di sini malam-malam?" tanyanya.
"Lah kamu ngapain? Foto sama kuntilanak?" Dila seketika takut, mendekatkan dirinya ke Richie. Richie tertawa melihatnya.
"Jangan ngomong gitu ah Pak, kalau hotel ini angker gimana."
"Kamu tadi ga takut, selfie mulu gitu."
"Adik saya minta fotoin hotelnya Pak. Dia mau lihat."
"Naik yuk, mau hujan kayaknya." ajak Richie. Dila mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan dalam diam. Dila tidak mungkin membuka pembicaraan jika itu bukan sesuatu yang mendesak.
Richie dan Dila naik lift ke lantai 12. Dila sempat ragu untuk masuk ke lift itu karena ia mencium bau rokok yang menyengat dari tubuh seorang laki-laki yang sudah terlebih dulu ada di sana. Tapi sepertinya ia sanggup menahannya. Dila mulai merasakan sesak karena bau rokok itu ditambah ia tidak suka tempat sempit seperti, lift.
Buuk..Lift berhenti, lampu padam. Dila tidak bisa bernapas. Ia berjongkok. Mencari apapun yang bisa ia pegang. Richie merasakan ada yang menarik bagian bawah celananya.
"Dila? Kamu kenapa?" Richie yakin itu Dila karena hanya tiga orang yang ada di lift itu, dan Dila berada di sebelah kanannya tadi. Dila tidak menjawab. Richie menyalakan lampu ponselnya. Richie sangat terkejut melihat Dila pingsan dengan tangannya masih memegang ujung celana Richie. Lampu kembali menyala. Richie langsung menggendong Dila ke kamarnya.
*'Om, jangan kurung Dila Om! Tante tolong! Dila janji ga tanya apapun lagi! Keluarin Dila om..Uhuuk uhukk..Banyak asap, toloong..tolong.*.Dila berada dalam suatu ruangan seperti gudang, entahlah ia tidak bisa melihatnya. Dila hanya bisa berteriak meminta pintunya dibuka.'
"Tolong!! Om, jangan Om! Keluarin Dila.." Dila mengigau. Keringat bercucuran di keningnya. Richie membuka kacamatanya dan menepuk pipinya.
__ADS_1
"Dila, bangun.." ucapnya. Dila terbangun. Ia memeluk Richie dengan napas tersengal-sengal. Mimpi buruk yang tidak pernah datang lagi selama 10 tahun ini. Sekarang kembali. Bau rokok om Bram. Ruangan sempit dan gelap tempatnya dikurung. Ia merasakan semuanya sangat nyata seperti 14 tahun yang lalu. Tubuh Dila bergetar hebat. Ia menangis, sangat ketakutan. Richie hanya memeluknya tanpa bertanya, mencoba menenangkannya. Ia yakin ada sesuatu yang pernah menimpa Dila.
Setelah Richie merasa Dila sudah agak tenang, ia melepaskan pelukannya. Mengambil tissue dan mengelap keringat Dila.
"Kamu sudah ga apa-apa?" tanyanya. Dila mengangguk.
"Maaf. Saya..." Dila hanya bisa meminta maaf. Ia tidak mungkin menceritakannya.
"Apa yang kamu takutkan?" Richie bertanya, namun Dila hanya diam.
"Aku tidak memintamu menceritakan masalahmu secara detail. Itu privasimu. Maksudku apa kamu takut naik lift atau apa. So next bisa kita hindari." lanjut Richie.
"Bau rokok orang itu. Ruangan gelap dan sempit membuat saya ga bisa bernapas." Dila berbicara dengan tatapan penuh benci. Baru sekali ini Richie melihat Dila dengan mimik muka begitu. Selama ini Dila terkesan lugu, penurut, dan..manis.
"Sudah. Sekarang sudah aman." Richie memeluknya lagi. Dila terkejut. Ia seolah baru bangun dari mimpi buruknya. Tersadar bahwa ia berada di pelukan Richie. Richie bos nya? Oh tidak. Seketika Dila mendorong Richie.
"Saya permisi." menunduk ke arah Richie yang terdiam. Richie tertawa melihat muka Dila yang memerah.
"Sepertinya ia sudah sadar." ia kembali tertawa.
Dila berbaring di tempat tidurnya, menutup mukanya dengan bantal. Sesaat dia melupakan mimpir buruknya dengan mimpi indahnya barusan. Dipeluk Richie? Membayangkannya saja tidak pernah. 'Jangan ge er Dila, itu hanya karena dia kasihan denganmu.' Iya Dila juga tahu karena kasihan. Tapi bahagia sedikit boleh donk. Dila bisa merasakan dada bidang yang selama ini hanya dilihatnya dari jauh. Bau tubuh Richie? Bau sabun atau shampo maskulin. Jarang tercium bau parfum dari tubuh bos nya itu. Dan yang masih tersisa sekarang adalah kehangatan. Ia merindukan kehangatan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari siapapun. Ia hanya bisa memberikan kehangatan untuk adiknya Vio, tanpa bisa ia rasakan sendiri.
"Aku harus berani menghadapi Om Bram. Demi Vio. Dan demi aku sendiri. Sudah saatnya aku menghadapinya." Dila seakan mendapat kekuatannya kembali.
*****
Airin dan Vicky datang ke Jogja hari Kamis. Hanya berdua. Aiden tidak bisa ikut dikarenakan banyak pekerjaan. Airin pun hanya diizinkan untuk berangkat dua hari satu malam saja. Alasannya kasihan anak-anak, sungguh klasik. Padahal Airin tahu suaminya masih cemburu dengan Richie. Mereka langsung ke kantor Richie setelah mendarat di Jogja.
__ADS_1
"Kak Richie, makin ganteng aja di Jogja. Kayaknya karena ga pernah denger ocehan mama lagi ya?" Vicky memeluk kakaknya. Airin juga menghampiri Ricky dan memeluknya.
"Eheem...Jangan lama-lama peluknya. Vicky dapat tugas nih dari Kak Aiden buat ngawasin kalian." mereka tertawa mendengar perkataan Vicky.
"Kita langsung ke lokasi aja ya. Kalian pulang besok kan." Richie membereskan pekerjaan di mejanya.
"Iya nih, Kak Airin cuma bisa sehari. Padahal Vicky masih mau jalan di sini." jawab Vicky. Richie menelepon Dila meminta ia bersiap untuk ikut.
"Jalan aja yang kamu pikirin, kerja dulu ui. Minggu depan kan kesini lagi. Aiden sama anak-anak ikut datang kan Rin?"
"Kemungkinan besar sih ikut. Aku sudah bilang kalau kamu mengundangnya juga. Ya lumayanlah bisa nginep gratis di hotel baru hahaha.." Richie, Dila, Airin, dan Vicky menuju ke hotel Sky Escape. Sekitar 20 menit perjalanan.
"Jadi gimana calon kakak ipar Vicky?" tanyanya saat mereka masuk untuk melihat venue pembukaan hotel.
"Siapa?" tanya Richie.
"Ya Hannah lah kak. Memangnya kak Richie ada cewek lain?" tanyanya lagi sambil mengambil beberapa foto tempat sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan nanti. Sedangkan Airin berdiskusi dengan Dila tentang apa saja yang akan dibutuhkan untuk Grand Opening nanti.
"Satu aja sudah buat kakak pusing." jawab Richie.
"Lho kenapa? Berantem?" diam-diam Dila mendengar percakapan itu. 'Ya ampun, cewek sesempurna Hannah aja bisa ga cocok dengan bos? Siapa nih yang bermasalah?'. Dila bukan kepo, hanya terdengar. Lalu otaknya otomatis berpikir dan bertanya. Itu bukan definisi kepo kan?
"Mau tau aja sih kamu. Rin, Vicky kerjanya bagus ga? Atau males-malesan?" Vicky memukul kakaknya. Airin hanya tertawa melihat mereka.
"Dila, sudah dicatat semua yang Airin minta?" Richie bertanya ke Dila. Ia melihat Dila sudah memakai sepatu usangnya lagi. Richie sedikit merasa terenyuh. 'Apa gaji yang aku berikan kurang ya?'
"Sudah semua Pak." Dila tersenyum. Richie melihat senyum manis itu. Sepertinya ada yang berbeda dengan Dila sejak mereka pulang dari Bali. Dila menjadi lebih bersemangat dan lebih sering tersenyum. Mereka lanjut rapat di kantor untuk membahas pembukaan hotel minggu depan. Dila melihat jam, sudah pukul 18.30. Ia harus segera pulang. Pekerjaan yang lain sudah menunggunya.
__ADS_1
*****