
Habis sudah kesabaran Bu Lastri yang dipendamnya sejak kemarin. Kabar tentang kematian Ki Purnomo membuat hatinya remuk redam, bahkan gelap mata. Menurutnya, kematian dukun langganan merupakan akhir dari pencapaiannya untuk menjadi orang kaya. Ia benar-benar tak terima.
Dengan tergesa-gesa, ia mendatangi kontrakan Haji Gufron untuk menemui Sukma. Wajahnya yang merah padam seakan-akan mengubahnya menjadi makhluk jadi-jadian, ditambah dandanan menornya. Panasnya terik matahari kian membakar amarah dalam diri wanita itu, lalu menjalar hingga ubun-ubun. Sebentar lagi kemarahannya akan meledak bagaikan bom waktu.
BOOOMMM ... DUAAARRR ... JEGEEERRR!!!
Setibanya di area kontrakan Haji Gufron, Bu Lastri tak mau berlama-lama meredam kejengkelannya. Dengan grasah-grusuh, ia menghampiri Sukma yang sedang bermain boneka di teras kontrakan bersama Atikah. Wanita dengan dandanan tebal itu berdiri di hadapan Sukma, sambil berkacak pinggang.
"Berdiri kamu!" perintah Bu Lastri dengan nada tinggi.
Seketika Sukma merapatkan dirinya pada Atikah, yang sama-sama takut akan kedatangan wanita itu. Tubuh gempal dengan wajah tak keruannya, membuat Bu Lastri lebih menakutkan di mata Sukma, ketimbang makhluk-makhluk gaib kirimannya. Sambil mendengus sebal, Bu Lastri menarik paksa tangan Sukma dari belakang punggung Atikah.
Sukma menangis tatkala tangannya dicengkeram kuat-kuat oleh Bu Lastri. Tangisannya terdengar sangat kencang, sehingga membuat Bu Inah merasa cemas. Ia bergegas ke teras untuk melihat sesuatu yang terjadi pada putri bungsunya.
Betapa terkejutnya Bu Inah mendapati wanita berwajah buruk rupa, sedang menarik tangan si bungsu dengan paksa. Tanpa permisi, ia melepaskan cengkeraman Bu Lastri. Matanya tak kalah menatap tajam pada wanita pemilik warung di seberang jalan itu.
"Ibu punya masalah apa sama anak saya? Kalau kesal sama anak saya, ngomong! Jangan main kasar begini!" bentak Bu Inah memelototi Bu Lastri.
"Ini semua gara-gara anak kamu, Bu! Gara-gara dia, saya gagal kaya!" teriak Bu Lastri.
Pertengkaran mereka seketika mengundang tanya tetangga lain. Satu per satu dari mereka keluar dari kediamannya, untuk menonton perdebatan yang terjadi antara wanita berbadan tambun dan Bu Inah. Sementara itu, Pak Risman yang sejak tadi membersihkan lele, ikut penasaran dengan sesuatu yang terjadi di depan tempat tinggalnya.
"Emangnya apa yang anak saya lakukan sampai dituduh jadi penyebab kekayaan Ibu gagal, ha? Apa dia nyuri uang Ibu? Enggak, kan?" balas Bu Inah berteriak.
"Dia memang nggak nyuri harta saya, tapi dia sudah membunuh sumber kekayaan saya," jawab Bu Lastri dengan nada tak kalah tinggi.
"Memangnya apa sumber kekayaan Ibu, ha? Senakal-nakalnya putri saya, dia nggak pernah silau dengan harta. Paham?!"
"Alah! Bela saja putrimu itu sampai mati! Saya nggak peduli! Seharusnya dia sekarang berada di penjara gara-gara membunuh dukun langganan saya!"
Maka tercenganglah semua orang yang menyaksikan pertenggakan antara dua wanita paruh baya itu. Mulut Teh Lina menganga selebar-lebarnya tatkala mengetahui Bu Lastri main dukun. Atikah pun ikut terkejut mendengar perkataan Bu Lastri. Begitu pula dengan tetangga lain, yang terperangah sulit memercayai ucapan wanita buruk rupa itu.
Di tengah pertengkaran mereka, Pak Risman datang melerai. Kendati tubuhnya kurus kering, tapi keberaniannya lebih besar dari apa pun. Pria paruh baya itu berdiri di hadapan Bu Lastri dengan memasang wajah tenang.
"Bu, lebih baik kita bicarakan di dalam. Malu kalau sampai teriak-teriak di sini, bahkan ditonton banyak orang," ujar Pak Risman dengan lemah lembut.
__ADS_1
"Ah! Saya nggak sudi masuk ke rumah kalian yang sempit itu. Pokoknya, sekarang saya mau bikin perhitungan sama anak ini! Saya nggak mau tahu, pokoknya nyawa harus dibayar nyawa!" bantah Bu Lastri.
"Apa maksud Ibu bicara begitu? Ibu pengin anak saya mati? Sebelum Ibu berbuat macam-macam sama anak saya, hadapi saya dulu! Ayo!" tantang Bu Inah dongkol, sembari menyingkirkan suaminya.
Sukma menangis sejadi-jadinya, melihat ibunya bertengkar dengan Bu Lastri. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada sang kakak, hingga membuat Atikah iba. Atikah memeluk tubuh Sukma yang menggigil ketakutan akibat kemarahan Bu Lastri.
Di tengah kegaduhan yang terjadi, Haji Gufron datang ke area kontrakan. Pria itu tampak tidak senang jika ada orang luar yang masuk ke kontrakan miliknya hanya untuk membuat keributan saja. Dengan terburu-buru, Haji Gufron berjalan menghampiri dua wanita paruh baya yang sedang bertengkar itu.
"Ada apa ini, Bu Lastri? Kenapa Ibu berbuat gaduh di kontrakan saya?" tanya Haji Gufron bersungut-sungut.
"Nah, ini nih yang bikin suasana makin nggak enak," kata Bu Lastri menunjuk-nunjuk Haji Gufron. "Heh, Gufron, saya nggak terima kalau kamu memakai anak ini sebagai alat balas dendam!"
"Balas dendam? Balas dendam apa? Bicara apa Ibu ini, ha?" tanya Haji Gufron dengan dahi berkerut.
"Alah! Jangan pura-pura nggak tahu, deh. Berani-beraninya kamu nyuruh anak kecil buat ikut campur ke dalam urusan kita. Apa kamu nggak tahu, kalau dukun langganan saya mati gara-gara dia?" cerocos Bu Lastri dengan tempo cepat.
"Apa? Eh, Bu! Kalau ngomong itu dipikir-pikir dulu! Mana mungkin anak sekecil Dek Sukma membunuh orang tua kayak dukun yang Ibu maksud! Harusnya Ibu malu, pengin kaya itu usaha! Bukan main dukun!" sanggah Haji Gufron tak mau kalah.
Seketika Bu Lastri terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Haji Gufron. Sanggahan Haji Gufron pun dibenarkan oleh orang-orang yang menyaksikan pertengkaran itu. Bu Inah merasa senang, karena ada yang membantunya dikala terpojok. Sukma dan Atikah merapatkan tubuh pada ibunya, lalu bersembunyi di balik tubuh Bu Inah.
"Bu, sudahlah. Nggak baik berbuat gaduh di depan rumah orang. Apa Ibu nggak malu, dilihatin banyak orang begini?" bujuk Pak Beni dengan suara lesu dan diselingi oleh tarikan napas yang terengah-engah.
"Ibu nggak peduli, Pak! Ibu sudah kadung malu gara-gara anak itu!" kata Bu Lastri sembari menunjuk Sukma yang bersembunyi di balik tubuh Bu Inah.
"Sudahlah, Bu. Kita pulang saja. Nggak baik berantem terus di sini. Ayo!" ujar Pak Beni berusaha untuk tegas.
"Iya, pulang sana! Udah bikin kontrakan saya nggak laku, malah nyari keributan di sini. Cepat, pulang sana!" hardik Haji Gufron berang.
"Diam kamu, Gufron!" bentak Bu Lastri sembari memelototi Haji Gufron dan menunjuknya.
Pak Beni merangkul istrinya agar segera pergi dari kontrakan saingannya. Orang-orang yang dari tadi menyaksikan keributan itu, menyoraki Bu Lastri. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang melemparkan sumpah serapah akibat tindakannya menyekutukan Tuhan.
Sementara kerumunan orang-orang mulai membubarkan diri, Haji Gufron menghampiri keluarga Pak Risman. Pandangannya tertuju pada Sukma yang sedang sesenggukan di balik punggung ibunya. Gadis kecil itu sesekali memandang ke arah gerbang, memastikan bahwa wanita yang sudah mencengkeram tangannya telah pergi.
"Nggak perlu takut, Dek Sukma, ibu-ibu itu sudah pergi," bujuk Haji Gufron.
__ADS_1
Sukma menggeleng. "Kalau dia balik lagi, gimana? Dedek takut, Pak Haji."
"Nggak akan, Dek. Ibu-ibu itu takut sama Bapak. Dia nggak bakal balik lagi," kata Haji Gufron meyakinkan.
Pelan-pelan, Sukma dan Atikah menunjukkan diri pada Haji Gufron. Kendati masih gemetar akibat bentakan dan tindakan kasar yang mengejutkan dari Bu Lastri, Sukma berusah memberanikan diri untuk mendekati Haji Gufron. Pria paruh baya itu tersenyum, lalu membelai rambut pendek Sukma dengan lembut.
"Pak Haji, dia istrinya Pak Beni, ya? Datang-datang, kok, ngajak ribut? Mana anak saya diperlakukan secara kasar pula," tanya Bu Inah sedikit bersungut-sungut, sambil memperhatikan ke arah gerbang.
"Iya, dia istrinya Pak Beni. Selain dikenal tamak dan congkak, dia juga jadi biang gosip di daerah kita ini. Ibu sabar aja, ya," terang Haji Gufron.
"Aduh, Pak. Sebenarnya saya takut kalau sampai dia ngapa-ngapain lagi anak saya, apalagi sampai dibentak-bentak segala kayak tadi. Masih mending kalau Dek Sukma main di rumah, aman. Tapi kalau giliran Dek Sukma main di luar, gimana?"
"Ibu nggak usah khawatir. Saya yakin, warga di sini akan melindungi Dek Sukma, apalagi setelah mendengar ocehan Bu Lastri tadi. Pasti mereka paham siapa yang salah dan siapa yang benar."
"Iya, Pak Haji. Mudah-mudahan Dedek selali dilindungi oleh siapa saja yang ada di sini," kata Bu Inah mengamini.
"Yang terpenting, minta perlindungan pada Allah. Mudah-mudahan Dia senantiasa menjaga kedua putri Ibu, di mana pun mereka berada."
"Iya, Pak Haji. Kami memang selalu mendoakan kedua putri kami."
Pak Haji berpamitan pada keluarga Pak Risman, sedangkan Bu Lastri masih berada dalam kemarahannya. Meski duduk diam di ruang tengah, amarahnya masih meledak-ledak. Pak Beni yang berusaha meredam sang istri, dibuat tak berdaya.
Kendati demikian, Pak Beni tak mau menyerah begitu saja. Ia membawakan segelas air putih untuk istrinya. Akan tetapi, Bu Lastri yang masih saja berang pada kejadian beberapa saat lalu, menangkis gelas yang disodorkan Pak Beni hingga jatuh ke lantai dan pecah terburai.
"Ibu, bisa nggak, sih, berhenti dulu marahnya? Nggak ada gunanya marah-marah terus cuma gara-gara anak kecil," kata Pak Beni bersungut-sungut.
"Ibu nggak bisa berhenti marah, Pak. Pokoknya, Ibu harus kasih anak itu pelajaran. Gara-gara dia, kita gagal kaya!"
"Ibu ini masih belum ngerti juga, ya. Kata temennya Pak Haji, rezeki itu--"
"Alah! Temennya Pak Haji cuma bikin kamu leha-leha aja. Jangan didengerin! Mendingan sekarang kita cari cara lain buat jadi kaya, sekaligus ngasih pelajaran sama bocah itu."
"Aduh!" Pak Beni menepuk jidatnya. "Ibu ini nggak ada kapok-kapoknya, ya."
"Ibu emang nggak bakalan kapok sebelum kaya, Pak. Pokoknya, Ibu akan melakukan apa saja kepada anak itu. Kalau bisa, santet aja sekalian!" ucap Bu Lastri sembari memandang tajam, hingga membuat Pak Beni merinding dibuatnya.
__ADS_1