SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Permintaan Pak Jaka


__ADS_3

Pak Jaka tampak gusar tatkala mendapati saingannya kembali berdagang. Awalnya ia sangat senang, para pelanggan Pak Risman berpindah padanya setelah hampir seminggu. Namun, ternyata kesenangannya memudar setelah mengetahui Sukma telah kembali membantu berdagang.


Kekhawatiran Pak Jaka pun menjadi kenyataan. Angkringan Pak Risman kembali ramai didatangi pelanggan. Dengan geram, pria itu memukul-mukul roda dagangannya lalu menatap sinis ke arah tempat Pak Risman berdagang.


Sukma yang berpura-pura sibuk membantu kedua orang tuanya, hanya terkikik-kikik menyadari kekesalan saingan sang ayah di angkringan seberang. Hal itu membuat Atikah terheran-heran dengan sikap adiknya. Ditepuknya pundak Sukma, lalu mengangkat dagungya seolah sedang bertanya. Sang adik yang memahami rasa penasaran si kakak, langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Atikah sembari menutupnya.


"Teteh lihat orang di seberang sana? Dia kayak orang stres," bisik Sukma kemudian terkekeh-kekeh.


Atikah memandang jauh ke seberang jalan. Tampak Pak Jaka sedang mengacak-acak rambutnya, lalu duduk di kursi sambil mengomel. Gadis itu geleng-geleng kepala melihat orang yang iri pada usaha ayahnya.


"Dek, kalau Dedek udah tahu dia yang bikin Bapak sakit, kenapa nggak sekalian kasih bapak-bapak itu pelajaran?" tanya Atikah mengerutkan kening.


"Ah, Teteh kayak yang nggak tahu aja. Sebenernya dia tuh udah menderita lihat kesuksesan Bapak. Lagian orang yang minta bantuan dukun biar usahanya lancar tuh nggak ada apa-apanya sama pedagang kayak Bapak," jelas Sukma, menatap kakaknya sembari tersenyum.


"Tapi gimana kalau orang itu nggak kapok-kapok? Pasti bakal ngirim guna-guna lagi sama Bapak," ucap Atikah khawatir.


"Tenang aja, Teh. Nanti kalau Dedek udah tau dukun yang ngirim dedemitnya, bakal Dedek hadapin duluan dukunnya. Pasti orang di seberang jalan sana juga bakal kena batunya," cetus Sukma dengan percaya diri.


"Iya, deh. Teteh percaya sama kemampuan Dedek. Tapi ... kalau misalkan nanti Dedek kenapa-kenapa lagi gimana? Kita lagi yang repot. Bapak nggak bakalan bisa dagang, Ibu juga nangis terus kalau sampai hal buruk terjadi sama Dedek. Teteh ingat betul, sewaktu di Indramayu dulu, Dedek nggak sadar sampai berhari-hari, bahkan kami minta bantuan Kyai Soleh buat bikin kamu bangun."


Sukma termenung sejenak.


"Apalagi kita sekarang di sini, nggak ada yang kenal sama Kyai Soleh ataupun orang yang bisa bikin kamu bangun lagi loh," lanjut Atikah dengan mata membesar.


Melihat kedua putrinya justru sibuk bergosip, Bu Inah segera datang menegur mereka. Pelanggan yang datang semakin banyak, tak ada waktu untuk berlama-lama mengobrol. Sukma dan Atikah melanjutkan kegiatan mereka membantu membungkus makanan yang dipesan pelanggan.


Sementara angkringan Pak Risman semakin ramai, dagangan Pak Jaka justru sepi pembeli. Menurutnya, penglaris yang dimiliki saingannya benar-benar ampuh menarik pelanggan. Ia harus komplain pada Mbah Kasiman tentang hal ini. Tak puas hatinya jika usaha Pak Risman belum benar-benar tumbang.


Keesokan harinya, Pak Jaka mendatangi Mbah Kasiman lagi. Dari arah padepokan silat, tampak pria tua yang dikunjunginya datang menghampiri. Mbah Kasiman tahu betul maksud kedatangan Pak Jaka, terlebih saat melihat semburat kedengkian di wajah pelanggannya. Dengan tenang, ia mengarahkan Pak Jaka menuju sebuah gazebo kecil di samping rumahnya, lalu menyuruh asisten rumah tangga untuk menyiapkan dua gelas kopi hitam.


"Saya datang kemari bukan buat ngopi," gerutu Pak Jaka sembari duduk di lantai gazebo yang terbuat dari kayu jati.


"Santai dulu lah, Pak. Setidaknya, biarkan saya memuliakan tamu dulu," ujar Mbah Kasiman yang mengenakan setelan kaos polo dan celana katun hitam. Penampilannya seperti orang awam pada umumnya dan tak menunjukkan ciri khusus sebagai dukun.


Setelah kopi yang dipesan Mbah Kasiman datang dan asisten rumah tangganya pergi, pria tua itu mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Saya tahu maksud kedatangan Pak Jaka kemari. Saingan Bapak sudah berdagang lagi, kan?" kata Mbah Kasiman, kemudian menyeruput kopinya.


Kedua mata Pak Jaka terbelalak. "Kok Mbah bisa tahu?"


Mbah Kasiman tersenyum tipis sambil menaruh gelas berisi kopi. "Jadi, apa yang harus saya lakukan? Mematikan usahanya saja atau sekalian sama orangnya?"


"Apa aja lah, Mbah. Pokoknya saya nggak mau dia jualan lagi di sana," cerocos Pak Jaka.


"Sekarang sepertinya akan sulit. Bapak tahu, kan, kalau penglarisnya itu anak angkatnya. Tidak hanya itu saja, dari yang pernah Bapak ceritakan juga, anak itu bukan anak biasa. Jadi, untuk mematikan usahanya, bukan hanya dagangannya saja yang dibikin nggak laris, tapi orangnya juga harus mati," jelas Mbah Kasiman.


"Kalau begitu, bunuh aja sekalian saingan saya itu. Saya udah muak lihat dia kedatangan pelanggan terus," cetus Pak Jaka tak sabar.


"Tapi ada harga yang harus Bapak bayar, lebih mahal dari sebelumnya," lirih Mbah Kasiman menatap kedua mata pelanggannya dalam-dalam. Wajahnya begitu serius, sampai Pak Jaka terpaku dibuatnya.


"B-Berapa? S-Satu juta? D-Dua juta? Saya berani membayar lebih asalkan saingan saya musnah," tanya Pak Jaka dengan terbata-bata.


Mbah Kasiman menggeleng. "Separuh jiwa Bapak," katanya. "Jika nanti sampai gagal lagi, Bapak akan hilang akal dan kewarasan. Apa Bapak bersedia?"


Pak Jaka terlihat tegang dan menelan ludah. Dengan pelan, ia pun mengangguk setuju. Tak peduli hal buruk akan terjadi padanya, itu hanya urusan belakangan. Yang terpenting, sekarang ia ingin melihat kehancuran Pak Risman agar usaha pecel lelenya laris manis dan didatangi banyak pelanggan.


Sementara itu, Sukma yang sedang melamun memandang ayahnya membersihkan ikan lele, tiba-tiba mendapat firasat buruk. Bergegas ia masuk ke kamar, kemudian berbaring di samping Atikah yang sedang asyik berselancar di media sosial. Sembari menghela napas panjang, gadis itu memejamkan mata. Tampak sekelebat bayangan hitam melintas di pelupuk matanya dan wujud Pak Risman sedang dihabisi oleh makhluk tinggi besar berkuku panjang serta memiliki bulu lebat. Seketika, Sukma terhenyak dan bangkit dengan napas terengah-engah.


"Teh, bahaya, Teh!" tegur Sukma sembari melotot dan menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya.


"Bahaya? Bahaya apa?" Atikah mengernyitkan kening, tak mengerti.


"Bapak ... ada dedemit yang mau nyelakain Bapak!"


Atikah tercengang. "Apa?! Tuh kan bener kata Teteh juga. Kenapa coba Dedek nggak langsung kasih pelajaran ke orang yang dagang di seberang jalan kemarin? Pasti sekarang hidup Bapak adem ayem."


"Dedek harus ngelakuin sesuatu, Teh! Tapi Dedek nggak tahu orang yang ngirim dedemit itu tinggalnya di mana. Bahkan Dedek juga nggak tahu tempat tinggal orang yang dagang pecel lele di seberang jalan itu," keluh Sukma, mulai panik.


Atikah mendelik sebentar, lalu memegang ponselnya lagi. Sambil menatap layar ponsel, ia berkata, "Terus, sekarang Dedek mau gimana? Nyariin tempat tinggal orang yang jualan di seberang jalan?"


Sukma mengangguk cepat. "Iya, Teh. Kita harus cari tempat tinggal orang itu. Dedek mau ngasih pelajaran biar nggak berani lagi gangguin Bapak."

__ADS_1


Atikah tak menanggapi sama sekali. Gadis itu sedang tersenyum-senyum menatap layar ponselnya. Sukma merasa jengkel dengan sikap kakaknya. Diintipnya layar ponsel sang kakak, lalu merebut benda itu dari tangan Atikah.


"Dedek ini apa-apaan, sih?" geram Atikah berang.


"Sekarang bukan waktunya buat kasmaran sama A Albi, Teh. Nyawa Bapak dalam bahaya. Mending sekarang bantuin Dedek nyariin rumah tukang pecel lele pinggir jalan," ujar Sukma tergesa-gesa menarik tangan kakaknya.


"Tapi ini udah siang, Dek. Mana di luar panas juga. Nanti aja lah agak sorean, Teteh males keluar," tukas Atikah melepaskan genggaman adiknya dengan lesu.


Sukma memelototi kakaknya sambil mengepalkan kedua tangannya. "Teteh ..."


Melihat kemarahan di wajah adiknya, Atikah pun turun dari kasur dengan lesu. Ia benar-benar malas berdebat dengan adiknya, terlebih jika amarah Sukma sudah tampak. Bisa-bisa Atikah tak tidur semalaman gara-gara bermimpi buruk.


Akhirnya, mereka bergegas pergi menuju rumah pemilik angkringan seberang jalan. Dengan tergesa-gesa, mereka berpamitan pada Bu Inah. Saking buru-burunya, Sukma dan Atikah tak menjawab pertanyaan sang ibu, ke mana tujuan mereka sebenarnya.


Di bawah terik sinar mentari, keduanya berjalan dengan cepat. Atikah tak berhenti menegur Sukma untuk pulang saja, udara di luar terasa menyengat kulitnya. Sukma tampak tak peduli, hingga keduanya menyeberang jalan. Gadis itu berinisiatif untuk mencari permukiman warga yang lebih dekat dahulu. Ia yakin, bahwa tukang pecel lele saingan sang ayah tinggal tak jauh dari lapak dagangannya.


Kedua gadis remaja itu memasuki salah satu gapura di pinggir jalan. Tampak rumah-rumah saling berimpitan tanpa celah. Sembari menyusuri jalan yang sedikit lebar, Sukma mencari gerobak penjual pecel lele. Rupanya, mereka tak perlu berjalan terlalu jauh dari jalan raya untuk menemukan tempat tinggal si penjual pecel lele.


Di halaman rumahnya, terlihat seorang wanita seumuran Bu Inah sedang mengejar anak kecil berusia dua tahunan. Penampilannya begitu berantakan. Di tangannya tampak mangkuk dan sendok kecil, mungkin sedang kerepotan menyuapi cucunya yang sangat aktif. Dari dalam rumah, seorang wanita muda berusia sekitar tiga puluh tahunan, keluar mengenakan seragam pabrik. Wanita itu tampak berpamitan pada sang ibu dan menitipkan putranya yang masih saja berlarian.


Melihat pemandangan keluarga Pak Jaka, hati Sukma terenyuh. Ia mengurungkan niatnya setelah melihat wanita seusia ibunya tampak kerepotan oleh tingkah sang cucu. Namun, Atikah dengan cepat mencegahnya beranjak pulang.


"Kita udah panas-panasan sampai sini. Masa Dedek mau pulang gitu aja?" tegur Atikah memelototi Sukma.


"Dedek kasihan sama ibu-ibu itu. Dedek nggak mau ganggu ah," ucap Sukma sungkan.


"Katanya kamu mau ngasih pelajaran sama yang ngirim guna-guna ke Bapak. Gimana, sih?" bisik Atikah kesal.


Sukma mengembuskan napas berat, kemudian mengangguk. Dilangkahkannya kaki Sukma ke pekarangan rumah Pak Jaka sembari mengucap salam. Bocah kecil yang sejak tadi berlarian, seketika terkejut dan menghampiri neneknya. Ia melihat sosok mengerikan dari Sukma, sehingga ketakutan dan mulai rewel.


"Bu, saya mau tanya. Ini rumahnya bapak yang jualan pecel lele di depan, ya?" tanya Atikah dengan ramah.


"Iya." Wanita paruh baya itu mengangguk. "Kalian mau nyari Bapak?"


Atikah dan Sukma mengangguk.

__ADS_1


"Aduh, bapaknya lagi ada keperluan di luar. Nggak tahu pulangnya kapan," kata istri dari Pak Jaka, sembari mencoba menenangkan cucunya.


Mengerti akan kesibukan wanita itu, Sukma dan Atikah mohon undur diri. Rencana Sukma tak berjalan baik, terlebih saat melihat istri Pak Jaka yang kewalahan menghadapi cucunya. Api amarah di dada seketika buyar tatkala rasa empati menyelimuti hati nuraninya.


__ADS_2