SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 46


__ADS_3

Dila sedang berada di rumah sakit sendirian. Richie sedang menghadiri seminar H-1 sebelum pesta besok. Dila bingung mengapa belum mendapatkan tamu bulanannya dan sekalian ingin memeriksa kesehatannya. Mertuanya sangat ingin memiliki cucu karena pernikahannya sudah memasuki bulan ketiga.


"Selamat ya Bu, kehamilan Ibu sudah memasuki minggu kedua." Dila tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Ini akan menjadi kejutan yang sangat membahagiakan bagi Richie dan mertuanya.


Dila keluar menuju bagian apotik untuk membeli vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter. Ia melihat sosok yang dikenalnya juga sedang mengantri di sana.


"Airin?" panggilnya.


"Dila, sedang apa di sini?" tanyanya sambil memasukkan kartu kreditnya ke dalam dompet.


"Aku lagi check up saja. Kamu ngapain?" Dila bertanya balik.


"Oh.. Ini. Jahitan di keningku agak gatal, aku takut berbekas. Mungkin karena aku makan seafood hahaha.."


"Kok bisa terluka? Kamu jatuh atau apa?" Dila melihat luka di kening Airin.


"Tidak sengaja terkena pecahan kaca. Lho Richie tidak cerita pas dia ke Jakarta sama Vina? Oh pas 20 Oktober. Aku ingat karena hari itu ulang tahun Darren. Maaf ya sudah merepotkan Richie."


"Tidak apa-apa kok." jawab Dila walaupun dia masih bingung dengan apa yang diceritakan Airin.


"Maaf ya Dila. Aku duluan, ada janji di kantor. Bye. Salam untuk Richie." Dila melambaikan tangannya. Melihat Airin yang tampak anggun dengan setelan blazer hijau dipadu dengan gaun hitam di dalamnya.


Dila mengambil vitaminnya. Ia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit itu.


"20 Oktober? Kok Richie bisa bersama Vina? Mereka bertemu Airin?" Dila membuka  ponselnya. Ia mencari riwayat pesan Richie. 20 Oktober. Dila tidak memperhatikan jalannya lagi saat sebuah motor mengarah ke arahnya yang sedang menyeberang.


"Auuw..." Dila berteriak saat seseorang menariknya ke dalam pelukan orang itu. Jantung Dila berdegup kencang saat ia menyadari bahaya yang datang kepadanya tadi. Andai saja ia tidak diselamatkan orang ini tadi, maka bayinya kemungkinan akan...


"Terima kasih." Dila baru sadar ia cukup lama berada di dalam pelukan hangat orang itu. Postur badannya yang kokoh membuat Dila merasa dilindungi. Ia melepaskan dirinya.


"Mario?" Wajah Dila bersemu merah saat mengetahui orang itu adalah Mario.


"Dila, kamu tidak apa-apa? Kok tadi menyebrang tidak lihat lagi? Kalau kamu tadi tertabrak bagaimana?" Mario terdengar sedikit panik.


"Aku tidak apa-apa. Sekali lagi terima kasih." ucapnya.

__ADS_1


"Kamu di sini ngapain?" Mereka berdua mengucapkan pertanyaan yang sama kemudian tertawa.


"Aku jenguk tanteku tadi. Dia lagi dirawat di sini." jawab Mario.


"Aku cuma check up saja. Lho bukannya ada seminar ya?" Dila teringat seminar yang dihadiri Richie.


"Biar sekretarisku saja yang datang. Aku bosan. Lagian banyak yang bisa aku lakukan di Jakarta. Kamu mau kemana sekarang?"


"Mungkin balik ke hotel. Seminar Richie kan selesai tiga jam lagi." jawab Dila.


"Naik?" tanya Rio.


"Taksi."


"Aku antar ya."


"Kamu tidak sibuk?" Rio menggeleng. Dila butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya sekarang. Ia merasa kacau jika harus naik taksi sendirian.


"Kamu sudah makan?" tanya Rio sambil memasang sabuk pengamannya.


"Belum." jawab Dila. Ia melihat Rio yang semakin tampan dengan pakaian kasualnya. Mario tidak banyak berubah. Yang berubah drastis adalah kemampuan berbicaranya. Dila merasa Rio lebih banyak berbicara dibanding dulu. Seperti dua manusia yang berbeda.


Dila menikmati makan siangnya dengan lahap.


"Kamu suka?" tanya Mario. Dila mengangguk. Ia senang melihat Dila menghabiskan Bruschetta yang dipesannya. Pemandangan indah di depannya membuatnya lupa untuk menyentuh makanannya sendiri.


"Kenyang banget. Makasih ya Mario. Enak banget makanannya." Dila mengelap mulutnya dengan tissue. Mario tiba-tiba mengulurkan tangannya membersihkan ujung bibir Dila dengan jari jempolnya. Dila terkejut.


"Oh, maaf. Ado saos tadi." kata Mario. Jujur ia tidak sadar saat melakukannya. Tangannya seolah bergerak tanpa meminta izin otaknya.


"It's ok. Jadi kapan kamu datang dari Bali? Kemarin?" tanya Dila.


"Aku baru tadi pagi. Kemarin masih banyak pekerjaan. Kapan kamu kembali ke Jogja? Aku ingin ketemu Jeno. Sudah lama sekali tidak bertemu dia." ucap Mario sambil menghabiskan makan siangnya.


"Mungkin dua hari lagi. Mertuaku masih ingin bertemu anaknya."

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa Dila? Seperti ada yang kamu pikirkan." Mario melihat ada yang aneh dengan sikap Dila.


"Tidak kok. Aku tidak apa-apa. Kita pulang yuk." ajak Dila. Mario memanggil pelayan untuk membayar bill makanan mereka.


Dila berdiri, mendadak pandangannya seakan menggelap sesaat. Ia memejamkan matanya dan terduduk kembali.


"Dila, kamu tidak apa-apa?" Mario mendekatinya dan memegang tangannya.


"Tangan kamu dingin banget Dila. Aku antar ke dokter ya." Mario memegang wajah Dila yang tampak pucat.


"Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan. Antar aku ke hotel saja ya." Mario memapah Dila ke mobil. Tekanan darah Dila tadi memang cukup rendah tadi. Dokter sudah memintanya untuk istirahat yang cukup.


Dila tertidur di dalam mobil. Ia merasa lelah. Mario melihat ke arah Dila sekali-sekali. Jarak restoran ke hotel sebenarnya tidak terlalu jauh, namun Mario sengaja mengambil rute memutar. Ia masih ingin melihat Dila yang tertidur di kursi sebelahnya. Akhirnya Mario memarkirkan mobilnya di depan hotel. Ia memberanikan diri membelai rambut Dila yang indah. Hanya dua kali belaian. Ia tidak berani berbuat lebih jauh.


"Dila, sudah sampai." Mario menggoyangkan lengan Dila pelan hingga Dila terbangun.


"Maaf, aku ketiduran. Makasih ya Rio." Dila turun. Mario pun ikut turun. Ia tidak akan membiarkan Dila sendirian dengan kondisi seperti itu.


"Aku antar." Mereka masuk ke dalam hotel bintang 5 itu. Seminar dan pesta besok akan diadakan di sana. Semua peserta mendapat fasilitas kamar.


"Sampai lobi saja Rio. Kamu boleh pulang kok, makasih." ucap Dila.


"Aku kan juga menginap di sini Dila. Aku antar kamu ke atas. Kamu masih pucat gitu."


"Aku lupa kamu menginap di sini juga. Tapi tidak perlu sampai kamar, tidak enak dilihat orang. Aku bisa minta karyawan hotel untuk menemaniku."


"Masa kamu lebih percaya sama dia daripada aku? Ok, kita naik bertiga. Aku yang tidak bisa mempercayakan kamu ke dia." Mario memanggil salah satu bell boy. Mereka bertiga akhirnya menuju ke kamar Dila.


"Kamu istirahat ya. Biar besok aku bisa melihatmu lagi." ucap Mario pelan. Dila hanya bisa mengangguk, tidak tahu apa yang bisa dikatakannya.


Ia mengganti pakaiannya dengan baju santai. Berharap bisa tertidur. Ia sungguh lelah dan mengantuk. Namun bayangan 20 Oktober menghantuinya. Ia lupa jika tadi ia sedang mengecek riwayat pesan Richie.


20 Oktober  "Pesawatku delay jam 7 malam."


Benar. Saat itu Richie memang ke Jakarta. Mungkin ia tidak sengaja bertemu Vina dan Airin di sini. Ya pasti itu. Dila tidak ingin berpikir lebih jauh yang akan membuatnya curiga dengan Richie. Dila mengambil foto USG bayinya. Tersenyum. Ia mengambil ponselnya dan memotretnya. Dila mengirim foto itu ke Vio dengan tulisan "Hai Auntie" di bawahnya.

__ADS_1


Ia mengelus perutnya. "Hai anakku. Terima kasih ya sudah hadir dan tumbuh di perut mama. Nanti kita kejutin papa ya dengan kehadiranmu. I love you." kata Dila. Ia kemudian tertidur, matanya terasa sangat berat.


*****


__ADS_2