SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 9


__ADS_3

"Permisi Pak Richie, apa saya boleh pulang?" tanyanya.


"Kalau saya bilang tidak boleh?" Richie masih membutuhkan bantuan Dila.


"Maaf Pak, saya ada pekerjaan lain." jawab Dila. Ia akan merasa sangat malu jika dimarahi di depan Airin dan Vicky.


"Lho, saya kan gaji kamu karena bekerja dengan saya." jawab Richie ketus. Dila merasa harga dirinya seperti terinjak di tengah ruangan itu. Matanya sudah perih menahan air yang seakan sudah membulat di ujungnya.


"Sudahlah Ric, kasih pulang saja. Sudah lewat jam kerja." ujar Airin.


"Ya sudah, pulang sana." Richie melanjutkan pekerjaannya. Dila berbalik badan meninggalkan ruangan itu.


Dila tidak marah dengan Richie. Memang benar seharusnya ia tidak pulang di saat masih ada pekerjaan, toh Richie selalu memberinya uang lembur. Namun ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan sampingannya begitu saja. Dila bukan tipe orang yang suka mangkir dari pekerjaannya. Ia menghembuskan napasnya ke udara. Menelepon Vio bahwa ia langsung pergi kerja lagi tanpa pulang dulu ke rumah.


Richie mengantar Airin dan Vicky ke hotel pukul 10 malam. Ia menyalakan radio di mobilnya. Sayang sekali Suara Cinta sudah habis. Ia melewatkannya malam ini. Richie menangkap sosok yang sepertinya ia kenal. Blazer hitam itu. Benar. Itu Dila yang sudah melepas kunciran rambutnya. Sepertinya Dila sedang menunggu angkot. Richie menghampirinya.


"Dila, kamu ngapain malam begini masih belum pulang?" Richie membuka jendela mobil, berteriak dari dalam. Dila terkejut dan sebelum ia menjawab Richie sudah menyuruhnya masuk. Dan Dila tahu atasannya itu tidak bisa dibantah.


"Kamu kenapa belum pulang?" Richie bertanya lagi setelah Dila masuk.


"Saya ada pekerjaan, Pak." jawab Dila sambil memakai seat belt nya.


"Urusan apa pekerjaan?" Richie selalu ingin tahu detail. Dila takut menjawab jika ia memiliki pekerjaan sampingan. Ia tahu saat pertama diterima kerja, ada point yang menyatakan bahwa karyawan dilarang memiliki double job dengan alasan akan ada benturan kepentingan nantinya.


"Hanya urusan Pak." jawab Dila pelan.


"Seberapa penting urusan kamu sampai tadi tidak bisa menunggu saya selesai?" Dila lelah memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu. Ia sedang capek. Dan AC mobil yang begitu dingin membuatnya mengantuk. Ia ingin tidur namun malu. Tapi matanya sungguh terasa berat..berat...Zzzz...


Richie bingung pertanyaannya tidak dijawab. Saat ia menoleh ke Dila, ternyata gadis itu sedang tidur. Richie berniat membentaknya, namun ia tidak tega melihat wajah Dila yang begitu lelah. Setelah sampai di dekat halte tempat ia pernah menjemput Dila, ponsel gadis itu bergetar di tempat duduknya. Richie memutuskan untuk menjawabnya.


"Halo Kak, kakak di mana? Kok belum sampe?" tanya suara seorang perempuan.

__ADS_1


"Maaf saya Richie, atasan Dila. Dia lagi tidur di mobil saya, tadinya saya mau antar dia pulang tapi ga tau rumah kalian di mana." Vio menjelaskan rute ke arah rumah mereka. Vio sudah menunggu di depan rumah. Richie keluar dari mobilnya. Melihat rumah Dila yang sangat sederhana. Bahkan sangat kecil. Hanya seukuran dapurnya. Vio terpesona dengan Richie, sosok yang biasanya ia lihat di ponsel kakaknya.


"Kamu adik Dila ya? Dia di dalam, lagi tidur. Kamu bangunin dia deh." kata Richie.


"Maaf ya Pak, kak Dila pasti lelah abis pulang kerja. Memang tiap hari dia pasti pulang malam gini." Vio membangunkan kakaknya. Dila terkejut ia sudah berada di depan rumahnya.


"Pak Richie, maaf Pak, saya ketiduran." Dila merapikan rambut dengan jarinya.


"Tidak apa-apa. Kalian tinggal di sini? Sama siapa?" tanya Richie sambil melihat ke arah rumah itu.


"Kami..hanya berdua." jawab Dila pelan.


"Oh iya, ini Violetta. Adik saya Pak." Richie tersenyum menyambut ajakan Vio untuk bersalaman.


'Sepertinya ramah, tidak seperti cerita kak Dila.' pikir Vio.


"Mau masuk Pak?" tawaran Vio langsung mendapat senggolan keras kakaknya.


"Boleh. Saya minta teh hangat ya." Richie berniat membuka sepatunya saat akan masuk.


"Dipakai saja Pak, tidak perlu dibuka. Maaf Pak, hanya ada kursi plastik. Saya buat teh dulu ya." Dila berjalan menuju ke dapur.


"Kamu kelas berapa Vio?" tanya Richie ke Vio yang ikut duduk di sana.


"Kelas 3 SMU, tahun depan saya lulus." jawab Vio.


"Terus rencana kuliah di mana?" tanyanya lagi.


"Saya suka melukis Pak, tapi tidak ada beasiswa untuk jurusan itu. Menurut saya jurusan ekonomi atau bisnis juga oke. Tapi kak Dila bersikeras agar saya masuk seni. Dia sampai kerja..." Dila memanggil Vio, sebagai tanda Vio tidak boleh menceritakannya.


Richie penasaran dengan apa yang akan Vio katakan, namun ia tahan. Tidak lama Richie duduk di sana. Hari sudah sangat malam. Ia pun pamit pulang.

__ADS_1


Sepertinya benar Dila memiliki pekerjaan lain. Jika Richie menanyakannya dan ternyata benar, ia tidak mungkin tidak melapor ke bagian HRD. Jika ia melaporkannya dan Dila dipecat... Richie tidak bisa membayangkan pekerjaannya tanpa Dila. Dila ikut membantunya sejak awal perusahaan Richie dibuka di Yogyakarta. Dila.. Tidak seharusnya ia masuk ke kehidupan pribadi perempuan lain, apalagi asistennya sendiri. Dan wajah manisnya di pantai, tubuh mungil yang dipeluknya. Mengapa Richie sulit melupakannya. Ia merasa lebih hidup di depan Dila, bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus mengenakan topeng apapun. Richie seolah ingin terus masuk ke dalam hidup gadis itu. Ingin mengorek lebih jauh. Richie menjauhkan pikirannya itu. Mungkin itu hanya hasrat pria normal di usianya. Richie juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mencoba memperbaikinya bersama Hannah.


Dua minggu ini Richie melewatinya dengan penuh kesibukan. Ia sering lembur di kantor, namun tidak mengajak Dila. Richie membiarkannya pulang paling telat jam 6 sore. Richie mengerti keadaan yang memaksa Dila untuk mengambil pekerjaan sampingan, dan Richie memutuskan untuk menutupinya. Setidaknya itu yang bisa dilakukannya agar Dila tidak meninggalkannya. Maksudnya agar Dila tetap bekerja dengannya. Richie berniat memberikan bonus 2 bulan gaji untuk Dila setelah acara pembukaan hotelnya selesai. Acara Grand Opening yang akan digelar hari Minggu sudah diatur oleh tim RAF. Semua tamu yang diundang dapat menginap di hotel Sky Escape untuk dua malam. H-1 hari Sabtu, para tamu sudah mulai berdatangan.


"Sayang, ke kamarku sebentar donk. Aku mau kasih kamu sesuatu." Hannah menelepon Richie. Richie sedang bersama Dila di lobby memeriksa daftar tamu yang sudah hadir,


"Sekarang?" tanya Richie.


"Iya, aku tunggu ya, 708." jawab Hannah.


"Dila, aku tinggal sebentar ya. Tolong kamu cek ini dulu." Dila tahu itu panggilan dari Hannah. Dila melihatnya datang tadi. Sangat cantik. Tubuh seorang model, wajah blasteran. Sangat cocok untuk Pak Richie. Dila tersenyum. Namun senyumannya terasa pilu, pahit.


Richie masuk setelah membunyikan bel pintu kamar Hannah.


"Sayang, aku kangen banget. Kalau aku peluk kamu di bawah, nanti kamu marah lagi." Hannah memeluknya.


'Ayo Richie, kamu bilang kan akan mencobanya.' Richie membalas pelukan itu. Menatap Hannah. Richie memegang dagunya, mendekatkan bibirnya ke bibir Hannah. Hannah sedikit terkejut, namun ia senang Richie melakukannya. Sudah cukup lama mereka tidak pernah berciuman. Richie melakukannya dengan pelan dan dalam, mencoba membangkitkan hasrat kelaki-lakiannya. Hannah pun tahu apa yang harus dilakukannya. Ia membuka jas dan kemeja Richie, tanpa melepaskan bibir mereka. Sekarang Richie yang gugup. Sudah sangat lama ia tidak melakukannya. Terakhir ia tidur dengan seorang gadis saat di Amerika, itupun karena ia mendengar Airin sudah menikah. Dan sekarang, melihat Hannah yang mulai ingin melepas dress yang dikenakannya, sebagai pria normal ia merasakan kejantanannya mulai memberontak di balik celananya. Namun mengapa yang ia rasakan hanya perasaan gugup, tidak ada keinginan untuk melakukan lebih dan lebih. Bahkan ia takut menyentuh tubuh Hannah. Richie menahan tangan Hannah yang ingin membuka resleting celananya. Ia melepas ciuman itu.


"Maaf Han, aku...Aku masih banyak pekerjaan di bawah." ucap Richie. Ia mengenakan lagi kemejanya. Terlihat jelas raut kecewa di wajah Hannah.


"Oh, baiklah. Aku mengerti." Hannah merapikan dressnya yang tampak acak-acakan.


"Richie, hampir saja aku melupakannya. Hadiah untukmu. Selamat untuk pembukaan hotelnya, Sayang. Semoga sukses." Hannah memberikan sebuah kotak berisi dasi untuk Richie dan mengecup pipinya. Richie pun meninggalkannya.


*****


PS: visual Hannah pernah author upload di "Bukan Pelarian", for reminder aja ya.



 

__ADS_1


 


__ADS_2