
Hari begitu cepat berlalu. Tak terasa, sisa hitungan bulan yang dijalani Sukma mengenyam pendidikan di TK, sudah berakhir. Kini, Bu Inah tak perlu sering-sering mengantar si bungsu ke sekolah, mengingat Sukma masuk ke SD yang sama dengan Atikah.
Namun, hari pertama masuk sekolah bukanlah hal mudah bagi Sukma. Bu Inah menunggunya di luar, sembari mengobrol dengan orang tua siswa lain agar pikirannya tentang mimpi buruk beberapa bulan lalu segera menghilang. Kendati demikian, Bu Inah tak melupakan suara pria yang akan mengambil nyawa Sukma suatu hari nanti. Bagaimanapun juga, ia ingin memberikan nilai-nilai moral yang baik untuk Sukma, supaya selamat dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, di ruangan kelas empat yang letaknya berhadapan dengan kelas satu, teman-teman Atikah mengintip ke balik jendela. Mereka terheran-heran pada Sukma yang memiliki kulit pucat seperti mayat hidup. Atikah acuh tak acuh mendengar keluhan temannya, mengingat keanehan pada adiknya terjadi setelah menghilang selama seminggu.
"Dia beda dari kamu, Atikah. Warna kulitnya, sampe mukanya juga," kata Dian menatap Atikah dengan heran.
"Emang mukanya gimana? Dedek aku nggak aneh kok, mukanya juga biasa aja kayak kita-kita," sanggah Atikah dengan santai.
"Enggak, menurut aku gini loh. Kulit kamu sawo matang, terus hidung kamu pesek kayak ibu kamu. Kalau adik kamu kulitnya putih pucat, tapi wajahnya cantik, hidungnya juga bangir. Apa dia adik angkat kamu?" tanya Dian sembari mengernyitkan kening.
"Idih! Kamu ini ngomong apaan, sih? Adik angkat dari mana? Seingat aku, bapak aku ngegendong dia waktu masih bayi. Aku juga suka main sama dia, tapi dia itu punya keistimewaan. Dari bayi bisa lari-lari sambil ngomong 'pengen ketemu ibu'. Emang aneh, sih, tapi kenyataannya begitu," jelas Atikah.
"Wah, berarti adik kamu itu emang langka! Eh, tapi kalau kamu ingat bapak kamu ngegendong dia, kamu pasti ingat juga dong kapan ibu kamu pernah hamil. Perutnya buncit gitu pas udah sembilan bulan," kata Aminah.
Atikah termenung sejenak mendengar ucapan Aminah mengenai kehamilan ibunya. Sambil mengerutkan dahi, gadis kecil itu mengingat-ingat kembali kejadian ketika Sukma pertama kali masuk ke dalam kehidupan keluarganya. Ia hanya ingat, kalau ayahnya pergi bekerja lalu pulang kembali sambil membawa bayi. Tak ada kenangan tentang ibunya yang hamil selama sembilan bulan.
"Kok kamu malah ngelamun, Kah? Bukannya tadi kamu yakin banget kalau dia itu adik kamu?" tanya Aminah sehingga membuat Atikah terhenyak.
"I-iya, iya. Aku yakin banget kok dia itu adik aku. Kenapa emang?" Atikah balik bertanya.
"Enggak. Kami cuma heran aja, sama perbedaan muka kalian. Nggak kelihatan kayak adik kakak. Warna kulitnya aja beda," celetuk Dian.
"Dulu kulit adik aku sama kayak aku, tapi waktu hilang selama seminggu, warna kulitnya berubah," jelas Atikah meyakinkan.
"Kok bisa gitu, ya? Emang adik kamu pernah diculik sama seseorang buat dijadiin kelinci percobaan?" tanya Aminah.
"Ya enggak juga, sih. Aku pernah tanyain soal itu sama adik aku, katanya itu gara-gara Tante Farida. Selain itu, rambutnya yang pendek juga mendadak panjang dan gimbal. Aku juga nggak ngerti kenapa, dia emang istimewa."
"Tante Farida? Siapa dia?" tanya Aminah.
"Dia yang pernah bawa adik aku ke rumahnya. Adik aku bilang, kalau dia cuma nginep di rumahnya selama semalam, tapi anehnya, dia nggak pulang selama seminggu," tutur Atikah.
"Oh, jangan-jangan dia dibawa sama Wewe Gombel. Di kampung aku juga pernah ada yang kayak gitu, dia nggak pulang selama tiga hari. Dia pulang dengan keadaan linglung, tapi warna kulit sama rambutnya nggak berubah kok," kata Aminah.
"Aku nggak tahu banyak soal begituan. Yang aku tahu, adik aku itu istimewa. Sayangnya, tiap dipotong rambut sama ibu aku, dia suka nangis. Katanya kayak lagi dijambak kuat-kuat. Habis itu, dia jatuh sakit selama seminggu. Tapi kalau rambutnya dipotong sama aku, dia baik-baik aja," kata Atikah.
"Adik kamu itu emang aneh, ya. Kayak bukan manusia biasa," cetus Dian.
"Adik aku bukan aneh, tapi istimewa."
"Terserah kamu, deh," ucap Dian dan Aminah berbarengan.
Tak lama kemudian seorang guru matematika masuk ke kelas Atikah. Teman-teman Atikah kembali ke bangkunya masing-masing, kemudian duduk bersedekap. Ketika guru matematika itu menyuruh murid untuk membuka buku, Atikah menurutinya. Akan tetapi, gadis kecil itu masih memikirkan perkataan Aminah soal kehamilan ibunya dan sang adik. Atikah pun memutuskan akan menanyakan hal itu pada Bu Inah sepulang sekolah nanti. Sungguh, hati dan pikirannya tak tenang akan pertanyaan dari teman-temannya.
...****************...
Wajah Haji Gufron berseri-seri bagaikan bunga yang bermekaran di musim semi. Hatinya meletup-letup tatkala empat orang calon penghuni rumah kontrakannya datang untuk membayar uang muka sewa. Dengan senang hati, Haji Gufron mengantar mereka menuju bangunan kontrakan. Tak lupa, ia juga membawa dua kunci rumah kontrakan.
Sepanjang perjalanan, Haji Gufron menerangkan banyak sekali keunggulan dari kontrakannya. Para calon penghuni kontrakan pun terkesima mendengar penuturan Haji Gufron. Selain itu, penjelasan Haji Gufron mengenai kontrakannya yang bersih dan terawat, membuat calon penyewa membayangkan betapa betahnya mereka tinggal di sana kelak.
Setibanya di depan gerbang kontrakan, Haji Gufron mempersilakan mereka masuk lebih dulu. Para calon penghuni kontrakan itu terkesima melihat area yang cukup luas dan nyaman ditinggali. Sementara itu, Haji Gufron yang menyusul dari belakang, mendadak menghentikan langkahnya ketika mendapati Pak Beni sedang berjalan menuju kontrakannya. Masih hangat dalam pikiran pria paruh baya itu mengenai kelawuk yang ditanam seseorang di dekat gerbang kontrakannya. Haji Gufron menaruh curiga, bahwa Pak Beni-lah biang kerok dari tidak lakunya kontrakan. Akan tetapi, ia tak mau buru-buru menyimpulkan, melihat gelagat Pak Beni yang berubah menjadi santai ketika berjalan mendekatinya.
"Eh, Pak Haji, tumben ngelongok kontrakan," sapa Pak Beni dengan ramah, dilengkapi senyum simpulnya yang memperdaya.
"Iya. Ini, ada calon penghuni baru, mau nyewa dua kamar kontrakan. Makanya saya antar mereka kemari," jelas Haji Gufron semringah.
__ADS_1
"Calon penghuni baru? Syukurlah, Pak Haji. Setelah dua tahun nggak ada yang ngontrak, akhirnya ada yang mau nyewa juga."
"Iya. Namanya juga rezeki, Pak," kata Haji Gufron santai. "Oya, ngomong-ngomong, Pak Beni mau ke mana? Tumben jalan kaki."
"Ng ... S-saya ... s-saya ada perlu ke rumah temen yang di depan. Iya, iya. Saya mau ke rumah temen," jawab Pak Beni dengan tergagap-gagap.
Mendengar jawaban Pak Beni, kening Haji Gufron mengernyit. "Kok jawabannya kayak nggak meyakinkan begitu, Pak Beni?"
"Nggak meyakinkan gimana maksud, Pak Haji?" tanya Pak Beni gelagapan, sambil mengedarkan pandangan ke mana-mana.
Haji Gufron menyipitkan mata dan berkata, "Ah, saya jadi curiga. Jangan-jangan Bapak mau ketemu sama istri muda, ya? Ayo ngaku!"
"Hus! Pak Haji ini ada-ada aja. Jangan keras-keras ngomongnya! Nanti kedengeran sama istri saya," bisik Pak Beni merasa tidak keruan. "Pak Haji, kalau saya sampai selingkuh, istri saya bakal ngamuk besar nanti."
"Hehe ... Pak Beni ini serius sekali. Lagi pula saya cuma bercanda, kok."
"Pak Haji ini suka bercanda, ya. Daripada mikirin saya punya istri lagi atau enggak, mending Pak Haji pikirin ke depannya kayak gimana. Masa mau sendirian aja?"
"Ah, soal itu mah nanti-nanti aja lah. Siapa yang tahu, kalau saya akan nyusul Hajah Ai duluan sebelum nikah sama yang muda, kan? Lagi pula, saya masih sayang banget sama istri saya."
"Oh, gitu ya, Pak."
"Iya." Haji Gufron mengangguk. "Sudah dulu ya, Pak Beni. Saya mau ngurus calon penghuni baru. Kasihan udah nungguin."
Pak Beni mengiyakan, sedangkan Haji Gufron lanjut berjalan ke dalam area kontrakan. Pak Beni merasa tidak senang melihat kontrakan saingannya ramai kembali, terlebih ada sepasang suami istri yang menyewa dua kamar kontrakan. Ia ingin Haji Gufron jatuh miskin dan kontrakannya tak ada yang menghuni. Sekali lagi, pria berbadan gemuk itu menaruh jin dari dukun langganannya, kemudian pergi begitu saja.
Ternyata, niat jahat Pak Beni diketahui oleh Sukma yang baru saja pulang sekolah. Tak hanya itu saja, Sukma juga melihat makhluk aneh kirimannya yang masuk ke area kontrakan. Segera gadis kecil itu berlari menuju tempat tinggalnya.
"Dedek! Tungguin Ibu dong!" teriak Bu Inah mempercepat langkahnya dari belakang.
Sukma tak memedulikan ibunya. Ia bergegas masuk ke kontrakan, lalu mendapati empat orang calon penghuni baru sedang bersenda gurau bersama Haji Gufron. Makhluk berwujud nenek-nenek yang tadi dibawa oleh Pak Beni, tampak sedang memperhatikan salah satu perempuan dari dua pasang suami istri itu. Sesekali tangannya yang keriput dan berkuku tajam, mengelus perut perempuan itu. Sukma tercengang melihat isi dari perut wanita itu. Ada janin berusia empat bulan di dalamnya.
"Ada apa?" tanya Wanara sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Kamu lihat nenek-nenek itu nggak?" tanya Sukma menunjuk ke arah perempuan yang sedang mengobrol dengan suaminya.
"Iya, aku melihatnya. Ada apa memangnya?"
"Aku curiga, jangan-jangan nenek itu mau ngambil bayi di perutnya tante itu," cetus Sukma menyipitkan mata.
"Dia bukan hanya mengambil bayinya, tapi juga memakannya," jelas Wanara.
Tercengang Sukma mendengar ucapan monyet kesayangannya. Matanya membelalak, ketika menyaksikan nenek-nenek itu menjilati perut si wanita yang sedang hamil. Sukma menepuk Wanara, kemudian menunjuk lagi ke arah perempuan yang masuk ke kontrakan sewaannya.
"Astaga! Wanara, nenek-nenek itu ikutan masuk ke dalam! Ayo kita masuk juga!" seru Sukma panik.
"Jangan!" cegah Wanara memegangi tangan Sukma.
"Kenapa?"
"Tidak sopan kalau kamu tiba-tiba ikutan masuk ke dalam. Apa kata Pak Haji nanti kalau kamu langsung masuk ke sana?"
"Benar juga, ya."
"Sudah, biar aku saja yang menanganinya."
"Semoga sukses, Wanara."
__ADS_1
Wanara membalikkan badan dan segera masuk ke kontrakan yang akan dihini sepasang suami istri itu. Sukma yang harap-harap cemas, sedang menunggu peliharaannya kembali dengan membawa hasil. Tanpa disadarinya, Bu Inah sudah berdiri di belakang sambil melipat kedua tangan.
"Kok Dedek nggak langsung masuk ke rumah?" tanya Bu Inah mengejutkan putrinya.
Sukma terhenyak, kemudian menoleh, "Enggak, Bu. Dedek cuma pengin lihatin Pak Haji sama tetangga baru kita."
"Cuma itu?"
Sukma mengangguk. "Sama nenek-nenek yang dibawa Pak Beni, Bu. Dia dari tadi ngusapin perutnya tante itu. Lidahnya melet-melet kayak lagi kelaparan."
Mendengar penjelasan Sukma, hati Bu Inah menjadi waswas. Ingatannya kembali melambung pada sebuah mimpi mengerikan mengenai makhluk tak kasat mata yang mengaku sebagai ayah kandung Sukma. Bu Inah memandang si bungsu lagi, menduga bahwa ia akan menolong seseorang yang berurusan dengan makhluk gaib seperti biasanya.
"Sudah, mending kita bantuin Bapak bersihin lele. Nggak baik kita ikut campur urusan orang lain, apalagi nggak kenal sama mereka," ujar Bu Inah menuntun Sukma.
"Tapi aku mau nolong tante itu, Bu. Bukannya dulu Ibu pernah ngajarin, kalau ada orang yang kesusahan itu harus kita tolong?"
"Itu lain lagi ceritanya, mereka belum kenal sama kita," kata Bu Inah.
"Emangnya salah kalau kita nolongin orang yang belum kenal sama kita? Ibu pernah ngajarin, kan, buat menolong orang lain sekalipun kita nggak kenal. Ibu juga suka ngasih uang ke pengemis. Apa pengemis itu kenal sama Ibu? Enggak, kan?"
Bu Inah tak bisa membantah lagi perkataam Sukma. Ia hanya menuntunnya masuk ke kontrakan tanpa mengatakan apa pun lagi. Kekhawatirannya masih mengendap di dalam hatinya, sampai-sampai tak sanggup lagi menjelaskan segalanya pada si bungsu.
Sementara itu di kamar kontrakan lain, Wanara menjambak rambut wanita tua yang sedang menjilati perut perempuan hamil. Tanpa segan-segan, kera itu menyeretnya keluar kamar kontrakan dengan kasar, lalu mendorongnya hingga tersungkur.
"Sialan! Kenapa kamu tiba-tiba datang menjambakku?" tanya wanita tua itu.
"Kamu?!" Wanara tercengang.
"Iya, aku! Yang dulu tinggal di paviliun dengan bocah bernama Sukma itu."
"Sedang apa kamu di sini? Pergi sana!" hardik Wanara.
"Tunggu dulu! Kamu ini seenaknya saja mengusirku," kata si wanita tua yang berjalan merangkak.
"Kedatangan kamu itu cuma bawa sial ke sini. Apa kamu nggak kasihan sama manusia yang sedang mengandung itu?"
"Persetan! Aku tidak peduli sama sekali. Yang penting bagiku cuma makan! Kamu tahu, sejak aku menunggui Sukma dari bayi, aku tidak makan."
"Kalau begitu, cari saja makanan yang lain."
"Tidak. Makananku itu janin di dalam perut dan bayi yang baru lahir."
"Baiklah, baiklah. Tapi jangan perempuan ini. Sukma tidak mau kalau perempuan ini sampai kehilangan calon jabang bayinya gara-gara kamu."
"Lalu, harus aku cari ke mana lagi? Aku sudah diperintahkan untuk diam di tempat ini. Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak bisa pergi jauh-jauh kalau tidak ada hujan lebat dan angin kencang?"
"Siapa yang menyuruh kamu? Apa dukun langganan laki-laki gemuk itu? Lalu, bagaimana kamu bisa kenal dengan dukunnya?"
"Akhir-akhir ini sering hujan lebat disertai angin kencang, makanya aku bisa pergi jauh. Tidak sengaja, aku bertemu dengan seorang dukun. Dia kemudian menyuruhku untuk datang ke sini, diantar sama laki-laki gemuk itu."
Wanara mengangguk. "Begitu, ya," gumamnya. "Ah, sebaiknya kamu aku antar ke tempat lain saja, ya. Sukma tidak suka kalau kamu mengganggu tetangganya."
"Tidak! Apa yang akan aku dapatkan kalau pergi dari sini? Beri aku kesempatan, sekali ini saja. Aku ingin mengentaskan rasa laparku sekaligus mendekati putri iblis itu."
Wanara mendelik.
"Ayolah, Wanara! Kamu beruntung bisa berteman dengan Sukma. Tidak lama lagi kamu akan diangkat menjadi tangan kanan raja iblis. Sedangkan aku? Kesempatan untuk memiliki Sukma saja sudah lewat. Malah keduluan sama si Farida Farida itu."
__ADS_1
Tertegun Wanara mendengar keluhan si wanita tua. Sesekali ia melirik wanita tua itu, lalu mengangguk takzim. Wanara merasa kasihan menatap wajah memelasnya.