SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Akal Busuk


__ADS_3

Selepas isya, biasanya kediaman Emak terasa hening, meskipun wanita tua itu tinggal bersama anak, menantu, dan satu cucunya yang sudah kuliah. Kini, suasana terasa berbeda berkat kehadiran anak-anaknya yang datang dari Jakarta dan Tangerang. Mereka asyik bersenda gurau, membicarakan tentang kesuksesan besar yang diraih selama itu. Tak lupa, empat orang bersaudara itu juga saling bersaing membanggakan prestasi anak-anaknya. Ada yang berhasil kuliah di luar negeri, ada pula yang sudah mendapat jabatan tinggi di perusahaan BUMN. Emak ikut bangga akan pencapaian putra-putrinya itu. Ia juga bersyukur, keempat anaknya sukses menggenggam dunia lewat ajarannya menggunakan pesugihan dan ilmu hitam.


Beranjak tengah malam, pasangan dan anak dari keempat bersaudara itu sudah tertidur lelap. Sementara itu, Emak beserta anak-anaknya masih terjaga. Mereka berkumpul di kamar Emak, membicarakan Pak Risman yang baru kali ini pulang kampung setelah bertahun-tahun lamanya. Bi Yati hanya tersenyum sinis, bahkan menyepelekan pencapaian kakaknya yang berangsur membaik.


"Alah, dia cuma jualan pecel lele, kok. Ngapain dikhawatirkan. Toh, sampai kapan pun tukang dagang nggak bakalan bisa bersaing sama perusahaan-perusahaan besar punya kita," ucap Bi Yati.


"Tapi dari situ dia akan semakin percaya, kalau Tuhan juga bisa ngasih kekayaan. Sedangkan dari dulu, kita nggak suka kalau dia memegang janji dari Bapak. Pokoknya, selama dia masih berada di jalan lurus, kita harus kasih dia pelajaran supaya jangan sok suci," kata Wa Agus.


"Hm, baiklah. Jadi, sekarang kalian masih penasaran pengen ngehancurin hidup si Risman?" tanya Bi Yati.


Ketiga bersaudara itu mengiyakannya secara serempak.


"Percuma aja. Kalian hanya akan buang-buang waktu buat ngehancurin si Risman. Dia bakal susah dikirimi guna-guna selama nggak percaya sama hal gaib, ditambah lagi ada bocah setan itu. Siapa namanya tadi?" tanya Bi Yati.


"Sukma," jawab Emak singkat.


"Nah, iya. Sukma. Menurut penglihatanku, bocah itu sudah berkali-kali membunuh orang. Jangankan orang tanpa ilmu hitam, beberapa dukun sudah dia lenyapkan. Aku tidak mau mati konyol cuma karena mengirim guna-guna ke si Risman," jelas Bi Yati.


"Terus, kita harus diam aja gitu? Mendingan aku mati daripada lihat si Risman jadi orang kaya. Lagaknya pasti sok suci kayak Bapak," celetuk Wa Seto.


"Oke, jadi kalian masih tetap pengen ngerusak si Risman? Punya rencana apa kalian sekarang?" tanya Bi Yati seolah menantang.


"Emak punya rencana buat ngambil Sukma dari Risman, lalu menguras kekuatannya," jawab Emak dengan yakin.


"Begitu aja, Mak? Aku yakin, nggak bakalan berhasil. Mau sebanyak apa pun kekuatan bocah itu dikuras, selama si Risman nggak percaya sama hal gaib, ya tetep aja susah," kata Bi Yati dengan sinis.


"Terus, kita harus gimana?" tanya Bi Neneng mulai cemas.


"Kita bisa memanfaatkan anak itu biar si Risman percaya sama hal gaib lagi dan keimanannya melemah. Dengan begitu, kita akan mengirimi guna-gunanya dengan mudah. Bukankah dari dulu kita ingin menjadikan si Risman berbuat musyrik seperti kita? Kenapa kita nggak coba bikin dia percaya kalau anaknya, si Sukma itu, bisa bawa keselamatan dan kekayaan?" usul Bi Yati.


"Hm, ada benarnya juga kamu, Yati," kata Wa Agus mengangguk takzim.


"Sekali-kali pakai ilmu penerawangan kalian, deh. Aku yakin, kalian juga pasti ngelihat hal yang sama tentang anak itu. Dia terlahir buat menyesatkan umat manusia agar berjalan di jalan ayahnya, iblis. Tujuannya dilahirkan di dunia ini memang buat cari gara-gara dan bikin manusia nggak percaya sama Tuhan. Kenapa kita nggak bikin mudah aja agar tujuan iblis itu terwujud?" tutur Bi Yati.


"Wah, kamu benar-benar cerdas, Yati! Kenapa aku nggak kepikiran ke situ, ya?" celetuk Wa Seto.


"Baiklah, mulai sekarang kita jadikan Sukma sebagai alat buat mempermudah jalan mengguna-guna si Risman. Aku yakin, dengan saran Yati, usaha kita akan berhasil kali ini," kata Wa Agus.


Bi Yari tersenyum bangga, ucapannya diamini oleh saudara dan ibunya. Selanjutnya, mereka merencanakan segala hal untuk mengguna-guna Pak Risman. Menurut Emak, guna-guna akan berjalan semakin mulus ketika bulan suci Ramadhan telah usai. Keempat anaknya pun memutar otak agar bisa memanfaatkan waktu selama dua hari untuk melemahkan keimanan Pak Risman dan membuatnya kembali percaya pada hal gaib.


Sementara itu, di kediaman Abah, Sukma lagi-lagi dirundung rasa gelisah setelah terbangun secara tiba-tiba. Untuk mengentaskan kegelisahannya, ia datang ke kamar Abah. Entah kenapa, hati kecilnya berkata, bahwa kakeknya itu dapat memberinya ketenangan malam ini.


Di kamar, Abah tampak sedang duduk di tepi ranjang, memandangi foto istrinya yang sudah tiada. Sukma duduk di sebelah Abah sambil ikut memandangi foto ibunya Bu Inah. Abah yang menyadari kedatangan Sukma, mengusap kepala gadis perempuan itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Eh, Dedek. Ngapain datang ke sini? Dedek nggak bisa tidur?" tanya Abah terkejut.


Sukma menggeleng lemah. "Dedek nggak tahu, Abah. Dedek susah bobo lagi. Dedek masih khawatir, Bapak bakal dijahatin sama Emak, sama kakak-kakanya juga."


"Mungkin Dedek kelewat cemas, makanya susah bobo lagi. Tenang saja, bapak kamu nggak bakal kenapa-kenapa selama rajin beribadah dan yakin sama Allah," ucap Abah.


"Beneran, Abah? Bapak nggak bakal kenapa-kenapa?" tanya Sukma ragu.


"Iya, bapak Dede nggak bakal kenapa-kenapa," ucap Abah meyakinkan. "Buktinya selama ini, bapak Dedek nggak pernah sakit-sakitan parah, kan?"


"Iya juga, Bah. Paling Bapak cuma kena demam sama pilek doang, itu juga cuma tiga hari," kata Sukma.


"Nah, sekarang Dedek nggak perlu khawatir lagi. Bapak Dedek akan baik-baik saja. Sebaiknya Dedek tidur lagi. Nanti jam setengah empat, kan, harus sahur. Tinggal satu hari lagi kita puasa," ujar Abah.


"Baik, Bah. Kalau begitu, Dedek balik lagi ke kamarnya Ibu. Makasih, ya, Bah, udah bikin hati Dedek tenang," ucap Sukma berpamitan.


Abah mengangguk, lalu Sukma bergegas ke luar kamar. Selepas cucunya pergi, Abah merenung sejenak, memikirkan perkataan putrinya tentang Sukma. Ia percaya, gadis kecil itu memang berbeda dari anak-anak lain. Terlihat dari kegelisahannya pada Pak Risman, Abah yakin, bahwa firasat Sukma memang benar adanya.


...****************...


Mentari menyingsing, menyinari langit yang kian membiru. Sukma bermain bersama Atikah di teras rumah. Sedang asyik bermain, tak sengaja Sukma melihat seorang anak kecil dengan tubuh bersimbah darah melewati depan rumah Abah. Ia mengernyitkan kening, lalu menepuk pundak Atikah.


"Teteh, Teteh lihat anak itu nggak?" tanya Sukma dengan mata membelalak.


Sukma beranjak dari teras, lalu berjalan ke depan pekarangan rumah. Ia melambaikan tangan pada Atikah, berusaha agar sang kakak menghampirinya. Atikah pun berjalan menghampiri Sukma, lalu ikut menoleh ke arah adiknya melihat orang yang dimaksud.


"Tuh, Teh. Lihat! Dia lagi jalan ke sana!" ujar Sukma menunjuk ke arah jalan.


"Nggak ada, Dek. Teteh cuma lihat ibu-ibu yang bawa ketupat," kata Atikah meyakinkan.


Sukma menatap Atikah dengan kening mengernyit. "Teteh beneran nggak lihat?"


Atikah menggeleng cepat. "Enggak."


"Yaaah ...."


"Udahlah, Dek. Mendingan kita main lagi di teras," ujar Atikah, lalu berbalik badan dan berjalan menuju teras.


"Tapi, Teh. Dia ...."


"Ayo!" ajak Atikah sembari kembali menarik Sukma ke teras.


Sukma mengikuti Atikah, tapi pikirannya masih tertuju pada anak kecil tadi. Ia bermain sambil melamun, pikirannya tidak fokus.

__ADS_1


Ketika Atikah masuk ke dalam untuk mengambil air, Sukma mendapatkan kesempatan pergi menemui anak penuh darah yang melintas di depan rumah Abah. Ia bergegas pergi, lalu mengikuti bocah yang dilihatnya tadi. Rupanya masih tak jauh dari tempat tinggal Abah.


Sukma menyeru pada anak berlumur darah itu agar berhenti. Namun, rupanya anak itu tak mendengarnya sama sekali. Ia terus berjalan. Semakin dikejar Sukma, langkahnya semakin cepat. Sukma benar-benar tak mengerti pada anak itu.


Cukup jauh Sukma berjalan, anak kecil yang dikejarnya menghilang di rumah Emak. Gadis kecil itu terperangah, melihat kediaman yang mengerikan di matanya. Ia pun berbalik badan untuk kembali ke rumah Abah. Akan tetapi, langkahnya segera terhenti oleh kehadiran Bi Neneng yang baru pulang membeli makanan.


"Eh, Dek Sukma. Kenapa malah mau balik lagi? Ayo, kita ke dalam!" ajak Bi Neneng dengan ramah.


"Ng ... nggak, Bi. Nanti Bapak ... Bapak ...." Sukma tergagap-gagap.


"Tenang aja, nanti bapak kamu datang ke sini kok. Kemarin, kan, bapak kamu bilang, besok katanya mau ke sini lagi," bujuk Bi Neneng.


"Tapi, Bi. Nanti Ibu nyariin Dedek," tolak Sukma dengan halus.


"Mereka nggak akan khawatir, kok. Mereka pasti tahu, kalau Dedek main ke sini," bujuk Bi Neneng lagi, kali ini nada bicaranya lebih halus.


Sukma termangu sejenak. Sikap Bi Neneng yang jauh berbeda dari kemarin, membuatnya gamang. Sesekali ia menengok ke belakang Bi Neneng, tak ada lagi buaya di sana.


"Gimana? Kita masuk ke dalam?" tanya Bi Neneng menatap kedua mata Sukma.


Gadis kecil itu pun mengangguk, lalu dituntun oleh bibinya masuk ke rumah. Kendati sikap Bi Neneng berubah, suasana rumah Emak masih tetap sama. Terasa sunyi, walaupun banyak orang di dalamnya. Memang, saat pagi para dedemit tak menampakkan diri. Maka tak heran jika Sukma tak melihat ada satu pun makhluk halus berkeliaran.


Begitu masuk ke rumah Emak, Sukma disambut dengan sangat baik oleh pemilik rumah dan saudara-saudara Pak Risman. Wujud-wujud mengerikan yang dibawa oleh mereka kemarin, tak lagi terlihat oleh Sukma. Bi Neneng menyuruh Sukma duduk di sofa, lalu mengobrol banyak hal. Tak lupa, Bi Yati ikut menimbrung, bercakap-cakap santai dengan keponakan kecilnya. Suasana yang semula canggung pun berubah menjadi cair, bahkan Sukma merasa tak ragu lagi untuk menanyakan perihal hewan-hewan bawaan saudara Pak Risman.


"Oya, hewan-hewan yang kalian bawa kemarin, pada ke mana?" tanya Sukma dengan polosnya.


"Ah, itu. Mereka cuma dedemit jahil yang kebetulan ngikutin Uwa. Semalam, mereka kami usir dari sini," jawab Wa Agus.


"Oh," ucap Sukma mengangguk.


"Oya, Dek Sukma. Kayaknya Dedek bisa lihat hantu, ya?" tanya Bi Yati.


"Hantu? Hantu itu apa?" tanya Sukma.


"Hantu itu makhluk hidup kayak kita, tapi nggak bisa dilihat sama orang lain. Kami juga bisa lihat hantu kayak Dedek, loh," jelas Bi Yati.


"Oya?! Jadi, kalian bisa lihat apa yang Dedek lihat juga?" Sukma tercengang sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja," jawab Wa Seto.


"Wah! Uwa sama Bibi nggak takut lihat mereka?" tanya Sukma.


"Ya enggaklah. Kadang mereka itu bisa disuruh-suruh. Buat apa takut?" ucap Bi Neneng.

__ADS_1


Melihat ekspresi Sukma yang tampak senang karena memiliki kerabat dengan kemampuan serupa, Wa Seto pun menyeringai. Rencana awal Bi Yati untuk menjebak Sukma sudah berhasil. Emak pun merasa lega, bocah incarannya ternyata mudah ditaklukkan oleh kecerdikan Bi Yati.


__ADS_2