SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 53


__ADS_3

Dila berdiri di depan sebuah rumah megah dengan arsitektur tahun 90an. Sopirnya menunggu di mobil. Richie mengharuskan Dila menggunakan mobil dan sopir pribadi sekarang. Dila memutuskan untuk belum memberi tahu Richie tentang hal ini sampai Dila tahu apa yang ingin dibicarakan oleh mama Mario. Dila membunyikan bel pintu berwarna putih itu dan menunggu hanya sekitar enam detik hingga pintu itu terbuka.


"Dila?" tebak seorang wanita paruh baya namun masih terkesan sangat cantik dengan dandanan seadanya.


"Iya Tante." jawab Dila sedikit membungkuk.


"Saya Tiara, mama Mario. Silahkan masuk." Mereka duduk di ruang tamu bernuansa abu-abu dan putih. Dila dapat melihat beberapa foto keluarga dengan ukuran cukup besar digantung di dinding di atas sofa. Mario di foto itu mirip dengan Mario yang ia kenal saat masih kuliah dulu. Mungkin foto ini diambil saat itu, pikirnya.


"Duduk Dila. Mau minum apa?"


"Teh hangat saja Tan." jawab Dila. Tiara meminta ART nya untuk membuat teh dan membawa beberapa cemilan.


"Maaf ya Tante memanggilmu kesini." Dila hanya tersenyum, sedikit gugup dengan apa yang akan diucapkan Tiara. Yang menjadi pertanyaan sejak awal adalah bagaimana mama Mario bisa mengenalnya.


"Tante bingung harus mulai dari mana." Tiara tersenyum. Namun senyuman itu hanya bertahan sebentar sebelum terganti dengan air mata yang menetes. Dila mendekatinya dan mencoba menenangkannya.


"Maaf. Begini Dila, Mario, anak tante, dia..ada tumor di otaknya." Dila menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tiara berusaha tegar walaupun Dila dapat mendengar suaranya sedikit bergetar.


"Dokter bilang dia ada harapan untuk hidup jika menjalani operasi pengangkatan tumor di otaknya. Risiko pasti ada mengingat ini operasi yang sulit. Jika tidak dioperasi, mungkin harapan untuk hidup hanya beberapa bulan saja karena tumor itu akan semakin membesar." Tiara tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dila memeluknya, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Selama ini ia melihat Mario cukup sehat. Tidak pernah terlihat ia sakit sedikitpun.


"Tante ingin minta tolong Dila. Tante tahu Mario menyukaimu. Tolong tante untuk membujuknya agar ia setuju untuk dioperasi. Selama ini ia selalu menolak, ia takut. Tante tidak mau melihatnya kalah tanpa perlawanan." Tiara mengenggam tangan Dila seraya memohonnnya.

__ADS_1


"Tunggu tante. Dari mana tante tahu kalau Mario menyukai Dila?" Dila bingung dengan apa yang didengarnya.


"Tante menemukan ini di antara barang-barang saat ia kuliah dulu." Dila mengambil buku hard cover biru tua. Tidak ada tulisan apapun di bagian luarnya. Dila membuka buku tebal yang lusuh itu, seakan sering sekali dibuka oleh pemiliknya.


"Tante akan memberi kamu waktu untuk membacanya. Cerita tentangmu ada di bagian setelah pembatas tali. Tante tinggal sebentar ya." Dila mengangguk.


Banyak coretan gambar-gambar kartun di halaman depan buku itu. Ada beberapa nomor telepon yang dicatat di sana. Dila membuka halaman yang sudah dibatasi tali merah itu dan mulai membacanya.


22 Oktober 2015


Akhirnya aku bisa mengenalnya. Gadis berkaca mata yang waktu itu menumpahkan jus ke sepatu Jeno. Namanya Ardila Cintania. Tentu saja ini berkat Jeno. Playboy satu itu memaksa Ardila untuk berkenalan dengannya jika ingin dimaafkan karena kasus jus. Tapi aku hanya bisa tahu namanya. Tidak lebih. Bahkan tidak bisa berjabat tangan dengannya. Hari ini cukup dengan tahu namanya saja. Ardila Cintania. I like her name. Cocok dengan dirinya yang terkesan lugu tapi sangat cantik di mataku.


Dila tidak percaya dengan lembar pertama yang dibacanya.


Ternyata panggilannya Dila. Aku lebih suka memanggilnya Cinta. Tapi tentu saja bukan untuk memanggilnya secara langsung. Hanya panggilan sayangku untuknya. Hari ini aku melihatnya berlari setelah turun dari angkot. Bukunya berjatuhan. Baru saja aku berdiri ingin membantunya, tapi ia sudah selesai memungutnya. Pasti dia sedang telat hingga geraknya sangat cepat. Entah sejak kapan melihatnya dapat memberikan semangat untukku. Menunggunya datang di bawah pohon depan kantin adalah kegiatan favoritku sekarang. Can't wait for tomorrow.


20 Desember 2015


Satu lagi yang aku tahu tentang Cinta. Ia sering ke perpustakaan pukul enam sore hari Jumat. Aku tidak tahu mengapa hari Jumat pukul 6 sore. Minggu lalu aku melihatnya saat diajak Jeno latihan band. Sore tadi aku melihatnya lagi. Untung saja aku menerima ajakan Jeno untuk latihan walaupun sedang malas. Cinta menjepit rambut panjangnya ke atas. Cantik. Tapi aku lebih suka ia mengurai rambut panjangnya. Rambut hitamnya sangat indah. Entah kapan aku bisa mengajaknya ngobrol. Ini semua karena pertunangan itu. Aku sangat membencinya.


7 Maret 2016

__ADS_1


Untuk pertama kalinya aku bisa berdiri di sebelah Cinta. Saat melihatnya kehujanan di depan kampus tadi, aku memberanikan diri membagi payungku dengannya. Hanya lima menit kami berdiri di bawah satu payung. Bahuku bersentuhan dengan rambutnya, nyaris dengan kepalanya hahaha... Sungguh lima menit yang indah. Suaranya yang mengucapkan terima kasih padaku sangat indah. Aku jarang mendengar suaranya. Saat Jeno menggodanya, ia hanya diam. Jarang berbicara. Cinta, andaikan kamu tahu, betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak mengatakan "Aku menyukaimu."


19 Juni 2016


Aku bertengkar dengan papa. Aku menolak pertunanganku dengan Isabel. Isabel adalah teman kecilku. Bagaimana aku bisa menikahinya? Gara-gara janji orang tua yang akan menikahkan kami, aku mengorbankan perasaanku sendiri. Bahkan aku tidak berani menyatakan cintaku pada Cinta. Aku takut akan melukainya jika suatu saat aku tidak bisa menghindari pernikahanku dengan Isabel. Siallll!!!!!


18 November 2016


Aku ingin merasakan bagaimana rasanya berpacaran dengan Cinta. Memegang tangannya, memeluknya, dan berciuman dengannya. Sekali saja sebelum aku lulus dan ke Amerika.


Dila membaca setiap halaman. Tidak terasa air matanya sudah mengalir begitu banyaknya. Cinta pertamanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga ia sampai di halaman terakhir.


27 Agustus 2017


Selamat tinggal Cinta, cinta pertamaku. Aku tidak tahu apakah bisa melupakanmu. Aku harap kamu bisa berbahagia dengan siapapun itu. Walau aku pernah bermimpi orang yang bisa membahagiakanmu adalah aku. Aku harap kamu bisa lebih sering tersenyum karena kamu tidak pernah tahu bahwa senyummu dapat mewarnai hidup seseorang yang hanya memiliki warna abu-abu seperti hidupku. Aku sempat berpesan kepada Jeno untuk menjagamu dan membantumu jika ada masalah. Masalah finansial pun tak apa, ia bisa menghubungiku bila Cinta memerlukan bantuanku. Cinta, I love you. Aku berharap suatu hari kamu akan mengetahui perasaanku sekarang yang mungkin belum berubah di saat kamu mengetahuinya, suatu hari...bagaimanapun jalannya. I love you my Cinta.


Dila menutup buku itu. Air matanya masih mengalir. Ia tidak sadar Tiara sudah duduk di depannya.


"Tante tahu kamu sudah menikah Dila. Tante tidak berharap lebih dari kamu. Hanya ingin kamu membantu tante untuk membujuk Rio supaya ia mau dioperasi. Kamu tidak tahu bagaimana menderitanya ia jika sedang kambuh. Sekarang ia memilih untuk menginap di hotel karena ia ingin melihat pantai setiap malam sebelum ia tidur. Tante sangat khawatir, tapi ia tidak mau ditemani. Rio tidak mau dikasihani. Tante tidak tahu bagaimana perasaannya kepadamu sekarang. Tapi tante pernah mendengar bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan lebih sering melihat wanita yang dicintainya. Lalu tante menelepon Jeno. Dan dia bilang jika kalian sedang kumpul bersama kemarin." Dila mengangguk. Ia berjanji akan membujuk Mario.


Dila permisi pulang. Ia masuk ke mobil dengan sedikit linglung. Dila tidak mengira akan mendengar kabar seperti ini. Ia kira mama Mario akan memarahinya karena sempat menyukai anaknya. Atau Dila mengira mamanya ingin membuat pesta kejutan untuk Mario. Atau ingin menjodohkan Mario dengan seseorang yang Dila kenal. Ya.. Dila mengira alasannya salah satu dari itu. Bukan tumor otak. Astaga.

__ADS_1


"Kita ke Sky, Pak." ucapnya ke Pak Wahyu.


******


__ADS_2