SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 18


__ADS_3

"Ada yang harus aku lakukan sebelum mendatanginya lagi." Dila tampak yakin dengan apa yang akan dilakukannya.


"Apa itu? Ayo ceritakan padaku, aku sudah terlanjur basah nih." ucap Chris penasaran.


"Kamu ngompol?" Dila tertawa dengan leluconnya sendiri. Chris terlihat kesal.


Ya Dila melihatnya. Papan nama di dinding Bram. Penasihat Hukum PT Samudera Jaya. Ivan Nugraha S.H.,M.H. Dila mengingatnya sekarang. Orang yang sering dipanggilnya Om Ivan, yang sering datang ke rumah Om Bram setelah orang tua Dila meninggal. Dila akan mencarinya namun tidak sekarang. Sepulangnya ke Jogja, ia akan langsung siaran. Itu sebabnya ia mengambil penerbangan jam empat sore. Dila tidak enak meminta izin dua hari dengan Jeno.


"Kamu bisa membawa lukisan itu Dila. Pasti kamu kangen sama mamamu." ucap Chris sewaktu mengantar Dila ke bandara.


"Tidak, tolong kamu simpan itu untukku Chris. Aku akan mengambilnya saat aku membayar utangku."


"Itu lagi. Sudah lunas pas makan siang tadi kok. Jangan dipikirin lagi." Dila tersenyum. Ia memeluk Chris.


"Terima kasih Chris. Aku tidak mungkin bisa melewatinya tanpa kamu tadi. Aku masuk ya. See you next time." Dila melambaikan tangannya. Chris mulai merindukannya.


Dila duduk di pesawat. Ia menatap sepatu barunya. Memang benar pepatah ada harga, ada rupa. Kakinya tidak merasakan sakit sedikitpun memakai sepatu itu. Ya ia harus menapak dengan kuat sekarang agar kakinya tidak lagi gemetar menghadapi Bram. Bukan hanya demi dirinya dan Vio, Dila melakukan ini agar kedua orang tuanya tenang di sana. Dila menoleh ke arah jendela. Seketika ia mengingat Richie. Sinar matahari yang akan terbenam selalu mengingatkannya dengan Richie. Ia sangat merindukannya. Namun sayang, Richie menganggap apa yang terjadi di antara mereka kemarin adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya Dila mengingat ciuman itu. Lupakan dia Dila, kumohon.


Pukul 6.30 pagi Richie sudah menuju ke rumah Dila. Ia tidak bisa tidur semalaman. Sebenarnya setelah Suara Cinta semalam ia berniat ke rumah Dila. Namun Richie mengurungkan niatnya, tidak sopan bertamu ke rumah seorang wanita malam-malam.


Richie mengetuk pintu kayu itu. Ia sangat gugup, ia takut Dila masih marah dengannya. Seorang gadis berkulit putih masih mengenakan baju tidur doraemon membuka pintu itu.


"Hai Dila, kamu kapan pulang?" Baru saja Richie mau memberikan bungkusan berisi nasi uduk, pintu di depannya tertutup lagi. Dila terkejut, rambutnya acak-acakan, dan dia bahkan...belum memakai bra nya. Ia membuka pintu tiga menit kemudian. Richie masih berdiri di tempat yang sama.


"Pagi Pak, maaf saya baru bangun." ucap Dila. Richie melihat lagi mata indah tanpa kacamata itu. Jika tidak mengingat ia berada di tengah perkampungan padat, pasti ia sudah memeluk Dila karena merindukannya.

__ADS_1


"Ini saya bawain kamu sarapan, untuk Vio juga." Dila sedikit terkejut dengan perlakuan Richie. 'Atau ia sengaja bersikap baik sebelum dia memarahiku habis-habisan?'


"Terima kasih Pak." Dila menerima bungkusan plastik itu. Menunggu Richie pergi, namun sepertinya Richie tidak berniat untuk pergi dari sana.


"Boleh saya duduk di dalam? Kamu juga silahkan bersiap-siap, kita ke kantor bareng." Richie masuk tanpa menunggu persetujuan Dila. Dila pun masuk dalam kebingungannya.


"Hai Pak Richie, makasih nasi uduknya ya. Enak. Vio pergi sekolah dulu ya Pak. Bentar lagi Kak Dila selesai kok. Permisi Pak." Vio keluar meninggalkan Richie sendirian di sana.


"Maaf menunggu Pak, ayo kita jalan." ucap Dila. Richie menatapnya, menyentuh bibir Dila dengan tangannya. Deg..deg..jantung Dila berdegup kencang.


"Ada sisa nasi uduk di bibir kamu." wajah Dila memerah. Richie tertawa.


"Ooo..iya saya buru-buru tadi Pak. Ayo." Dila mengunci pintunya. Berharap tidak ada tetangga yang melihatnya keluar rumah berdua dengan Richie. Ia cepat-cepat masuk ke mobil yang menjadi pusat perhatian warga sana. Jarang ada kendaraan mewah terparkir di sepanjang lorong itu.


"Jadi kita mau kemana dulu? Masih pagi." tanya Richie.


"Aku..kangen." jawab Richie tanpa menoleh di Dila.


'Apa aku tidak salah dengar? Kangen katanya? Aku tidak akan tertipu lagi Bos.' Richie bingung karena tidak ada tanggapan dari Dila. Ia memberhentikan mobilnya di taman biasa tempat ia dan Dila pernah berbincang.


"Dila, lihat aku." Richie memutuskan untuk mengatakannya. Now or never. Ia menggenggam tangan Dila.


"Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Tidak ada penyesalan atau kesalahan yang aku lakukan di rumahku tempo hari. Aku melakukannya karena aku menyukaimu, aku jatuh cinta sama kamu. Aku sangat yakin dengan perasaanku. Dua hari tanpa tahu kabarmu hampir..hampir membuatku gila. Dan kemarin, bukan aku menertawakanmu. Sama sekali bukan, aku menertawakan diriku karena tidak menyadari bahwa selama ini aku mencintaimu. Mungkin dulu aku terlalu percaya diri bahwa kamu tidak akan meninggalkanku. Tapi kemarin saat kamu marah, dua hari tidak ke kantor, aku merasa sangat takut kehilanganmu Dila." Richie mengucapkan kalimat yang sudah ia persiapkan dari semalam dengan lancar.


'Apa-apaan ini? Apakah boleh aku mempercayainya? Oh Tuhan, inikah jawaban doa yang bahkan aku malu menyebutnya di depanMu?'

__ADS_1


"Pak Richie, apa Bapak latihan menembak seseorang?" Dila pernah menontonnya di drama televisi, ketika si wanita merasa kesenangan karena pernyataan cinta si pria, ternyata itu hanya adegan latihan si pria untuk menembak wanita lain. Sungguh miris.


"Aku, Richie Andirawan, mencintaimu Ardila Cintania." Richie berkata serius. Ia menyentuh pipi Dila. Dila hampir menangis. Ia bahagia. Lelaki impiannya. Ternyata dongeng di dunia nyata benar-benar ada. Ia memberanikan diri menyentuh wajah yang selalu ia kagumi.


"Apa saya pantas Pak Richie?" tanyanya.


"Kamu lebih dari pantas Dila. Kamu wanita luar biasa. Bahkan si Chris berani-beraninya dia meminta izin dariku untuk mendekatimu. Dila, cinta melihat ketidaksempurnaan dengan sempurna. Akupun bukan pria sempurna. Aku memiliki masa lalu yang tidak selalu benar. Tapi aku yakin masa depanku denganmu adalah keputusan yang paling benar yang aku ambil." Dila sangat mengenal quote itu. Ternyata Richie juga mengetahuinya.


"Dila, aku tidak bisa menahan rasa resah lagi bahwa kamu akan meninggalkanku. Aku ingin kamu mengisi kehampaan dalam hatiku selama ini. Apa kamu bersedia?" lanjutnya lagi.


"Maksudnya Pak Richie mau kita pacaran?" Dila hanya memastikan saja. Richie tertawa, suasana romantis yang ia persiapkan dari semalam luntur karena pertanyaan konyol Dila.


"Kamu mau kan jadi kekasihku?" tanya Richie. Dila terdiam.


"Saya rasa...saya belum siap Pak. Bukannya saya tidak menyukai Bapak, hanya saja saya benar-benar merasa belum pantas. Pak Richie, Anda atasan saya di kantor selama dua tahun ini. Saya tahu Anda orang baik, tetapi saya juga tahu bagaimana kehidupan Bapak, keluarga Bapak yang jauh..jauh..di atas saya. Menerima Bapak berarti saya..saya harus menyiapkan mental yang sangat kuat. Dan saya merasa saya belum siap Pak. Saya cukup tahu diri." Dila berkata jujur. Richie mendengarnya. Ia jarang mendengar Dila berbicara panjang seperti itu. Mendengar suaranya membuat Richie nyaman. Ia cukup mengerti apa yang menjadi pokok permasalahan Dila.


"Aku mengerti apa yang kamu takutkan, Dila. Aku tidak akan memaksamu sekarang. Aku akan menunggu hingga kamu percaya bahwa aku mampu menjagamu. Hingga kamu tidak ragu lagi akan apapun. Aku juga ingin kamu nyaman dengan hubungan yang akan kita jalani."


"Pak Richie mau menungguku?" Dila sebenarnya takut Richie akan tersinggung jika ditolak oleh wanita seperti dia.


"Pasti. Tapi aku harap kamu mengizinkan aku untuk mendekatimu. At least aku mau kamu dan aku selalu pulang bersama. Mau?" tanya Richie. Dila mengangguk. Richie memeluknya.


"Apakah memeluk juga bagian dari pulang bersama?" tanya Dila. Ia bahagia. Sungguh. Tapi ia butuh waktu. Semua ini terlalu mendadak dan masih banyak yang harus dilakukan Dila.


"Ini bonus." Mereka tersenyum. Richie cukup bahagia hanya dengan ini. Pelan-pelan saja. Semua butuh waktu. Richie bukan hanya menginginkan seorang pacar, ia butuh seorang wanita yang akan mendampinginya seumur hidupnya dan ia akan membahagiakan wanita itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2