
Mario mengajak Dila ke Karma Kandara. Salah satu pantai di sisi paling selatan pulau Bali. Pantai itu memang belum banyak dikunjungi wisatawan. Dila takjub dengan keindahannya yang belum banyak dijamah tangan jahil para pengunjung. Pantai itu seolah seperti surga yang tersembunyi.
"Indah kan Cinta? Kamu suka?" Mario dan Dila berdiri menghadap pantai. Dila mengangguk. Ia memejamkan matanya dan mendengar suara ombak.
Langit sangat mendung. Dila merasakan tubuhnya menghangat setelah ada sesuatu yang menutupi belakangnya. Ternyata Mario melepas jaket yang dipakainya untuk Dila. Ini kedua kalinya ia melakukan itu setelah di atas rooftop pertama kali ia bertemu dengan Dila kembali.
"Mario, kamu tidak boleh kedinginan. Kamu yang pakai saja." Dila bermaksud mengembalikan jaket itu, namun tangannya ditahan Mario.
"Aku tidak selemah itu Cinta. Tolong jangan perlakukan aku seperti orang sakit. Aku ingin menjadi pria normal di matamu. Pakailah. Nikmati angin sejuk ini." Mario memeluknya dari belakang.
Tinggi Dila hanya sebahunya. Dulu, saat ia memayungi Dila, tinggi Dila masih di telinganya. Berarti Dila tidak bertambah tinggi. Ia tersenyum membayangi dirinya yang seperti pengecut di hadapan Dila dulu. Saat inipun ia hanya bisa terus berada di belakang Dila dan mendoakan kebahagiaannya. Mario bersyukur suami Dila adalah Richie, seorang pria baik yang sangat dikenalnya. Setetes air memercik wajah Dila. Ia mengira itu adalah percikan ombak pantai. Tidak beberapa lama, setetes itu turun menjadi hujan deras. Mereka berdua berlari ke dalam resort tidak jauh dari sana. Mario berjalan ke arah resepsionis untuk meminjam handuk.
"Aku sudah sewa vila. Kita istirahat saja dulu." kata Mario sambil memberikan handuk itu ke Dila. Mereka diantar ke vila yang disewa Mario. Ada tiga kamar di sana. Satu untuk Mario dan Dila, satu untuk kedua perawat, dan satu lagi untuk Pak Wayan.
"Kamu pakai bathrobe saja dulu. Aku nanti minta layanan laundry buat keringin baju kita." kata Mario.
"Pakai hair dryer kan bisa keringin. Jangan boroslah. Sewa vila ini saja sudah berapa." Mario tertawa.
"Jangan kamu pikirin. Aku mau yang terbaik untukmu. Apalagi kamu sedang hamil." Dila menggelengkan kepalanya. Ia mengganti pakaiannya dengan bathrobe yang ada di kamar mereka. Mario melihat Dila keluar sambil membawa pakaiannya yang basah. Dila langsung mengambil hair dryer yang ada di samping meja rias dan mulai mengeringkannya.
"Kamu ganti juga dong. Jadi bisa sekalian aku keringin." kata Dila. Mario senang mendengarnya. Seperti diurus oleh seorang istri, pikirnya sambil masuk ke kamar mandi. Tentu saja Isabel dulu juga mengurusnya. Hanya saja ia tidak mencintainya.
Dila sudah selesai mengeringkan pakaiannya dan menjemurnya lagi di bawah AC. Ia mengambil pakaian Mario yang kelihatannya lebih susah dikeringkan karena ada celana jeans. Namun ia tetap mencobanya. Sepuluh menit kemudian, Dila menjemur pakaian Mario bersebelahan dengan pakaiannya.
"Mau makan apa?" tanya Mario.
"Entahlah. Aku tidak nafsu makan." Dila merasakan tubuhnya yang agak kedinginan.
"Kamu sakit?" tanya Mario. Dila menggeleng. Tidak biasanya Dila menolak makanan. Mario memesan beberapa makanan. Setidaknya penghuni kamar sebelah juga butuh makan. Ia mendekati Dila yang berbaring terlilit selimut. Ia memegang kening Dila. Sedikit hangat. Mario memanggil Vika, perawat yang biasa menangani Dila.
"Tensinya agak rendah Pak. Ibu Dila juga sepertinya demam. Ini obatnya. Tolong diberikan ke Ibu Dila setelah makan nanti. Pak Mario juga sudah harus disuntik sekarang." kata Vika. Mario menurutinya. Setidaknya ia harus sehat agar bisa menjaga Dila. Harusnya ia tidak membiarkan Dila kehujanan tadi. Mario meminta perawat itu meninggalkan kamar mereka.
Sesaat kemudian ponsel Dila berdering. Tertulis 'Sayangku' di layarnya. Mario menebak itu Richie. Ia memutuskan tidak menjawabnya. Ponselnya berdering lagi setelah sempat terdiam lima detik. Kali ini Mario menekan tombol hijau.
__ADS_1
"Halo." Tidak ada jawaban dari sana.
"Halo?" jawab Mario lagi.
"Mario? Mana Dila?" suara Richie. Ia kesal karena Mario yang menjawabnya.
"Iya ini aku. Dila sedang tertidur. Perlu aku bangunin?" tanya Mario.
"Tumben dia tidur siang-siang. Apa dia baik-baik saja?" tanya Richie. Mario bingung apakah ia harus menceritakan kondisi Dila saat ini.
"Mungkin dia agak lelah."jawab Mario. Mengingat sifat Richie, ia memutuskan tidak akan bercerita tentang Dila.
"Bagaimana kabarmu?" Richie memutuskan menurunkan egonya.
"Baik. Terima kasih sudah bertanya."
"Aku bertanya karena takut kamu merepotkan istriku." ketus Richie. Mario tertawa. Ia tahu bahwa Richie benar-benar peduli padanya.
Mario mendekati Dila. Ia membenarkan posisi selimutnya dan baru teringat Dila hanya mengenakan bathrobe. Mario tidak sengaja melihat bra Dila yang berwarna hitam. Cepat-cepat ia menutupi tubuh Dila dengan selimut. Ia meminta Vika membeli kaos yang biasa dijual sebagai souvenir di lobi hotel.
"Cinta, makan dulu yuk." Ia mencoba membangunkan Dila.
"Biar aku suap." Dila membuka mulutnya saat Mario memberinya sesuap nasi dengan suwiran ayam di atasnya.
Dila menggeleng saat Mario memberinya suapan kedua.
"Aku mual." Dila berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang baru saja ditelannya. Mario memijat belakang leher Dila. Membenarkan bathrobe Dila yang berantakan.
"Kamu tidak apa-apa?" Dila mengangguk pelan sambil berkumur. Mario menggendongnya keluar. Ia merasakan tubuh Dila yang menggigil. Mario memintanya untuk menelan nasi satu suap lagi sebelum meminum obatnya.
"Dingin Rio." kata Dila. Mario memeluknya, menggosok punggungnya. Vika mengetok pintu dan memberikan kaos dan celana pantai yang dibelinya. Vika bermaksud keluar sebelum Mario memanggilnya lagi.
"Vika, tolong bantu Dila memakai pakaian itu." Mario masih waras untuk tidak mengambil kesempatan yang langka itu. Vika menurutinya sementara Mario menunggu di luar.
__ADS_1
"Sudah Pak. Apa obat Ibu Dila sudah diminum?" Mario mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Mario menggosok tangan dan kaki Dila hingga ia tertidur. Mario memeluknya dan ikut tertidur.
Dila terbangun dan mendapati tangan Mario melingkar di pinggangnya. 'Astaga tubuh Mario.' Sekarang giliran Dila yang melihat bathrobe Mario tersingkap di dadanya. Ia masih mengenakan celana pendek di bawahnya. Perutnya yang seperti roti sobek membuat Dila ingin menyentuhnya. Akhirnya jari telunjuknya menyentuh perut itu dan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitarnya. 'Keras dan kencang.' pikir Dila. Ia menarik tangannya dan mengutuk dirinya yang selalu berpikir mesum akhir-akhir ini. Ia teringat terakhir ia disentuh oleh suaminya. Tiga malam lalu. Betapa ia sangat merindukan Richie dan sentuhannya.
"Kamu sudah bangun? Sudah baikan?" tanya Mario. Dila terkejut.
'Apa Mario merasakan ia menyentuhnya tadi?' pikirnya.
"Oh iya, sudah lumayan." jawabnya. Ia bangun dari posisi tidurnya dan duduk di sana. Dila bahkan lupa akan sakitnya tadi gara-gara melihat tubuh Mario.
"Mau menyentuhnya lagi?" Mario ikut duduk dan menarik ikatan bathrobe nya dan menarik tangan Dila ke arah dadanya. Dila menganga tidak percaya dengan apa yang dilakukan Mario.
"Apa-apaan..." kalimat Dila dipotong oleh Mario.
"Di sini. Dia selalu berdetak lebih kencang setiap mataku melihatmu. Apa kamu merasakannya?" tangan Dila berada di atas jantung Mario. Dila memang merasakannya. Secinta inikah Mario kepada dirinya? Andaikan dulu ia mengetahuinya.
"Dan mata ini, ia seperti magnet jika melihatmu. Selalu mengikuti kemana dirimu pergi." Mario mengarahkan tangan Dila ke matanya. Mario tidak tahu apakah setelah operasi nanti ia masih bisa melihat wanita yang dicintainya itu. Ia sudah membaca banyak sumber, semua bisa terjadi pasca operasi otak.
"Dan bibir ini, ia sudah menunggu tujuh tahun hingga bisa mencium pasangan yang dirindukannya." Dila menyentuh bibir itu. Kali ini Dila maju dan menciumnya. Mario tidak menyangka Dila mau menciumnya lebih dulu.
'Maafkan aku Richie, aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa mendustai hatiku kalau aku juga sayang dengan Mario. Aku menyayanginya.'
"Kamu harus hidup Mario. Bertahanlah. Jangan pernah menyerah." Dila menangkup wajah Mario. Mario memeluknya erat.
'Ya Tuhan, kalaupun aku bisa hidup lebih lama, apakah aku bisa hidup tanpa Cinta? Aku sangat mencintainya, bagaimana aku bisa melepasnya?'
*****
PS: Ketemu puisi yang Author suka saat kuliah dulu. Ditulis dalam diary yang tersimpan hampir 20 tahun.
__ADS_1