
"Selamat siang, Pak Richie. Saya Rena. Begini Pak, saya mau minta approval. Ada stasiun radio yang akan mengadakan gathering untuk kantornya minggu depan di hotel kita. Planning untuk 22 orang." Rena menelepon Richie. Ia adalah relationship manager Hotel Sky Escape.
"Include apa aja Ren?" tanya Richie sambil membuka beberapa file di komputer kantornya.
"Menginap satu malam kamar standar dengan kapasitas dua orang per kamar, sarapan kan sudah termasuk paket, makan siang dua kali, makan malam satu kali, ruang meeting yang medium hanya untuk tiga jam. Oh iya Pak, mereka minta water sport atau games team building." Rena menjelaskan.
"Kamu sudah kasih harga?"
"Sudah saya hitung, dan saya kasih mereka dua juta rupiah per orang. Pihak mereka minta potongan harga Pak."
"Kamu email ke saya yang tadi mereka minta apa saja, nanti saya lihat sebentar. Paling lama setengah jam lagi saya kabarin kamu." jawab Richie. Ia melanjutkan pekerjaannya kembali sambil menunggu email dari Rena. Richie melirik ke arah Dila yang bisa dilihatnya dari jendelanya. Memang tidak terlalu jelas karena terhalang tirai jendela. Richie baru ingat ada yang perlu dikatakannya pada Dila.
"Ya Pak?" Dila datang setelah Richie meneleponnya.
"Duduk sini Dila." Sekarang Dila selalu merasa takut jika Richie mengetahui bahwa Dila tahu rahasia kelamnya. Duh, kok jadi siapa yang punya rahasia siapa yang takut ya.
"Begini, kamu kan sudah banyak membantu saya mulai dari pencarian lahan hotel hingga pembukaan kemarin. Saya akan memberi kamu bonus tiga bulan gaji untuk kamu. Tapi saya akan langsung transfer ke kamu, tidak melalui HRD karena ini bukan pembagian bonus tahunan kantor." Dila tersenyum senang, namun senyum itu mendadak redup.
"Apa Bapak melakukan ini karena...kondisi rumah saya? Karena kasihan?" Dila merasa sikap Richie sedikit berubah menjadi baik setelah ia mengantar Dila hingga ke rumahnya tempo hari.
"Bukan..Bukan..Jangan salah paham Dila. Kamu tidak tahu betapa kamu sangat membantu pekerjaan saya selama ini. Bonus ini hanya bentuk penghargaan saya untuk kerja keras kamu. Kamu tahu kan saya sangat membutuhkanmu." Dila terkejut mendengar kalimat terakhir Richie. Ia tahu maksud sebenarnya adalah membutuhkan dalam pekerjaan, namun tetap saja jauh dalam khayalan Dila kalimat itu memiliki makna yang berbeda. Dila menangis senang, setidaknya ia bisa memberi Vio uang pangkal untuk masuk jurusan seni.
"Hei Dila, kenapa kamu menangis? Aku benar-benar bukan melakukan ini karena kasihan padamu. Kamu punya potensi Dila. Maaf, memang aku mempunyai motif lain dengan memberimu bonus ini. Aku takut kamu berhenti dan mencari pekerjaan lain. Mungkin karena aku sering menyiksamu." Dila tertawa mendengarnya. Ia tidak mungkin berhenti karena ia sangat butuh uang dan juga karena...Richie.
"Maaf Pak, terima kasih. Saya..hanya bahagia. Saya sangat membutuhkannya untuk Vio." ucapnya jujur. Richie melihat ketulusan dan kejujuran di setiap ucapan Dila. Sungguh jika ia tidak berpikir mereka sedang di kantor, ia akan memeluknya. Memberitahunya bahwa semua akan baik-baik saja. Richie memang berbohong, selain karena kerja keras Dila, ia memang ingin sedikit membantunya. Richie tahu betapa kerasnya Dila menghidupi dirinya dan Vio.
"Sama-sama. Yang penting kamu betah walaupun saya sering marah-marah." Mereka tertawa. Dila kembali ke mejanya. Richie memeriksa email yang masuk dari Renata.
'Hah? Stasiun Radio Future 97.5 FM? Jadi mereka yang akan ngadain acara di Sky.' Richie menelepon Rena.
"Ren, harga bisa diturunin jadi Rp 1.750.000 per orang. Bilang kita juga akan kasih kaos untuk team building. Pastiin mereka deal ya Ren, jika ada yang kurang nanti kamu diskusi dulu sama saya, jangan langsung bilang ga bisa. Ok? Terima kasih." Richie menutup panggilannya. Richie bersemangat, ia pasti akan datang nanti, minimal untuk melihat Cinta. Idolanya. Siapa tahu dia bisa konsultasi langsung tentang Hannah.
__ADS_1
*****
"Tadaaaa...Tumben banget kan Cinta masih ada setelah lagu terakhir hahaha..." Richie tidak jadi mematikan radionya.
"Dan tebak siapa yang ada di sebelah Cinta sekarang? Please welcome..our Jeno."
"Haiii..Haiii..Terima kasih Cintaku."
"Waduuuh jangan ditambah donk Kak Jeno, nanti banyak yang marah hahaha..." Termasuk Richie yang mulai tidak suka dengan kehadiran Jeno di sebelah Cinta sekarang.
"Lah, kita kan sama-sama single hahaha...Anyway, Jeno di sini ingin mengumumkan sesuatu ya..Dimulai hari ini, Senin hingga Kamis kami akan memilih sepuluh partisipan yang beruntung untuk ikut bersama tim Radio Future 97.5 FM dalam acara gathering pada hari Sabtu dan Minggu di...Sky Escape Hotel. Sudah pada tahu kan dengan hotel yang baru Grand Opening Minggu kemarin. So, silahkan untuk terus menghubungi kami di siaran Sehat Itu Indah, Suara Cinta, dan Jeno's Choice. Ingat peserta yang dipilih hanya yang berpartisipasi dalam empat hari ke depan ya. Pada mau kan ketemu sama Cinta dan Jeno?"
"Jadi yang dipilih cuma yang bertanya cuma dari hari ini sampai Kamis ya Kak Jeno? Yang kemarin-kemarin ga berlaku? Cuma mau pastiin aja Kak, nanti ada audiens yang protes lagi kok ga terpilih."
"Yap, betul Cinta. Kenapa sampai Kamis? Karena Jumat kita bakal mengumumkan siapa yang beruntung untuk spend your weekend with us..."
Yess, Rena berhasil meyakinkan mereka untuk memilih Sky. Sekarang Richie hanya perlu mengosongkan jadwalnya di hari Sabtu atau Minggu. Richie mendengar ponselnya berbunyi. Hannah. Richie bingung apakah harus menjawabnya atau berpura-pura tidur.
"Richie, kamu belum tidur?" tanya Hannah.
"Bentar lagi. Kenapa Han?"
"Aku mau minta maaf soal kemarin, mungkin aku terlalu memaksamu. Seharusnya aku tidak..." Hannah berkata dengan gugup.
"Hannah, kamu tidak salah apa-apa. Itu murni kesalahanku. Kamu benar-benar gadis yang luar biasa. Tapi sekali lagi maaf, harusnya aku tidak menahanmu hingga dua tahun." Richie sudah memutuskan untuk jujur dengan Hannah tentang semua perasaannya.
"Bisakah kita mencobanya lagi, Sayang? Aku..Aku tidak sanggup kalau kita putus." Hannah menangis.
"Maaf Han, tapi kamu layak mendapatkan pria yang lebih baik dari aku."
"Tidak ada yang lebih baik dari kamu Richie."
__ADS_1
"Pria yang mencintaimu lebih dari aku. Aku yakin dia ada. Sekali lagi aku minta maaf." Richie menutup teleponnya. Ia mengakui ia memang kejam. Dua tahun berpacaran dengan Hannah, cukup lama. Beruntung Richie tidak pernah menyentuh Hannah selama berpacaran. Bukan karena tidak ada birahi, namun lebih karena saat ia menciumnya seperti kemarin, tidak ada hasrat yang mendorongnya untuk melakukan lebih. Mungkin ini yang terbaik. Setidaknya ia dan Hannah bisa menemukan seseorang yang lebih tepat. Tidak terjebak dalam status palsu tanpa cinta. Cinta sebelah pihak hanya bisa menyakiti pada akhirnya. Mencintai tanpa dicintai sama sakitnya dengan pihak yang dicintai tanpa mencintai. Tidak ada yang menang ataupun kalah.
*****
Akhirnya tim Jeno telah mendapatkan sepuluh pendengar yang beruntung. Dan benar sekali, delapan dari sepuluh yang terpilih adalah perempuan fansnya Jeno. Di sinilah mereka siang itu, di depan Sky Escape Hotel. Dila memakai masker hitam dan topi, beralasan ia sedang sedikit flu dan batuk. Renata datang menyambut mereka.
"Hai, dengan Kak Jeno ya? Saya juga salah satu penggemar lho. Selamat datang semuanya di Sky Escape. Kalian boleh check in kamar dulu. Berhubung jumlah kalian sembilan pria dan tiga belas wanita, jadi ada yang sendirian ya. Anton dan Cinta. Tapi jika mau saling tukaran juga ga apa-apa. Bebas kok." jelas Rena.
"Aku saja yang sendirian." Reno mengajukan dirinya. Ia lebih suka tidur sendiri daripada dengan orang lain.
"Aku pilih sendiri juga." ucap Dila, dengan suara yang sedikit dibuat serak. Ia pernah bertemu Rena, mungkin dua kali saat kunjungan bersama Richie.
Mereka masuk ke kamar masing-masing sebelum makan siang. Acara tanya jawab dengan penggemar akan dilakukan setelah makan siang. Semua acara berjalan dengan lancar. Dila tetap memakai maskernya kemanapun ia pergi.
'Sepertinya aku terlalu khawatir. Mudah-mudahan semuanya lancar.' ucap Dila mencoba menenangkan dirinya.
"Cinta, kamu ngapain di sini sendirian? Sepertinya kamu sekarang sudah aman jika buka masker." kata Jeno. Malam itu mereka mengadakan pesta barbeque di pinggir pantai.
"Ga ah Kak, nanti aja di kamar." Dila sedang menikmati angin malam di pantai. Dingin namun menyejukkan.
"Kamu sudah makan?" tanya Jeno lagi.
"Sudah tadi." Padahal belum sama sekali. Ia benar-benar tidak mau membuka maskernya.
"Besok ada acara water sport nih, kamu suka permainan yang memacu adrenalin gitu ga?"
"Kurang Kak." Dila tersenyum. Bukan tidak suka. Ia bahkan belum pernah memainkannya.
"Senyum kamu cantik lho Cinta. Aku bahkan bisa melihatnya walaupun ditutupi maskermu itu. Sering tersenyum donk, setidaknya untuk aku." Jeno menatapnya. Dila merasa canggung ditatap begitu oleh Jeno. Untung saja para penggemar menarik Jeno ke arah pantai untuk bergabung dengan mereka. Acara berakhir sekitar jam 10 malam. Mereka kembali ke kamar masing-masing.
'Kak Jeno kok aneh tadi? Bulan lalu Chris, sekarang Kak Jeno. Kata orang, ada saatnya bunga wanita sedang mekar untuk menarik kumbang-kumbang di sekitarnya. Apa benar bungaku sedang mekar sekarang? Andaikan saja kumbang itu..Pak Richie.' Dila teringat Richie. Sama saat rasa kagum bisa menjadi suka, keseringan ingat pun pertanda rindu. 'Masa sih aku merindukan Pak Richie?'
__ADS_1
*****