SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 52


__ADS_3

"Sayang, aku ikut ya." rengek Richie. Ia sedang mengantar Dila ke suatu cafe di tengah kota.


"Lah, nanti kami ngomongin soal kuliah kamu ga nyambung lagi. Bukannya kamu kurang suka sama Jeno?" tanya Dila.


"Tapi di sana ada Mario. Dia lebih parah dari Jeno. Sepertinya aku melihat kalau dia menyukaimu. Kalian akrab pas kuliah?" tanya Richie.


"Kami jarang ngobrol kok dulu." Dila tidak berbohong mengenai itu.


"Ya sudahlah. Kabarin aku kalau mau pulang. Nanti aku jemput." Dila mencium pipinya, lalu turun. Richie menduga Mario menyukai Dila bukan tanpa alasan. Ia sering mendapati Mario memandangi Dila dengan tatapan suka. Atau lebih dari sekedar suka. Tapi Richie yakin Dila bisa menjaga kepercayaannya.


"Hai Dila. Aku dan Rio sudah nyampe setengah jam lalu tau ga. Kamu kok lama?" sapa Jeno. Dila hanya tertawa mendengar kekesalan Jeno.


"Dila. Apa kabar?" Mario berdiri menyapanya. Menarik kursi untuk Dila.


"Baik. Kok baru ke Jogja sekarang? Katanya sebulan lalu mau ke sini?" tanya Dila.


"Aku ada urusan." jawabnya singkat. Ia melihat perut Dila yang masih belum terlihat besar di usia kehamilannya ketiga bulan. Ada sedikit perasaan sakit dan sulit bernapas setiap ia melihat Dila. Mario susah mendeskripsikan perasaannya. Ingin bertemu walau terluka. Ia ingin belajar untuk tidak terlalu memikirkan Dila selama sebulan ini. Tapi itu sulit. Sama sulitnya seperti menahan napas jika tahu bahwa oksigen itu ada.


Mereka mengobrol cukup lama mengenang masa kuliah dulu. Bercerita tentang teman dan dosen mereka. Sesekali Mario melirik Dila. Dila adalah dunia remajanya. Memang Mario mengenal Dila setelah dua tahun berkuliah sebelum ia ke Amerika. Mario seakan tidak memiliki masa remaja yang panjang. Ia menikah setahun setelah ia ke Amerika. Mungkin tidak sampai satu tahun. Entahlah, Mario juga tidak terlalu mengingatnya. Sebenarnya ia tahu Dila bekerja di tempat Jeno. Jeno selalu menceritakan tentang Dila padanya. Tetapi soal pernikahan Dila dan Richie, Jeno memilih untuk tidak menceritakannya. Jeno tidak mau merusak hubungan siapapun. Saat itu Jeno juga tidak mengetahui rencana perceraian Mario dan istrinya. Itulah yang membuat Mario menyesali keputusannya yang tidak menceritakan perihal perceraiannya dulu. Tapi ya sudahlah. Semua sudah terjadi. Jika Dila tidak menikah dengan Richie, belum tentu juga Dila mau menerima cintanya.


"Aku antar ya Dila." Mario menawarkan tumpangan. Jeno meliriknya.


"Suaminya cemburuan lho." celetuk Jeno. Ia memakai helm setelah menaiki motor balapnya.


"Richie bilang dia mau jemput. Aku sudah kirim pesan sih. Sebentar aku telepon dia dulu." Dila menelepon Richie ke kantor karena ia tidak menjawab ponselnya.


"Ren, Pak Richie di kantor? Aku telepon ke ponselnya tidak diangkat."


"...."

__ADS_1


"Oh, sedang meeting. Sampai jam berapa?"


"...."


"Ya sudah, titip pesan kalau aku tunggu dia di Sky ya. Makasih Ren." Dila menutup panggilannya ke Karen.


"Kamu nginap di Sky kan? Aku nebeng ke sana saja ya Rio." Mario tersenyum. Jeno melambaikan tangannya lalu berlalu meninggalkan mereka yang sudah masuk ke mobil.


"Kok kamu tidak pulang ke rumah? Mama kamu tinggal di Jogja kan?" tanya Dila.


"Tadi siang aku pulang. Aku tinggal di Sky karena Richie menawarkanku voucher gratis, bukan lagi diskon hahahaha..." Mereka tertawa.


'Ya tersenyumlah Dila. Karena itu yang paling ingin aku lihat sekarang dan akan aku ingat selamanya.' batin Mario.


Richie langsung meluncur ke Sky setelah ia mendapat pesan dari Karen bahwa Dila berada di sana. Meeting yang seharusnya diadakan besok mendadak harus dimajukan hari ini karena ada perubahan jadwal dari kliennya. Sesampainya di lobi Sky, Richie melihat Dila sedang asyik tertawa dengan Rio. Ia menahan diri untuk tidak menunjukkan kecemburuannya.


'Dengan Dila? Ini mama Mario. Tolong telepon saya jika senggang. Terima kasih.'


Dila sangat terkejut menerima pesan itu. Ada perlu apa hingga mama Mario menghubunginya. Ia izin dengan Richie untuk keluar sebentar sementara suaminya dan Rio sedang asyik mengobrol. Dila menelepon nomor yang menghubunginya tadi.


"Halo. Selamat sore Tante. Ini Dila."


"Nak Dila? Maaf Tante mengganggumu."


"Tidak apa-apa Tante. Ada yang bisa Dila bantu?" Dila mencoba bersikap sopan dengan mama Mario yang tidak pernah dikenalnya sama sekali.


"Tante..ingin bicara empat mata sama Nak Dila. Bisa kita bertemu? Besok mungkin?" tanyanya.


"Boleh Tante. Jam berapa? Di mana?" tanya Dila. Mama Mario memberikan sebuah alamat. Dila menebak itu adalah alamat rumah, bukan di tempat umum. Mama Mario berpesan kepada Dila untuk tidak memberi tahu Mario perihal rencana pertemuan mereka besok.

__ADS_1


"Pulang yuk Sayang." ajakan Richie membuyarkan lamunan Dila yang sedang penasaran tingkat tinggi dengan hal yang akan dibicarakan mamanya Mario.


"Ayo. Aku juga agak lelah. Kami pulang dulu ya Mario." Dila melambaikan tangannya. Mario selalu membenci lambaian tangan itu. Ia terpaksa tersenyum dengan perpisahan itu. Mario selalu takut jika ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Dila. Takut jika lambaian tangan itu benar-benar menjadi pertanda ia melihat Dila untuk yang terakhir kali.


*****


"Sayang, mamanya Mario masih ada kan?" tanya Dila sambil membereskan meja makan mereka dibantu oleh Atun. Asisten rumah tangga yang berumur sekitar 20 tahun. Sejak Dila hamil, Richie mencari ART yang bisa menginap di rumah mereka. Ia tidak mau Dila terlalu lelah.


"Masih. Setau aku mamanya ya di Jogja sini. Sepertinya tinggal dengan adik Rio. Memangnya kenapa sayang?" tanya Richie. Ia mengajak Dila masuk ke kamar mereka.


"Tidak apa-apa. Aku hanya bingung kenapa dia tidak tinggal di rumah dengan mamanya ya?"


"Entahlah. Mungkin nanti. Aku sedang menyuruhnya menginap di Sky untuk bahan review. Plus minus Sky apa saja."


"Ooh." Dila menjawab pendek.


"Kamu sudah minum vitamin?" tanya Richie.


"Sudah tadi habis makan." jawab Dila. Ia menghadap ke cermin, melihat bentuk perutnya dari samping.


"Kok belum terlalu besar ya?" tanyanya kepada cermin.


"Makanya makan yang banyak." Richie muncul di belakangnya sambil memeluk perut Dila. Mengusapnya pelan.


"Hahaha...Nanti mamanya yang gendut kalau makan banyak-banyak. Kalau aku gendut kamu tidak bisa gendong aku lagi." Ucapan Dila malah memancing Richie untuk menggendongnya ke ranjang.


"Siapa bilang aku tidak kuat? Mau gaya apa saja aku masih kuat kok." Richie mencium leher istrinya. Dila menggeliat geli. Ia tahu apa yang ada di pikiran suaminya. Semenjak hamil, hormon seksual Dila juga ikut meningkat. Ia malu sebenarnya. Tapi tidak ada salahnya kan. Toh ia memiliki suami. Dila memejamkan matanya, merasakan Richie di dalamnya. Richie selalu melakukan semuanya dengan penuh cinta dan Dila bersyukur untuk itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2