
"Apa aku harus ikut ke rumah sakit Richie?" tanya Dila di dalam taksi. Mereka sudah mendarat di Jakarta pukul 18.45 dan akan langsung menuju rumah sakit. Richie dikabarkan oleh Vicky bahwa mamanya akan menjalani operasi pemasangan ring malam ini.
"Ikut saja. Aku ingin mengenalkanmu dengan papa." Richie memegang erat tangan Dila.
"Tapi..." Dila ingin menolak.
"Tenang saja. Ada aku." Richie tahu apa yang dipikirkan Dila.
Mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing sepanjang perjalanan. Richie memikirkan operasi mamanya. Bagaimana ia bisa mendapatkan restunya untuk Dila. Papa Richie adalah satu-satunya jalan terakhir. Pak Andirawan jarang mengurusi masalah pribadi anak-anaknya. Tapi yang sanggup menaklukan sikap otoriter Desy hanya Andirawan.
"Vicky, Pa. Mama gimana?" Richie menemui meereka di ruang tunggu operasi.
"Mama lagi dioperasi Ric. Pasang ring nya dipercepat. Dokter berkata peluang berhasil di atas 95 %. Tidak terlalu serius." ujar papa Richie.
"Pa, ini Dila." Dila maju untuk bersalaman. Andirawan menyambutnya sambil mengangguk.
"Teman Richie? Pacar baru?" tanyanya. Dila menatap Richie seolah meminta bantuan untuk menjawabnya.
"Pacar Richie, Pa." jawab Richie. Vicky seolah ingin menyeletuk sesuatu namun terdiam setelah dipelototin Richie. Ia kesal lalu pergi meninggalkan ruang tunggu.
"Ooo..Duduk. Jadi bagaimana bisnis kamu Richie? Lancar?" tanya papanya.
"Lancar, Pa."
"Papa dengar kamu ke sini tiga minggu atau sebulan lalu."
"Hampir sebulan lalu, Pa. Richie menemani Dila mengurus urusan keluarganya."
"Urusan apa kalau papa boleh tahu?" papanya menatap Richie dan Dila bergantian.
"Warisan orang tua Dila." papa Richie mengerutkan keningnya seolah meminta penjelasan lebih tentang apa yang didengarnya. Akhirnya Richie menjelaskan semuanya. Bagaimanapun juga ia ingin papanya bisa mendukung hubungan Richie dan Dila.
"Dila, kamu bilang mamamu pelukis lukisan yang ada di galeri itu. Beliau meninggal karena kecelakaan empat belas tahun yang lalu. Kalau Om boleh tahu siapa nama mamamu?" tanya papa Richie.
"Mama Dila namanya Cassandra Brian, Om." jawab Dila. Andirawan tampak terkejut dengan jawaban itu. Ia tampak terdiam.
"Pa? Kenapa? Papa kenal?" tanya Richie. Papanya hanya mengangguk. Kilasan memori seolah muncul saat itu.
"Dery, ngapain lo ajak gw ke sini?" Andirawan menepuk bahu sahabatnya sejak SMP tersebut.
__ADS_1
"Duduk sini. Mau pesan minum apa?" Deryanto memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi.
"Cerita. Ada kabar apa?" Andi seolah tidak sabar dengan apa yang akan diceritakan Dery.
"Gw kenalan dengan seorang gadis. Cantik banget, An. Ada darah bule pula. Baru dua hari kenal, gw tembak. Eh, dia bilang iya." Dery sangat bersemangat. Ia dan Andi memang biasa menceritakan semuanya tanpa ada rahasia.
"Woow..tumben banget ni seorang Dery bisa jatuh cinta secepat itu." Andi tertawa.
"Hahaha...Iya, gw juga bingung. Pas ketemu dia, langsung sreg aja gitu. Senyumnya seolah tercipta untukku hahaha..."
"Kenalin donk." kata Andi.
"Gw suruh dia kesini kok. Tapi awas ya, jangan naksir."
Tidak beberapa lama, seorang gadis cantik mendekati mereka.
"Cassie, kenalin sahabat gw." Dery mengenalkan mereka berdua. Cassandra tampak tertawa tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Andi tampak terkejut dengan pertemuan itu.
"Aku sudah kenal sama Andy. Dia teman di Gerejaku. Jadi dia sahabat yang mau kamu kenalin ke aku?" tanya Cassie ke Dery.
Andi mengenal Cassie di Gereja. Cassie aktif menjadi petugas koor dan juga mengajar melukis untuk anak-anak di sekolah Minggu. Andi jadi rajin ke Gereja sejak ia bertemu Cassie. Ia gadis yang cantik dan periang, membuat siapapun dapat menyukainya dengan mudah. Termasuk Andi. Ia menyukai Cassie. Sangat menyukainya.
"Baru jadian kok." jawab Cassie. Andi melihat tangan Cassie yang dipegang Dery.
Bayangan itu memudar terganti dengan tangan Richie yang sedang menggenggam tangan Dila.
"Pa? Papa?" suara Richie menghapus semua kenangan masa silam itu.
"Ya?" jawab Andirawan.
"Papa kenal dengan mama Dila?" tanya Richie lagi.
"Papa kenal baik dengan mereka. Sangat baik. Papa memang jarang bertemu lagi dengan Dery sejak dia menikah. Kami lebih sering berkomunikasi lewat telepon. Apalagi setelah dia pindah ke Jogja." Andi teringat bagaimana Bram mengabarkan kematian kakaknya lewat telepon. Andi sangat shock dan langsung berangkat ke Jogja.
"Lho, jadi kamu Ardila?" Andi mendadak teringat dengan sosok gadis kecil yang pernah main ke rumahnya.
"Iya, Om. Ardila Cintania."
"Astagaaa...Dulu kamu kan pernah ke rumah Om. Mungkin saat umur kamu enam atau lima tahun. Om lupa. Tapi mamamu lagi hamil waktu itu." Andi memeluk Dila. Dila tampak terkejut dengan apa yang dilakukannya.
__ADS_1
"Maaf..Om hanya terlalu bahagia bertemu dengan anak sahabat Om. Dery sahabat terdekat Om. Kamu juga pernah bertemu Richie saat kecil. Kalian tidak ingat?" Dila dan Richie saling memandang dan menggeleng.
"Richie saat itu tidak sengaja membuat bonekamu masuk ke dalam kolam. Kamu menangis. Jadi Richie masuk ke kolam untuk mengambilnya." cerita Andi. Richie samar-samar mengingatnya. Tapi ia tidak tahu nama gadis kecil itu. Ternyata semua berjalan lebih lancar dari yang dipikirnya. Tuhan memang selalu memiliki rencana terindah untuk semuanya.
"Om sangat menyesal dengan semua yang terjadi padamu dan adikmu. Om tidak terlalu mengenal Bram. Tapi Om tidak menyangka dia bisa berbuat hal sekeji itu gara-gara uang."
"Terima kasih Om sudah menjadi sahabat baik papa dan mama Dila." Dila tersenyum. Andi membelai kepala Dila.
Dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan operasinya berjalan lancar. Hanya saja Desy belum sadar karena masih di bawah pengaruh obat bius. Untuk sementara Desy masih berada di ruang ICU hingga ia sadar. Andi, Richie, dan Vicky bergantian masuk menjenguk Desy. Sedangkan Dila menunggu di luar.
"Kamu lelah, Sayang? Aku antar ke hotel ya. Pamit sama papa dulu yuk." Saat itu memang sudah pukul 21.30. Mereka check in hotel. Richie hanya memesan satu kamar untuk Dila. Ia akan kembali ke rumah sakit nanti.
"Aku numpang guling bentar ya, lurusin pinggang." Richie masuk ke kamar Dila.
"Ok. Aku mandi dulu ya, lengket banget badanku." Dila membongkar tasnya mengambil baju tidur yang dibawanya. Richie berbaring di sana sambil mengecek pesan dan email yang masuk. Ada beberapa pekerjaan yang diemail untuk meminta persetujuannya.
Dua puluh menit kemudian Dila keluar dengan handuk terlilit di kepalanya. Ia melihat Richie tertidur sambil memegang ponselnya. Dila hanya menyisir rambutnya tanpa mengeringkannya dengan hair dryer, ia takut suara berisik itu akan membangunkan Richie. Dila menatap Richie yang mendengkur pelan. Ia tidak menyangka sebelum mereka meminta dukungan papa Richie, ternyata Tuhan sudah mengaturnya dengan begitu indah. Dila benar-benar tidak tahu bahwa ia pernah bertemu Richie saat ia masih kecil. Hanya saja Dila mulai mengingat papanya dulu pernah memberinya sebuah mainan barbie dan mengatakan itu dari sahabat baiknya di Jakarta.
Richie terbangun. Ia menemukan Dila tertidur di sebelahnya dengan rambut basah.
"Dila, bangun Sayang." Richie membangunkannya. Dila terbangun.
"Kamu sudah bangun?" Dila mengucek matanya.
"Kok rambutnya tidak kamu keringkan dulu? Nanti sakit kepala lho tidur dengan rambut basah." Richie menarik tangan Dila duduk di depan meja rias. Ia mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambut Dila. Dila tersenyum diperlakukan seperti itu. Ia sangat bahagia dicintai oleh pria seperti Richie.
"I love you." ucap Dila setelah Richie mematikan mesin pengering itu.
"I love you more." Richie mengecup bibir Dila yang sedang duduk.
"Besok jam berapa ketemu om Ivan?" tanya Richie.
"Jam sebelas. Nanti mau ke kantor Bram jam satu siang."
"Ok, nanti aku temanin ya. Jangan pergi sendirian. Papa tadi juga sudah menyuruhku untuk menemanimu besok. Kayaknya dari papa sudah lampu hijau." Richie tersenyum.
"Iya. Mungkin ini pertanda kita juga mendapat restu dari mama papaku di surga." Dila memeluk Richie.
"Aku mandi dulu ya. Nanti mau balik lagi ke rumah sakit. Kamu istirahat saja." Richie mengecup pipi Dila lagi. Dila mengangguk.
__ADS_1
*****