
Suasana tegang terjadi di kelas 7G. Kakak-kakak pembina mengumumkan tentang Giska yang pingsan dan mencari dua orang yang dimaksud oleh Sukma. Dengan gugup, Rena dan Dini berjalan ke depan kelas ketika dipanggil. Keduanya tertunduk lesu, menyadari akan diinterogasi oleh para seniornya.
"Sebenarnya kalian udah pada ngapain sampai ninggalin Giska pingsan segala? Kalian mau coba-coba uji nyali di sekolah?" tanya senior perempuan dengan bersungut-sungut.
Rena dan Dini masih tertunduk. Ketakutannya bertambah dua kali lipat saat ditanyai oleh kakak pembina. Belum tuntas traumanya akan kejadian beberapa saat lalu, kini harus diinterogasi oleh seniornya yang terkenal galak.
Senior perempuan itu menggebrak meja, sampai-sampai Rena dan Dini tersentak dibuatnya. "Jawab! Saya ke sini buat minta pertanggungjawaban kalian. Apa kalian nggak kasihan sama Giska? Dia itu teman kalian, loh!"
Rena mulai menggetarkan bibirnya dan berkata, "S-sebenarnya kami ... k-kami habis ... habis m-main J-Jailangkung d-di salah satu kelas, K-Kak."
Seketika semua siswa di kelas itu tercengang mendengar jawaban Rena. Mereka tak menyangka, ketiga siswi itu berani melakukan permainan mengerikan di sekolah yang lumayan angker. Senior perempuan yang menginterogasinya pun menghela napas sembari menggeleng lemah. Ia merasa geram dan menggebrak meja lagi.
"Kalian ini ada-ada aja. Sekarang kalian berdua ikut Kakak. Biar kalian tahu kondisi teman kamu kayak gimana. Setelah itu, Kakak bakal kasih kalian hukuman," ujar senior perempuan.
Mereka bertiga pun bergegas menuju UKS bersama dua kakak pembina lainnya. Rena dan Dini benar-benar gugup sekaligus khawatir dengan keadaan Giska. Keduanya berharap, gadis berambut pendek itu segera sadarkan diri.
Sementara itu, Sukma dan beberapa kakak pembina yang berusaha membangunkan Giska, mulai kebingungan. Gadis itu masih saja tak sadarkan diri. Salah satu dari mereka menyarankan untuk menghubungi keluarga Giska, tapi yang lainnya tak setuju untuk itu.
Menyadari jiwa Giska tak berada di dekat tubuhnya, Sukma segera berbaring di ranjang sebelahnya. Kakak-kakak pembina merasa heran dengan perilaku aneh gadis berkulit putih pucat itu. Salah satunya merasa tidak tahan menegur Sukma.
"Dek, kalau mau tidur jangan di sini! Kembali aja ke kelas kamu!" tegur salah satu kakak pembina.
"Iya, aku tahu. Aku berbaring bukan mau tidur, tapi meraga sukma," ucap Sukma sedikit kesal.
"Kalau mau meraga sukma di kelas aja, jangan di sini!" bentak kakak pembina laki-laki itu.
"Udahlah, jangan dimarahin! Siapa tahu adek ini bisa membantu lewat proyek astral," ujar senior perempuan menarik tubuh teman laki-lakinya, lalu melirik pada Sukma. "Lanjutin aja, Dek."
"Daripada ngandelin anak kecil, mendingan panggil ustaz aja sekalian," cetus senior laki-laki itu mendengkus sebal.
"Iya, iya. Si Aceng lagi nyariin ustaz deket sini kok. Tenang aja," bujuk senior perempuan.
Sukma kembali berbaring. Pikirannya mulai berkonsentrasi, mengolah kembali ajaran Wanara yang dipelajarinya dua tahun lalu. Ia mulai menghela napas, kemudian mengumpulkan seluruh kekuatan hingga jiwanya terlontar keluar dari tubuhnya. Segera gadis itu berlari menyusuri lorong-lorong sekolah sembari memanggil Giska.
Di tempat lain, Giska baru saja terbangun. Ketika kesadarannya terkumpul penuh, ia terkejut bukan main, mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang gelap gulita. Dengan panik, ia berdiri dan berlari ke sekitarnya sembari tangannya meraba-raba ke depan. Sambil menangis, gadis berambut panjang itu terus berjalan kebingungan tak tahu arah.
__ADS_1
"Rena! Dini! Kalian di mana? Aku takut!" teriak Giska sesenggukan.
Giska terus menangis selama mencari jalan keluar. Ia benar-benar tidak tahu sedang berada di mana. Seingatnya, ruang kelas yang dipakai untuk memainkan Jailangkung beberapa saat lalu, tidaklah segelap ini. Giska masih bisa melihat meja dan kursi berjajar di hadapannya, meskipun penerangannya minim.
Tak henti-hetinya Giska meminta tolong, memanggil-manggil nama temannya. Namun, hanya hening di sekitarnya. Mulai putus asa, gadis berambut pendek itu duduk kembali sambil menangis tersedu-sedu. Sesekali ia merasa kedinginan, hatinya waswas.
Sementara itu di sudut lain sekolah, Wanara sedang bertarung dengan perempuan berbaju merah. Menggunakan segenap kesaktiannya, kera itu menyerang secara terus menerus. Perempuan berbaju merah tentu saja berusaha menghindari cakaran Wanara. Kemampuannya menghilang secara tiba-tiba, membuat Wanara kesal.
"Oi! Jangan jadi pengecut kamu! Bukankah kamu bilang, kalau kamu ini makhluk terkuat di sini, ha?" bentak Wanara dengan lantang.
"Aku tidak ada urusan denganmu, Monyet! Aku akan kembali ke tubuhku," suara perempuan itu menggema di sekitar koridor sekolah disertai tawanya yang melengking.
"Sialan!" umpat Wanara.
Segera kera itu berlari ke arah Sukma membawa Giska pergi. Firasatnya mengatakan, bahwa musuhnya akan masuk lagi ke tubuh temannya Sukma. Dengan cekatan, ia melompat sembari mencari area yang terlihat ramai. Menurutnya, manusia akan berkumpul di suatu tempat jika terjadi sebuah insiden.
Setelah cukup jauh berjalan, kera itu akhirnya menemukan UKS, tempat Giska terbaring. Terlihat sekumpulan orang sedang panik membangunkan gadis berambut pendek itu. Namun, tak hanya itu saja yang ada dalam pandangan Wanara. Perempuan berambut gimbal itu merasuk ke dalam tubuh Giska, lalu memancarkan cahaya merah di dahinya. Seingatnya, itu merupakan penanda bangsa jin untuk bisa memasuki sebuah raga manusia berkali-kali dengan mudah.
Dari arah lain, tampak seorang siswa berjalan bersama pria berkopiah menuju UKS. Wanara tahu betul, bahwa ulama itu akan membantu orang-orang di sekitarnya untuk membangunkan Giska. Perempuan berbaju merah yang sedang menyatu dengan tubuh gadis incarannya, hanya menyunggingkan senyum di sudut kiri bibirnya. Wanara semakin kesal, lalu menyerobot masuk bersama ulama itu.
Perlahan-lahan, Wanara berusaha bersikap tenang dan berpikir jernih. Cukup lama ia berpikir, hingga akhirnya mendapatkan jawaban yang tepat. Bergegas Wanara pergi dari ruang UKS, mencari temannya yang sedang melakukan proyek astral.
Sementara itu, perempuan berbaju merah mulai melakukan tipu daya. Saat ustaz meminumkan air ke dalam mulut Giska, perempuan itu langsung terbangun dan memuntahkan air sambil terbatuk-batuk. Orang-orang di sana mengira bahwa Giska sudah siuman. Perempuan berbaju merah tampak senang dan berpura-pura lugu seperti sifat dari pemilik raga yang sebenarnya. Rena dan Dini sangat bersyukur melihat temannya sudah sadar. Selanjutnya, kedua gadis itu dibawa kakak pembina untuk diberikan hukuman.
Hari menjelang pagi, Sukma belum kembali ke dalam raganya. Wanara yang mencarinya sejak tadi, tiba-tiba langkahnya terhenti saat berdiri di belakang sekolah. Tampak Sukma sedang berjalan menuju sumur tua yang ditumbuhi tanaman merambat. Secepatnya Wanara berlari, laku memegang tangan Sukma.
"Sukma, sebaiknya kamu cepat kembali ke tubuhmu!" ujar Wanara panik.
"Tapi Giska ... aku belum nemuin Giska," kata Sukma.
"Nanti kita cari lagi Giska bersama-sama. Sekarang sedang terjadi hal buruk dalam raganya," jelas Wanara.
"Apa?! Apa maksud kamu, perempuan rambut gimbal itu merasuk lagi ke badan Giska?"
"Iya. Kali ini lebih parah. Dia sudah menyatu dengan raganya."
__ADS_1
"Astaga! Kita harus cepat kembali ke UKS," cetus Sukma.
Secepatnya Sukma dan Wanara berlari ke ruang UKS. Mereka tidak tahu, bahwa jiwa Giska masih terjebak di dalam sumur, sedang menangis tersedu-sedu. Ia berharap ada seseorang yang menolongnya. Tak lupa, gadis berambut pendek itu terus berdoa pada Tuhan agar diberikan jalan keluar.
Setibanya di ruang UKS, Sukma langsung masuk ke dalam tubuhnya. Matanya perlahan-lahan terbuka, lalu mendapati senior berhijab tersenyum ke arahnya. Sukma segera bangun dan turun dari ranjang.
"Dek, kamu mau ke mana? Duduk dulu sebentar, kamu baru bangun!" ujar senior perempuan itu.
"Giska mana, Teh?," tanya Sukma panik.
"Tenang aja, Dek. Dia lagi beres-beres perlengkapan sama yang lain," jawab si senior perempuan.
Sukma tak mau menunggu lagi sampai waktu pulang tiba. Ia bergegas keluar UKS, lalu berlari menuju kelas 7G. Akan tetapi, rupanya tenaga gadis itu tidak cukup kuat sebelum perutnya diisi makanan. Tak seperti saat melepaskan sukma dari tubuhnya, ia terasa berat sekali untuk berlari.
Terpaksa, Sukma berbalik badan menuju kelasnya yang tidak terlalu jauh dari UKS. Membereskan barang-barangnya terlebih dahulu, agar saat pulang nanti tidak perlu repot-repot kembali lagi ke kelas. Hatinya masih saja tidak tenang memikirkan raga Giska yang sudah diambil alih oleh perempuan gimbal berbaju merah.
Ketika acara penutupan, semua siswa dikumpulkan kembali di lapangan. Sukma mencari-cari Giska di antara banyaknya murid yang berkumpul di sana. Namun, lagi-lagi ia tak menemukan gadis berambut pendek itu sama sekali. Ia hanya melihat kedua teman Giska sedang dihukum dan diberi nasihat di depan khalayak ramai. Pembina Pramuka sangat tidak menyukai perbuatan mereka yang mengundang kepanikan.
Setelah acara selesai, semua siswa membubarkan diri. Sukma masih saja mencari ke mana perginya raga Giska saat ini. Ketika menoleh ke belakang, gadis itu melihat Rena dan Dini sedang berjalan dengan lesu.
"Hei, kalian! Apa kalian lihat Giska? Di mana dia?" tanya Sukma cemas.
"Ngapain kamu nyariin Giska segala? Dia, kan, udah pulang duluan pas bubaran acara," jawab Rena ketus.
"Ya ampun!" Sukma menepuk dahi.
"Aku kasih tahu kamu, ya. Kalau ada apa-apa, nggak usah ngadu sama senior. Ujung-ujungnya kita yang dihukum," ketus Dini sembari mendelik.
"Lah, bukannya waktu itu aku udah peringatin kalian buat nggak main Jailangkung? Salah kalian sendiri, Giska yang jadi korban. Asal kalian tahu, yang ada di badan Giska itu bukan Giska, tapi setan," cerocos Sukma kesal.
"Iya, deh, terserah kamu. Kami nggak peduli," kata Rena sembari melenggang bersama Dini meninggalkan Sukma.
Sukma menghela napas sejenak, berusaha bersabar menghadapi dua gadis keras kepala itu. Ia secepatnya berlari ke luar area sekolah. Tampak Wanara sedang menunggu di gerbang dan ingin menunjukkan sesuatu.
Melihat isyarat kera kesayangannya, Sukma segera menghampiri Wanara. Kera itu menunjuk ke jalan raya, memberitahu Sukma bahwa Giska sudah dijemput oleh kakaknya. Sukma mendengkus sebal. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri, karena tak sempat menyelamatkan jiwa dan raga teman masa kecilnya.
__ADS_1