SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Bara Dendam


__ADS_3

Farah merasa ngantuk setelah mencicipi nasi kuning yang dibawa Ratna. Matanya cepat terpejam, tidurnya segera lelap. Dalam mimpinya, ia berada di dalam sebuah ruangan yang temaram. Bau busuk menyeruak indera penciumannya. Sesekali wanita itu merasa mual, hingga memuntahkan darah. Samar-samar, tampak beberapa belatung menggeliat di antara darah bekas muntahannya.


Betapa terkejutnya Farah melihat bekas muntahannya itu. Merasa panik, ia pun mundur perlahan, lalu berlari mencari jalan keluar. Setelah berlari cukup jauh, sebuah ruangan temaram yang tadi disinggahinya, berubah menjadi hutan lebat berkabut. Sangat sedikit sinar matahari menyinari hutan itu, sampai-sampai Farah harus menyibak kabut di hadapannya.


Semakin jauh Farah berjalan, suasana hutan semakin mencekam. Bulu kuduknya merinding, terlebih saat mendapati bayangan hitam berkelebat di antara pohon-pohon. Sejenak, Farah yang gemetar ketakutan pun menepi ke salah satu pohon. Ia menebarkan pandangannya, hingga terdengar suara kera mendekat ke arahnya.


Dari kejauhan, samar-samar terlihat sekumpulan kera berlari ke arahnya. Farah panik, kemudian beranjak dari tempatnya menepi. Secepat mungkin ia berlari menghindari kejaran kera-kera itu. Sialnya, kecepatan berlarinya justru melambat tatkala kera-kera itu mendekat. Ia pun jatuh tersungkur, hingga kesulitan untuk berdiri.


"Tolong, jangan lukai aku! Jangan lukai aku!" pekik Farah, menyilangkan kedua tangannya, berusaha menepis kera-kera berwajah menyeramkan yang hendak menyerangnya.


Semakin kera-kera itu mendekat, teriakan Farah terdengar melengking. Beruntung, hewan-hewan itu tak menyerang Farah dan hanya lewat saja. Namun, setelah beberapa detik hening, tanah yang dipijak Farah bergetar. Wanita itu semakin panik, tapi kakinya tak bisa digerakkan sama sekali.


Dari balik kabut, terlihat bayangan seekor kera berukuran raksasa. Suara tawanya begitu nyaring, membuat sekujur tubuh Farah melemas. Kera itu berjalan perlahan ke arahnya dan wujudnya terlihat semakin jelas. Ia tidak lain adalah kera besar berbulu hitam lebat yang diceburkan oleh Sukma tadi pagi.


Mata Farah membelalak ketika wajah kera itu mendekat ke arahnya, terlebih saat mulutnya yang lebar menunjukkan taring panjangnya. Pelan-pelan ia beringsut mundur, menghindari tatapan kera itu.


"Sekarang kau tidak bisa ke mana-mana, Farah. Kau adalah tumbal untukku," kata kera raksasa itu.


"T-tumbal?! T-tidak ... aku b-bukan ... b-bukan tumbalmu," kata Farah gemetar hebat.


"Tidak, tidak. Kau tumbalku. Sekarang ikutlah aku! Kau akan kujadikan budak di alamku," ujar si kera, lalu terbahak-bahak.


"Tidak! Aku tidak mau ikut kamu! Siapa yang sudah menumbalkan aku? Jawab!" jerit Farah, suaranya terdengar sedikit tercekat.


"Teman dekatmu."


Farah tercengang mendengar jawaban kera itu.


"Sekarang ikutlah denganku," kata si kera sambil hendak menangkap Farah dengan tangannya yang besar.


Farah berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Namun, ketakutannya telah melemahkan sekujur tubuhnya yang gemetar. Ia hanya bisa beringsut mundur demi menghindari cengkeraman kera itu.


Ketika si kera hendak menangkap Farah, tiba-tiba ia menjerit kesakitan saat merasakan ada seseorang yang memegangi ekornya. Kera itu berdiri, lalu membalikkan badannya. Tampak seorang anak perempuan bertanduk sedang berdiri memainkan ekor kera itu sambil terbahak-bahak.


"Hei! Hentikan memainkan ekorku, Anak Kecil!" bentak kera itu.


Anak perempuan bertanduk itu tidak menghiraukan si kera. Ia justru berlari pada Farah sambil menarik ekor kera raksasa itu.


"Cepat pergi, Tante! Aku mau main sama monyet ini!" suruh gadis kecil itu. Kedua mata merahnya membesar, membuat Farah semakin ketakutan.


Sejak kedatangan gadis kecil itu, Farah tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk berdiri. Secepatnya wanita itu berlari ke arah hutan paling terang. Semakin terang wilayah hutan itu, Farah semakin bahagia sampai terbangun dari tidurnya.


Ketika kedua mata Farah terbuka, ia mendapati Sukma sedang berlari-lari di kamarnya. Gadis kecil itu tampak kegirangan, lalu keluar dari kamar Farah. Ketika kesadaran wanita itu terkumpul penuh, ia lanjut berjalan menyusul Sukma. Bagaimanapun juga, ia tak suka jika anak pembantunya masuk ke kamar tanpa izin.


Di halaman belakang rumah Hilman, Sukma sedang asyik berlarian, menantang dirinya untuk menaklukkan kera yang dijadikannya mainan sejak pagi. Kali ini, kekuatannya tak terlalu besar setelah rambutnya dipotong. Ia tampak kewalahan mengendalikan gerakan si kera yang melompat ke sana kemari dengan lincah.


"Ih, kenapa kamu nggak bisa diem, sih? Ayo ikut aku! Aku belum selesai mandiin kamu. Kamu belum aku pakein sampo sama sabun," kata Sukma memegangi ekor si kera keras-keras.


"Tidaaak! Lepaskan aku, Bocah Ingusan!" teriak kera itu, terus melompat-lompat agar Sukma melepaskan ekornya.


"Nggak mau! Kamu ini nakal banget, sih. Belum aku mandiin, malah mau makan kepalanya Tante Farah. Kamu itu makannya pisang, bukan orang!"


Mendengar ucapan Sukma dari teras dapur, Farah terperangah dan membekap kedua mulutnya. Masih hangat di ingatannya tentang mimpi aneh yang dialaminya beberapa waktu lalu. Tentang kera raksasa, tentang gadis kecil bertanduk. Lambat laun, Farah mengerti dengan maksud Sukma menunjuk-nunjuk sambil mengatakan ada seekor monyet di punggungnya.


Dalam renungan Farah, Hilman dan Albi datang mengejutkannya. Farah terperanjat, lalu menoleh menatap suami dan putranya.


"Papa ngagetin aja," kata Farah membelalakkan mata.


"Kamu ngelamun aja, sih. Lagi mikirin apa?" tanya Hilman sambil terkikih-kikih.


"E-enggak, Pa. Aku cuma kepikiran sama mimpi tadi siang," jelas Farah. "Oya, gimana acara promosi mobilnya? Rame?"


"Ya, begitulah. Aku datang ke acara itu sebentar, terus ngajakin Albi main. Saking asyiknya, kita jadi lupa waktu deh."


"Oh." Farah mengangguk. "Kalau begitu, kita makan sekarang. Kalian pasti lapar."


"Aku nggak mau makan sama Mama," celetuk Albi.


"Loh, kenapa nggak mau?" tanya Hilman.


"Badan Mama bau banget. Yang ada bukan bikin kenyang, tapi mual," jelas Albi sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


"Ya udah, deh. Nanti Mama makan di kamar aja. Kamu sama Papa makan di ruang makan," usul Farah berusaha bersikap lemah lembut.


Albi mengangguk. Ia segera pergi ke ruang makan, sementara Farah dan Hilman pergi ke kamar. Keduanya masuk berbarengan, sampai Hilman tertegun sejenak ketika bau busuk menusuk ke hidungnya. Jelas, itu bukan bau yang ditimbulkan dari tubuh Farah, melainkan aroma yang berbeda.


"Farah, bau apa ini?" tanya Hilman.


"Aku nggak cium apa-apa kok, Pa."


Hilman terus berjalan. Dilihatnya sebuah rantang dua susun berisi nasi kuning dan lauk pauk. Pria itu melirik Farah, lalu mengerutkan dahi.


"Makanan dari siapa itu?"


"Oh, itu. Tadi Ratna datang ke sini bawa makanan. Katanya kasihan sama aku."


"Kok baunya nggak enak, ya?"


"Ah, masa, sih?"


Untuk membuktikannya, Hilman mengambil wadah berisi makanan itu, lalu menunjukkannya pada Farah. Baunya semakin kentara sampai-sampai Hilman terasa mual dibuatnya.


"Kenapa, Pa?"


"Ini makanan udah basi. Masih aja kamu mau makan yang beginian," gerutu Hilman, lalu berlari menuju dapur sambil memanggil Bu Inah.


Sementara itu, Farah masih tertegun pada sikap aneh Hilman. Ia bersumpah, saat mencicipi makanan itu, rasanya enak sekali. Namun, hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa makanan yang dimakan beberapa waktu lalu bisa cepat basi?


Di dapur, Bu Inah memenuhi panggilan Hilman. Diterimanya rantang berisi makanan pemberian Ratna. Sama seperti Hilman, Bu Inah tak tahan mencium bau tak sedap dari makanan itu.


"Bu, buang makanan ini secepatnya, sebelum baunya menyebar ke mana-mana," ujar Hilman.


Bu Inah mengangguk dan segera membawa makanan itu keluar. Sukma yang sedang asyik bermain bersama seekor kera kiriman dukunnya Ratna, tiba-tiba berlari menghampiri ibunya tatkala melihat rantang.


"Ibu! Mau dibawa ke mana rantang itu?" tanya Sukma menunjuk wadah berisi nasi kuning basi di tangan ibunya.


"Mau Ibu buang. Apa Dedek nggak cium bau dari makanan ini?"


Di tengah percakapan mereka, si kera mengendus bau dari rantang yang dibawa Bu Inah. Sukma pun menoleh pada kera itu dan menyadari bahwa binatang yang baru saja dipeliharanya menginginkan makanan pemberian Ratna.


"Iya," jawab si kera sambil mengangguk dan menjulurkan lidahnya.


Sukma mengambil rantang dari tangan Bu Inah, lalu pergi begitu saja tanpa pamit.


"Dedek! Mau dibawa ke mana rantang itu? Cepat kembalikan ke sini!" teriak Bu Inah.


"Dedek mau kasih makan monyet. Kasihan, monyetnya kelaparan."


Tak jauh dari teras belakang dapur, Sukma menumpahkan makanan yang tadi dibawanya itu. Si kera tampak kegirangan, lalu menyantap nasi kuning bersama lauknya dengan lahap. Sukma yang melihat kerakusan si kera bertepuk tangan dan tertawa.


"Nah, gitu dong. Makanan kamu itu yang kayak gini, bukan kepala Tante Farah," katanya dengan suara yang cempreng dan nyaring.


Sejenak, Bu Inah terhenyak mendengar ucapan putri bungsunya. Dilihatnya sang anak yang bejongkok di halaman belakang rumah sambil sesekali gerakan tangannya seperti sedang mengelus sesuatu di hadapannya. Bu Inah mengerutkan dahi, hati kecilnya mulai bertanya-tanya tentang kera uang dimaksud oleh si bungsu. Akan tetapi, sekali lagi wanita paruh baya itu menepis segala anggapan yang tak masuk di akalnya. Ia melenggang masuk ke dapur dan kembali melakukan tugasnya.


Di halaman belakang rumah Hilman, Sukma masih tersenyum melihat si kera makan dengan lahap. Menurutnya, hewan ini sudah takluk setelah diberi makan. Merasa penasaran dengan asal-usul si kera, Sukma mulai mengajaknya bercakap-cakap.


"Hei, Monyet. Nama kamu siapa? Kamu datang dari mana?"


"Wanara. Aku dari berasal dari gunung yang tempatnya jauh sekali dari sini," jawabnya sambil mengunyah makanan.


"Wanara? Wah ... nama yang bagus! Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya tempat tinggal kamu memang di gunung, ya?"


"Aku disuruh datang ke sini oleh Mbah Suro untuk mengambil nyawa perempuan bernama Farah sebagai tumbal."


"Oh. Ngapain dia nyuruh kamu ngambil nyawa Tante Farah?"


"Aku butuh seorang budak di kerajaanku, makanya mau ngambil nyawa si Farah itu."


"Begitu, ya. Tapi, kenapa harus ngambil nyawa Tante Farah? Apa Tante Farah nyebelin?"


Kera itu tidak lagi menjawab pertanyaan Sukma. Ia terlalu sibuk melahap makanannya.


Dari paviliun, Atikah menghampiri Sukma. Sejak tadi ia merasa heran dengan sikap adiknya yang tiba-tiba berlari begitu saja. Ketika berada di dekat sang adik, Atikah ikut berjongkok dan memperhatikan kelakuan Sukma.

__ADS_1


"Dedek lagi ngapain?" tanya Atikah menoleh pada Sukma.


"Ngasih makan monyet, Teh. Namanya Wanara."


"Ah, kamu ini ada-ada aja."


"Aku nggak mengada-ada, Teh. Mau lihat monyetnya kayak gimana?"


Atikah mengangguk.


"Oke. Sekarang Teteh tutup mata dulu, ya."


Atikah menurut. Sukma meletakkan kedua telapak tangannya di kelopak mata sang kakak sambil komat-kamit. Setelah selesai merapal mantra, gadis kecil itu menepuk kedua pundak Atikah dan menyuruhnya untuk membuka mata.


Perlahan-lahan, Atikah membuka kedua matanya. Mulanya, bayangan kera di hadapannya terlihat samar. Akan tetapi, semakin jelas penglihatannya, semakin jelas pula penampakan kera di matanya. Atikah terkesiap, lalu beringsut mundur dari tempatnya berjongkok.


"Ada apa, Teh?" tanya Sukma sambil menyengir.


"M-monyet ... m-monyetnya gede banget, Dek!"


"Sekarang Teteh percaya, kan? Dedek lagi ngasih makan monyet."


Selesai makan, Wanara mengusap sisa makanan di mulutnya, lalu menjilati jemarinya. Kepalanya terangkat, menatap Sukma dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa, ia juga menyengir pada Atikah, sebagai salam perkenalan.


Sontak, Atikah semakin ketakutan dibuatnya. Dengan gemetar, ia beranjak dari dekat sang adik. Bergegas ia berlari ke paviliun sambil berteriak sekencang mungkin, lalu masuk dan mengunci pintu. Akan tetapi, ia tak sepenuhnya tenang. Telinganya dapat mendengar sesuatu yang aneh, begitu pula matanya, melihat seorang wanita tua merangkak keluar dari kamarnya.


Napas Atikah semakin memburu. Ia memutuskan untuk berdiam di teras paviliun sampai orang tuanya datang untuk makan siang.


...****************...


Suasana temaram sangat kental terasa saat memasuki kediaman Mbah Suro. Rumahnya memanglah besar, tapi tidak semegah milik Hilman. Ketika menginjak ruang tamu pria berusia tujuh puluh tahun itu, bulu kuduk akan merinding seketika, merasakan hawa dingin menyeruak, menusuk tulang belulang.


Dengan tergesa-gesa, Ratna menemui Mbah Suro yang sedang duduk di kursi teras rumahnya sambil menyesap sebuah cangklong. Tanpa permisi, ia duduk di kursi sebelah pria tua itu, lalu langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Tentu saja, sikap Ranta membuat pria tua berpakaian serbahitam itu geram.


"Lancang sekali kamu duduk di sebelah saya tanpa mengucapkan salam!" bentak Mbah Suro dengan suaranya yang dalam dan berat.


"Ampun, Mbah. Saya sedang panik," kata Ratna tergugu-gugu.


Melihat kecemasan di wajah Ratna, Mbah Suro beranjak dari tempat duduknya. Selanjutnya pria tua itu mengajak Ratna masuk ke ruang tamu. Aroma kemenyan menusuk hidung Ratna dan membuatnya terbatuk-batuk.


Setelah mempesilakan kliennya duduk, Mbah Suro mulai membuka pembicaraan. "Ada perlu apa kamu datang ke sini?"


"Begini, Mbah. Tadi pagi saya sudah melaksanakan tugas yang Mbah perintahkan untuk menghabisi musuh saya," jelas Ratna.


"Lalu, ada masalah apa sampai kamu kelihatan takut begitu?"


"Jadi, di sana ada anak kecil. Namanya Sukma. Dia nanya sama saya, makanannya untuk Farah atau monyetnya. Saya takut, maksud saya mencelakai Farah diketahui oleh bocah itu."


"Hm, baiklah."


Mbah Suro menghela napas, lalu menutup kedua matanya sambil bersedekap. Dalam terawangannya, ia melihat kejadian yang dialami Ratna tadi pagi. Wujud anak kecil yang dimaksud Ratna, tidak lain merupakan gadis bertanduk dengan rambut panjang dan gimbal. Mbah Suro terkejut melihat jelmaan makhluk mengerikan yang dijumpai Ratna, hingga badannya bergidik.


"Ada apa, Mbah?"


Mbah Suro tak menjawab. Terawangannya tentang Sukma masih berlanjut. Ia melihat gadis kecil itu menarik ekor siluman kera sekutunya. Bukan itu saja, siluman kera itu tunduk di hadapan Sukma dan tak bisa melawan sama sekali.


Selesai menerawang, Mbah Suro mengembuskan napas dan membuka matanya. Dilihatnya Ratna dengan tajam, lalu menunduk lesu. Ratna yang merasa penasaran, mulai bertanya lagi.


"Kenapa, Mbah? Ada yang aneh sama anak itu?" tanya Ratna tak sabar.


"Dia bukan anak biasa. Pantas saja bisa melihat jin suruhan saya," kata Mbah Suro bernada datar.


"Apa?! Jadi, dia anak indigo?"


"Bukan itu saja. Dia anak iblis."


Tercenganglah Ratna mendengar ucapan dukun langganannya. Semakin panik, ia berpikir keras agar dendamnya tetap terlaksana.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"


Mbah Suro memandang jauh. Dari matanya terlihat sebuah kejadian mengerikan yang tak diharapkannya sama sekali. "Sepertinya akan sulit. Sangat sulit," gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2