
Sudah dua hari ibu Mira yang biasa mengurus rumah Richie pulang kampung. Anaknya akan menikah akhir minggu ini jadi ia meminta cuti dua minggu ke Richie. Dila memeriksa kulkas Richie yang hanya tersedia buah dan minuman. Tidak ada sayur ataupun lauk di sana. Dila akhirnya memesan ayam rebus via online. Nanti ayamnya akan ia suwir dan dicampur ke bubur yang ia masak. Sejam kemudian buburnya sudah siap. Obat Richie pun sudah sampai.
"Sayang, bangun yuk. Makan bubur dulu." Richie bangun dengan mata sayu. Dila menyuapinya. Baru dua suap Richie sudah menolaknya.
"Mulutku pahit Dila, aku tidak nafsu makan." ucap Richie.
"Ayolah, dua suap lagi ya, abis itu makan obat." Richie menurutinya dengan terpaksa. Setelah makan obat ia tertidur lagi, matanya berat. Dila duduk di sebelahnya sambil chat dengan Karin masalah pekerjaan. Dila lumayan dekat dengan Karin di kantor. Karin masuk ke kantor itu tidak lama setelah Dila. Tiba-tiba ponsel Richie berdering. Dila segera mematikan suaranya. Mom. Dila bingung apakah harus menjawabnya atau tidak. Ia mendiamkannya. Panggilan kedua berbunyi, Dila mengangkatnya.
"Halo, Tante."
"Siapa ini?"
"Dila Tante."
"Wah, dari panggilan ibu sekarang jadi tante. Naik pangkat ya. Mana Richie? Saya mau ngomong."
"Pak Richie tidur, Bu." Dila mengubah panggilannya.
"Kalian di mana? Siang-siang ngapain dia tidur? Kamu tidur sama anak saya?" suara Desy meninggi.
"Pak Richie sedang sakit, Bu. Dia kena cacar air." Dila berusaha menahan emosinya.
"Terus ngapain kamu di sana? Berlagak jadi istrinya ya? Dila, gaji kamu kurang ya sampai berusaha menggaet Richie buat pacarin kamu? Kamu resign deh, nanti saya kasih pesangon lumayan untukmu." Dila tidak tahan lagi harga dirinya diinjak-injak.
"Maaf, Bu. Kalau saya benar-benar butuh uang, saya akan lebih memilih menjadi istri Richie daripada pesangon dari Ibu. Terima kasih tawarannya. Nanti saya kasih tau Pak Richie kalau Ibu telepon setelah dia bangun nanti. Selamat siang." Dila menutup panggilan itu. Ia sangat marah dengan perkataan mama Richie. Hatinya sangat sakit dan merasa terhina. Ia menangis. Bagaimana ia bisa menerima Desy sebagai mertuanya? Di sisi lain ia sangat merindukan kasih sayang orang tua yang hanya bisa didapatkan dari calon mertuanya sekarang. Ia membelai kepala Richie, memikirkan betapa ia sangat mencintainya. Dila akan melalui semuanya asalkan Richie mau menemaninya.
Dila mengambil salep untuk ruam cacar, ia mengolesnya pelan-pelan ke ruam tubuh Richie yang terlihat olehnya.
__ADS_1
"Yang di punggung gatal, Sayang." Richie bersuara dengan mata terpejam. Dila tersenyum melihat Richie yang bersikap manja padanya.
"Balik badan donk." Dila mengangkat kaos Richie dan mengolesnya ke beberapa ruam di sana.
"Di muka aku banyak ga? Aku jadi takut ngaca." tanya Richie.
"Cuma tiga. Masih ganteng kok." Dila tertawa.
"Kalau gatal kamu cium ya biar ilang. Kan kata dokter jangan digaruk." Dila mencium bibir Richie sekilas.
"Tidak perlu tunggu gatal, kapanpun kamu mau aku bisa cium kok. Minum ya. Harus banyak minum kan kata dokter." Richie mengambil gelas di sebelah ranjangnya.
"Dila, aku minta maaf tentang kemarin. Kamu benar. Semua yang kamu katakan kemarin memang benar. Aku hanya malu mengakui jika mamaku...memang begitu sifatnya. Aku mau kamu percaya padaku, bahwa aku ingin menikahimu walau tanpa warisan orang tuamu." Richie memegang tangan Dila.
"Aku tahu dan aku percaya sama kamu. Warisanku tidak ada apa-apanya dibanding hartamu Richie. Wajar jika mamamu takut aku memorotimu. Tapi aku hanya butuh kamu. Aku tidak berniat sedikitpun untuk..."
"Iya, sekarang kamu istirahat ya biar cepat sembuh. Nanti kita kan mau ke Jakarta. Kamu temanin aku kan?"
"Pasti. Nanti Chris nongol lagi kalau aku tidak ikut." Mereka tertawa.
*****
Bram sedang uring-uringan di kantornya. Sesaat lalu Dila meneleponnya mengatakan bahwa ia ingin bertemu Jumat depan. Bram sudah menebak apa yang ingin dikatakan Dila. Ia menyesal tidak mengurus surat rumah dan tanah itu sejak dulu. Ivan mengetok pintunya. Bram memang memiliki janji dengan Ivan.
"Ivan, kamu sudah menemukan notaris yang bisa urus surat itu?"
"Belum Pak Bram. Agak sulit menemukan notaris yang mau melakukan fraud sekarang." jawab Ivan.
__ADS_1
"Memang kamu sekarang kerjanya kurang becus. Masa begitu saja tidak beres-beres? Dila akan datang Jumat depan. Dia pasti mau tanya soal warisan. Aaaahhh.. Anak brengsek. Ngapain dia muncul sekarang?" Bram melempar bantal kursinya.
"Atau kamu buat saja sertifikat palsu atas namaku?" Ivan terdiam mendengar permintaan itu. Ia ingin menolak tapi pasti itu membuat Bram curiga kepadanya.
"Baiklah. Aku akan menyerahkannya padamu secepatnya." jawab Ivan, lalu ia keluar dari ruangan itu.
Bram tahu ada kemungkinan yang sangat besar Dila menyadari sertifikat itu palsu. Tapi ia benar-benar sudah kehilangan akal bagaimana cara untuk menyelesaikan masalahnya. Bram bersyukur ia sudah mencairkan asuransi jiwa kakaknya dan kakak iparnya walaupun dengan cara curang.
*****
"Kamu sudah ketemu Richie, Han?" Desy menemui Hannah di cafe siang itu.
"Sudah, Tante. Seminggu lalu."
"Jadi gimana? Dia mau putusin wanita itu ga?"
"Sepertinya Richie benar-benar mencintai Dila. Hannah rasa tidak ada lagi kesempatan buat Hannah. Lagian Hannah tidak mau mengganggu hubungan mereka. Hannah memilih mundur, Tante." Hannah tersenyum.
"Kok kamu yang ganggu? Kan kamu pacarnya Richie." Desy tetap ngotot.
"Kami sudah putus bahkan sebelum ia pacaran dengan Dila. Maaf Tante. Tapi Hannah juga tidak berniat untuk kembali dengan Richie." Hannah menemani Desy hingga selesai makan siang. Sebenarnya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana karena mama Richie seolah masih tidak bisa menerima hubungan mereka sudah selesai. Tapi demi sopan santun dan hubungannya dengan Richie di masa lalu, Hannah bertahan hingga usai. Akhirnya ia pamit dengan alasan ada pekerjaan.
"Mau kemana Han? Jadwal kosong dua jam." kata Billy, managernya yang sudah siap di belakang setir.
"Pulang ke apartemen aja bentar, dekat juga." Hannah ingin santai sebentar di apartemennya. Ia sudah sedikit jarang memikirkan Richie lagi.
Mungkin karena kehadiran Jeno. Ya, Jeno selalu mengirimkan pesan untuknya. Melakukan panggilan di saat Hannah tidak sibuk. Hal-hal yang tidak pernah dilakukan Richie untuknya. Selama dua tahun berpacaran, hampir selalu Hannah yang bergerak duluan. Ia sungguh sudah dibutakan oleh cintanya untuk Richie. Hannah benar-benar ingin melupakan Richie. Ia ingin dicintai seperti Dila dicintai Richie. Pasti bahagia rasanya bisa dimanja dan dilindungi oleh pria yang kita cintai. Hannah belum sampai ke tahap mencintai Jeno. Tapi Hannah suka dengan sikap Jeno, manis tapi tidak berlebihan. Dan Jeno yang menyelamatkan Hannah di malam itu, masih berbekas di hati Hannah. Jeno seperti pangeran bermotor malam itu. Hannah memang enggan berpacaran dengan sesama artis, entahlah...rasanya seperti settingan atau hanya sekedar cinta lokasi.
__ADS_1
"Jangan lupa makan siang ya Han." pesan singkat dari Jeno. Hannah selalu menyempatkan untuk membalas setiap pesan Jeno.