SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 15


__ADS_3

Siang itu Richie mengajak Dila menghadiri pameran lukisan di galeri seni salah satu kenalannya di Yogyakarta. Sepanjang jalan ke sana, Richie ingin menanyakan masalah hubungannya dengan Jeno. Tapi ia bingung bagaimana menanyakannya. Di lain pihak, Dila juga merasa perlu mengklarifikasi bahwa ia tidak berpacaran dengan Jeno. Tapi bagaimana jika Richie menganggap itu tidak penting? Pasti Dila akan sangat malu membahas itu.


"Kamu.." ucap Richie.


"Saya.." ucap Dila bersamaan dengan Richie.


"Silahkan Pak Richie duluan."


"Kamu, sejak kapan pacaran dengan dia?" tanya Richie sambil menyetir tanpa menoleh ke Dila.


"Saya ga berpacaran dengannya Pak. Dia hanya teman." jawab Dila lega karena Richie menanyakan hal itu duluan.


"Benarkah?" Richie tersenyum tanpa sadar. 'Dasar Jeno kurang ajar. Beraninya dia mengaku Dila pacarnya.'


"Maaf kalau bercandanya kelewatan kemarin, Pak. Dia memang gitu orangnya." Dila lega sudah menjelaskannya ke Richie. Sedangkan Richie tidak henti-hentinya tersenyum sepanjang jalan. Ia percaya Dila pasti jujur dengan ucapannya.


"Selamat datang Pak Richie ke galeri saya. Terima kasih lho sudah berkunjung." ucap seorang wanita paruh baya.


"Sama-sama Bu Friska. Kebetulan saya juga mau mencari beberapa untuk hotel saya." Richie mulai berkeliling melihat lukisan-lukisan yang dipajang di sana. Tidak semua lukisan di sana adalah karya Bu Friska. Ia juga menjual lukisan dari pelukis lain.


Dila merasakan sesuatu seperti dejavu saat masuk ke sana. Ia merasa dulu pernah melihat banyak lukisan seperti ini, sudah lama sekali.


"Kamu pernah ke pameran lukisan seperti ini Dila?" tanya Richie. Dila berjalan di belakangnya seperti biasa. Namun Richie menunggunya agar bisa berjalan bersebelahan.


"Belum Pak." Dila melihat banyak lukisan indah di sana. Ia tidak terlalu mengerti soal lukisan, apa alirannya, atau siapa pelukis yang terkenal. Ia hanya bisa merasakan indahnya lukisan itu.

__ADS_1


"Ini bagus ga? Untuk restoran." tanya Richie ke Dila. Ia menunjuk ke sebuah lukisan dengan gambar lima wayang. Dila mengangguk. Richie memang suka memilih sesuatu yang berbau tradisional untuk interior hotelnya.


Mereka terus berkeliling hingga Dila terdiam di sebuah lukisan sebuah rumah dengan halaman penuh dengan bunga matahari. Dila berpikir keras, berusaha mengingat di mana dia pernah melihatnya. Rumah temannya? Atau di internet? Majalah? Dila terus menggali pikirannya. Mendadak dia membayangkan papanya yang keluar dari pintu itu membawa nampan berisi cemilan yang akan dia berikan untuk...mama yang sedang melukis ke arah rumah itu. Vio yang berlarian ingin memetik bunga matahari itu.


Dila mundur dua langkah. Kakinya bergetar hebat, tidak mampu menahan tubuhnya lagi.


"Dila..Dila..Kamu kenapa? Jangan buat saya takut Dila." Richie mengguncangkan tubuh Dila yang gemetar.


Dila tidak bisa mendengar apapun. Ingatan masa lalunya mendadak kembali. Semua begitu jelas di lukisan itu. Suara tawa mama, papa, dan Vio. Dila berada di samping mamanya, melihat gerakan tangannya yang sangat mahir menggunakan kuas yang penuh dengan warna. Suara tawa itu seperti tidak bisa berhenti terdengar di otaknya.


"Dila..Dila..sadar Dila." suara Richie pun tidak terdengar lagi.


"Kamu sudah sadar?" Richie mendekati Dila.


"Saya di mana Pak?" tanya Dila. Ia masih tampak pucat.


"Kamu ga apa-apa? Ini ketiga kalinya lho aku gendong kamu pingsan." Richie mencoba bercanda, namun tatapan Dila seperti kosong tanpa ekspresi.


"Dila, kamu bisa cerita ke saya apa yang terjadi. Saya tadi sangat khawatir sama kamu." Richie memegang tangan Dila yang sangat dingin itu.


"Lukisan tadi Pak, dia memanggil saya." Richie bergidik ngeri. Ia mengira Dila melihat hantu.


"Maksud kamu apa?" tanya Richie lagi.


Dila hanya menangis. Belum bisa menceritakannya. Ia tidak tahu bagaimana memulai cerita itu. Richie hanya bisa memeluknya, mencoba menenangkannya. Ia lalu menatap mata Dila yang tidak mengenakan kacamatanya. Richie menghapus air mata Dila dengan jarinya. Menatap bola mata coklat yang indah itu. Tanpa sadar Richie mengecup mata Dila seakan cara itu bisa menghentikan tangisan dan duka wanita di depannya. Kecupan di mata itu turun ke pipinya, dan berhenti di bibir Dila. Mencoba membuka bibir Dila dengan bibirnya hingga masuk ke dalamnya. Richie merasakan getaran yang ia dambakan selama ini. Ia merasakannya. Ia bahagia bahwa itu Dila. Sedangkan Dila yang terkejut dengan sikap Richie hanya berharap ia tidak terbangun dari mimpi indahnya. Baru pertama kali ia merasakan sensasi seperti ini. Segala logika dan batasan yang telah ia tanam selama ini seakan telah terbakar oleh gairah yang mereka rasakan. Richie memeluk erat tubuh Dila tanpa melepaskan bibirnya dan mulai turun menuju leher Dila. Richie mendorong Dila yang berada di bawahnya ke atas tempat tidurnya. Richie merasakan kejantanannya mengeras. Dila juga merasakan sesuatu di bagian bawah tubuh Richie. Seketika Dila mendorong Richie menjauh.

__ADS_1


"Pak..Bukannya Pak Richie tidak bisa...bangun?" Dila mengucap itu sambil menatap sesuatu yang menegang di balik celana Richie.


"Hah??" Richie merasa bingung dengan apa yang dikatakan Dila. Dila menutup matanya, merasa malu dengan apa yang dilihatnya. Richie menyadari apa yang membuat Dila melakukan itu dan itu juga membuat Richie sangat malu.


"Apa maksudmu tidak bisa?" Richie membalikkan badannya. Ia ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Dila. Membasuh wajah dan menunggu tubuhnya kembali tenang. Ia menatap dirinya di cermin. Mengapa ia tidak bisa mengontrol dirinya tadi. Ia atasan Dila. Bagaimana jika Dila menganggap ia seorang bos yang mesum. Astaga Richie, apa yang sudah kamu lakukan. Richie sudah tampak mulai tenang setelah keluar. Ia melihat Dila masih duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Apa maksudmu tadi saya tidak bisa bangun? Kamu pikir saya tidak normal?" Richie sedikit tersinggung dengan apa yang Dila ucapkan tadi.


"Ma..maaf Pak..Saya kira Pak Richie tidak bisa...Makanya Bapak putus sama Hannah. Saya..saya benar-benar tidak sengaja mendengarnya Pak. Saya tidak bermaksud menguping. Sumpah Pak." Dila sangat takut Richie marah.


"Apa yang kamu dengar?" Richie menatap Dila tajam. Ia berusaha menahan tawanya melihat tampang ketakutan Dila.


"Bapak tidak sanggup melakukannya bersama Hannah."


"Itu karena saya tidak mencintainya, kami putus." jelas Richie singkat.


"Saya percaya kamu tidak akan mengumbar kemana-mana masalah ini. Bagaimanapun Hannah seorang public figure. Nama baiknya harus dijaga. Saya menyuruhnya untuk mengatakan kepada media jika dia yang memutuskan hubungan kami." Richie tersenyum. Dila merasa sangat bodoh telah berpikiran bahwa Richie tidak normal selama ini.


"Dila, saya minta maaf sudah bersikap kurang ajar tadi sama kamu."


"Saya mengerti jika Bapak khilaf." Ya, pasti Pak Richie hanya khilaf tadi, berdua di kamar seperti ini memang banyak setannya.


"Saya bukan khilaf Dila. Sepertinya...saya menyukaimu. Maaf, sepertinya saya sudah gila." Richie menertawakan dirinya sendiri.


"Benar, mungkin Bapak memang sudah gila menyukai gadis seperti saya. Jelek, berkacamata, miskin, dan hanya seorang asisten yang selalu memakai blazer dan sepatu lusuh setiap harinya. Bapak tidak perlu menertawakan itu, karena tawa Bapak hanya membuat saya terlihat lebih miris. Selamat sore." Dila mencari sepatunya dan langsung keluar dari rumah itu setelah memakainya. Tidak mengacuhkan Richie yang meminta maaf di belakangnya.

__ADS_1


Pikiran Dila sedang kacau. Lukisan tadi. Kejadian dengan Richie. Dan perkataan Richie tadi yang menurutnya sangat menghina harga diri Dila. Ia sangat bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Dila ingat ia masih harus siaran malam ini. 'Ok Dila, fokus. Kamu wanita kuat. Kamu pasti bisa melewati ini.'


*****


__ADS_2