
Giska masih membayangkan semua yang dialami oleh Sukma. Sepulangnya dari sekolah, ia bergegas masuk ke kamar. Ibunya merasa heran dengan tingkah Giska yang tidak biasanya.
Merasa penasaran, ibunya Giska bertanya pada menantunya. Kemudian, menantu perempuannya itu menjelaskan bahwa Giska sudah bertemu dengan teman lamanya. Wanita itu mengangguk pelan dan memahami sesuatu yang sedang dirasakan putrinya. Mungkin putri bungsunya itu senang sudah bertemu dengan teman lama.
Sementara itu, Giska membuka layar ponselnya di kamar. Dicarinya beberapa konten horor sampai menemukan hasil yang cocok dengan cerita Sukma. Entah sejak kapan ia menjadi terobsesi dan penasaran dengan segala hal yang berbau mistis, meskipun dirinya selalu ketakutan saat menemukan benda-benda di rumah jatuh tiba-tiba. Tanpa ia sadari, semua yang ditakutinya itu justru membangkitkan rasa keingintahuannya.
Pada hari pertama masuk sekolah, Giska merasa kesal karena tak sekelas dengan Sukma. Perbedaan nilai yang cukup jauh, memisahkan keduanya. Sukma berada di kelas A, sedangkan Giska di kelas G. Letak ruang kelas di antara mereka pun lumayan jauh, jadi Giska perlu mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan teman masa kecilnya itu.
Waktu istirahat merupakan jam yang tepat untuk bertemu dengan Sukma. Giska sengaja datang ke kelas temannya. Beruntung, seseorang yang dicarinya sedang duduk di bangku paling belakang di sudut ruangan kelas. Bergegas ia masuk untuk mendatangi Sukma.
"Giska? Kamu akhirnya datang juga. Aku cariin ke mana-mana, nggak ada. Sebenarnya kamu masuk ke kelas apa, sih?" tanya Sukma dengan nada semringah.
"Aku di kelas G. Sebenarnya kesal banget nggak bisa sekelas sama kamu," jawab Giska.
"Ngapain kesal? Seenggaknya kamu bisa ketemu sama aku tiap istirahat, kan," ucap Sukma.
"Bukan itu masalahnya. Kelas kita berjauhan, jadi nggak punya waktu yang cukup buat ngobrol," jelas Giska.
"Hm, oke. Emangnya kamu mau ngomong apaan sampai nyariin aku segala?"
"Gini. Soal pengalaman yang kamu ceritain ke aku waktu daftar sekolah. Emangnya bener, ya, kalau waktu antara dunia manusia sama alam gaib itu beda? Gimana rasanya kamu ada di sana? Selain ketemu sama Wewe Gombel, apa kamu ketemu juga sama Kuntilanak, Genderuwo, atau Kuyang?"
"Kalau mau melihat mereka, nggak perlu masuk ke alam gaib segala. Kadang kalau kita kebetulan lagi berada di tempat yang angker atau sepi, bisa ngelihat mereka, kok," jelas Sukma, lalu mengunyah keripik pedas di tangannya.
"Wah, masa?" Giska mengernyitkan kening.
Sukma celingukan, lalu berbisik, "Sebenarnya mereka juga ada di sini. Kamu mau lihat nggak?"
Giska mengedikkan bahu dan menggeleng cepat. "Nggak mau, ah. Serem!"
"Kamu ini penasaran, tapi ngelihat aja nggak mau, malah takut duluan. Sebenarnya kamu nanya-nanya yang kayak gitu buat apaan, sih?"
"Enggak. Cuma penasaran aja. Kayaknya seru, deh, kalau jadi kamu."
"Seru? Seru apanya? Dulu waktu diculik sama Wewe Gombel, aku juga takut. Tapi semenjak dapet kekuatan dari makhluk itu, aku jadi nggak ketakutan lagi."
"Oh, gitu, ya."
Sukma melihat jam dinding. "Oya, sebentar lagi bel masuk. Cepetan masuk ke kelas kamu, gih! Katanya kelas kamu jauh dari sini."
"Iya, iya. Kamu ngusir aku nih ceritanya?"
"Bukan ngusir, tapi kasihan sama kamu."
"Eh, Sukma. Kamu udah dapet teman baru belum di kelas ini?"
"Belum, emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Aku juga belum. Mudah-mudahan bisa ketemu sama teman kayak kamu di kelas aku."
"Aamiin."
"Loh, kok malah ngaminin?"
"Terus aku harus bilang apa? Bukannya kata 'mudah-mudahan' itu sama dengan doa?"
"Ehehe ... benar juga. Aku pergi dulu, ya."
"Iya."
Selepas Giska pergi, Sukma duduk termenung memikirkan perilaku teman lamanya itu. Takut, tapi penasaran. Sikap aneh temannya itu terus membuatnya bertanya-tanya. Saking seriusnya berpikir, ia tidak fokus ketika murid-murid senior datang ke kelas untuk melakukan pengenalan sekolah.
Jam pulang pun tiba. Sukma dijemput sang ayah ke sekolah. Selama di perjalanan, gadis itu terdiam sambil melihat pemandangan sekitarnya. Berkali-kali Pak Risman menanyakan hal yang telah dilaluinya selama sehari ini, Sukma tidak menggubrisnya sama sekali.
Setibanya di rumah, Sukma langsung masuk ke kamar tanpa menyapa dulu ibunya. Ia langsung bertemu dengan Atikah yang kebetulan sudah pulang lebih dulu. Sembari menaruh tas, Sukma mulai menanyakan sesuatu yang mengganggunya pada Atikah.
"Teh, emang ada, ya, orang yang takut tapi penasaran?" tanya Sukma sambil mengerutkan dahi.
Atikah pun ikut mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Sukma. Ia menoleh dan bertanya, "Emangnya siapa yang kayak gitu?"
"Giska. Dari waktu Dedek masuk ke sekolah sampai tadi, dia nanyain terus hal-hal mistis sama Dedek. Tapi dilihatin hantu malah nggak mau. Takut katanya."
"Hm ... gimana, ya? Mungkin masih ada hubungannya, sih. Eh, bukannya waktu itu Dedek pernah bilang, pas pertama kali kalian ketemu di SMP, dia kelihatan kayak ketakutan?"
"Benar juga, sih. Kok aneh, ya? Harusnya kalau takut, dia nggak perlu kesel nggak sekelas sama Dedek, apalagi sampai nyusulin ke kelas segala."
"Hm ... kok Dedek jadi curiga, ya, dia punya sifat munafik? Sebenarnya dia penasaran, tapi pura-pura takut aja karena nggak kuat lihat hantu."
"Bisa jadi, sih. Udahlah, Dedek jangan mikir yang aneh-aneh, deh. Mungkin dari dulu Giska emang kayak gitu."
Sukma mencebik, kemudian mengambil baju di lemari. Hatinya benar-benar tidak tenang. Firasatnya mengatakan, bahwa akan terjadi sesuatu pada Giska. Ia mencoba menggunakan kekuatan yang diwariskan Emak, yakni menerawang kejadian di masa depan.
Cukup lama Sukma menutup mata, meraba-raba kejadian lewat penglihatannya. Akhirnya, ia menemukan Giska dalam pandangannya. Tampak gadis berambut pendek itu dihampiri oleh dua orang perempuan, mungkin teman sekelasnya. Ciri-cirinya, perempuan yang pertama duduk di sebelahnya berambut sebahu, memiliki tahi lalat di bawah bibirnya. Kemudian perempuan kedua berkacamata dan rambutnya diikat ekor kuda. Mereka asyik mengobrol dan bercanda, hingga akhirnya raut ketiganya berubah menjadi serius.
Sukma mencoba menguping percakapan mereka, tapi tak mendengarnya sama sekali. Merasa gemas, Sukma mencoba memasang telinga dan memperkuat penerawangannya. Akan tetapi, seketika usahanya buyar tatkala kepalanya terasa sakit. Sukma berjongkok di depan lemari, lalu terbaring lemah.
Atikah panik tatkala melihat adiknya terbaring di depan lemari sambil meringis, membuka dan memejamkan mata dengan cepat. Ia segera membantu adiknya untuk duduk, lalu memijit-mijit kepalanya. Tak lupa, ia juga mengoleskan minyak kayu putih di dahi Sukma.
"Dedek kenapa? Kok bisa sampai tumbang begitu? Perasaan, tadi nggak kenapa-kenapa," tanya Atikah sembari memijit kepala adiknya.
"Nggak tahu, Teh. Dedek cuma mau coba menerawang apa yang akan terjadi sama Giska, tapi kepala Dedek malah pusing," jawab Sukma meringis kesakitan.
"Makanya, jangan coba-coba menandingi kuasa Allah. Semua yang terjadi di masa depan itu cuma Allah yang tahu. Dedek cuma dikasih tahu sebagiannya doang, biar nggak takabur," nasihat Atikah.
"Dedek bukan mau menandingi Allah, Teh. Dedek cuma kepo aja. Siapa tahu Giska bisa diselametin kalau ada apa-apa nanti," sanggah Sukma.
__ADS_1
"Mendingan Dedek berpikir positif aja. Dedek ini dari dulu suka begitu. Apa Dedek masih ingat, gara-gara nyelametin A Albi, Ibu jatuh pingsan?"
"Iya, Dedek masih inget kok, Teh. Dari situ jadi takut ketemu polisi."
"Nah, makanya, kali ini kalau mau bertindak kayak pahlawan itu harus mikir dulu, jangan gegabah!"
"Tapi, Teh. Kalau dulu A Albi nggak diselametin, nanti orang-orang jahat berbuat seenaknya sama dia."
"Hm ... Dedek ini. A Albi punya orang tua yang kaya. Kalau ada apa-apa, Om Hilman bisa lapor polisi."
"Ah, masa? Waktu itu Om Hilman nggak lapor polisi loh."
"Bisa aja Tante Farah yang lapor polisi."
"Hm ... eh, omong-omong kabarnya A Albi gimana, ya? Udah lama banget kita nggak ketemu dia," tanya Sukma, wajahnya mulai segar kembali.
"Ngapain Dedek nanyain dia? Mau ke rumah Om Hilman lagi? Jangan ah. Nanti dimarahin lagi sama Tante Farah."
"Ngapain takut dimarahin sama Tante Farah? Kita, kan, cuma main doang, bukan mau ngerampok."
"Tetep aja Teteh takut dimarahin lagi. Dulu waktu kita tinggal di sana, Teteh dimarahin terus."
"Itu, kan, Teteh. Dedek mah enggak. Dedek, kan, suka dianggap anak sama Om Hilman. Nggak kayak Teteh, diperlakukan kayak anak pungut," ledek Sukma, lalu menjulurkan lidahnya.
"Ih! Dedek nyebelin!" geram Atikah melempar botol minyak kayu putih ke arah Sukma, kemudian mengejar adiknya ke ruang tengah.
Bu Inah merasa jengkel tatkala melihat kedua putrinya bertengkar tidak jelas. Ia pun menyuruh mereka berdua membantu ayahnya membersihkan lele. Sukma benar-benar tidak suka kalau harus melakukan hal itu.
...****************...
Hari berganti. Sukma masih penasaran dengan sosok dua siswa yang mendekati Giska. Selama apel pagi, ia mencoba menengok ke arah murid-murid dari kelas 7G berbaris. Sialnya, gadis itu tidak menemukan Giska maupun kedua anak perempuan yang pernah muncul dalam penerawangannya.
Selesai acara apel pagi, murid-murid bubar menuju kelasnya masing-masing. Sukma masih berusaha untuk mencari Giska. Namun, lagi-lagi ia tidak melihatnya sama sekali.
Ketika hendak masuk ke kelas, tak sengaja Sukma melihat salah satu perempuan yang pernah dilihatnya dalam penerawangan. Ia memiliki rambut sebahu dan tahi lalat di bawah bibirnya. Tanpa banyak berpikir, Sukma bergegas menghampiri siswi itu. Alih-alih berhasil menemui siswi itu, Sukma justru kehilangannya lebih cepat. Gadis berambut sebahu itu berlari menuju kelasnya yang berada entah di sebelah mana.
Dengan langkah gontai dan raut kecewa, Sukma kembali lagi ke kelas. Akan tetapi, lagi-lagi langkahnya terhenti tatkala mendapati siswi berkacamata dan rambutnya diikat ekor kuda sedang berbincang-bicang sebentar dengan temannya. Segera ia menghampiri gadis itu dan menepuk pundaknya. Siswi yang belum diketahui namanya itu menoleh pada Sukma. Benar saja, ia tidak lain perempuan kedua yang datang mendekati Giska.
"Maaf, aku boleh nanya, nggak? Kamu sekelas sama Giska, ya? Kelas tujuh G," tanya Sukma dengan sedikit canggung.
"Tujuh G. Iya, emangnya kenapa?"
"Tolong, jangan apa-apain Giska, ya. Dia itu anaknya baik. Aku minta, kamu perlakukan dia dengan baik juga."
"Tentu saja. Kan sama teman harus baik. Kamu sahabatnya dia, ya?"
Sukma mengangguk.
__ADS_1
"Nggak usah khawatir. Aku nggak bakal ngapa-ngapain dia, kok, tenang aja," kata siswi berkacamata itu sambil memegang bahu Sukma.
Mendengar ucapan perempuan itu, Sukma mengembuskan napas. Ia berterima kasih pada siswi berkaca mata itu, lalu masuk ke kelas. Kendati demikian, hatinya masih tidak tenang. Sukma merasa sebuah kejadian buruk akan menimpa Giska sekalipun ia berusaha untuk mencegahnya.