SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 61


__ADS_3

Dua hari sudah Mario dioperasi, tapi ia belum menunjukkan gejala akan sadar. Tiara selalu menemaninya sepanjang hari. Jeno juga sudah menyusul ke Jakarta.


"Kamu belum pulang ke Jogja?" tanya Jeno. Dila sedang mengaduk kuah mie ayam nya. Mereka sedang makan siang di kantin rumah sakit.


"Aku janji sama Mario akan ada di sana saat dia sadar nanti." jawabnya santai.


"Tapi kita kan tidak tahu kapan dia sadar. Kasihan suamimu. Ia sampai bolak balik Jogja Jakarta." ucap Jeno sambil menelan nasi gorengnya.


"Aku tahu. Aku akan menunggu sebentar lagi." ucap Dila pelan. Jeno ada benarnya. Tidak adil bagi suaminya melakukan ini. Ponsel Dila berdering.


"Iya Tante." jawabnya.


"Nak Dila. Cepat kemari. Mario sadar." Tiara terdengar sangat bersemangat.


"Baik tante." Dila berdiri dan mengajak Jeno ke kamar Mario.


"Pelan-pelan Dila. Kamu lagi hamil." Dila menghentikan larinya dan hanya berjalan cepat.


Dila membuka pintu kamar Mario. Ia sudah dipindahkan ke kamar pasien kemarin. Dokter sedang memeriksa Mario untuk memastikan semuanya normal.


"Mario, kamu baik-baik saja?" tanya Tiara. Mario masih berbaring, belum bisa bangun. Tapi ia bisa merespon pertanyaan mamanya. Ia mengangguk pelan.


"Sepertinya operasi Pak Mario berhasil Bu. Ia tidak menunjukkan gejala yang negatif. Tubuhnya merespon dengan normal. Tapi ia masih butuh banyak istirahat. Saya tinggal dulu ya." ucap dokter itu.


"Terima kasih dok." Tiara tertawa bahagia mendengarnya. Dila dan Jeno masih berdiri di dekat pintu. Mereka mendekat setelah dokter dan perawat keluar dari sana.


Dila tidak kuasa membendung air matanya melihat Mario yang sudah membuka matanya.


"Hai Rio, cepet sembuh ya. Nanti kita bisa main bareng lagi." ucap Jeno. Mario tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Sini Dila." Tiara menarik tangan Dila dan mendudukkannya di kursi sebelah Mario. Dila memegang tangan Mario.


"Apa kabar? Aku di sini." Mario melihat Dila tanpa ekspresi. Tidak berkata apapun. Tidak juga tersenyum. Mereka sedikit bingung dengan yang terjadi.


"Aku Dila." ucap Dila. Tapi Mario malah terlihat bingung.


"Ma, dia siapa?" Tiara terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan itu.


"Kalau aku, apa kamu mengenalku?" tanya Jeno.


"Jeno si playboy." jawabnya pelan. Tangan Dila bergetar. Ia melepaskan tangan Mario dan berdiri. Dila memanggil perawat dan dokter untuk memeriksa Mario sekali lagi.


Dokter datang. Ia mengajukan beberapa pertanyaan sederhana seperti nama dan identitasnya. Mario bisa menjawabnya.


"Apa Pak Mario ingat sebelum berada di rumah sakit, di mana Pak Mario berada?" tanya dokter.


"Aku tidak ingat. Di rumah mama mungkin?" jawabnya pelan. Tiara menggeleng ke arah dokter.


"Tenang Dila, dokter kan sudah bilang mungkin ini hanya sementara." Jeno mencoba menenangkan Dila.


*****


Richie datang lagi ke Jakarta siang ini. Semalam ia tidak mendapatkan tiket. Ia menemui Dila di hotel. Dila menceritakan semua yang terjadi dengan Mario.


"Setidaknya Mario selamat sayang. Itu yang harus disyukuri." kata Richie.


"Kamu benar. Yang penting dia hidup dan sehat kembali." Dila sudah lebih tenang sekarang. Kemarin ia sempat bingung dengan apa yang terjadi pada Mario.


Mereka berkunjung lagi ke rumah sakit pada sore harinya. Dila membawa bunga dan buah untuk Mario.

__ADS_1


"Bagaimana tante? Sudah dicek lagi?" tanya Dila.


"Sudah. Dokter tidak menemukan ada kesalahan apapun pada otaknya. Semuanya bagus. Tapi dokter bilang, mungkin ada beberapa ingatan yang hilang. Penyebabnya tidak pasti. Mungkin karena efek operasi, mungkin juga itu terjadi di bawah alam sadarnya." jelas Tiara.


Dila melihat Mario yang sudah lebih segar dari kemarin. Ia bisa tertawa dengan Jeno. Jeno ke sana karena ingin pamit pulang ke Jogja.


"Aku duluan ya semuanya. Flight dua jam lagi." katanya sambil melambaikan tangannya.


Mario melihat dua orang di depannya selain mamanya.


"Richie?" Mereka kaget karena Mario mengenali Richie.


"Kamu ingat aku?" tanyanya.


"Tentu saja. Bagaimana aku bisa melupakanmu? Kita akrab di Amerika dulu." katanya.


"Lalu dia siapamu?" sambung Mario sambil menunjuk Dila.


"Ia istriku. Kamu tidak ingat?" Mario menggeleng.


"Dia yang ada di sini kemarin kan? Maaf, aku tidak mengingatmu. Mungkin ada satu sel yang hilang di otakku." Mario tertawa.


"Tidak apa-apa. Yang penting kamu sehat Mario." kata Dila sambil tersenyum ke arah Mario. Entah mengapa hatinya sedikit nyeri atau sesak saat mengetahui hanya dirinya yang tidak diingat oleh Mario. Sebegitu tidak pentingkah ia di hidup Mario hingga dilupakan begitu saja?


"Tante, Dila mau pamit pulang ke Jogja. Tolong tetap kabarin Dila jika ada apa-apa." Tiara memeluk Dila.


"Terima kasih Dila. Walau Mario tidak ingat tentang nak Dila, tapi tante yakin ia sangat berbahagia saat di dekat Dila kemarin. Tante bisa tahu dari suaranya saat ia menelepon tante. Kamu yang sehat ya. Sekali-sekali main ke rumah tante. Kita kan sama-sama di Jogja." Dila mengangguk. Menoleh ke arah Mario seakan mengucapkan selamat tinggal kepada cinta pertamanya.


"Cepat sehat bro. Nanti kita ketemu di Jogja ya." kata Richie. Mario mengangguk sambil memberikan jempolnya kepada Richie. Tiara mengantar mereka keluar sekalian ke kantin untuk membeli makan siangnya.

__ADS_1


Mario mengambil ponsel di laci sebelah tempat tidurnya. Ia membuka galeri foto di sana. Melihat satu foto yang sudah ia buka kemarin. Fotonya dengan Cinta. Mario merasakan pedih di matanya. Ia menangis melihat wajah Cinta yang dirindukannya. Betapa berat dan sakitnya saat Mario menahan dirinya untuk tidak memegang tangan Cinta, memeluknya, dan menciumnya. Berpura-pura tidak mengenal Cinta. Padahal saat ia membuka mata pasca operasi, hanya wajah Cinta yang dicarinya. Dan saat Mario melihatnya lagi, ia merasa benar-benar hidup. Tapi Mario tidak memiliki alasan lagi untuk menahan Cinta di sisinya. Ia tidak mau membebani Cinta dengan perasaannya. Tapi ia juga tidak bisa menahan perasaannya dengan status Mario yang sama seperti kemarin. Ia berharap bisa benar-benar melupakan Cinta, bukan berpura-pura melupakannya. Mario menangis karena menahan rindunya. Tapi saat ia memutuskan untuk melupakan Cinta, saat itu juga ia memutuskan untuk merelakannya berbahagia dengan Richie suaminya. Memang sulit melupakan seseorang yang sudah mengukir kenangan indah di hidup kita. Namun biarlah ia memendam perasaannya dan menguburnya dalam-dalam. Mungkin suatu hari kenangan itu akan terkubur dan ditumbuhi dengan kenangan yang lebih indah. Mungkin. Walau hanya empat hari, ia merasa sangat bahagia. Mario bersyukur Tuhan masih memberinya hidup dan dapat mengingat semua kenangan indahnya bersama Cinta. Mario menghapus air matanya. Ia tidak mau mamanya sampai tahu tentang semuanya. Mario akan tetap berpura-pura hingga ia lelah atau merasa terbiasa.


*****


__ADS_2