
Seorang pria berkulit coklat gelap keluar.
"Tolong lukisannya jangan diganggu Mba." katanya. Dila yakin pria itu adalah Farhan.
"Saya tidak akan berbelit-belit. Dari mana Bapak dapat lukisan ini?" Dila menunjukan foto lukisan matahari di ponselnya.
"Dan juga ini." Dila mengambil lukisan layang-layang yang tersangkut di pelangi milik ibunya.
"Buat apa kamu tanya itu? Itu bukan urusanmu dari mana aku mendapatkannya. Aku membelinya dari seseorang untuk kujual lagi. Memangnya salah?" Ia seperti ketakutan. Chris menebak dia adalah penadah gelap lukisan curian. Namun Chris tidak mau memperpanjang masalah dengan orang seperti itu. Ia tahu bagaimana menyelesaikan masalah seperti ini.
"Berapa harga lukisan layang-layang itu?" tanya Chris.
"Chris ngapain kamu..." ucapan Dila dipotong oleh Farhan.
"Tiga puluh juta." ucapnya. Chris mengeluarkan sebuah cek, dan menulis nominal Rp 40.000.000 di atasnya.
"Sepuluh juta lagi tolong beri tahu dari mana kamu mendapatkan lukisan itu." Farhan tersenyum. Ia mengambil sebuah kartu nama dan diberikannya ke Chris. Chris memberikannya ke Dila. Bramantio Firdaus. Ini yang Dila cari. Akhirnya ia menemukannya.
Chris mengajak Dila makan malam yang sebenarnya sudah sangat telat. Dila meminjam ponsel Chris untuk menelepon Vio. Ia tidak membawa charger karena terburu-buru. Dila yakin charger Chris pasti berbeda dengan ponsel jadul miliknya jadi ia tidak berniat untuk meminjamnya juga.
Untung tadi Dila sempat mengabarkan Jeno bahwa ia tidak bisa siaran sebelum ponselnya benar-benar mati.
"Sekarang bisa kamu ceritakan masalahmu?" tanya Chris sambil menelan makanannya.
"Aku..akan mengganti uangmu. Tapi aku butuh waktu." ucap Dila pelan.
"Bukan itu maksudku Dila. Masalah lukisan itu. Apa yang kamu cari sebenarnya? Katakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu. Kamu menganggapku teman kan?" tanya Chris. Ia bisa dikatakan tidak memiliki sahabat wanita satupun. Hanya beberapa teman yang tidak terlalu ia kenal. Chris tidak suka terlalu dekat dengan mereka. Gaya mereka yang berlebihan dalam berpakaian dan berdandan saat mendekati Chris, membuatnya muak. Berbeda dengan Dila. Dila cantik dalam kesederhanaannya. Bahkan Chris yang maju untuk mendekatinya.
__ADS_1
"Lukisan itu milik mama. Nama dan tulisan mama di sudut kanan bawah. Aku tidak mungkin melupakannya. Mama dan papa meninggal saat aku berumur sepuluh tahun dalam kecelakaan mobil. Dulu hidupku tidak seperti sekarang Chris, kami tidak pernah kekurangan. Tapi setelah mereka meninggal, Om Bram, adik papa mengambil semuanya dari aku dan Vio adikku. Itu garis besarnya Chris." Dila berusaha tegar. Ia mengunyah makanannya. Ia tidak mau menangis lagi meratapi nasibnya. Dila akan menghadapi semuanya.
"Ok aku sudah agak paham dengan situasinya. Ternyata hidup yang seperti film-film benaran ada ya hahaha... Makanlah yang banyak. Kamu butuh tenaga yang besar untuk besok. Kamu mau menginap di mana? Hotel? Atau apartemenku?" tanya Chris.
"Aku rasa kamu sudah tahu jawabanku." Dila tersenyum.
"Ok. Apartemenku." tebak Chris.
"Apa-apaan sih kamu." Mereka tertawa bersama, melupakan masalah Dila sejenak. Dila suka dengan cara Chris yang suka mencairkan suasana.
Richie tidak bisa tidur malam itu karena memikirkan Dila. Ia berusaha menenangkan pikirannya dengan mendengarkan Suara Cinta. Bahkan Cinta pun juga menghindarinya malam itu. Tidak ada siaran Suara Cinta dan yang muncul lagi-lagi suara si playboy Jeno.
'Dila kamu di mana? Maafkan aku Dila. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi.' Richie merasakan kerinduan yang mendalam. Merasakan panasnya darah yang mengalir ke jantungnya yang membuatnya susah bernapas. Inilah cinta yang ditunggunya, yang bisa menyiksanya hingga Richie menyadari bahwa ia hidup. Bukan sekedar patung pajangan yang bahkan tidak tahu arti merindu.
Chris menjemput Dila di hotel yang ia pilih dekat dengan apartemennya. Jam 8 pagi. Lebih cepat satu jam dari yang dijanjikannya.
"Kamu harus terlihat cantik dan wow saat bertemu dia. Biar dia tidak bisa meremehkanmu." Dila hendak protes, namun Chris mendorongnya masuk. Chris memilihkan beberapa potong baju untuk dicoba Dila. Akhirnya ia menemukan satu yang sangat cocok dipakai Dila. Setelan blazer tangan pendek berwarna pink dengan rok model A line, sederhana namun mewah dipakai Dila. Sepasang high heels putih dengan pita di depannya. Dan yang terakhir, sepasang soft lens minus 1. Chris tahu ukurannya karena pernah menanyakannya di Jogja. Perfect.
Dila memandang dirinya di cermin. Benar kata Vio, ia hanya kurang poles. Bahkan itik buruk rupa bisa berubah menjadi angsa yang cantik. Dila tidak menyangka dirinya bisa berubah hanya dengan pakaian baru dan melepas kacamatanya. Selama ini ia hanya sibuk mencari uang tanpa bisa menikmatinya.
"Woow Dila..Kamu terlihat cantik sekali." kata Chris.
"Chris, ini mahal sekali. Aku bahkan masih berutang empat puluh juta padamu." bisik Dila.
"Kamu bisa melunasinya dengan menemaniku makan siang nanti." Chris mengedipkan sebelah matanya. Mereka keluar dari butik itu. Chris melajukan mobilnya menuju PT Samudera Jaya. Tertulis di kartu nama yang diberikan Farhan, Bram adalah Direktur Utama di sana. Chris harus cepat jika ingin makan siang dengan Dila karena penerbangan Dila pulang ke Yogyakarta jam empat sore.
Dila memantapkan langkahnya masuk ke kantor itu.
__ADS_1
"Maaf, nama Mba siapa? Biar saya beri tahu Pak Bram." tanya seorang pegawai di sana.
"Ardila Cintania." jawab Dila. Chris baru sekali ini mendengar nama Dila. Nama yang sangat cantik. Mereka lalu dipersilahkan masuk.
"Dila? Ardila? Kemana saja kamu? Waahh..Kamu sudah besar ya. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Sepuluh? Ah tidak, dua belas tahun sepertinya." Bram bersikap sangat ramah. Ia mencoba memeluk Dila, namun Dila menghindarinya. Bertatapan langsung dengan Bram setelah sekian lama ia ada di dalam mimpi buruk Dila, seakan membangkitkan kembali semua kenangan buruk yang telah dikubur Dila. Chris melihat tubuh Dila yang sedikit gemetar. Ia menggandeng tangan Dila. Mencoba menyadarkan tujuan utamanya ke sini.
"Apa kabar Om? Masih ingat dengan Dila?" Dila tersenyum dingin.
"Tentu saja. Om sering mencarimu, namun tidak ada kabar. Duduk Dila, dan ini temanmu? Pacarmu?" tanyanya dengan senyum lebar. Tapi Dila tahu itu hanya akting.
"Saya Chris, teman Dila." Chris menyambut uluran tangan Bram.
"Jadi apa yang membawamu kembali?" Bram bertanya dengan nada yang sedikit beda. Seperti merasa terganggu.
"Kenapa Om jual lukisan mama? Apa belum cukup dengan semua yang sudah Om ambil dari kami?" Dila berusaha menahan emosinya.
"Oooh masalah itu toh. Kan penuhin gudang saja Dila, lebih baik Om menjualnya sebelum rusak. Dari mana kamu tahu?" tanyanya.
"Om tidak perlu tahu. Baiklah Om saya permisi dulu. Dila hanya ingin tahu kabar Om saja. Semoga sukses ya usahanya." Dila pergi tanpa berbalik lagi.
Sesampainya di mobil, Dila menangis, ia berteriak. Dila teringat ia dan Vio yang kelaparan saat mereka lari dari rumah, hanya membawa beberapa pakaian dan biskuit di tas mereka. Dan sekarang, Bram memiliki sebuah kantor yang besar. Dila yakin ada warisan orang tuanya di sana. Chris memeluknya, mencoba memberikan Dila kekuatan. Bram tidak tahu dan tidak akan mengerti apa yang telah dilalui oleh Dila dan Vio karena ketamakannya dan istrinya.
"Maaf Chris, aku..sudah menahannya dari tadi. Dia adalah salah satu mimpi burukku." Dila menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa. Memang harus dikeluarkan biar lega, jangan dipendam. You did a great job. Tapi mengapa cepat sekali kamu pergi dari sana?" tanya Chris. Ia mulai melajukan mobilnya setelah Dila terlihat lebih tenang.
__ADS_1