SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Keguguran


__ADS_3

Kegelapan datang menyelimuti langit. Hari yang cerah telah berlalu, digantikan oleh malam senyap membawa semilir angin yang menusuk. Semburat merah di cakrawala, telah padam. Jam dinding terus berdetak, hingga tak terasa sudah menunjukkan pukul sembilan tepat.


Atikah dan Sukma sudah terlelap dalam tidurnya. Bu Inah berbaring di samping Sukma, sembari menepuk-nepuk pahanya. Matanya memandang kosong, ingatan tentang mimpi buruk beberapa bulan lalu masih saja mengganggu. Pikirannya menerka-nerka tentang sosok wanita berpakaian lusuh dan sepasang matanya yang sayu. Malang sekali ibu kandungnya Sukma, begitulah Bu Inah bergumam.


Dilihatnya si bungsu yang sudah tidur lelap di sampingnya. Sekilas, wajah Sukma tampak mirip dengan wanita paruh baya yang ada di dalam mimpinya. Matanya lebar, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Namun, sekali lagi Bu Inah berpikir, bagaimana caranya untuk menemukan ibu kandungnya Sukma? Di mana wanita paruh baya di dalam mimpi itu berada?


Di tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar suara jerit kesakitan seorang wanita dari seberang kontrakannya. Bu Inah yang penasaran, bergegas keluar dan mendapati tempat suara itu berasal. Cepat-cepat Bu Inah menghampiri kontrakan di seberangnya, lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian, perempuan hamil bernama Citra membukakan pintu sambil meringis memegangi perutnya.


"Ada apa, Neng? Kenapa sampai menjerit-jerit begitu?" tanya Bu Inah panik.


"Tolong saya, Bu. Tiba-tiba perut saya sakit, bahkan sampai pendarahan hebat. Suami saya sedang kerja shift malam. Saya nggak tahu harus minta bantuan sama siapa," keluh Citra dengan terengah-engah.


Dari gerbang, tampak Teh Lina muncul dengan membawa sepeda motornya. Ternyata ia baru pulang kerja. Ketika melihat Bu Inah dan Citra berada di teras, cepat-cepat Teh Lina memarkir motornya, lalu menghampiri mereka.


"Ada apa ini, Bu?" tanya Teh Lina pada Bu Inah.


"Ini, kasihan dia pendarahan," jawab Bu Inah.


"Aduh. Kalau begitu saya antar ke rumah sakit, ya," tawar Teh Lina berempati.


"Aduh, maaf jadi ngerepotin. Teteh kayaknya baru pulang kerja," kata Citra dengan wajah memelas.


"Nggak usah sungkan, Neng. Mari saya antar!"


Citra mengangguk, lalu menutup pintu kontrakannya. Setelah itu, dengan dipapah Bu Inah, Citra berjalan menuju motor yang sudah dinaiki Teh Lina. Dengan diboncengi tetangganya, Citra pergi menuju rumah sakit dengan pendarahan hebat yang masih keluar dari jalan lahir si jabang bayi.


Sementara itu, Sukma yang mendengar suara kepanikan dari luar pun terbangun. Sembari mengucek mata, gadis kecil itu bangkit dan melangkah ke ambang pintu. Terlihat ibunya sedang berdiri cemas, memandangi si perempuan hamil dan Teh Lina pergi. Merasa penasaran, Sukma menghampiri sang ibu dengan mengerutkan dahi.


"Bu, ada apa ini? Apa yang terjadi sama Tante itu?" tanya Sukma.


"Dedek ngapain keluar? Ayo masuk! Sudah malam," ujar Bu Inah menuntun Sukma.


"Tapi, sebenarnya ada apa ini? Dedek pengin tahu," desak Sukma.


"Tante Citra keguguran," jawab Bu Inah singkat.


"Keguguran? Keguguran itu apa, Bu?"


"Sudahlah, nanti juga Dedek tahu kalau sudah besar," kata Bu Inah sembari melepas sandalnya.


Belum habis rasa penasaran Sukma. Gadis kecil itu menoleh ke belakang, berusaha mencari tahu. Ketika pintu hendak ditutup sang ibu, sekilas terlihat seorang wanita tua merangkak keluar dari kontrakan Citra, dengan tangan dan mulut berlumuran darah.


Bu Inah segera menuju pembaringan, sementara Sukma masih terpaku di depan pintu. Gadis kecil itu mendekati jendela, lalu membuka tirai penutupnya secara perlahan. Diam-diam ia mengintip ke luar. Tampak wanita tua sedang memakan janin di tangannya dengan lahap. Setelah selesai menuntaskan kelaparannya, ia menoleh ke arah kontrakan yang ditempati Sukma. Wanita tua itu menyeringai pada gadis kecil yang mengintip dari balik jendela.


"Dedek, ngapain berdiri di sana? Ayo bobo!" ujar Bu Inah.


Sukma terhenyak, kemudian menutup tirai. Segera ia berbaring di samping ibunya, sambil termenung menatap langit-langit. Bu Inah mengusap-usap kepala si bungsu, berharap putri kecilnya cepat tidur.


"Ibu, gimana nenek-nenek yang di rumah Om Hilman itu bisa sampai ke sini, ya? Dedek kira nenek-nenek yang digendong Pak Beni tadi pagi itu siapa, ternyata yang pernah nakut-nakutin Dedek di dalam mimpi pas males belajar ngaji."


"Wah, benarkah? Mungkin Pak Beni ngejemput nenek-nenek itu dari rumahnya Om Hilman. Sudahlah, nggak usah dipikirin. Mendingan Dedek cepetan bobo. Besok, kan, mau sekolah," ujar Bu Inah.


"Tapi Dedek nggak bisa bobo, Bu," kata Sukma menatap Bu Inah.


"Loh, kenapa?"


"Dedek kasihan sama tante yang lagi hamil itu. Dia harus kehilangan bayinya gara-gara nenek-nenek jelek itu."


"Jangan berpikir buruk dulu, Dek. Mungkin nanti di rumah sakit, dokter bakal nolongin dia."


"Tapi udah nggak bisa ditolong lagi, Bu. Bayinya udah dimakan sama nenek-nenek itu."


"Hus! Dedek ini ngomongnya ke mana aja. Sebaiknya, sekarang Dedek tidur, ya. Ibu udah ngantuk," ucap Bu Inah sambil menguap.


"Yaaah ... Ibu. Ya udah, Ibu aja yang bobo, Dedek mau nungguin Bapak pulang."


"Dedek ini keras kepala banget, sih. Kalau besok Dedek bangunnya kesiangan, nggak bakal Ibu bangunin."


"Biarin. Kan masih ada Teh Atikah sama Bapak."

__ADS_1


Bu Inah tak meladeni lagi ucapan si bungsu, kemudian berpura-pura tidur. Sesekali, ia membuka sedikit matanya, menatap Sukma yang masih termenung menatap langit-langit. Tak peduli dengan sesuatu yang dipikirkan Sukma, Bu Inah lanjut memejamkan mata.


Sementara itu, Sukma masih memikirkan tentang si wanita tua yang mengganggu Citra. Masih hangat dalam ingatannya, bahwa Wanara akan menangani wanita tua itu. Akan tetapi, melihat kejadian yang sebenarnya beberapa saat lalu, membuat Sukma sangsi, bahwa Wanara sudah melakukan permintaannya dengan baik.


Maka bergegaslah gadis itu ke dapur, menemui kera kesayangannya. Tampak Wanara sedang tepekur sembari menggelantung di langit-langit. Sukma tidak segan-segan menjewer Wanara, hingga membuat kera itu kaget dan terjatuh.


"Aaaw! Apa-apaan kamu, Sukma? Sakit tahu!" hardik Wanara kesal.


"Wanara, kamu bohong, ya?"


"Bohong? Bohong apa?"


"Itu. Katanya kamu mau ngusir nenek-nenek dari rumah tante itu. Tapi, kok, dia masih ada di sana? Tante itu keguguran, tahu!" cerocos Sukma memelototi Wanara.


Kera itu menggaruk-garuk belakang telinganya sambil menyengir. Pandangannya berpencar ke segala arah, seperti sedang berusaha menghindari omelan dari Sukma.


"Jawab aku, Wanara!" bentak Sukma mendesak.


"I-iya ... iya, akan aku jawab."


"Kamu bohong, ya? Kan udah aku bilang, usir nenek-nenek itu dari sini."


"Aku tidak bisa melawannya, Sukma."


"Kok, gitu? Gigitin Tante Farah aja bisa, masa nyuruh nenek-nenek pergi aja nggak bisa?"


"Itu lain lagi ceritanya."


"Oh, jangan-jangan kamu kerja sama dengan nenek-nenek itu. Iya, kan? Ayo ngaku!"


"Kenapa kamu bicara begitu? Aku hanya--"


"Udahlah, nggak usah ngomong lagi. Aku kira kamu udah berubah, tapi nyatanya masih membela kejahatan. Aku benci kamu, Wanara! Mulai besok, kamu nggak akan aku kasih pisang lagi," cerocos Sukma, lalu membuang mukanya yang memberengut sembari melipat kedua tangannya.


"Tapi, Sukma. Dengarkan aku dulu!" ujar Wanara berusaha menjelaskan.


Sukma sangat kecewa pada Wanara. Ia melenggang menuju ruangan utama tanpa menoleh pada kera peliharaannya sedikit pun. Wajahnya masih memberengut, kedua alisnya saling bertaut. Dengan kesal, gadis kecil itu berbaring di samping ibunya dengan memendam segenggam amarah di dadanya.


Pukul setengah sepuluh, Haji Gufron bersama Fadil datang ke kontrakan untuk melihat situasi. Keduanya disambut oleh Pak Risman yang kebetulan sedang menyapu lantai. Dengan tersenyum ramah, Haji Gufron menyapa Pak Risman


Tak sengaja, Fadil melihat ke salah satu kontrakan yang baru saja dihuni. Suasananya yang sepi membuatnya terheran-heran. Segera ia menepuk ayahnya untuk memberi tahu kontrakan yang dihuni sepasang suami istri itu.


"Pak, kontrakan sebelah situ kok kosong, ya?" kata Fadil pada Haji Gufron.


"Oh, itu. Kemarin malam istrinya dibawa ke rumah sakit. Kata Teh Lina mah keguguran," jawab Pak Risman menyela.


"Innalillahi," ucap Haji Gufron dan Fadil bersamaan.


"Terus, sekarang keadaannya gimana?" tanya Haji Gufron cemas.


"Kata Teh Lina mah baik-baik aja. Katanya, sore ini mau dikuret," jelas Pak Risman.


"Begitu, ya. Syukurlah kalau ibunya selamat mah," ucap Fadil mengembuskan napas lega.


Di tengah percakapan mereka, seperti biasa, Pak Beni mengawasi dari depan gerbang dengan berjalan kaki. Fadil yang menyadari ada seseorang di depan gerbang, segera menoleh. Pak Beni pun segera memalingkan muka, malu karena kedatangannya sudah ketahuan oleh putra semata wayang Haji Gufron.


"Eh, Pak Beni! Lagi ngapain di situ? Ayo sini!" ujar Fadil seraya melambaikan tangan.


Pak Beni tampak syok memandang ke arah Fadil. Tingkahnya jadi gelagapan, tangannya menggaruk-garuk belakang kepalanya.


"Pak Beni, ngapain di situ terus? Ayo, sini!" ajak Haji Gufron.


Dengan sungkan, Pak Beni memasuki area kontrakan Haji Gufron. Sesekali matanya mengedarkan pandangan ke segala arah, hingga akhirnya tertuju pada Haji Gufron seorang. Ia bukannya tanpa alasan memenuhi kemauan Haji Gufron dan putranya masuk ke area kontrakan, melainkan ingin sembari menaruh makhluk halus di sana.


Fadil yang sejak tadi memperhatikan tangan Pak Beni, langsung menepuk pundak pria gemuk itu. Sontak, Pak Beni pun terperanjat tatkala ditepuk oleh Fadil.


"Pak Beni, bawa apaan tuh di belakang punggungnya? Lagi ngegendong tuyul, ya?" tanya Fadil terkekeh-kekeh.


"Sembarangan!" elak Pak Beni, sembari melepaskan makhluk gaib yang ada di gendongannya. "Saya nggak ngegendong apa-apa, kok."

__ADS_1


"Hehe ... tenang aja. Aku cuma bercanda, kok," ucap Fadil.


"Oya, ngomong-ngomong, kalian ke sini lagi ngapain? Mantau kontrakan?" tanya Pak Beni sedikit gelagapan.


"Saya ke sini mau ngelongok penghuni kontrakan aja. Tadi juga kami mendengar kabar duka, kalau perempuan hamil yang merupakan penghuni baru di sini, baru saja keguguran," jelas Haji Gufron.


"Oh, gitu, ya. Kasihan sekali dia," ucap Pak Beni, sambil sesekali memalingkan muka dan tersenyum kecil.


"Ngapain Bapak senyum-senyum gitu? Ada yang lucu?" tanya Fadil mengerutkan dahi.


"Ah, enggak, enggak. Saya justru ikut berbela sungkawa atas apa yang dialami penghuni baru kontrakan kalian," kata Pak Beni dengan santai.


"Oya, Pak Beni. Sebenernya Bapak mau ke mana? Tumben jam segini jalan-jalan," tanya Fadil.


"Saya mau beli gorengan ke depan," jawab Pak Beni. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Kayaknya istri saya lagi nungguin gorengannya."


"Silakan," kata Haji Gufron.


Cepat-cepat Pak Beni meninggalkan area kontrakan Haji Gufron. Gelagatnya terbaca jelas oleh Fadil, bahwa pria gemuk itu sudah melakukan sesuatu yang akan membuat kontrakan mereka tidak laku lagi. Selepas Pak Beni pergi, Fadil mencolek tangan ayahnya hingga menoleh.


"Apa?" tanya Haji Gufron.


"Kayaknya dugaan kita benar, deh, Pak," bisik Fadil.


"Iya, tidak salah lagi," kata Haji Gufron.


"Kalian bisik-bisik apa?" tanya Pak Risman.


"Sebaiknya kita ngobrol di dalam, Pak. Nggak enak kalau ngomonginnya di luar," saran Fadil.


"Oh, ya. Tentu. Silakan masuk," ujar Pak Risman.


Ketiganya masuk ke rumah kontrakan Pak Risman. Haji Gufron duduk sambil mengangguk takzim, sedangkan Fadil bersila di sebelah ayahnya seraya bersedekap. Pak Risman menawarkan air minum pada keduanya, tapi mereka menolak. Akhirnya, Pak Risman pun ikut duduk di hadapan keduanya.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Pak Risman masih penasaran.


"Pak Risman masih ingat bungkusan kecil yang dibawa sama Sukma dari gerbang, kan?" bisik Fadil.


Pak Risman mengangguk. "Iya, memangnya kenapa dengan bungkusan itu?"


"Itu benda sihir yang dipakai seseorang biar kontrakan ini nggak laku," jawab Haji Gufron.


"Astaghfirullah! Yang bener, Pak Haji?" tanya Pak Risman dengan mata membelalak.


"Saya nggak bohong. Buktinya setelah bungkusan itu dilenyapkan, kontrakan ini laku lagi," kata Haji Gufron memandang dengan serius.


"Begitu, ya. Kira-kira, siapa yang sudah menanam benda itu di dekat gerbang, Pak Haji?" tanya Pak Risman lagi.


"Sejak kemarin, kami menaruh curiga pada Pak Beni. Saya lihat, dia sedang menengok ke kontrakan ini. Pas saya tanya, tingkahnya jadi gelagapan," jawab Haji Gufron.


"Sama kayak tadi. Bahkan, aku tadi sekilas lihat dia senyum-senyum begitu pas ngobrolin soal perempuan yang lagi hamil itu keguguran," timpal Fadil. "Aku curiga, jangan-jangan si teteh itu keguguran gara-gara jin kiriman Pak Beni."


"Iya gitu? Ah, kalian jangan suuzon dulu kalau belum ada bukti," kata Pak Risman.


"Kami bukan suuzon, Pak Risman, hanya menaruh curiga. Kami nggak mau kalau kontrakan ini sepi penghuni lagi gara-gara gangguan makhluk halus," sanggah Haji Gufron.


"Masalahnya, kami masih meraba-raba untuk mengetahui pelaku yang sebenarnya. Yang namanya ilmu sihir itu nggak kelihatan, susah juga cara membuktikannya," kata Fadil.


"Lalu, kalian mau berbuat apa selanjutnya?" tanya Pak Risman.


"Entahlah, saya juga masih berpikir. Kalau saya menggunakan jasa paranormal, saya takut ilmu mereka malah hilang gara2 dukun yang ngirim jin ke tempat ini terlalu kuat," terang Haji Gufron.


"Kalau begitu, serahkan saja semuanya sama Allah. Saya yakin, Allah pasti menolong kalian."


Haji Gufron dan Fadil saling tatap. Mereka tak mau membantah perkataan Pak Risman, mengingat pria paruh baya itu tidak terlalu peduli soal sesuatu yang berkaitan dengan hal mistis. Keduanya mengiyakan saja, kemudian berpamitan pada Pak Risman.


Sementara itu di jalan menuju kontrakan, Sukma memberanikan diri untuk menghampiri Pak Beni yang sedang melihat-lihat area kontrakan Haji Gufron. Ketika berada di dekatnya, Sukma memegang tangan Pak Beni hingga membuat pria berbadan gemuk itu terkesiap. Bu Inah yang merasa malu pada perbuatan putrinya, mempercepat langkahnya untuk menggapai Sukma.


"Pak, lagi ngapain di sini? Tumben nggak bawa dedemit lagi," kata Sukma dengan polosnya.

__ADS_1


Kebetulan sekali, Haji Gufron dan Fadil yang baru saja hendak mencapai gerbang, mendengar ucapan Sukma. Mereka masih percaya, bahwa putri bungsu Pak Risman dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dan, dari perkataan gadis kecil itu, keduanya pun semakin yakin bahwa Pak Beni-lah biang kerok dari maraknya gangguan makhluk halus di kontrakan.


__ADS_2