
Mario mengajak Jeno ke rumah Dila untuk menjenguknya yang habis melahirkan. Mereka membawa sebuah boneka beruang besar untuknya. Mereka dipersilahkan masuk oleh asisten rumah tangga Dila.
"Ibu Dila bilang kalian masuk saja ke kamar. Ia masih belum bisa bergerak banyak." katanya.
"Richie mana Mba?" tanya Jeno.
"Pak Richie baru saja balik ke kantor. Tadi beliau pulang untuk makan siang." jawabnya.
Jeno dan Mario masuk ke kamar Dila setelah mengetuk pintunya.
"Hai mama baru." sapa Jeno sambil meletakkan boneka di meja samping.
"Kak Jeno, Mario. Repot-repot bawa boneka." Dila sedang berbaring. Anaknya sedang tidur di box bayi. Mereka berdua mendekat dan melihatnya.
"Cantik banget kayak kamu. Siapa namanya?" tanya Jeno.
"Stella. Stella Yuri Andirawan." jawab Dila.
"Artinya bintang dalam bahasa Italia." Mario berkata.
"Mario pernah tinggal di Italia dua tahun. Jadi ia bisa bahasa sana." jelas Jeno. Dila baru mengerti mengapa Mario seperti menguasai bahasa itu.
"Cuma bahasa yang umum saja kok. Aku tidak semahir itu." Mereka terdiam sesaat sebelum Mario berkata lagi.
"Sebenarnya aku kemari ingin berpamitan dengan Richie. Besok aku akan pindah ke Bali. Menetap di sana. Mungkin untuk waktu yang cukup lama aku tidak kembali ke Jogja karena mama ikut pindah ke sana. Kecuali Jeno mengundangku ke pernikahannya nanti." Mereka berdua tertawa.
"Oh, kamu akan pindah." Dila mengangguk.
"Kak Jeno, maaf banget. Bisa tinggalin kami sebentar?" tanya Dila. Jeno menatap Mario lalu ia keluar.
"Mario, duduk sini." Dila menunjuk kursi yang berada di dekatnya. Mario menurutinya.
"Kenapa Dila?" tanya Mario mencoba tenang menutupi debaran jantungnya.
"Lihat aku. Kamu ingat kan siapa aku?" Dila melihat mata Mario tajam.
__ADS_1
"Kamu Dila istri Richie. Ada yang salah dengan itu?"
"Jangan bohong. Aku tahu kamu ingat aku. Aku tidak mungkin salah dengar saat kamu panggil aku Cinta. Hanya kamu yang panggil aku begitu. Dua kali kamu memanggilku dengan nama itu. Jangan coba menipuku lagi." kata Dila. Mario menunduk. Saat itu ia menyadari kesalahannya dengan menyebut nama Cinta. Tapi ia hanya berharap Dila tidak mendengarnya karena sakit perut yang dirasakannya.
"Aku pamit Cinta. Terima kasih atas waktu dan semua yang kamu dan Richie berikan untukku. Mungkin dengan ini aku bisa benar-benar melupakan perasaanku padamu. Karena untuk melupakan dirimu, aku tidak bisa melakukannya. Tuhan pun tidak mengizinkannya." Mario memberanikan diri membelai wajah Dila.
"Aku akan membiarkanmu pergi. Aku cukup hanya dengan melihatmu sehat sekarang. Carilah kebahagiaanmu. Maaf karena aku tidak bisa memberikannya untukmu." Dila menangis. Ia benar-benar bahagia karena Mario tidak lupa kepadanya.
"Tidak. Kamu sudah memberikanku kebahagiaan yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Sekarang kamu hanya perlu hidup bahagia bersama suami dan anakmu. Aku pergi dulu. Semoga saat kita bertemu lagi, kita berada dalam perasaan yang berbeda dan aku sudah tidak berharap lagi." Mario tersenyum dalam tangisnya. Ia keluar dari kamar Dila dan mengajak Jeno pulang.
"Menangislah jika kamu ingin. Jangan ditahan." Jeno menepuk pundak sahabatnya itu di mobil. Mario benar-benar menangis. Runtuh sudah pertahanannya selama ini. Ia benar-benar memutuskan untuk meninggalkan Dila, Cintanya. Siapa bilang ikhlas adalah saat dia bisa melepas dengan senyuman? Ia ikhlas, benar-benar rela untuk pergi. Tapi ikhlas yang ia rasakan tidak bisa membuatnya tersenyum. Ikhlas yang ia rasakan sangat sakit hingga membuat jantungnya seolah membeku. Mario hanya bisa berharap rasa ikhlas yang diberikannya akan dibalas Tuhan dengan akhir yang indah untuknya dan Cinta. Setidaknya ia bisa berharap untuk menemukan kisah yang baru jika ia meninggalkan kisah yang lama.
*****
"Besok Mario balik ke Bali? Minggu lalu dia bilang mau ke New York." kata Richie sambil menggendong Yuri, nama panggilan anaknya.
"Mungkin berubah pikiran. Atau dari Bali ke sana." jawab Dila bingung. Ia tidak menceritakan kepada Richie perihal Mario yang ternyata mengingat dirinya. Biarlah itu menjadi rahasia untuk sementara. Semua juga tidak akan berubah karena Mario sudah memutuskan untuk pergi. Sebenarnya Dila merasa sedikit lega karena Mario memutuskan untuk move on. Dila hanya bisa berharap Mario bisa berbahagia setelah ia pergi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Richie sambil mengelus kepala Dila.
"Aku mencintaimu sayang." Ucapan Dila membuat Richie mendekatinya.
"Aku lebih mencintaimu. Terima kasih atas semuanya." Richie mencium kening Dila. Dulu ia selalu cemburu dengan Mario yang lebih dulu mengenal Dila dan pertama kali dicintai olehnya. Tapi Richie akhirnya yakin bahwa cinta bukan tentang siapa yang pertama datang, tapi tentang siapa yang datang dan tidak akan pernah pergi.
Dila memeluk suaminya. Cintanya kepada Richie bukan sesuatu yang mudah. Cinta tidak selalu menjanjikan tawa dan bahagia, bukan berarti ia tidak akan memberimu tangis dan kesedihan. Tapi percayalah cinta akan membuatmu menyentuh bintang tanpa harus menggapainya.
*****
"Selamat ulang tahun cucu Oma." Desy mencium pipi gembul Yuri. Keluarga Richie berkunjung ke Jogja untuk merayakan ulang tahun Yuri ke 2. Kali ini mereka tidak merayakannya di Sky, tapi di sebuah resort dekat pantai. Ingin mencari suasana baru. Pesta sederhana itu hanya dihadiri oleh keluarga saja. Vio dan Alva juga pulang untuk liburan.
"Dila belum hamil lagi?" bisik Desy ke Richie.
"Belum Ma, kami inginnya tahun depan saja." jawab Richie.
"Ayolah, mama ingin empat cucu dari kamu. Keluarga kita kecil begini." Desy melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Mama sih cuma punya anak dua. Coba enam, cucu mama kan bisa banyak." Richie tertawa.
"Sudah lewat. Sekarang mama minta kamu kasih mama empat, Vicky empat." ketus Desy.
"Iya. Kalau Tuhan kasih ya Ma." Richie merangkul mamanya. Dila sedang ngobrol dengan Vio dan Alva. Sedangkan Yuri sedang berlari dan dijaga oleh baby sitter nya.
"Kuliah kamu lancar kan?" tanya Dila ke Vio.
"Lancar Kak. Tahun depan mungkin Vio bisa lulus. Kakak datang ya sama kak Richie dan Yuri juga." jawab Vio.
"Iya. Kakak pasti datang kalau bisa." Dila tersenyum. Tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Bu, ini ada hadiah dari resort ini untuk pesta ulang tahun anak Ibu." Seorang cleaning service memberikan dua botol anggur dan sebuah kue tart dengan karakter bintang di atasnya. Dila menerimanya.
"Oh, terima kasih. Siapa yang kasih Mas?" tanya Dila.
"Memang ada di kebijakan resort sini Bu. Permisi." jawabnya sambil berlalu dari sana.
Dila memberikan anggur itu kepada Richie. Ia melihat kue berbentuk bintang itu. Sangat cocok dengan nama Stella di depan nama Yuri yang berarti bintang. 'Kebetulan yang sangat indah.' pikirnya.
Sepasang mata menyaksikan keakraban keluarga itu dari cctv komputernya. Ia menjawab ponselnya yang berdering.
"Sudah saya berikan Pak Mario." kata orang yang meneleponnya.
"Baik. Terima kasih." jawabnya sambil tersenyum.
Mario duduk di dalam ruangan barunya. Setahun lalu ia membeli resort itu dari seorang pengusaha yang hampir bangkrut. Mario baru kembali untuk melihat kondisi resort itu sekarang. Siapa sangka semesta kembali mempertemukannya dengan Cinta. Mungkin itu imbalan yang ia dapat karena pengorbanan atas cintanya di masa lalu. Cinta selalu membuat kita memiliki alasan untuk kembali.
'Cinta, dulu kamu pernah memintaku untuk mencari kebahagiaanku. Aku sudah mencarinya selama dua tahun ini. Tapi akhirnya aku sadar bahwa itu hanya ada di kamu. Berbahagialah dengan kehidupanmu, dan aku akan berbahagia dengan caraku.'
*****
The end
PS: Hai Readers...Suara Cinta akhirnya tamat. Terima kasih atas dukungannya. Please like dan comment dengan endingnya, apakah sesuai dengan prediksi kalian? Tunggu novel Author selanjutnya ya.
__ADS_1
Akhir kata, Author suka menulis cerita tentang cinta ya karena cinta itu kelihatannya sederhana, namun banyak bentuknya. Semoga cinta bisa selalu menguatkan hidup kita karena ia adalah sumber dari segalanya. ^_^