SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 19


__ADS_3

"Terima kasih untuk pendengar yang masih setia dengan Suara Cinta di 97.5 FM. Tadi kita sudah dengarin satu lagu dari Mahalini dengan Sisa Rasa. Memang kalau masih ada sisa rasa itu ga plong ya, mau move on susah, mau kembali juga sudah ga bisa. Sekarang Cinta bacain pertanyaan kelima kita pada malam ini. Hai Cinta, salam kenal. Saya cowok 29 tahun, nama RC. Saya kenal seorang cewek sudah dua tahun, dan baru sebulan ini saya menyadari kalau saya jatuh cinta sama dia. Saya sudah menyatakan cinta saya, dia tidak menolaknya namun tidak menerima juga. Saya bingung nih, bagaimana meyakinkan dia untuk menerima saya? Ok, pertanyaannya tanggung ya RC. Kamu belum menyebutkan alasan dia menolak kamu apa? Jadinya Cinta juga bingung mau jawab apa. Tapi gini ya, kemungkinan besar si cewek juga suka sama kamu. Tapi ia belum bisa menerima ya karena ia butuh keyakinan kalau pilihannya ke kamu itu memang benar. Menurut Cinta, mungkin si cewek tipe wanita yang agak serius kali ya. Karena kalau dia tipe wanita yang sudah sering berpacaran, pasti dia terima kamu deh. Kalau nanti ga cocok ya tinggal putus aja. Jadi, buat RC, ditunggu saja sambil terus berusaha. Ada baiknya dia berpikir dulu matang-matang sebelum terima kamu, mungkin dia berharap hubungan kalian bukan sebatas pacaran tapi bisa ke jenjang yang lebih serius. Ok? Semangat ya RC..Lagu selanjutnya request dari Kak Jeno nih guys, dengan Tentang Dirimu dari Raisa..Check it out!"


"Benar Richie, kamu hanya butuh bersabar dan terus berusaha. Setidaknya Cinta bilang Dila juga mencintaiku. Kemungkinan besar." Richie merasa bersemangat setelah pertanyaannya dijawab oleh Cinta. 'Apalagi Cinta bilang Dila mau ke jenjang yang lebih serius?' Itu juga impian Richie, bukan hanya berpacaran, tapi menikah dengan Dila dan menua bersama. "I love you Cinta!! I love you Dila!!" teriak Richie.


*****


Dila tidak bisa tidur malam itu. Ia bahagia, sangat. Namun mengapa cerita Cinderella yang datang kepadanya. Richie. Dila sangat menyukainya, mungkin ia pun mencintainya tanpa sadar. Karena Dila tidak berani berharap ada cinta untuk Richie dalam sadarnya. Dan tadi pagi Richie mengungkapkan cinta pada Dila? Dila pun ingin segera mengatakan IYA, YES I DO, SAYA MAU.. apapun untuk menerima Richie. Tapi otaknya memintanya untuk berpikir lagi. Bagaimana jika Richie hanya penasaran dengan Dila? Bagaimana jika pacaran itu hanya bertahan satu minggu atau satu bulan? Bagaimana jika Richie sebenarnya mencintai Hannah dan hanya ingin membuatnya cemburu? Bagaimana jika mereka tidak mendapat restu keluarga Richie? Semua pikiran itu menghantui Dila. Ia berpikir jika ia tidak sanggup menahan semua sakit itu, ia juga tidak ingin memulainya. Seketika perasaannya ingin melawan logikanya. Apakah ia tidak pantas merasakan bahagia walau hanya satu minggu atau satu bulan? Apakah salah jika Richie lebih memilihnya daripada Hannah? Memang benar kata orang, dokter pun tidak bisa mengobati dirinya sendiri. Sama seperti Cinta yang tidak bisa menolong Dila.


*****


Richie dan Dila menuju Sky. Richie ingin mengecek beberapa pekerjaan di sana. Dila mengikuti Richie seperti biasa. Mencatat segala hal penting yang dibicarakan dengan Pak Roy, manager di sana. Setelah selesai, Richie mengajaknya ke suatu tempat.


"Ada yang ingin kutunjukkan." Richie mengajaknya ke sebuah kamar suite.


"Kita mau ngapain Pak?" Dila merasa belum siap melakukannya. Berciuman saja baru satu kali.


"Masuk saja. Ini kamar pribadiku." Richie menarik tangannya. Dila masuk ke kamar paling luas di hotel itu. Interiornya begitu indah dan rapi. Dila merasa sesuatu menariknya, ia mendekati dinding di dekat ranjang king size di sana. Lukisan bunga matahari.

__ADS_1


"Aku membelinya. Sepertinya ini benda penting untukmu."


Dila menyentuh lukisan itu. Ia tidak histeris seperti pertama. Dila menyentuh lukisan itu, memejamkan matanya. Mencoba mengingat harumnya udara bercampur aroma bunga matahari yang memenuhi halaman rumah mereka. Selama ini Dila sangat merindukan orang tuanya, namun ia tidak bisa mengingat wajah mereka. Semua foto sudah dibuang Bram. Tapi setelah melihat lukisan ini, semua memorinya seakan kembali. Bahkan Dila bisa mendengar tawa orang tuanya.


"Ini.. lukisan mama." ucap Dila sambil menyentuh inisial Cass.B. di sudut sana.


"Cass.B? Mamamu?"


"Ya. Cassandra Brian. Dia keturunan Amerika. Kakekku, papanya mama, adalah orang Amerika." Richie sekarang mengerti dari mana wajah cantik Dila berasal.


"Lalu siapa Bram?" tanya Richie.


"Chris. Dia bilang kamu mencari Bram. Tapi hanya itu, setelah dia mengetahui aku tidak tahu apa-apa ia langsung mengunci mulutnya. Ceritakan semua padaku Dila. Aku ingin menemanimu dalam keadaan apapun, aku sampai cemburu setengah mati membayangkan kamu dua hari bersama Chris." Richie mengenggam tangan Dila, mengajaknya duduk di sofa putih itu.


Akhirnya Dila menceritakan semua tentang ia menemui Farhan dan Bram. Bagaimana Bram merenggut semua harta dan asuransi jiwa orang tua mereka. Menyiksa Dila dan Vio, hingga mereka pergi karena tidak tahan lagi dan om Bram memberi tahu semua orang mereka kabur karena nakal.


"Saya dan Vio, kami sempat ingin pergi ke panti asuhan, tapi saya takut dipisahkan dengan Vio. Untung kami ditemukan seorang nenek. Mbah Yul. Kami tinggal bersamanya hanya tiga tahun hingga akhirnya ia pun meninggal karena kemiskinan, tidak punya biaya untuk berobat. Akhirnya saya menjual kalung yang saya dapat dari mama untuk melanjutkan sekolah, kalung Vio juga. Dan terakhir cincin mama yang sempat saya ambil sebelum meninggalkan rumah om Bram." Dila terlihat tegar ketika menceritakan itu semua. Richie hanya mendengarnya.

__ADS_1


"Semua yang ditinggalkan mama sudah habis terjual untuk biaya sekolah kami. Dan sekarang saya menemukan peninggalan mama yang lain, lukisan itu. Dan satu lagi ada di Chris. Hanya dua yang saya temukan dari sekian banyak lukisan mama yang saya ingat."


"Kok bisa di Chris? Tidak kamu bawa pulang?" Chris lagi, Richie kesal mendengarnya.


"Saya meninggalkannya di sana, nanti setelah saya membayar utang empat puluh juta baru saya akan mengambilnya kembali." Richie mengambil ponselnya,mengetik sesuatu.


"Pak, jangan coba-coba transfer ke Chris ya, atau saya akan marah." Richie langsung berhenti. Dila tahu apa yang akan dilakukan bos nya itu. Ia tersenyum melihat Richie ngambek.


"Jadi rencana kamu apa sekarang Dila?" Dila terdiam mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia sendiri bingung, sedikit takut mungkin. Sebelumnya Dila tidak berniat mengambil kembali apa yang menjadi haknya dan Vio, namun mendengar jawaban Bram ia menjual lukisan mamanya karena itu hanya memenuhi gudang saja membuat darahnya memanas. Alasan itulah yang membuatnya ingin merebut semuanya kembali.


"Saya ingin meminta bantuan Chris untuk mencari tahu tentang seseorang. Penasihat hukum perusahaan Bram. Sepertinya dia adalah pengacara yang mengurus warisan papa dulu." jawab Dila.


"Kenapa harus Chris? Aku juga bisa Dila. Kamu meremehkanku? Walaupun kamu belum menerimaku tapi aku sudah menganggapmu wanitaku yang harus aku lindungi."


Dila berterima kasih dengan tersenyum. Ya, toh pacar hanya sekedar status. Yang terpenting adalah perasaan mereka. Biarlah Dila sedikit egois sekarang. Tapi suatu saat ia akan mengungkapkan semuanya, jika Richie masih menunggunya.


"Boleh aku meminta bonus pelukan lagi?" Richie bertanya, Dila mengangguk. Itu membuat Richie maju memeluknya. Pelukan Dila membuatnya nyaman. Richie yakin Dila juga mencintainya, hanya saja Richie tidak mau menekannya. Ia akan menunggu hingga Dila siap. Karena ada seseorang yang akan mereka hadapi nanti. Mama Richie.

__ADS_1


*****


__ADS_2