
"Oh, jadi sekarang kamu berani sama saya? Ingat, saya ini majikan kamu! Sekali saja kamu macam-macam, saya nggak akan segan-segan memecat kamu dan suami kamu dari rumah ini. Biarin aja kamu jadi gelandangan lagi di luar sana, saya nggak rugi," cerocos Farah memelototi Bu Inah.
Wanita paruh baya itu seketika tertunduk lesu tatkala diingatkan kembali soal kedudukannya oleh Farah. Ia tak bisa berbuat banyak, selagi butuh uang untuk menyambung hidup dari keluarga Hilman. Ia kembali duduk di teras sambil mengusap mukanya.
Farah menyunggingkan senyum di sudut kiri bibirnya. Diambilnya ponsel dari saku celana, lalu menghubungi Hilman. Sambil berjalan kembali ke rumah utama, ia menyuruh Hilman untuk segera pulang. Sementara itu, Atikah yang masih merasa kesal dengan perlakuan Farah pada ibunya, berusaha untuk menghampiri wanita itu. Akan tetapi, langkahnya segera ditahan oleh genggaman Bu Inah.
"Sudahlah, Atikah. Nggak ada gunanya kamu nyusulin Bu Farah," bujuk Bu Inah, menarik tangan putrinya.
"Tapi, Bu. Tante Farah itu ngeselin banget! Seenaknya aja ngatain Dek Sukma anak gelandangan, terus nganggap pencarian adik aku ini lebay. Coba kalau A Albi yang hilang, pasti dia juga panik kayak kita," gerutu Atikah dengan wajah ditekuk.
"Terus, kamu nyamperin Bu Farah itu buat apa? Marah-marah lagi? Kamu pengin kalau Bapak sama Ibu sampai kehilangan pekerjaan?"
Atikah memandang wajah Bu Inah yang sendu. "Aku nggak mau Ibu sama Bapak kehilangan pekerjaan, tapi ... ah, aku nggak suka diginiin terus sama Tante Farah. Aku pengin cepet-cepet keluar dari sini. Aku pengin Bapak sama Ibu kaya, biar nggak dihina terus sama Tante Farah."
Dengan takzim, Bu Inah mengajak Atikah duduk bersamanya di teras. Dibelainya rambut putrinya itu, sambil mengembangkan senyum pahit di bibir. Matanya yang teduh menatap putri sulungnya.
"Dengar, Atikah. Kamu perlu bersabar dulu untuk itu. Bapak dan Ibu juga sama-sama sedang berusaha mengumpulkan uang untuk bisa bekerja di tempat lain, juga tetap membiayai pendidikanmu dan Dek Sukma. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi setidaknya dengan doa dan usaha, insya Allaj semuanya akan berubah. Allah tidak pernah tidur, Allah akan mendengar semua doa kita."
Tercenung Atikah mendengar penjelasan ibunya. Dicernanya baik-baik kata demi kata yang keluar dari mulut ibunya. Ia hanya perlu bersabar dan bersabar atas hinaan yang dilontarkan Farah. Gadis berusia sembilan tahun itu menghela napas dalam-dalam, lalu menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Sekarang, sebaiknya kita doakan agar Dek Sukma cepat pulang. Kamu sayang sama Dek Sukma, 'kan?"
"Iya, Bu. Aku sayang banget sama Dedek. Sebenarnya aku juga nggak suka diem-dieman terus sama Dek Sukma, tapi gara-gara boneka itu, kami jadi sering berantem."
"Seandainya dari awal Ibu menyadari boneka itu membawa hal buruk pada Dek Sukma, mungkin sudah Ibu buang."
__ADS_1
"Aku justru berharap boneka Susan dan Maurin nggak pernah datang ke dalam kehidupan kita. Gara-gara mereka, Dek Sukma jadi jauh dari kita dan sekarang ... ah, entah di mana Dedek berada."
Di tengah percakapan mereka, Pak Risman beserta sopir dan satpam rumah Hilman, muncul dari balik gerbang. Bu Inah dan Atikah begegas ke halaman depan rumah Hilman, menghampiri mereka. Dicarinya sosok gadis kecil di antara ketiga pria itu, tidak ada sama sekali.
Bu Inah menatap Pak Risman dengan penuh tanya. Matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar memegangi tangan sang suami. Dalam hati ia berharap, ketiga pria itu menemukan titik terang akan keberadaan Sukma.
"Pak, mana Dedek? Sudah ditemukan?"
Pak Risman menggeleng lesu.
"Jadi, Dedek nggak ada di perkomplekan ini?" tanya Atikah merasa cemas.
"Kami sudah mencarinya ke setiap rumah, nggak ada yang melihat Sukma," jelas si sopir dengan nada memelas.
Mendengar penjelasan satpam, Bu Inah menjadi geram. Baginya, mustahil jika sampai Sukma membenci keluarganya sendiri, apalagi pergi tanpa pamit. Wanita paruh baya itu memelototi si satpam sambil menunjuknya.
"Heh, Pak. Jaga omongan Bapak! Putri saya nggak akan ninggalin rumah gara-gara benci sama keluarga sendiri!" hardik Bu Inah.
"Tapi yang saya dengar memang begitu, Bu," ucap satpam membela diri.
"Sudahlah, Bu. Sekarang bukan saatnya marah-marah," bujuk Pak Risman menarik tubuh Bu Inah menjauhi satpam. "Sebaiknya kita pulang dan istirahat dulu. Besok kita cari Dedek lagi, ya."
"Bagaimana Ibu bisa istirahat malam ini kalau Dedek belum ditemukan? Hati Ibu masih tidak tenang," ucap Bu Inah bernada lesu.
"Istirahatlah dulu, Bu, biar ada tenaga buat mencari Dedek. Besok kita cari lagi sama-sama," kata Pak Risman menatap kedua mata Bu Inah yang sembap. Selanjutnya, ia menoleh pada dua pria yang telah membantunya mencari Sukma. "Oya, terima kasih, Bapak-bapak. Maaf, saya sudah merepotkan kalian mencari Sukma."
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa, Pak Risman. Justru saya merasa tergerak buat mencari Dek Sukma," kata supir, mengulas sedikit senyum di bibirnya.
Sebelum Pak Risman beserta anak dan istrinya melenggang ke paviliun, mobil Hilman masuk ke halaman rumah. Pak Risman dan Bu Inah berhenti sejenak, memandang Hilman keluar dari mobilnya. Pria itu tampak tergesa-gesa ingin bertemu dengan Pak Risman.
"Pak, Bu, apa Sukma sudah ketemu?" tanya Hilman.
Pak Risman menggeleng lemah. "Belum, Pak. Saya dan rekan-rekan sudah cari ke seluruh komplek, tapi belum ditemukan."
Hilman menghela napas panjang, kemudian menatap mata Pak Risman lekat-lekat. "Pak, tadi saya dapat petunjuk tentang keberadaan Sukma dari pedagang pinggir jalan."
Pak Risman dan Bu Inah tercengang mendengar perkataan Hilman. Secercah harapan rupanya datang bersama kedatangan sang majikan. Tidak sabar, Bu Inah menghampiri Hilman.
"Katakan, Pak. Di mana Dek Sukma? Apa dia baik-baik saja?" tanya Bu Inah gelisah.
"Untuk itu, saya belum tahu pasti. Tapi saya tadi ketemu sama pedagang pinggir jalan, dia kebetulan lihat anak segede Sukma magrib-magrib. Anak itu datang ke taman kanak-kanak yang ada di seberang warungnya. Dia duduk cukup lama sambil nangis."
"Kalau begitu, Dek Sukma ada di sekolahnya dong," cetus Pak Risman menyimpulkan.
"Entahlah, Pak. Setelah dia duduk cukup lama di depan sekolah TK, dia bicara sendirian terus pergi ke arah kuburan," jelas Hilman.
"K-kuburan?!" Bu Inah mengernyitkan kening. "Bagaimana ceritanya Dek Sukma bisa pergi ke arah kuburan? Dia sangat takut buat pergi ke sana. Tiap pagi saya antar dia ke sekolah, dia suka bersembunyi sambil bergidik."
"Saya juga nggak ngerti, Bu. Awalnya saya juga sulit percaya, tapi yang bilang begitu bukan cuma pedagang itu saja, salah satu pembelinya juga," tegas Hilman.
Pak Risman dan Bu Inah saling tatap. Atikah membekap mulut dengan kedua tangannya, seolah-olah tak percaya dengan sesuatu yang dilakukan adiknya. Menurutnya, mustahil jika adiknya itu pergi ke kuburan, apalagi saat senja tiba.
__ADS_1