SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 23


__ADS_3

Richie baru saja menghabiskan sup asparagus yang ia pesan untuk hidangan pembuka ketika ia mendengar ponselnya berdering. Mom. Richie berfirasat jelek akan hal itu. Bukan ia tidak suka ditelepon mamanya. Hanya saja waktunya tidak tepat, terlalu mencurigakan.


"Halo Ma." Dila langsung berhenti mengunyah mendengar sapaan Richie ke orang di seberang sana.


"Richie, kamu di mana sekarang?" Richie mendengus kesal. 'Awas kamu Vicky!'


"Lagi makan,Ma." Richie masih berusaha tenang.


"Makan di rumah sekarang!! Bagus ya? Sudah jarang ketemu Mama, sekali ke Jakarta ga pulang. Mau jadi anak durhaka kamu?" Richie menjauhkan sedikit ponsel itu dari gendang telinganya.


"Richie sibuk Ma."


"Pulang. Mama tunggu." Tuut..tut.. Richie sudah biasa menghadapi sifat mamanya yang begini. Namun baru sekali ini ia dikhianati Vicky.


"Richie, mamamu tahu kamu di Jakarta?" tanya Dila.


"Iya, ga apa-apa kok. Lanjutin makannya, nanti aku ajak kamu temuin mama. Cepat atau lambat dia juga pasti akan kenal dengan calon menantunya." Richie tersenyum. Ya, lebih cepat lebih baik. Sejujurnya Dila belum siap bertemu mama Richie. Tapi ia tidak bisa dan tidak berniat menghindar lagi. Dila yakin kebahagiaan harus diperjuangkan. Dan jika Richie mau berjuang, Dila akan menemaninya.


"Kamu Dila kan asisten Richie? Wah dandanan kamu berubah ya sekarang. Duduk." Richie menggandeng Dila mengajaknya duduk di ruang tamu.


"Jadi ada apa ini? Cerita sama Mama." Richie sudah menebak dengan apa yang akan dikatakan dan dilakukan mamanya.


"Kami pacaran, Ma." jawaban Richie membuat darah mamanya mendidih. Dila hanya diam saja.


"Putus sama Hannah, pacaran sama asisten? Wah, bagus banget film baru kamu Richie."


"Sudah donk Ma, sampai kapan sih mama mau terus menyetir kehidupan Richie?"

__ADS_1


"Lah waktu kamu pilih Hannah, mama setuju."


"Itu beda Ma, Richie pacaran dengan Hannah ada tujuannya. Bukan karena cinta." Richie mulai tersulut emosi.


"Jadi karena Airin lagi? Dia kan sudah menikah Richie. Itu kan bukan berarti kamu bisa membuang Hannah begitu saja." Dila mendengarnya. Airin? Ternyata...


"Ma, Richie sudah menjalani pacaran dua tahun dengan Hannah setelah Airin menikah. Richie sudah berusaha, Ma. Tapi gagal. Richie tidak bisa mencintainya."


"Dan kamu bisa jatuh cinta dengan wanita ini?" Mata mama Richie seakan melotot ke Dila. Dila sedikit takut melihat kegarangannya. Richie memegang tangannya.


"Iya, Ma. Richie sangat mencintainya. Richie harap Mama bisa menerimanya."


"Richie, baru pacaran saja lihat penampilan dia sekarang. Pasti kamu yang beli semua kan? Apalagi sudah menikah, habis nanti harta kamu." Dila tidak bisa menahannya lagi. Ia berdiri. Namun tangannya ditarik Richie yang ikut berdiri.


"Kami permisi dulu Ma. Sepertinya perdebatan kita tidak akan bisa selesai jika Mama tidak bisa berubah. Richie tidak akan mengalah kali ini. Dila tidak seperti yang Mama pikirkan." Richie menarik tangan Dila keluar dari rumah itu


"Aku tidak akan melepaskanmu Richie. Biarkan aku menjadi egois sekarang." Dila juga memeluknya erat.


"Yuk kita ke mall sekarang. Biarkan aku memanjakanmu sekali-sekali." Richie ingin membelikan Dila apapun yang dia inginkan.


"Richie! Nanti aku dijambak mamamu gimana?" Dila masih ingat perkataan mama Richie tadi.


"Ini uangku, Sayang. Bukan uang mama. Dan uangku akan menjadi uangmu setelah kita menikah." Richie mengecup bibir Dila sekilas lalu melajukan mobilnya.


Mereka berdua menuju ke salah satu mall terbesar di Jakarta. Richie membelikan beberapa baju dan dress untuk Dila dan menyuruhnya memilih beberapa untuk Vio. Dila menolak tawaran untuk membeli tas dan sepatu. Ia masih memiliki sepatu yang dibelikan Chris. Sedangkan tas, Dila masih tidak mengerti alasan harga tas yang memiliki harga selangit hanya karena merk. Menurutnya di Jogja pun banyak tas lokal yang tidak kalah bagusnya.


Tiba-tiba ada dua orang pria mendekat saat Richie dan Dila berada di restoran fast food.

__ADS_1


"Permisi. Anda Pak Richie Andirawan kan? Pacarnya Hannah Fang?" tanya salah satu pria sedangkan satunya merekam dengan kamera.


Richie menebak mereka pasti wartawan. Ia tidak mau meladeni mereka.


"Maaf, tolong jangan direkam. Saya tidak bersedia diwawancara." Richie menggandeng tangan Dila, mengajaknya menjauh dari sana.


"Apa hubungan Anda dengan Hannah sudah berakhir Pak? Apakah ini pacar baru Bapak?" Mereka masih terus mengikuti Richie.


"Apa kalian putus karena wanita ini orang ketiganya Pak?" Richie berhenti dan membalikkan badannya.


"Maaf. Tolong tinggalkan kami. Jangan sampai saya kehilangan kesabaran gara-gara mendengar pertanyaan Anda yang tidak sopan itu. Satu lagi, ini benar pacar saya, namanya Ardila Cintania. Untuk fakta yang lain silahkan kalian klarifikasi langsung dengan Hannah, karena yang public figure itu dia, bukan saya. Terima kasih." Richie kehilangan mood nya untuk lanjut berkeliling mall. Ia mengajak Dila keluar.


"Sabar ya...Aku saja biasa saja dibilangin pihak ketiga. Kan cuma kita yang tahu." Dila tersenyum sambil mengelus pipi Richie yang kelihatan sedang menahan amarahnya.


"Kita pergi ke tempat lain saja yuk. Aku rasa kalau kita malam ini menginap di hotel bisa tambah heboh deh kalau ketemu wartawan lagi." Richie melajukan mobilnya. Ia mendadak teringat tempat yang tepat untuk menghabiskan malam mereka. Mereka sampai di Marina Ancol.


"Mau ngapain kita kesini?" tanya Dila bingung.


"Kita ke Pulau Pari saja. Sunset di sana indah. Kayaknya masih keburu kalau kita pergi sekarang. Kamu bawa jaket yang tadi kita beli." Dila menurut saja tanpa banyak bertanya meski dia masih sedikit bingung. Letak Pulau Pari saja dia tidak tahu. Richie menyewa speedboat untuk menuju ke sana. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih.


Dila takjub melihat keindahan Pulau Pari. Penginapan di sana sudah penuh dikarenakan weekend. Mereka ditawari untuk menginap di tenda. Richie menolak karena takut tidak bisa tidur. Tapi Richie menyerah setelah Dila merengek untuk menginap di tenda. Ia belum pernah merasakan sensasi camping di pantai. Mereka menyewa sepeda berkeliling pantai. Mereka akhirnya berhenti setelah menemukan spot terbaik untuk menikmati sunset.


Dila duduk di hamparan pasir. Kali ketiga Dila menikmati sunset bersama Richie. Namun kali ini, Richie duduk di belakang Dila sambil memeluknya. Richie mencium pucuk kepala Dila. Ia menyukai aroma rambutnya.


"Indah ya." Dila bergumam.


"Tidak ada yang seindah kamu Dila." kata Richie.

__ADS_1


"Katanya ga bisa romantis. Itu bisa gombal hahaha.." Dila tertawa. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah Richie yang terkena sinar matahari. Dila tidak pernah bosan untuk menikmati wajah tampan itu. Kali ini Dila tidak bisa menahannya. Ia maju untuk mencium bibir Richie duluan. Cintanya kepada Richie telah membuatnya berubah. Ia seperti lebih bergairah dalam menghadapi hidupnya yang dulu membosankan. Become a fighter for your love then you will cherish it forever. Dengan bertarung untuk mendapatkan cinta, kita akan menghargai itu selamanya.


__ADS_2