
Dila menggandeng lengan suaminya masuk ke sebuah ballroom yang sangat luas. Ia mengenakan gaun hitam dengan payet sederhana namun terkesan mewah. Heels 5 cm sudah cukup baginya, Richie melarangnya mengenakan hak yang lebih tinggi dari itu. Dila sedikit gugup. Baru sekali ini ia menghadiri pesta di kalangan para pengusaha seperti ini.
"Sayang, apa dandananku terlalu sederhana?" Dila melihat beberapa wanita yang sepertinya berkelas dengan sanggul yang disasak tinggi.
"Tidak. Kamu yang paling cantik di ruangan ini." Richie menggenggam tangan Dila dan tersenyum padanya.
"Richie, Dila. Kenapa lama sekali?" tanya Mario. Ia merangkul Richie.
"Kamu terlihat sangat mengagumkan Dila." kata Mario. Richie langsung menyikut perutnya pelan.
"Hei..Hei..Tolong kendalikan matamu jika melihat istriku. Tuh banyak yang masih lajang." Mario tertawa. Bagaimana ia bisa melihat perempuan lain di saat Dila ada di depannya. Selalu di depannya.
"Harusnya kamu bangga aku memuji istrimu." Mario tertawa.
"Tidak perlu kamu puji pun aku selalu bangga padanya."
"Kamu sudah sehat Dila?" tanya Mario. Richie melihat Mario dengan pandangan bingung. Dila menjadi sedikit kikuk. Ia tidak menceritakan kejadian kemarin dengan Richie.
"Sudah lumayan." kata Dila.
"Kamu kenapa sayang? Sakit?" tanya Richie.
"Tidak. Kemarin hanya sedikit kelelahan. Makanya aku tidur siang kemarin pas kamu pulang. Sudah tidak apa-apa kok." Dila mengelus lengan Richie.
"Are you sure?" tanya Richie sambil membelai pipi Dila. Dila mengangguk.
Mario memalingkan pandangannya dan berlalu dari sana. Ia tidak berharap melihat itu sebenarnya, Mario benar-benar mengkhawatirkan Dila. Ia bertahan sekuatnya untuk tidak menelepon Dila. Pria itu mengambil segelas anggur dan menghilang dari keramaian. Mario memilih duduk di meja bar outdoor. Ia keluar dari pintu barat ruangan itu. Mario kurang suka dengan pesta besar. Sebenarnya sangat bertolak belakang dengan profesinya. Pengusaha muda seperti dia sering diundang ke berbagai acara. Saat di Amerika dulu ia pun hanya menghadirinya sebentar dan pulang terpisah dengan istrinya. Istrinya seorang penggila pesta dan sering memilih untuk tinggal di sana lebih lama dibanding pulang dengan Mario.
Pesta malam ini Mario bertahan untuk datang dan tinggal sedikit lebih lama karena kehadiran Dila. Tapi sudah ditebaknya bahwa ia akan berakhir sendiri di sini, sendiri. Mungkin sebaiknya ia mundur bertahap untuk kebaikan semua orang, kecuali dirinya sendiri. Bagaimana dirinya bisa lebih baik tanpa melihat Dila sekarang? Dulu ia menyerah karena tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Sekarang kondisinya berbeda. Mario sudah memiliki segalanya. Hanya Dila yang belum ia miliki.
"Hai tampan. Sendirian?" Seorang gadis berambut pendek mendekatinya. Cantik. Tapi bukan tipenya, apalagi gadis yang menggodanya duluan.
"Kamu kenal sama Richie?" Pertanyaan itu membuatnya melirik kembali ke wanita di sebelahnya.
"Atau kenal sama Dila?" Ia bertanya lagi.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanya Mario.
"Aku Martha. Kamu Mario Vincentio kan dari Hotel Paradise View." Martha mengulurkan tangannya dan Mario menyambutnya. Martha melihat pria itu dalam. Membayangkan tubuhnya yang pasti atletis di balik jas hitamnya itu.
"Kamu dari?" tanya Mario.
"Sunset."
"Sunset bukannya milik Antonio? Kamu siapanya?" tanya Mario. Ia tidak terlalu mengenal Antonio, hanya tahu saja.
"Aku asistennya. Aku juga sepupu Dila, jika kamu mengenalnya." Martha duduk di sebelah Mario. 'Selera parfum yang mahal.' Martha menikmati wangi pria di sebelahnya.
"Ooo.. Aku teman mereka." ujar Mario sambil menikmati anggur dan alunan musik. Ia melihat Dila dan Richie sedang berdansa sambil tertawa.
"Begitu. Teman dari Dila atau Richie?" Martha duduk bergeser mendekati Mario.
"Aku mengenal Dila saat kuliah. Kalau Richie saat di Amerika dulu."
"Kamu kuliah di Harvard juga? Aku dan Richie dulu kuliah di sana. Kami malah sempat berpacaran." Ucapan Martha barusan berhasil membuat Mario menoleh kepadanya.
"Pantas aku tidak pernah melihatmu." ujar Martha. Ya, tidak mungkin cowok seganteng ini dilewatkan oleh Martha. Ia melihat bahwa Mario sering memperhatikan Dila dan Richie yang sedang berdansa. Apa mungkin.....
"Menurutku mereka bukan pasangan yang serasi." Martha memancingnya.
"Kenapa?" tanya Mario.
"Sepertinya Richie masih mencintai mantan kekasihnya."
"Kamu?"
"Bukan aku. Tapi Airin." Mario sepertinya pernah mendengar nama itu. Ia mencoba mengingatnya.
"Mereka masih sering bertemu karena memiliki bisnis bersama. Sepupuku yang malang itu tidak tahu apa-apa." Martha ingin melihat reaksi Mario, apakah benar ia menyukai Dila. Walaupun Martha sangat kesal mengapa pria yang disukainya selalu lebih memilih Dila.
Mario ingat sekarang. Dulu saat Richie kembali ke Indonesia, ia berkata bahwa wanita yang dicintainya sedang berduka karena kehilangan suaminya. Dan wanita itu bernama Airin. Ia dan Richie cukup dekat dulu. Mereka sering keluar untuk sekedar ngobrol bersama.
__ADS_1
"Bukannya Airin sudah menikah lagi?" tanya Mario.
"Iya. Makanya Richie putus asa dan menikah dengan Dila. Aku pernah memergoki Richie dan Airin berpegangan tangan satu hari sebelum ia menikah dengan Dila. Gila kan?" Mario tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia tahu perjalanan cinta Richie dan Airin. Bagaimana Richie sangat mencintai wanita bernama Airin. Tapi dengan Dila, Mario belum pernah mendengarnya dan mendadak mereka sudah menikah. Apa benar Dila hanya sebagai pelarian Richie? Tapi sepertinya Richie sangat mencintainya. Mario melihat wajah yang selalu dirindukannya sedang berjalan ke arahnya.
"Martha, ngapain kamu di sini?" Dila melihatnya sedang duduk di sebelah Mario.
"Aku ke sini sebagai perwakilan hotel. Atasanku sedang ada urusan. Hai Richie." Martha menyapa Richie dengan gaya centilnya. Richie hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalian saling kenal?" Dila bertanya ke arah Martha dan Mario.
"Baru saja." jawab Mario.
"Richie, waktu itu aku melihatmu di rumah sakit. Aku mau menyapamu, tapi sepertinya kamu terburu-buru masuk ke kamar pasien. Taunya itu Airin ya? Dia sakit apa?" Martha sebenarnya tidak kenal dengan Airin. Ia hanya pernah melihanya saat pernikahan Richie dan Dila. Namun ia senang dengan pertunjukan yang akan terjadi di depannya. Takdir selalu membuatnya memiliki senjata untuk menjatuhkan Dila.
"Oh iya, aku ketemu Airin kemarin di rumah sakit. Katanya jahitan di keningnya gatal atau apa. Dia takut berbekas. Kalian bertemu setelah urusan kantor papa selesai?" tanya Dila. Ia mendadak ingat dengan apa yang ingin ditanyakannya dari kemarin.
"Bukannya jam 10 pagi kamu sudah di rumah sakit?" potong Martha. Richie merasa dihakimi di sana.
"Iya sayang. Aku pergi menjenguknya dengan Vina. Kita ke kamar yuk. Kamu bilang mau pamit dulu sama Mario." ucap Richie.
"Mario, kami naik dulu ya. Mungkin besok kami pulang ke Jogja." kata Dila.
"Ok. Dalam waktu dekat ini aku juga akan ke Jogja. Jeno sudah tidak sabar bertemu." Mario tertawa.
"Kamu kenal sama Jeno?" tanya Richie.
"Iya, kami satu kampus dulu." jawab Mario. Airin melambaikan tangannya ke Mario dan menarik lengan Richie.
Mario merasakan pundaknya dipegang seseorang. Martha membelainya. Mario cukup dewasa untuk tahu arti sentuhan itu. Ia menghempasnya dan meninggalkan Martha yang terlihat kesal di sana.
'Awas kamu Dila! Kamu selalu merusak kebahagiaanku. Sekarang aku yang akan merusak kebahagiaanmu.' batin Martha berteriak kesal.
*****
__ADS_1