SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 31


__ADS_3

"Ah..Akhirnya." Dila berbaring di ranjang hotel.


"Sayang, tadi om Ivan telepon tanya kabarmu. Aku sudah minta pengacara papa juga buat kasus ini. Kemungkinan besar om Ivan tidak bisa jadi kuasa hukum kita karena keterlibatannya di masa lalu." Dila mengangguk pelan. Ia tahu kasus ini akan berangsur lama. Tindak perdata dan pidana. Belum lagi percobaan pembunuhan yang dilakukan Nancy.


"Besok aku pulang ya, Sayang. Kamu di sini dulu saja. Aku masih ada pekerjaan." ucap Dila.


"Hah? Aku ga salah dengar? Mau kerja?" tanya Richie.


"Senin ada perpanjangan kontrak sewa alat berat dari PT Yogie. Selasa aku harus siaran." jawab Dila.


"Ok, mulai hari ini kamu tidak usah kerja lagi di kantor. Atasan macam apa yang tidak kasih kamu izin untuk istirahat di saat kamu sakit. Mau istirahat atau saya pecat?" Richie terdengar serius.


"Maaf, Pak. Jangan pecat saya. Mau cari di mana lagi punya atasan ganteng dan baik seperti Pak Richie? Kalau saya dapat di tempat lain atasan seperti Bapak, Bapak rela? Mau?"


"Awas ya kalau kamu berani cari tempat lain." Richie memeluk Dila.


"Auuw.." Dila meringis saat pelukan Richie mengenai lengannya yang terluka.


"Maaf. Dila, kita menikah ya setelah semua ini selesai. Atau tidak perlu menunggu hingga selesai banget. Aku ingin kita secepatnya menikah." Richie mendadak serius.


"Sayang, kita bahkan belum mendapat restu mama." ucap Dila.


"Aku yang akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja. Istirahat biar cepat sembuh. Aku susah memelukmu kalau tanganmu begitu."


"Iya, tapi tetap besok aku pulang ya. Kasihan Vio. Senin aku izin istirahat. Selasa aku masuk. Dan tolong jangan menghalangi aku siaran. Jadwalku sekarang hanya dua kali seminggu. Dan aku juga sudah kangen siaran."


"Kangen siaran apa kangen orang di sana?" Dila tahu nada itu. Cemburu dengan Jeno.


"Sayang, kamu tahu ga kalau Jeno lagi dekatin Hannah?" tanya Dila.


"Tuh kan. Playboy." celetuk Richie.


"Kamu cemburu karena aku atau karena Jeno dekatin Hannah?" Sekarang gantian Dila yang curiga.


"Ya kamu lah. Masa Hannah? Senin ya pulangnya. Aku temanin pulang. Kalau mama belum baikan nanti aku ke sini lagi." Dila tidak bisa menjawab. Richie pasti tidak bisa dibantah. Ia mengangguk. Dila hanya perlu mengabarkan semuanya ke Vio.


"Kamu mau ke rumah sakit atau tidur dulu? Kamu kurang istirahat." kata Dila.


"Aku langsung saja. Lihat keadaan mama dulu. Nanti aku pulang tidur."


"Pulang kemana?" tanya Dila.


"Ke sinilah. Kamu itu tempat aku pulang Sayang. Aku pergi dulu ya. Kamu istirahat. Obatnya jangan lupa diminum biar lukanya cepat kering." Richie mencium kening Dila.


"Salam buat mama dan papa ya." Richie menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Richie masuk ke kamar mamanya. Hannah juga berada di sana dengan Vicky.


"Hai Han. Ma, uda enakan?" Richie mendekati mamanya dan memegang tangannya.


"Sehat. Obat sekarang kan canggih semua." mamanya tersenyum.


"Tante, Hannah permisi dulu ya. Ada kerjaan." Ia mencium pipi Desy.


"Richie antarin Hannah ke bawah." perintah mamanya.


Mereka berdua berjalan dalam canggung.


"Jadi gimana hubunganmu dengan Dila?" Hannah memulai pembicaraan.


"Baik. Tinggal tunggu restu mama. Kamu tahu kan gimana mama? Hahaha..." Mereka tertawa.


"Iya aku tahu banget. Tenang saja. Aku juga sudah menolak pas disuruh balikan sama kamu." Hannah tertawa teringat mama Richie yang ngotot ingin mereka bersama kembali.


"Aku dengar Jeno kesini pas ulang tahunmu kemarin?"


"Iya, dia kesini. Tengah malam baru ketemu. Aku pulangnya malam sih. Dia juga ga kabarin dulu."


"Tapi sukses kan surprise nya."


"Ok deh. Hati-hati ya. Salam buat Billy." Richie berbalik dan kembali ke kamar mamanya.


"Sudah?" tanya mamanya.


"Sudah. Mama jangan banyak pikiran lagi deh. Ini itu dipikirin." Richie duduk di sebelah mamanya.


"Makanya. Kamu nurut donk sama mama." Richie malas berdebat. Ia memilih diam. Biar nanti papanya yang mengurus restu dari mama.


"Mana Dila? Kok ga ikut?" Vicky berbisik ke Richie. Ia tidak mau mamanya sampai mendengar tentang Dila.


"Lengannya terluka. Panjang ceritanya." bisik Richie.


Dua jam di sana Richie tidak bisa menahan lagi kantuknya. Mamanya sedang tidur.


"Vicky, kamu di sini dulu ya. Aku mau tidur dulu, ngantuk banget. Nanti kalau papa datang, kamu baru pulang. Nanti subuh deh aku ke sini lagi." Vicky mengangguk sambil tetap bermain game di ponselnya.


Richie berjalan kaki ke hotel di sebelah rumah sakit. Ia merasa ngantuk berat. Richie masuk ke kamar 608. Kamar Dila. Tapi Richie tidak menemukan Dila. Richie mengambil ponselnya ingin menelepon Dila. Ternyata ponselnya habis daya. Ia langsung cepat-cepat mengambil chargernya. Menunggu sekitar dua menit lalu menyalakannya. Memencet nomor Dila.


"Dila, kamu dimana Sayang?" tanya Richie. Kantuknya meluap entah kemana.


"Aku di lobi. Ada polisi yang ingin bertemu. Kamu tidak lihat aku tadi?" Richie langsung turun ke bawah. Ia memang tidak menoleh saat masuk ke hotel. Di pikirannya hanyalah kasur yang empuk untuk tidur.

__ADS_1


"Hai Richie."


"Chris? Kok kamu bisa di sini?" Richie terkejut dengan adanya Chris yang berada tidak jauh dari Dila yang sedang diinterogasi dua polisi.


"Dila telepon minta gw datang. Katanya lo ga bisa dihubungi."


"Ooo..Ponsel gw mati habis daya. Maaf ya ngerepotin lo jadinya." Richie menepuk pelan lengan Chris.


"It's ok. Gw juga sudah kangen sama Dila hahaha...Kejut juga gw lihat dia tertembak gitu."


"Kangen palak lo. Dia pacar gw kalau lo lupa." Richie ngambek.


"Tahu..Karena dia pacar lo, gw jadi anggap dia adik sekarang. Tenang saja. Gw benar-benar hanya ingin bantu." Chris tersenyum. Urusan Dila dan Richie dengan polisi sudah selesai. Mereka kembali ke kamar. Richie mengajak Chris untuk ikut makan malam di kamar.


"Akhirnya pulang juga tu anak. Maaf ya Dila. Aku tidak tahu ponselku mati tadi." Richie sudah selesai mandi dan bersiap untuk tidur.


"Iya, kamu tidak marah kan aku panggil Chris kesini? Aku takut tadi temuin polisi sendirian. Tapi aku tidak tahu harus telepon siapa lagi."


"Tidak marah. Cuma menyesalkan kenapa ponselku mati. Aku tidur sebentar ya, Sayang. Ngantuuuk banget. Nanti aku mau ke rumah sakit lagi, subuh atau pagi." Dila mengangguk. Ia memang melihat Richie yang sudah tampak lelah.


*****


Dila terbangun karena suara ponsel yang berdering. Ia menoleh ke Richie yang sedang tertidur pulas di sebelahnya. Dila mengangkat ponselnya yang menjadi sumber suara itu. Pukul 02.44. Vio. Dila langsung tersadar dari kantuknya.


"Halo, Vio?" tanya Dila.


"Kak..Kak Dila..Vio takut kak. Ada orang yang ikutin Vio dari pulang sekolah tadi. Vio kira cuma orang iseng. Ternyata dia masih ada di luar." Vio terdengar akan menangis.


"Hah? Kamu tau dia siapa?" Dila membangunkan Richie dengan menendang kakinya karena tangan kanannya masih belum bisa bergerak. Richie bergerak sedikit.


"Ga tau Kak. Kakak kapan pulang?"


"Kakak pulang besok. Kamu kunci pintu. Kakak minta Richie kirim orang kesana." Dila menutup teleponnya.


"Sayang, bangun donk." Dila menepuk bahu Richie.


"Kenapa Sayang? Tanganmu sakit?" Richie mengucek matanya.


"Richie, ada orang yang ikutin Vio dari siang. Vio lagi ketakutan sekarang. Kamu bisa suruh siapa gitu ke rumah?" Dila panik. Ia merasa bersalah meninggalkan Vio di rumah sendirian.


"Aku suruh Yanto kesana. Kamu jangan panik dulu." Yanto adalah satpam di kantor Richie. Ia langsung meneleponnya. Untung Yanto mengangkatnya di tengah malam begini. Richie memintanya ke alamat yang diberi Dila. Richie juga meminta Yanto untuk melapor ke polisi jika terbukti ada yang menguntit Vio.


"Richie, aku mau pulang besok pagi. Aku takut Vio kenapa-kenapa." Dila menangis. Richie memeluknya.


"Iya, besok kita pulang. Nanti aku telepon papa." Dila tidak bisa tidur memikirkan Vio sepanjang malam. Ia berjanji tidak akan meninggalkan adiknya lagi sekarang.

__ADS_1


__ADS_2