
"Kamu kenal Mario waktu kuliah? Dia teman Jeno?" tanya Richie.
"Iya." Dila menjawab sambil melipat pakaiannya ke koper.
"Kamu kok bisa jenguk Airin sama Vina? Itu pas kamu ke Jakarta dari Bali kan?" Richie tidak mau menutupinya lagi. Ia akan jujur dengan Dila malam ini.
"Sayang, aku mau cerita. Tapi janji kamu jangan marah ya." Dila mengangguk. Ia sungguh penasaran dengan apa yang akan diceritakan Richie.
"Waktu itu aku ke Jakarta bukan karena ada masalah di perusahaan papa." Richie menarik napasnya dalam sementara Dila menahan napas menunggu Richie melanjutkan kalimatnya.
"Aku ditelepon Vina karena Airin masuk rumah sakit. Ia bertengkar hebat dengan suaminya dan kepala Airin terluka terkena pecahan vas. Maaf karena aku sudah berbohong padamu." Richie menunduk.
"Kamu berbohong padaku untuk menutupi alasanmu ke Jakarta karena Airin? Di bulan madu kita kamu meninggalkan aku karena Airin? Dan kamu tidak pernah berencana untuk mengakui semua itu jika aku tidak bertanya?" suara Dila bergetar. Perutnya terasa seperti tertimpa beban yang sangat berat. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku pasti akan cerita. Tapi sungguh ini tidak seperti yang kamu pikirkan sayang. Vina juga di sana. Aku hanya memberinya semangat sebagai sahabat." Richie memegang tangan Dila, namun Dila menariknya lagi.
"Sahabat? Kamu yakin hanya menganggap Airin sebagai sahabat? Atau kamu hanya menutupi perasaanmu yang tidak terbalas dengan topeng sahabat? Sahabat yang lebih penting dari istri. Kamu menempatkan Airin di atas segalanya. Harusnya aku mencari tahu bagaiman perasaanmu ke Airin sebelum kita menikah. Harusnya aku tidak meremehkan cintamu ke dia. Harusnya aku tidak sepercaya diri itu untuk langsung menerima lamaranmu." Air mata Dila mengalir. Ia merasa sangat bodoh. Ya, cinta Richie selama dua belas tahun ke Airin tidak mungkin hilang begitu saja. Hannah saja tidak bisa mengalahkan Airin, apalagi Dila yang hanya asisten Richie.
"Sayang, please. Jangan berpikir seperti itu. Aku mencintaimu. Sangat. Aku benar-benar hanya menganggapnya sahabat. Aku akui aku salah. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji. Hari itu aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku tidak mau mengganggu liburanmu."
"Liburanku?? Kamu bilang liburanku? Kita ke sana berdua, untuk bulan madu kalau kamu lupa. Jika saat itu kamu meminta izin padaku, kamu pikir aku juga akan menerimanya begitu saja? Itu tidak masuk akal sayang. Lebih masuk akal kalau kamu mengakui kamu masih cinta sama Airin. Kalau kamu lebih mencintaiku, kamu pikir kamu bakal tega tinggalin aku di Bali sendirian demi dia?" Dila berdiri.
"Sayang..sayang..Maafkan aku. Aku benar-benar mencintaimu lebih dari apapun. Tolong maafkan aku. Kamu sedang mengandung sayang. Tolong jangan bertindak gegabah." Richie memeluknya dari belakang, mencoba menenangkannya. Dila menangis lebih kuat. Baru saja ia dan Richie mendapat kabar bahagia, tapi semua seakan sirna dengan satu kenyataan yang baru diketahuinya.
"Kamu tahu? Aku bisa saja bilang aku memaafkanmu dan percaya kalau kamu mencintaiku. Tapi jauh..jauh di dalam hatiku, masih ada keraguan atas perasaanmu. Dan ragu itu ada karena kamu yang telah mengukirnya." Dila melepas paksa pelukan Richie. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya demi anaknya.
__ADS_1
"Aku mau tidur." Dila merasakan kepalanya berdenyut kencang. Ia benar-benar tidak habis pikir Richie membohonginya saat pernikahan mereka baru seumur jagung. Terlebih lagi saat bulan madu mereka. Dila benar-benar ingin mempercayai jika Richie mencintainya. Tapi dengan bukti yang ada, keraguan itu muncul dengan sendirinya. Ia merasakan Richie memeluknya dari belakang dan mengucapkan maaf yang entah sudah berapa kali diucapkannya. Dila ingin melepaskan pelukan itu, tapi mengangkat tangan saja ia tidak bisa merasakannya lagi. Pandangannya kabur dan seketika ia jatuh ke lantai.
"Sayang..Sayang..Bangun. Kamu kenapa?" Richie langsung menelepon Mario. Ia pasti tahu Dila sakit apa kemarin. Tidak berapa lama Mario datang ke kamar Richie.
"Kita bawa ke rumah sakit Ric. Kamu gendong Dila. Aku yang nyetir. Kemarin sepertinya tekanan darahnya rendah." Richie mengambil selimut dan menutup tubuh Dila yang mendingin. Ia mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya berbohong dengan Dila.
Richie dan Mario menunggu di luar UGD. Lima belas menit kemudian dokter yang memeriksa Dila keluar. Mereka berdua serempak berdiri.
"Bagaimana istri saya Dok?" tanya Richie.
"Tekanan darahnya cukup rendah. 90/60. Tolong dijaga jangan sampai ia kurang istirahat atau banyak pikiran."
"Lalu bayi kami?" Mario terkejut dengan apa yang ditanya Richie. Dila hamil?
"Baik Dok. Terima kasih." Richie bernapas sedikit lega mendengar istri dan anaknya dalam kondisi sehat.
"Dila hamil?" Mario menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi.
"Iya." jawab Richie.
"Selamat ya. Pantas kemarin aku bertemu dia di rumah sakit."
"Lalu kenapa dia bisa pingsan tadi? Kecapekan?" tanya Mario lagi. Richie menoleh ke arah Mario. Dulu ia sering menceritakan keluh kesahnya kepada Rio. Sekarang ia bingung apakah ia harus menceritakan masalahnya.
"Aku melakukan kesalahan padanya. Cukup fatal." Richie menunduk. Mario terdiam seakan menunggu kelanjutan cerita Richie. Richie menceritakan semuanya, soal kebohongannya dan bagaimana akhirnya hingga Dila mengetahuinya.
__ADS_1
"Boleh aku tanya satu hal? Apa kamu masih mencintai Airin?" tanya Mario.
"Demi Tuhan Rio. Aku mencintai Dila. Tidak ada lagi cinta untuk Airin sebagai seorang wanita. Aku hanya menganggapnya sahabat, bahkan adik sekarang. Kemarin jika tidak ada Vina, aku tidak mungkin ke Jakarta sendirian. Salahnya adalah aku tidak jujur dan melakukannya di tengah bulan madu kami." Mario melihat kesungguhan di mata Richie. Walaupun Rio mencintai Dila, namun kebahagiaan Dila adalah yang terpenting untuknya. Jikalau ada kesempatan, biarlah itu jalan yang diberikan Tuhan, bukan kesempatan yang dibuat karena keegoisan. Apalagi sekarang Dila sedang mengandung. Mario hanya berharap Richie benar-benar mencintai istrinya.
Dila sadar dan mendapati dirinya berbaring di ranjang rumah sakit. Richie tertidur sambil menggenggam tangannya. Dila menyesal ia sangat emosi tadi. Selama ini ia bisa merasakan cinta Richie padanya. Namun rasa cemburunya begitu besar dengan Airin. Mungkin karena Airin sudah menempati hati Richie untuk waktu yang lama. Mungkin karena hormon kehamilannya. Tiba-tiba Dila panik dan membangunkan suaminya.
"Sayang. Bangun!" Dila menggoyangkan tubuh Richie.
"Kamu sudah sadar?"
"Anak kita. Bagaimana anak kita?" tanya Dila.
"Sehat sayang. Jangan panik begitu. Kamu harus tenang ya. Tekanan darahmu rendah." Richie membelai kepala Dila. Dila bernapas lega mendengarnya.
"Maafkan aku. Maaf." Dila hanya mengangguk. Memang mudah untuk memaafkan, namun melupakan tidak bisa secepat itu. Ia butuh waktu untuk melihat dan merasakan kembali cinta Richie untuknya.
"Jam berapa ini?" tanya Dila. Ia tidak betah tidur di rumah sakit.
"Jam 4 subuh." jawab Richie.
"Pulang yuk. Aku tidak bisa tidur di sini." ajak Dila.
"Nanti aku bawain bantal guling. Kamu tidak bisa tidur tanpa guling kan. Kamu masih harus dirawat dua hari. Demi anak kita." Richie sudah meminta mamanya untuk membawa bantal guling dari rumah. Desy akan datang sekitar jam 7 pagi nanti.
PS: Hi Readers..Jangan lupa like dan comment ya jika kalian suka. Maaf Author suka lupa menyapa kalian. Happy reading ^_^
__ADS_1