
Sukma kebingungan melihat tetangga Abah baru saja selesai membaca surah Yasin. Ia makin heran tatkala ayah dan ibunya menangis tersedu-sedu setelah memeluknya. Yang membuatnya lebih mengerutkan dahi adalah kehadiran Kyai Soleh di sampingnya. Gadis kecil itu segera bangkit, sambil celingukan dan menggaruk kepala.
"Kok orang-orang bacain Dedek Al-Qur'an? Terus kenapa ada Bapak temennya Pak Haji di sini? Ada apa ini? Dedek masih hidup!" cerocos Sukma panik.
"Dedek, kami khawatir soalnya Dedek belum bangun-bangun selama dua hari," jelas Bu Inah.
"Dua hari? Kirain Dedek cuma bobo semalem aja," ucap Sukma tercengang.
"Syukurlah, Dedek udah bangun lagi. Bapak ikut senang," ucap Kyai Soleh tersenyum lebar.
"Bapak temennya Pak Haji, gimana Bapak temennya Pak Haji bisa ada di sini?" tanya Sukma mengernyitkan kening.
"Kyai Soleh sengaja datang ke sini buat bangunin Dedek," jawab Pak Risman.
"Oh." Sukma mengangguk. "Terima kasih, ya, Bapak temennya Pak Haji. Kalau nggak ada Bapak temennya Pak Haji, Dedek nggak bakal bisa keluar dari hutan."
"Iya, sama-sama, Dek," kata Kyai Soleh.
Bi Narti menyuguhkan segelas air putih pada tetangga yang sudah datang ke rumah Abah untuk membantu membangunkan Sukma. Pak Risman dan Bu Inah mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada warga yang sudi datang membacakan Al-Qur'an untuk putrinya. Tak lupa, mereka juga sangat terbantu oleh kedatangan Kyai Soleh.
Sebelum pulang, orang-orang mengobrol sebentar mengenai sesuatu yang menimpa Sukma dan Emak. Mereka yang sempat menjadi saksi atas pertarungan itu, menceritakannya dengan nada antusias. Seumur-umur, belum pernah ada pertarungan adu ilmu tinggi seperti yang dilakukan Sukma dan Emak.
Mendengar cerita para tetangga Abah, Kyai Soleh meminta waktu sebentar pada Pak Risman dan Bu Inah ke dapur. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya sejak datang ke rumah Abah. Ia tak mau langsung pulang, sebelum uneg-uneg yang mengganggu benaknya sirna.
"Ada apa Pak Kyai mau ngobrol di sini?" tanya Pak Risman.
"Sejak datang ke sini, saya merasa ada yang mengganggu pikiran saya. Kenapa kalian biarkan Sukma melawan orang yang memiliki ilmu hitam tinggi? Apa kalian tahu akibatnya kalau sampai Sukma kalah dalam pertarungannya?" tanya Kyai Soleh bernada cemas.
"Waktu itu kejadiannya sangat genting, Pak Kyai. Suami saya muntah darah dan kelabang. Saking paniknya, saya cuma fokus mikirin cara nyembuhin suami saya, sampai luput ngawasin Dek Sukma," jelas Bu Inah.
"Hm, begitu, ya. Baiklah, saya bisa memaklumi itu. Tapi, lain kali kalian jangan terlalu lengah. Anak itu bisa kapan saja pergi dan menghilang tanpa jejak. Ibu tahu sendiri, kan, kalau sampai anak itu lupa jalan pulang dan terpisah selamanya dari kalian?" ucap Kyai Soleh.
Pak Risman menatap istrinya sejenak, lalu kembali memandang Kyai Soleh. "Memangnya apa yang terjadi kalau Sukma menghilang?"
"Apa istri Bapak belum cerita?" tanya Kyai Soleh.
Pak Risman menggeleng. Kyai Soleh pun mengangguk, mencoba memahami alasan Bu Inah tak menceritakannya pada sang suami. Kenyataan buruk yang akan terjadi jika Sukma sampai menjauh dari keluarganya memang sangat mengerikan untuk dibayangkan. Wajar jika sampai Bu Inah tak bisa mengatakannya pada siapa pun.
__ADS_1
"Begini saja. Saya mau tanya sama Pak Risman. Apakah sekarang Bapak percaya bahwa alam gaib dan ilmu sihir itu ada? Saya harap, dari kejadian ini, Bapak tidak lagi berusaha menampiknya. Sebab putri bungsu Bapak yang satu ini memang selalu erat kaitannya dengan semua hal gaib."
"Iya, Pak Kyai. Saya percaya. Akibat kenaifan saya kemarin-kemarin, saya benar-benar nyesal udah mengabaikan semua yang dikatakan Dek Sukma. Tapi ... apa yang harus kami lakukan agar Dedek tidak bersikap seperti kemarin-kemarin lagi?" tanya Pak Risman.
"Tetap ajari kebaikan. Turuti kemauannya jika menurut kalian itu baik. Jika tidak, maka bertindak tegaslah. Lambat laun, Sukma akan mengerti jika kalian mengarahkannya dengan sabar dan lemah lembut," ucap Kyai Soleh.
Dari ruang tamu, warga berpamitan untuk pulang. Pak Risman bersama Bu Inah dan Kyai Soleh bergegas menemui para tamu. Mereka bersalaman, mengucapkan rasa turut bahagianya karena telah dilibatkan dalam usaha membangunkan Sukma. Satu per satu tetangga Abah pergi meninggalkan rumah pria tua itu.
Tak lama berselang, seseorang dari desa sebelah berlari tergopoh-gopoh, mendatangi kediaman Abah. Wajahnya tampak panik, seakan-akan ada kejadian buruk yang hendak disampaikannya. Pria itu segera masuk ke rumah Abah mencari Pak Risman.
"Eh, Karta. Ada apa kamu nyariin Risman?" tanya Abah.
"Emak, Bah ... Emak!" ucap pria bernama Karta itu dengan terengah-engah.
"Iya, ada apa sama Emak?" tanya Abah penasaran.
"Emak ... Emak sudah meninggal," ucap Karta dengan lesu.
Kedua mata Pak Risman terbelalak saat menerima kabar buruk itu. Tubuhnya seketika mematung, mengetahui sang ibu sudah tiada. Ia pun terduduk dengan tatapan mata yang kosong.
"Ayo, Pak Risman! Kita ke rumah Emak. Saat ini dia sedang dimandikan," ucap Karta dengan tergesa-gesa.
"Karta, kami akan segera ke sana. Sebaiknya kamu cepat kembali ke rumah Emak buat mengurus jenazahnya," ujar Abah.
"Tapi, Pak Risman ...." ucap Karta dengan wajah yang masih panik.
"Saya nggak akan ke sana," kata Pak Risman.
Seketika orang-orang di seisi ruangan terkejut mendengar ucapan Pak Risman, terutama Sukma. Gadis kecil itu baru menyadari perkataan Emak tentang Pak Risman yang harus mengantar sang ibu ke liang lahat. Rupanya benar saja, ayahnya enggan datang ke rumah Emak.
"Apa Bapak yakin? Dia itu ibunya Bapak, loh!" ucap Karta.
"Sudahlah! Cepat kamu pergi dari sini Karta! Saya bilang nggak akan datang, ya nggak akan datang!" bentak Pak Risman geram.
Karta pun mengangguk, kemudian pergi dengan langkah gontai. Ia kebingungan, menyampaikan berita buruk ini pada keluarga Emak. Namun, bagaimanapun juga, kabar ini harus didengar oleh saudara-saudara ipar Pak Risman.
Di sisi lain, Pak Risman masih duduk termenung di ruang tamu. Kyai Soleh menghampirinya, lalu memegang pundak pria paruh baya itu untuk tetap tegar. Pun dengan Bu Inah yang berusaha menghibur suaminya.
__ADS_1
"Pak, apa Bapak benar-benar nggak mau datang ke sana? Ini terakhir kalinya Bapak melihat wajah Emak, loh," ucap Bu Inah.
Pak Risman menggeleng cepat. "Emak itu sudah berbuat musyrik. Dia kafir. Udah cukup semua yang dilakukan Emak ke Bapak sama Dedek. Dia nggak layak buat dikunjungi lagi, bahkan di saat-saat terakhirnya."
"Tapi dia tetap ibunya Pak Risman, loh. Gimana kalau jiwanya nggak tenang hanya karena Bapak nggak mau datang ke rumahanya?" tanya Kyai Soleh.
"Saya nggak peduli, Pak Kyai. Saya sudah benar-benar sakit hati. Nggak apa-apa dulu dia menyakiti saya, tapi kalau sampai bikin Dedek nggak sadarkan diri selama berhari-hari, saya nggak terima!" ucap Pak Risman gusar.
Kyai Soleh menghela napas panjang. "Baiklah, itu semua terserah Bapak. Saya harap, Bapak membuat keputusan terbaik tidak berdasarkan emosi. Saya pamit dulu, masih banyak keperluan yang belum selesai di pesantren. Jaga diri Bapak baik-baik."
Kyai Soleh pun berpamitan pada Abah dan Bu Inah. Tak lupa, ia juga menasihati Sukma dan Atikah untuk menjadi anak-anak salehah yang tetap berbakti pada kedua orang tua. Selanjutnya, Kyai Soleh mengajak Ustaz Halim untuk pulang dan mengucap salam.
Sementara itu di kediaman Emak, proses memandikan jenazah sudah selesai. Para tetangga mulai mengkafani sekujur tubuh Emak dan memberikannya wewangian. Keempat saudara Pak Risman hanya termangu memandang sang ibu telah tiada. Mereka bukan sedang memikirkan kesedihan atas jiwanya yang sudah berpulang, melainkan hal lain.
"Aku pikir ajian Emak akan diwariskan kepada salah satu dari kita, ternyata malah diserap sama anaknya si Risman. Aku benar-benar kecewa sama Emak," celetuk Bi Neneng sembari mendelik.
"Si Risman memang beruntung. Dibikin susah berulang kali, tapi anaknya yang dapat ajian turunan dari Emak di saat-saat terakhir. Coba aja kalau dari dulu kita minta Emak buat segera turunin ajiannya, nggak akan begini, kan, akhirnya," tutur Bi Yati dengan duduk setengah membungkuk, sembari memegangi dadanya yang masih sakit.
"Sekarang aku baru bisa berpikir kalau Emak memang pantas mati di tangan anak angkatnya si Risman. Bagusnya lagi Emak disiksa di alam gaib atas hukumannya yang nggak mau berbuat adil sama anak-anaknya. Aku menyesal udah punya Emak yang serakah," timpal Wa Agus.
"Apa kalian masih ada niat buat celakain lagi si Risman?" tanya Bi Yati.
"Nggak ah, aku udah kapok!" bisik Bi Neneng.
"Aku juga nggak mau, apalagi sekarang ilmu Emak udah ada di bada si Sukma," timpal Wa Agus.
"Baguslah kalau begitu, aku juga udah malas. Mending nambahin tuyul di rumah," ucap Bi Yati dengan santai.
Wa Seto hanya menjadi pendengar di kursi roda. Ia benar-benar lumpuh total. Sekujur tubuhnya tak bisa lagi digerakkan, bahkan mulutnya sulit untuk dipakai berkomunikasi. Akibat tarikan luar biasa pada sekujur tubuhnya oleh Wanara, pita suaranya pun ikut rusak.
Proses pengurusan jenazah sudah hampir rampung. Emak dimasukkan ke dalam keranda, lalu disalatkan oleh para tetangganya. Keempat anaknya hanya sibuk mengutuk sembari melontarkan ucapan sumpah serapah pada jenazah ibunya. Mereka masih tidak terima, Emak pergi tanpa meninggalkan warisan berharga bagi mereka.
Selesai disalatkan, keranda diangkat oleh empat orang. Namun, rupanya ucapan Emak benarlah terjadi. Keranda mendadak menjadi sangat berat untuk diangkat, bahkan oleh sepuluh orang sekalipun. Emak benar-benar enggan datang ke liang lahat tanpa diantarkan oleh Pak Risman.
"Apa ada salah satu dari anggota keluarga yang tidak datang? Mungkin dia masih belum rela ibunya pergi," tanya salah satu pria yang hendak mengangkat keranda Emak.
"Pak Risman. Dia nggak mau ke sini katanya," jawab Karta.
__ADS_1
"Loh, kenapa nggak mau ke sini? Sesedih apa pun, dia harus tetap datang ke sini," ucap pria itu kesal.
"Saya juga nggak tahu, Kang. Pas saya ke sana, dia malah ngusir saya sambil bilang nggak mau datang ke sini," ucap Karta bernada kecewa.