SUARA CINTA

SUARA CINTA
BAB 37


__ADS_3

"Dila, coba yang ini deh." Desy memilih satu gaun pengantin untuk Dila. Dila mengangguk. Richie mengamati pilihan mamanya dari tadi. Ini sudah gaun ketiga yang dicoba Dila. Semua sangat cocok dikenakannya. Dila keluar. Gaun itu berbentuk sabrina. Cantik sih, hanya saja tubuh Dila terlihat bertambah mungil.


"Mmmh..badan kamu hilang di gaun ini." kata Desy. Pendapatnya sama dengan Richie. Ia memilihkan gaun yang lain model kemben backless. Richie keluar mengangkat telepon dari manager Sky.


"Hei, kalian lihat deh kesana. Itu kan mantan pacar Hannah Fang." seorang gadis menunjuk ke arah Richie yang sedang menelepon.


"Mana?" ujar yang lain.


"Itu yang lagi telepon di depan bridal." jawab gadis yang pertama. Bridal itu terletak berseberangan dengan tempat mereka berdiri sekarang.


"Hannah tu siapa sih?" tanya gadis yang lain lagi, ia baru selesai membayar makanan mereka. Lalu memperhatikan pria yang dibicarakan temannya tadi.


"Artis, Martha. Lo sih kelamaan di luar negeri."


"Itu, yang pake kaos Nike jas hitam?" tanya Martha. Teman-temannya mengangguk.


"Ganteng banget kan. Sayang dia putus sama Hannah. Padahal mereka pasangan idaman banget." ucap temannya.


"Namanya Richie. Dia mantan pacarku dulu di Amerika." kata Martha santai.


"Hah? Yang benar? Hebat juga lo Mar, bisa gaet cowok kayak dia." Kedua temannya terkejut.


"Ya iyalah, Martha gitu lho." katanya bangga. Richie masuk setelah selesai menelepon.


Martha yang penasaran langsung mengikuti Richie. Ia mengintip dari luar butik. Dila keluar dari fitting room dengan gaun pengantin yang sangat cantik.

__ADS_1


"Sayang. Kamu cantik banget pakai gaun ini. Yang ini saja ya. Sempurna di kamu." Richie berdiri mengagumi kekasihnya. Desy juga mengangguk senang.


"Cantik banget Kak." Vio memeluk kakaknya.


Martha geram melihat kegembiraan mereka. Sebenarnya Martha tidak ingin mengganggu kehdupan Dila lagi. Ia tidak mau lagi memiliki hubungan apa-apa dengan Dila semenjak kasus yang menimpa orang tuanya. Namun siapa sangka Richie hadir di tengah mereka. Membuat Martha mau tidak mau harus menyapa dan berhubungan kembali dengan Dila. Martha tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa mendekati Richie lagi.


"Kok lo bengong? Ga sapa dia? Gw pengen lihat dia dari deket, Mar." teman Martha menarik lengannya.


"Malaslah, ada emaknya." Martha pergi dari sana.


*****


Sidang dengan terpidana Bramantio Firdaus berlangsung lancar. Bram marah besar dengan pengacaranya yang seolah bertindak tanpa perlawanan. Bukti yang diberikan oleh pengacara Dila memang tidak terbantahkan ditambah kesaksian yang sangat kuat oleh Ivan. Semua itu membuat sidang itu dengan gampang dimenangkan pihak penggugat yaitu Dila. Bram diancam hukuman satu tahun penjara, pengembalian semua aset yang diambil dari orang tua Dila, ditambah denda Rp 1,5 Milyar.


Sidang percobaan pembunuhan yang dilakukan Nancy juga berjalan lancar. Semua saksi dan bukti yang ada sangat memberatkan Nancy. Tidak ada pembelaan yang bisa diajukan pengacaranya. Nancy pun terancam hukuman lima tahun penjara, lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut tujuh tahun penjara. Tapi Dila sudah cukup puas, ia hanya ingin keadilan.


"Apapun yang aku dapat sekarang, tidak bisa menghilangkan penderitaan aku dan Vio saat kami masih kecil." ucap Dila dingin. Ia memilih pergi dari sana. Terdengar suara Martha yang masih berteriak di belakangnya.


"Papa masih tidak percaya dengan yang Bram dan istrinya lakukan ke kamu dan Vio. Dulu setiap kali Papa main ke rumah almarhum papamu dulu, Bram selalu ramah." kata Andirawan. Hari sudah hampir sore, jam 4 siang. Mereka sekarang berada di sebuah restoran Jawa, makan siang yang tertunda.


"Sebenarnya om Bram awalnya tidak begitu seingat Dila. Tante Nancy yang suka panasin om Bram. Sampai akhirnya om Bram juga perlahan berubah kejam seperti tante Nancy." ucap Dila.


"Ya sudah. Sekarang semuanya sudah usai. Kamu dan Vio bisa hidup bahagia sekarang. Kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih tau Papa. Richie dan Dila fokus saja dengan persiapan pernikahan kalian." Richie dan Dila saling memandang dan tersenyum. Dila tidak menyangka semuanya akan berjalan lancar dan berakhir bahagia.


'Terima kasih Ma, Pa. Kalian sudah memberi Dila dan Vio kekuatan hingga sekarang. Menemani kami di saat sulit dan bahagia. Dila berharap kalian sudah tenang dan bahagia di sana.' Dila berdoa dalam hatinya.

__ADS_1


*****


"Halo, Cinta is back. Terima kasih untuk kalian yang masih stay tune di Suara Cinta. Sekarang Cinta sudah tersambung dengan seorang pendengar Suara Cinta. Sudah lama sekali tidak ada yang telepon langsung ke kita. Kita angkat dulu ya. Halo.."


"Halo, selamat malam." Suara seorang pria yang sepertinya ia kenal. Tapi Dila takut salah. Ia tidak diberi tahu operator siapa yang menjadi lawan bicaranya.


"Malam. Dengan siapa Cinta berbicara?"


"Dengan seseorang yang ingin berbicara dengan kekasihnya." ucap pria itu.


"Ayo, silahkan jika mau ngomong, monggo. Mau tanya juga boleh. Mau nyanyi juga boleh hahaha..." ucap Dila.


"Terima kasih Cinta. Saya mendengar Suara Cinta pertama kali mungkin enam bulan lalu. Dan jujur saya jatuh cinta dengan sosok Cinta. Suaranya, gaya bicaranya, semua pemikirannya." Dila yakin dengan suara itu. Richie. Ia melihat ke arah operator yang sedang tersenyum. Jeno yang berada di belakangnya pun ikut tertawa seolah mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Saya malah sempat berpikir alangkah menyenangkannya memiliki kekasih seperti Cinta. Ia pasti memiliki segudang cara untuk mempertahankan cinta kita menjadi sesuatu yang membahagiakan. Ternyata lambat laun saya akhirnya jatuh cinta dengan sosok yang sangat bertolak belakang dengan Cinta. Ia pendiam dan tidak pernah berani mengutarakan apa yang ia pikirkan. Tapi hal itu juga yang membuat saya jatuh cinta. Saya merasa ingin selalu melindunginya. Terkadang saya bingung. Sebenarnya tipe wanita seperti apa yang saya suka. Egois rasanya jika saya menginginkan karakter Cinta di dalam wanita yang saya cintai. Ternyata Tuhan memang Maha Baik. Wanita yang saya cintai, Ardila Cintania, adalah Cinta. Terima kasih Cinta, karena kamu juga memiliki andil yang sangat besar di kehidupan cintaku. Malam ini, saya, Richie Andirawan, ingin melamar Ardila Cintania, atau yang lebih kalian kenal sebagai Cinta, secara resmi. Dila, will you marry me?" Saat itu, air mata Dila sudah menetes. Ia tidak pernah berharap dilamar secara romantis oleh Richie. Ia tahu Richie bukan tipe pria seperti itu. Tiba-tiba ia melihat sosok pria yang dicintainya itu ada di belakang Jeno, di depan matanya. Jeno mengajak Richie masuk ke dalam, ke tempat Dila siaran.


"Hai semua...pasti terkejut kan dengan lamaran tadi. Sekarang Cinta lagi dilamar nih di depan Jeno. Say Yes..Say Yess... " Jeno mengambil alih acara Cinta. Richie sedang berlutut di depan Cinta dengan mengulurkan sebuah cincin. Dila yang sedang menangis hanya bisa mengangguk. Richie memeluknya.


"And finally...Cinta menemukan cintanya. She said yes guyss...Congratulation ya Cinta dan Richie. Ternyata Suara Cinta bukan hanya tempat berbagi suka duka cinta kalian, tapi juga menjadi tempat Richie menemukan cintanya. Jeno berharap kalian bisa hidup bahagia selamanya. Sekarang sambil nunggu Cinta selesai nangis, kita dengarin dulu satu lagu untuk Cinta dan Richie, Menikahimu dari Kahitna." Jeno melepas headphone nya.


"Selamat ya Richie, Dila. Jadi kapan nih resminya?" Jeno menyalami mereka berdua.


"Bulan depan Bro." jawab Richie.


"Btw, makasih ya izinnya untuk melamar Dila." tambah Richie. Ia menepuk pundak Jeno.

__ADS_1


"Sama-sama. Cinta masih bisa siaran kan?" Dila tertawa. Ia kembali ke tempat duduknya dan memakai headphone nya kembali. Malam terindahnya di Stasiun Radio Future. Ia tersenyum bersyukur melihat Richie dan teman-temannya di sana.


*****


__ADS_2