
"Setelah kita dengarin lagu dari Cokelat dengan Karma, Cinta bacain nih ya pertanyaan terakhir kita pada malam ini. Malam Kak Cinta..Malam juga..Saya cowok berusia 28 tahun, bukan usia untuk bucin lagi ni Kak. Saya diam-diam menyukai seorang wanita di tempat saya bekerja. Ya seperti lagu Pemuja Rahasia nya Sheila on Seven lah Kak. Masalahnya adalah saya merasa kurang percaya diri dengan keadaan saya. Sebagai teman kerja, dia pasti tahu range gaji saya, kehidupan saya. Jadinya saya ga berani nembak dia Kak, ya karena agak minder itu. Kasih saya saran donk Kak Cinta. Ok, itu pertanyaan dari cowok yang ga menyebutkan namanya. Kita sebut saja si A ya guys..Kayaknya Kak Cinta pernah sebut deh, bahwa cinta melihat ketidaksempurnaan dengan sempurna. Kamu tidak akan pernah tahu jika kamu terus bersembunyi dalam minder kamu. Bisa saja wanita yang kamu cintai itu juga suka sama kamu. Lebih baik lagi jika ia bisa menerimamu apa adanya. Tidak perlu ada yang ditutupi. Untuk si A, jadikan cinta motivasi agar kamu bisa lebih membahagiakan dia. Cinta bukan hanya kata yang kita ungkapkan kepada seseorang, tapi juga mencerminkan naluri kita untuk melakukan apapun demi membuatnya bahagia. Demikian perjumpaan kita di Suara Cinta 97.5 FM malam ini. Untuk lagu terakhir, Cinta putarin sebuah lagu dari The Overtunes dengan Cinta Adalah...See you tomorrow."
Richie mematikan radionya. Selama ia mendengarkan Suara Cinta, Richie banyak belajar tentang cara mengekspresikan cinta. Tapi saat berhadapan dengan Dila tadi siang mengapa ia tidak bisa berpikir jernih. Tapi sepertinya Dila bukan marah karena itu. Ia bisa merasakan bibir Dila yang menerimanya, sentuhan tangan Dila di tengkuknya. Ini semua gara-gara aku yang tidak berani mengakui bahwa aku menyukainya. Oh andaikan semua wanita bisa berpikiran terbuka dan bijak seperti Cinta, mungkin semua persoalan cinta akan ada jawabannya. Bagaimana besok ia akan menghadapi Dila di kantor? Minta maaf pasti. Tapi setelah itu? Ia juga tidak tahu.
"Selamat pagi, Pak." Dila sudah memutuskan akan melupakan kejadian kemarin. Kejadian memalukan sekaligus menyakitkan baginya. Bagaimanapun juga, Dila memang sudah tau batasannya sekaligus risiko jika ia melanggarnya.
"Dila, ke ruangan saya sebentar ya." Richie langsung memanggilnya masuk.
"Dila, maaf dengan ucapan saya yang kemarin. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan hal jelek tentangmu." Richie serius dengan perkataannya.
"Tidak apa-apa Pak, saya mengerti. Saya minta maaf kalau kemarin saya terlalu emosi. Kita lupakan saja kejadian kemarin." ujar Dila.
'Melupakannya? Saya bahkan ingin mengulanginya.' Richie berkata dalam hati.
"Baiklah, terima kasih atas pengertianmu." Richie menyesal dengan apa yang diucapkannya. Dila melangkah keluar.
Richie hanya perlu memantapkan perasaannya dan menyatakannya. Ia hanya butuh waktu yang tepat. Selama ini Richie hanya merasa ia membutuhkan Dila sebatas profesi kerja. Dila tidak pantas untuk ia permainkan. Jika Richie sudah mantap dan Dila menerimanya, maka Richie akan memperjuangkan cintanya.
"Maaf Pak, nanti siang jam makan siang, boleh saya izin keluar sebentar." Dila kembali masuk.
"Mau kemana?" Richie penasaran.
"Ada urusan sebentar." jawabnya singkat.
"Baiklah, sepertinya siang ini juga saya tidak banyak pekerjaan."
"Terima kasih." Dila keluar. Richie sangat penasaran dengan yang dimaksud 'urusan' oleh Dila. Namun Richie menahannya. Ia tidak mau terkesan posesif apalagi ia belum meresmikan hubungannya dengan Dila.
__ADS_1
Siang Richie terasa sepi. Ia terus melirik ke arah meja Dila hanya untuk mengecek apakah ia sudah kembali. Sudah hampir dua jam Dila pergi. Suara ponsel Richie berdering, ia menjawabnya.
"Siang Pak Richie. Lukisan yang kemarin Anda pesan akan saya kirim ke Hotel Sky Escape sore ini ya." Ibu Friska meneleponnya.
"Oh iya, terima kasih Bu. Maaf ya kemarin sempat buat heboh. Saya juga tidak tahu mengapa Dila jadi begitu kemarin." Richie merasa tidak enak sudah membuat sedikit kegaduhan di sana.
"Tidak apa-apa Pak. Tadi asisten Bapak yang pingsan kemarin datang ke sini. Dia menanyakan tentang lukisan bunga matahari itu."
"Dila kesana Bu? Boleh saya tahu apa yang ditanyakannya?" tanya Richie lagi.
"Dia menanyakan siapa pelukisnya. Saya memberi tahu orang yang menitipkan lukisan itu untuk dijual, saya juga kurang tahu apakah orang itu pelukisnya atau bukan."
"Begitu. Baiklah. Terima kasih informasinya Bu Frisca."
'Ternyata Dila pergi untuk menanyakan lukisan kemarin.' Richie sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Lebih tepatnya ia mengkhawatirkan Dila.
"Maaf Pak Richie, saya izin dua hari. Terima kasih." Richie mencoba menelepon Dila tapi dia tidak mengangkatnya. Richie tidak bisa menahannya lagi. Ia menuju rumah Dila, tapi hanya ada Vio di sana.
"Lho, kata Kak Dila ada acara outing kantor Pak dua hari. Mengapa Pak Richie mencari Kak Dila di sini?" tanya Vio bingung.
"Oh..eh..Saya janji mau menjemputnya tadi. Ok, makasih ya Vio." Richie kembali ke mobilnya.
Richie menyetir tanpa tahu arah. Ini salahnya. Harusnya ia mengutarakan perasaannya ke Dila dan sekarang ia bisa melindunginya. Richie tidak ragu lagi. Perasaan cemas dan merindukan Dila sudah menjadi bukti kuat atas perasaannya. Ia terus mencoba menghubungi Dila. Namun gagal.
Dila menginjakan kakinya di Jakarta. Ia hanya membawa sebuah tas ransel di pundaknya.
"Dilaa!!" suara Chris mendekatinya.
__ADS_1
"Chris, maaf aku merepotkanmu." Chris membantu Dila membawa ranselnya.
"Aku senang kok kamu minta bantuanku. As a friend." Ya, Dila memang meminta bantuannya, sebagai teman. Ia merasa tidak cukup waktu jika harus mengandalkan map ataupun taksi. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Langsung yuk Chris." Dila memberikan sebuah alamat kepada Chris. Dila sama sekali tidak mengenal daerah Jakarta. Ia membaca lagi kertas itu.
Farhan Saputra
Jl Melati no 34
Jakarta Selatan
Bu Frisca tidak bisa memberinya nomor telepon karena ia takut melanggar aturan bisnis mereka. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Akhirnya mereka sampai di alamat yang mereka tuju.
Dila membuka pagar besi berwarna putih itu. Chris mengikutinya dari belakang. Ia belum tahu pasti tujuan Dila kesana, ia hanya tahu Dila mencari seseorang. Dila mengetuk pintu kayu itu. Seorang wanita hamil besar membuka pintu itu. Ia terlihat bingung dengan kedatangan mereka.
"Cari siapa ya Mba?" tanyanya.
"Pak Farhan nya ada Bu?" tanya Dila.
"Ada perlu apa dengan suami saya?" tanyanya lagi.
"Saya mau tanya tentang lukisan." Ia mempersilahkan mereka masuk setelah mendengar jawaban Dila.
Mereka berdua duduk di ruang tamu. Ada banyak lukisan di sana. Dila berdiri membuka tumpukan lukisan di atas lantai. Ia melihatnya lagi inisial penulis di kanan bawah. Cass.B. Sama dengan lukisan bunga matahari di galeri. Dila mengenal inisial itu. Ia sering melihatnya saat masih kecil dan tidak mungkin ia melupakan nama mendiang mamanya. Cassandra Brian.
*****
__ADS_1