
Mereka turun. Richie memesan mobil dari hotel untuk berkeliling Bali. Ia menuju ke meja resepsionis.
"Siang Mbak. Saya ada pesan mobil atas nama Richie Andirawan." katanya sambil membuka kaca mata hitamnya. Wanita yang dipanggilnya 'Mba' itu terdiam memandang Richie. Dila mendekat menggandeng lengan suaminya.
"Oh iya. Mobilnya sudah siap Pak di depan. Pak Richie, pesan dari Pak Rio katanya nanti malam diajak makan malam bersama di restoran lantai 15." katanya.
"Oh ok. Tolong bilang sama Pak Rio, kami kesana pukul 7 malam ya. Terima kasih."
"Pak Rio itu teman yang kamu ceritain tadi?" tanya Dila.
"Iya. Jangan dandan yang terlalu cantik ya nanti malam. Dia itu duren. Duda keren." Richie menyentil hidung istrinya.
Mereka berkeliling di sekitar Ubud, membeli beberapa perabot rumah yang akan dikirim via kargo. Rumah mereka memang masih agak kosong. Richie sangat jarang memperindah rumahnya.
"Sayang, makan ramen yang dekat Kuta itu yuk." ajak Dila.
"Whatever u want My Queen." Dila tertawa mendengar gombalan Richie.
"Kamu ingat di jalan ini aku memegang ujung jaketmu? Kamu bilang biar aku tidak diculik orang." Dila ingat kenangan indahnya bersama Richie saat itu.
"Kamu pakai kets sih sekarang, kalau kaki kamu sakit karena pakai heels lagi, aku bisa menggendongmu sekarang. Kan kita sudah menikah." ucap Richie sambil menggandeng istrinya.
"Harusnya aku pakai heels ya tadi. Pakai kets gini aku tambah pendek di sebelahmu." Richie tertawa sambil mengacak rambut Dila.
Mereka menyisakan Pantai Kuta untuk besok. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Mereka memutuskan untuk langsung kembali ke hotel.
"Mandi sebentar ya Sayang. Keringatan nih."
"Berdua yuk biar cepat." ucap Richie. Ia membuka kaos yang dipakainya tadi.
"Biar cepat ya. Jangan aja jadi tambah lama." Dila melepas gaunnya dan masuk ke kamar mandi. Mereka benar-benar hanya mandi. Richie tipe orang yang tidak suka telat jika sudah memiliki janji. Itu point yang penting dalam menjadi pengusaha seperti dirinya. Selalu menghargai waktu orang lain, bukan hanya waktu kita.
Dila hanya memakai gaun bunga-bunga sederhana selutut, tapi ia tetap terlihat menawan.
"Tidak ada yang lebih jelek sayang?" tanya Richie.
__ADS_1
"Kamu menyinggung gaun ini jelek? Aku harus ganti yang lebih bagus? Ada sih yang hitam." Dila baru akan membuka lemari pakaiannya saat Richie menarik lengannya dan mulai memeluknya.
"Maksudku benar-benar yang lebih jelek. Kamu terlihat sangat menawan dengan gaun ini. Aaah..Sejak kapan aku merasa insecure begini?" Richie melepas pelukannya.
"Aku tidak pernah merasa cantik sebelum aku bertemu kamu."
"Tidak pernah karena kamu menutupinya. Ayo. Sudah hampir jam tujuh." Richie memberikan lengannya untuk digandeng Dila. Mereka naik lift ke lantai 15. Ada restoran barbeque di rooftop hotel itu.
"Sepertinya dia belum datang. Kita duduk dulu yuk di sana." Richie mengajak Dila duduk di meja paling pinggir. Mereka bisa melihat pemandangan sawah yang dihiasi dengan lampu warna warni.
"Indah banget sayang." Dila benar-benar kagum dengan keindahan di depannya.
"Sepertinya ini pilihan yang tepat mengajakmu menginap di sini." Richie merangkul Dila.
"Nah itu dia yang kita tunggu." Richie berdiri seolah menyambut seorang pria yang berjalan ke arah mereka. Pria tampan yang mengenakan jas hitam melambaikan tangan ke arah Richie. Dila terpaku dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Ia masih sangat mengenalnya walaupun rambut pria itu lebih rapi sekarang, walaupun pria itu lebih tinggi dan berisi sekarang, walaupun...
"Ini istriku Ardila." Richie mengenalkan mereka berdua.
"Kamu? Dila kan? Ardila Cintania?" Dila terkejut mendengar pria itu mengingat nama lengkapnya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu di sini. Jujur aku baru kembali satu bulan yang lalu. Sebelumnya kakakku yang memegang hotel ini."
"Kalian saling mengenal?" tanya Richie. Mario akan menjawabnya, namun Dila mendahuluinya.
"Teman lama." kata Dila. Ia menyesal pernah memberi tahu Richie bahwa ia menyukai teman Jeno saat kuliah dulu. Dila tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Mario di sini. Sekarang. Satu-satunya pria yang ia sukai sebelum Richie.
Mereka menikmati makan malam dengan berbagai macam daging panggang yang tersedia. Mario bahkan memberi mereka sebotol anggur gratis. Dila tidak meminumnya. Bukan tidak bisa, ia belum pernah, dan tidak ingin mencobanya. Udara malam yang dingin di atas sana membuat Dila bersin. Ia sedikit kedinginan.
"Pakai ini." Mario melepas jasnya dan memakaikannya ke Dila. Richie kesal melihatnya, namun tidak ada pilihan lain daripada melihat Dila kedinginan.
"Terima kasih." Dila jadi salah tingkah sambil melirik ke arah suaminya.
Richie dan Mario lebih banyak bercerita tentang kehidupan mereka di Amerika dulu dan juga tentang pekerjaan. Maklum, mereka sama-sama memiliki bisnis hotel. Dila lebih diam dan memilih berdiri menikmati pemandangan di depannya.
"Sayang, balik ke kamar yuk. Kami masih bisa ngobrol besok. Kamu kayaknya sudah kedinginan." Richie melepas jas di pundak Dila dan mengembalikan kepada pemiliknya.
__ADS_1
"Kami duluan ya Rio." ucap Richie.
"Terima kasih makan malamnya Rio." ucap Dila.
"Sama-sama Dila. Senang bertemu lagi denganmu." ucap Mario sambil tersenyum. Dila merasakan dirinya sedikit berdebar saat melihat senyum itu. Senyum yang jarang bisa dinikmatinya di masa lalu. Sangat jarang. Gandengan tangan Richie menyadarkannya. Mereka meninggalkan rooftop dan turun menuju kamar.
"Sayang, tolong donk resletingnya turunin." Dila membalikkan badannya. Richie membantunya, namun ia langsung memeluk tubuh istrinya yang setengah terbuka itu.
"Kamu kenal sama Rio di mana?" tanyanya sambil menarik Dila ke ranjang.
"Di kampus kayaknya. Tapi kami tidak dekat, hanya sekedar kenal." jawab Dila. Ia menangkup wajah Richie dan mulai menciumnya. Richie tentu saja membalasnya dengan cepat. Dila sudah menjadi candu baginya. Apalagi saat Mario mencuri pandang ke Dila, Richie tahu itu. Insting lelakinya dengan cepat menangkap bahwa Mario mengagumi istrinya. Tapi itu hal yang wajar, Richie tidak mau terlalu mempersoalkan itu. Yang terpenting adalah Dila adalah miliknya sekarang. Tidak akan ada yang bisa merebutnya dari Richie.
Dila bisa merasakan pelepasan Richie di dalamnya. Ya, ia adalah istri Richie sekarang dan Dila mencintainya. Mungkin debaran tadi hanya karena ia yang tidak menyangka akan kehadiran Mario malam itu.
'Maaf sayang, bukannya aku tidak jujur padamu. Tapi memang kami tidak dekat. Hanya saja ia pernah menghiasi hari-hariku dulu. Dulu di saat aku menjalani hidup di titik terendahku.'
*****
"Sayang, bangun. Aku harus ke Jakarta sebentar. Ada masalah di perusahaan papa. Nanti sore atau malam aku balik lagi ke sini." Richie membangunkan Dila. Ia sudah berpakaian rapi siap untuk berangkat. Richie tidak membawa apa-apa. Hanya dompet dan ponselnya.
"Masalah apa sih? Aku ikut pulang saja ya." Dila bangun.
"Tidak perlu. Nanti kan kita mau langsung pulang ke Jogja. Daripada kamu ikut bolak balik. Lagian kita di Bali kan harusnya seminggu. Ini baru empat hari. Aku minta maaf ya sudah mengganggu honey moon kita." Dila mengangguk. Ia mengerti jika hanya Richie yang bisa membantu papanya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Kabarin aku kalau ada apa-apa." Richie mengecup bibirnya dan menghilang di balik pintu.
Dila tidak bisa tidur lagi. Ia mengambil ponselnya dan mulai melakukan pencarian tempat wisata di Bali yang belum dikunjunginya. Akhirnya ia memutuskan pergi ke taman kupu-kupu. Jika dengan Richie pasti ia tidak mau ke sana, agak membosankan baginya.
Dila segera mandi dan bersiap-siap. Ia mengenakan dress putih panjang. Tidak lupa membawa kaca mata hitam dan topi lebarnya. Dila turun ke resepsionis bertanya apakah mobilnya sudah siap. Richie sudah menyewanya untuk seminggu.
Dila sampai di taman kupu-kupu. Ia masuk sendirian, menikmati indahnya berbagai macam jenis kupu-kupu yang berwarna warni di sana. 'Cekliik' suara kamera membuat Dila menoleh ke arah kanannya. Tampak seorang pria yang sedang memegang kamera mengarah padanya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud mengganggumu." katanya.
"Mario? Kok kamu ada di sini?" Dila terkejut.
__ADS_1