SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Malam Berdarah


__ADS_3

Sihir tak pernah menunggu waktu jika sudah sampai pada orang yang dituju. Seharian ini Pak Risman bergelut dengan rasa sakit di badannya. Beranjak malam, guna-guna yang menggerayangi tubuhnya seperti tak mengizinkan pria paruh baya itu untuk terlelap sebentar saja. Keadaan Pak Risman semakin parah saat waktu menunjukkan pukul dua belas tepat. Dadanya sesak, kepalanya serasa pecah.


Saking tak tahan lagi menahan rasa sakit, Pak Risman mengerang-erang sambil menghirup napas pendek-pendek. Sesekali ia terbatuk-batuk, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Sekujur tubuhnya terasa panas, sampai-sampai ia harus berguling di lantai.


Melihat sikap aneh Pak Risman yang tak tenang, istri dan anak-anaknya terbangun. Bu Inah mencoba mengajak suaminya berkomunikasi, tapi Pak Risman tetap berkutat pada rasa sakit yang dideritanya. Bu Inah bergegas mengambil segelas air untuk meredakan rasa sakit di tubuh suaminya.


"Sukma, gimana ini? Kok penyakit Bapak makin parah?" tanya Atikah mengernyitkan kening, menatap Sukma.


"Dedemitnya makin banyak, Teh. Dedek belum bisa nyembuhin Bapak sekarang. Kalau nyembuhin Bapak, bisa-bisa Dedek besok nggak bangun-bangun," kata Sukma dengan nada kecewa.


"Terus gimana dong?"


"Kalau buat mengobati Bapak, Dedek emang nggak bisa. Dedek butuh tenaga dua kali lipat. Pertama ngeluarin sihirnya, kedua nyembuhin luka di dalam badan Bapak. Kalau cuma berantem mah masih sanggup," jawab Sukma.


"Dedek ini aneh. Ngobati Bapak nggak bisa, tapi berantemnya udah kayak jagoan aja," cibir Atikah.


Tak lama kemudian, Bu Inah datang bersama Abah membawakan air untuk Pak Risman. Bu Inah segera meminumkan air ke mulut suaminya, tapi segera disemburkan kembali. Tubuh Pak Risman seperti menolak air. Bu Inah pun bingung harus melakukan apa. Ia dan Abah hanya bisa membisikkan asma Allah di kedua telinga Pak Risman, tapi pria paruh baya itu justru menjerit sekencang-kencangnya.


Berselang beberapa menit, hidung Pak Risman mimisan, mulutnya mengeluarkan darah bercampur kelabang hidup. Betapa terkejutnya Bu Inah dan Abah menyaksikan kejadian aneh yang dialami oleh Pak Risman. Pun dengan Sukma dan Atikah yang baru kali ini melihat sang ayah begitu kesakitan sampai muntah darah. Ini tidak bisa dibiarkan, pikir Sukma.


Bergegas gadis kecil itu mengambil botol berisi Wanara. Ia mengeluarkan kera itu untuk membantunya menyembuhkan Pak Risman. Wanara pun berdiri dan geram melihat sihir menguasai badan ayahnya Sukma.


"Katakan, apa yang bisa aku bantu!" ucap Wanara sembari melipat kedua tangan dan berdiri tegap.


"Tolong, bantu keluarkan dedemit dan sihir dari tubuh bapakku. Saat ini aku nggak bisa nolongin Bapak. Aku cuma bisa berantem aja," pinta Sukma.


"Baiklah. Aku memang bisa mengeluarkan dedemit dan sihir dengan cara masuk ke tubuh bapakmu, tapi aku tidak bisa mengobati luka di dalamnya," jelas Wanara.


"Nggak apa-apa. Soal mengobati luka di dalam badan Bapak, biar aku aja yang urus. Kamu keluarin aja dulu dedemit sama sihirnya. Pastikan badan Bapak bersih dari semua itu," tutur Sukma menegaskan. "Aku mau pergi dulu ke rumah Nenek. Kalau mereka nggak dihentikan, dedemitnya bakalan terus masuk ke badan Bapak."


"Apa kamu yakin akan ke sana? Apa kamu nggak takut? Mereka itu ada lima orang!"


"Tenang aja, Wanara. Aku bisa ngehadepinnya. Kekuatan aku buat berantem lagi bagus. Mungkin sebaiknya aku harus gunain tenaga ini buat menghentikan mereka," jelas Sukma.


"Jaga dirimu baik-baik, Sukma. Mereka bukan lawan yang sembarangan," kata Wanara memegang pundak Sukma. "Tapi sebelum kamu pergi, aku butuh bantuan dari kakak kamu untuk menunjukkan aku jalan keluar dari badan bapakmu."


"Oke, aku panggil Teteh dulu."

__ADS_1


Sukma memanggil Atikah dan menariknya saat memperhatikan penderitaan ayahnya. Gadis kecil itu menatap lekat-lekat kedua mata kakaknya. Atikah pun merasa heran dengan sikap adiknya itu.


"Teh, tolong bantuin Dedek buat ngobatin Bapak," ujar Sukma.


"Gimana caranya?" tanya Atikah.


"Teteh tinggal taruh tangan di dada terus kepala Bapak. Kalau Teteh ngerasain ada yang gerak di dada Bapak, tarik ke atas sampai ke kerongongannya. Nanti Bapak bakalan muntah lagi, kok. Terus, Teteh lakuin lagi di kepala Bapak. Kalau ngerasain ada yang gerak, tarik aja sampai ke hidung. Oke?" jelas Sukma.


"Iya, bakal Teteh lakuin, tapi ... Dedek mau ngapain kalau Teteh yang nyembuhin Bapak?" Atikah mengerutkan dahi.


"Dedek mau pergi ke sumber penyakit Bapak. Bapak bakal terus-terusan begini kalau mereka nggak berhenti ngirim guna-guna," jawab Sukma.


"Mereka? Mereka siapa?"


"Nenek, Uwa, sama Bibi kita, Teh."


Atikah terperangah.


"Dedek pergi dulu, Teh. Pastiin, Ibu sama Abah nggak tahu kalau Dedek pergi," pamit Sukma, bergegas ke luar kamar.


"Tapi, Dek ...."


Sementara itu, Wanara yang melihat mulut Pak Risman terbuka, tak mau melewatkan kesempatan baiknya. Ia mengubah ukuran tubuhnya, lalu melesat memasuki raga pria paruh baya itu sebagaimana para dedemit kiriman keluarga Emak.


Sesampainya di bagian dada Pak Risman, ia melihat beberapa dedemit berbentuk manusia setengah kelabang sedang menggerogoti organ dalam ayahnya Sukma. Wanara tak mau menyia-nyiakan waktu. Tangannya membesar, lalu meraup para dedemit di dalam genggamannya. Sebagian di antara mereka menggigiti tangan kera itu, sedangkan yang lainnya mati karena tercengkeram kuat. Tenaga Wanara yang begitu besar, membuat para dedemit tak berdaya melawannya.


Atikah yang merasakan gerakan di dada Pak Risman, segera mendorongnya ke atas. Wanara yang masih mencengkeram para dedemit pun dapat keluar dengan bantuan usapan tangan Atikah. Tak butuh waktu lama, Pak Risman pun menoleh ke arah kanan, lalu memuntahkan banyak darah beserta kelabang-kelabang yang sudah mati. Atikah, Bu Inah, dan Abah ternganga dibuatnya. Sebagian tangan Atikah terciprat oleh darah dari mulut Pak Risman. Kendati demikian, Atikah berusaha tetap tenang di tengah kegugupannya menyembuhkan sang ayah.


Selanjutnya, Wanara masuk melalui lubang hidung Pak Risman. Dari sana, ia terus naik ke bagian kepala, hingga menemukan sekumpulan belatung berukuran cukup besar dengan cairan kuning menyala di tubuhnya. Itu merupakan bagian dari sihir kiriman. Hampir seisi otak Pak Risman sudah dipenuhi oleh belatung.


Sementara itu, Sukma benar-benar datang ke kediaman Emak untuk menghentikan pengiriman sihir. Kali ini, ia tidak masuk ke bagian depan rumah, melainkan lewat halaman belakang. Di sana, terdapat pintu kecil yang sedikit terbuka dan menguarkan bau kemenyan. Sukma memungut batu, kemudian berjalan menuju pintu itu dengan penuh amarah.


Tanpa permisi, gadis kecil itu menendang pintu, lalu melemparkan batu di tangannya ke arah sesajen. Seketika, orang-orang yang ada di dalam ruangan kecil itu terkejut oleh kehadiran Sukma secara tiba-tiba. Segala macam persyaratan mengirimkan sihir pun rusak dan membuat Emak serta keempat saudara Pak Risman geram.


Seiring dengan terhentinya guna-guna, Wanara memukul setiap belatung yang bersarang di otak Pak Risman. Beberapa di antaranya mengeluarkan cairan hijau dengan bau yang sangat menyengat. Wanara mengelilingi seluruh isi kepala pria paruh baya itu. Dengan tangannya yang besar, lagi-lagi ia meraup semua hewan sihir itu dan membawanya keluar menuju hidung. Gerakan tangan Atikah sangat membantunya, sampai Wanara akhirnya berhasil mengeluarkan semua sihir dari badan Pak Risman.


Seketika, hidung Pak Risman mengeluarkan lendir bercampur darah dan belatung. Semuanya terjatuh begitu saja, hingga rasa sakit di kepala pria paruh baya itu mereda. Belatung-belatung mati itu membuat Atikah bergidik jijik. Ia segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya yang ditempeli belatung mati dari hidung ayahnya.

__ADS_1


Pak Risman terkulai lemah dan terkapar setelah cukup lama berkutat dengan segala kesakitan yang menggerogoti tubuhnya. Kini, dadanya tak lagi terasa sesak dan nyeri, begitu pula dengan kepalanya. Napas pria paruh baya itu terasa lega saat bisa menghirup kembali udara segar dengan ringan.


"Alhamdulillah, Pak. Akhirnya mendingan juga," decak Bu Inah terharu.


"Abah nggak habis pikir, sebegitu jahatnya keluarga kamu ngirim serangga-serangga itu ke badan kamu, Man. Astaghfirullah!" ucap Abah merasa iba.


"Sudahlah, Bah. Nggak usah ngomongin mereka ... hhh ... yang penting, sekarang saya sudah sembuh," ujar Pak Risman sambil terlentang dan terengah-engah.


Dari arah ruang tamu, satu per satu tetangga Abah masuk ke rumah. Abah terkejut melihat kedatangan mereka. Bukan hanya itu saja, pemilik rumah pun heran, bagaimana bisa orang-orang itu masuk ke rumahnya sementara pintunya dikunci.


"Bah, maaf kalau kami lancang masuk ke sini. Kami penasaran, saat dengar ada suara bapak-bapak meraung-raung dari sini," ucap seorang pria seumuran Pak Risman.


"Iya, kami pikir ada apa-apa, makanya ikut khawatir," timpal istri pria itu.


"Ng ... nggak ada apa-apa, kok. Biasa, Risman penyakitnya kambuh lagi," kata Abah tergagap-gagap. "Oya, gimana kalian bisa masuk ke sini? Perasaan, dari tadi pintunya belum dibuka."


"Belum dibuka gimana maksudnya, Bah? Dari tadi pintunya terbuka, makanya kami bisa dengar ada suara orang teriak-teriak di sini," jelas tetangga lainnya.


Mendengar penjelasan salah satu tetangga Abah, Atikah yang baru datang dari kamar mandi pun terkejut. Ia lupa, Sukma tidak menutup pintu setelah pergi. Pelan-pelan, Atikah masuk ke kamar dan membungkam mulut. Ia tak mau adiknya terkena masalah gara-gara para tetangga yang membicarakan pintu terbuka.


"Bah, kenapa banyak darah di lantai? Pak Risman kena TBC? Kok darahnya banyak begitu?" tanya tetangga lain.


"Ah, mungkin Pak Risman kena guna-guna," jawab seorang ibu-ibu yang mencoba mengintip ke dalam kamar. "Itu kayak ada kelabang mati."


"Pak Risman, gimana keadaannya sekarang? Udah mendingan? Kalau ada apa-apa, kami siap bantu," ucap pria paruh baya seumuran Pak Risman.


"Sudah, sudah. Kalian tidak perlu khawatir. Sekarang Risman sedang butuh istirahat, kita ngobrolnya di luar aja," ujar Abah dengan nada sopan.


Para tetangga Abah melenggang ke luar rumah, sedangkan Pak Risman berusaha duduk dengan dibantu Bu Inah. Diedarkannya pandangan ke segala arah, hingga akhirnya teringat sesuatu. Sukma tak ada di rumah Abah.


"Atikah, di mana adik kamu? Kok nggak kelihatan?" tanya Pak Risman terengah-engah.


"Dedek ... hm, Dedek ...." Atikah tergugu sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Jawab, Atikah! Ke mana Dedek?" desak Bu Inah.


"Dedek ... tadi Dedek izin pergi ke rumah Nenek," jawab Atikah dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Bu Inah dan Pak Risman saling berpandangan. Kedua mata mereka membelalak, seperti mendengar bencana yang akan menimpa Sukma dalam waktu dekat. Saking khawatir, tubuh Bu Inah bergetar hebat, merasakan ketakutan amat besar menyelusup ke dasar hatinya.


__ADS_2