SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kesurupan Massal


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Sukma datang lebih pagi, begitu juga dengan Giska. Keduanya bertemu di depan kelas 7A. Suasana pagi itu masih belum ramai dikunjungi banyak warga sekolah, hanya ada beberapa tukang sapu saja yang sedang bekerja.


"Sukma, katanya kamu mau jelasin sesuatu yang terjadi selama aku nggak sadar. Ayo ceritain! Aku udah nggak sabar, nih," ujar Giska.


"Malam itu aku nemuin badan kamu di ruang kelas paling ujung, yang deket gudang itu. Terus dua temen kamu ... siapa nama mereka?"


"Rena sama Dini."


"Nah, sebelum aku nemuin kamu pingsan, aku nggak sengaja ketemu sama Rena dan Dini lagi lari ke kelas kamu. Aku tanyain tentang keberadaan kamu, tapi mereka nggak jawab. Aku cariin deh kamu, terus ketemu. Kamu tahu, nggak apa yang kamu omongin pas aku bawa ke UKS?"


"Wah, aku bilang apa emangnya? Perasaan, aku nggak inget sama sekali pas kamu bawa aku ke UKS, bahkan aku nggak tahu kapan pulang ke rumah."


"Hm, berarti waktu badan kamu diisi sama dedemit, kamu udah nggak ada di deket dia. Pantesan selama di rumah kamu jerit-jerit sampai nyekik ibu kamu sendiri."


"Wah, beneran? Ya ampun! Aku beneran nggak tahu, loh, Sukma! Tapi kamu tahu dari siapa kalau aku udah nyekik ibu aku?"


"Kakak kamu yang cerita. Sebelum pergi manggil Pak Ustaz, dia bilang gitu ke aku."


"Ya ampun ... tapi aku nggak ngelakuin itu. Sumpah!"


"Iya, aku tahu. Makhluk yang masuk ke badan kamu itu dedemit di kelas, waktu aku peringatin kalian buat nggak main Jailangkung, loh. Udah aku duga, kok, dedemit itu ngincar salah satu dari kalian. Sialnya malah kamu yang kena," jelas Sukma. "Oya, selama kamu nggak berada di badan kamu, sebenarnya kamu habis dari mana aja?"


"Seingat aku, aku ditolongin sama nenek-nenek dari dalam sumur di belakang sekolah. Waktu aku jalan ke area sekolah, semuanya kelihatan aneh. Ada yang badannya nggak lengkap, banyak darah, bahkan ada juga yang sambil bawa-bawa kepalanya di tangan. Terus, aku lihat bu guru yang bunuh diri. Abis itu, aku malah ketemu kamu deh, Sukma. Kamu tahu, waktu itu kita lagi di mana?"


"Waktu itu kita lagi di dimensi lain. Kamu udah masuk ke alam gaib sekaligus kejadian masa lalu di sekolah ini. Gimana rasanya kamu masuk ke alam itu dengan main Jailangkung? Seru nggak?" tanya Sukma meledek.


"Idih! Seru apanya? Yang ada malah bingung sekaligus takut. Aku kapok main Jailangkung lagi."


"Baguslah kalau begitu. Seenggaknya kamu udah ngambil pelajaran dari kejadian dua hari lalu."

__ADS_1


"Maafin aku, ya, Sukma. Aku nggak dengerin kamu waktu itu."


"Iya, nggak apa-apa. Sekarang kamu tahu, kan, rasanya jadi aku kayak gimana."


Giska mengangguk sembari tersenyum simpul. Menyadari suasana sekolah semakin ramai, Giska berpamitan pada Sukma untuk pergi ke kelasnya. Sukma pun mengizinkannya. Tak lupa, ia memperingatkan Giska untuk terus menerus berzikir dan mengisi pikirannya dengan nama Tuhan, sebagaimana yang disarankan oleh Ustaz Ramlan.


Di dalam kelas 7G, tampak para siswa berdatangan menyimpan tasnya di kelas. Perempuan berbaju merah berdiri di salah satu sudut kelas, memperhatikan Giska yang baru saja masuk kelas. Perlahan-lahan ia mendekati gadis berambut pendek itu. Alih-alih dapat merasuki tubuhnya lagi, dedemit itu terpental cukup jauh.


Sementara itu, Giska menyapa Rena. Gadis berambut sebahu itu menceritakan pada Giska mengenai sikap Sukma yang mengadu pada kakak pembina setelah main Jailangkung. Sesekali ia bersikap sinis tatkala menyatakan ketidaksukaannya pada Sukma. Giska menanggapinya dengan santai, lalu mengatakan sesuatu yang dilakukan Sukma sudah benar. Ia juga menjelaskan, bahwa Sukma sudah membantunya kembali sadar dan memasuki raganya.


Pukul tujuh, semua siswa berkumpul di lapangan untuk melakukan upacara. Hari yang cukup terik membuat beberapa siswa kepanasan dan lemas. Perempuan berbaju merah mulai mengerahkan anak buahnya untuk masuk ke setiap kelas. Rencananya harus terlaksana selepas upacara bendera berakhir.


Benar saja, beberapa menit sebelum pelajaran dimulai, salah satu siswa kelas 8D mulai muntah-muntah dan menggeram. Tingkahnya seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Lalu, disusul dengan kejadian kesurupan di kelas 9. Salah satu siswi tiba-tiba terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak dengan suara yang melengking. Sementara itu di kelas 7G, perempuan berbaju merah mulai mendekati Dini. Dari banyaknya siswa di kelas, hanya gadis berkacamata itu yang sedang kosong pikirannya akibat dimarahi oleh orang tuanya dua hari lalu. Dengan mudah, dedemit yang semula merasuk tubuh Giska, mengambil alih raga Dini. Semua kelas mulai digegerkan oleh kejadian kesurupan para siswanya, dari kelas 7 sampai kelas 9.


Kejadian itu mulai muncul juga di kelas 7 A. Dua siswa laki-laki yang duduk di bangku paling pojok, merasakan mual dan muntah. Tak berselang lama, mereka pun menggeram, kemudian mencakar orang-orang yang berada di dekatnya. Siswa sekelas pun digegerkan oleh kelakuan dua murid yang bertingkah laku seperti harimau.


"Ini nggak bisa dibiarin, Wanara. Kita harus temuin dedemit yang nyari gara-gara itu," kata Sukma.


"Iya, Sukma. Aku pikir, dedemit itu sedang merasuk pada salah satu murid, lalu menyuruh teman-temannya untuk mengganggu manusia," kata Wanara.


"Sebaiknya kamu tangani dedemit-dedemit yang merasuk ke tubuh siswa lain. Aku mau nyari dulu si baju merah itu. Aku yakin, dia pasti ngerasukin salah satu temen Giska yang main Jailangkung."


"Baiklah."


Sukma bergegas menuju kelas Giska yang letaknya cukup jauh dari ruangannya belajar. Selama menyusuri koridor sekolah, hanya terdengar suara riuh orang-orang menjerit dan membacakan ayat suci Al-Qur'an dalam waktu yang bersamaan. Sekian jauh ia berlari, akhirnya sampai juga di kelas 7G.


Betapa terkejutnya Sukma tatkala mendapati lima siswa sedang kesurupan di sana, salah satunya Dini. Empat orang berguling-guling di lantai, ada pula yang menggeram di pojok kelas. Di sisi lain, Dini berdiri di atas meja sembari melepas kacamata dan melepas ikatan rambutnya. Ia memiliki rambut yang panjang, sehingga membuat dedemit di dalam tubuhnya merasa cocok dengan kepribadian Dini.


Giska dan Rena yang ketakutan, bergegas menghampiri Sukma di palang pintu. Giska tahu betul, bahwa teman masa kecilnya itu mampu mengatasi masalah semacam ini. Adapun Rena yang semula tak menyukai Sukma, mau tak mau harus berdiri di belakangnya untuk berlindung dari serangan siswa lain yang kesurupan.

__ADS_1


"Sukma, apa kamu tahu penyebab dari semua ini?" tanya Giska dengan suara gemetar.


"Ini semua karena ulah kalian bertiga yang main Jailangkung. Coba aja kalau waktu itu nurut sama aku, pasti nggak bakalan gini jadinya," gerutu Sukma.


"Aduh, maafin aku, ya, Sukma. Habisnya aku penasaran buat main begituan," ucap Rena menyesal.


"Udahlah, nggak ada gunanya kalian minta maaf sekarang. Kalian harus tanggung jawab kalau sampai dedemitnya minta dipulangkan dengan cara main Jailangkung lagi," ketus Sukma sembari mendengkus sebal.


Sukma kembali terfokus pada Dini yang sedang berdiri angkuh di atas meja sembari menepuk-nepuk dadanya. Sesekali wujudnya berubah-ubah menjadi dedemit berbaju merah yang melawan Wanara. Sukma menyarankan Rena dan Giska berdiam di luar, sedangkan dirinya masuk ke kelas menghadapi Dini yang sedang dirasuki.


"Turun kamu, Pengecut! Lawan aku sekarang juga!" teriak Sukma mendongak ke arah Dini.


"Sialan kau! Kenapa kamu selalu menggangguku, Bocah Setan?! Baiklah, ayo kita bertarung sekarang juga!" ucap Dini, lalu melompat dari atas meja.


Sukma berlari keluar ruangan kelas, lalu dikejar oleh Dini dari belakang. Ia berlari ke arah belakang sekolah, tempat dedemit berbaju merah itu bersarang. Dini merasa geram melihat lawannya justru berlari ke arah yang jauh dari lingkungan sekolah.


Sementara itu, Wanara berdiri di tengah lapangan sekolah, kemudian memukulkan kedua tangannya ke tanah. Makhluk-makhluk gaib yang merasuk ke tubuh para siswa, seketika merasakan getaran hebat. Pun dengan paranormal yang membantu memulihkan para siswa. Makhluk-makhluk gaib itu semakin kalap tatkala merasakan getaran kedua dari bumi. Mereka segera melepaskan diri dari tubuh para siswa dan berlari ke luar kelas.


Wanara dengan gesit menangkap mereka menggunakan tangannya yang membesar. Makhluk-makhluk gaib itu diraupnya dengan mudah, sampai suara riuh semua siswa benar-benar mereda. Ia membawa para dedemit ke belakang sekolah dan memasukkannya ke dalam sumur. Setelah tugas pertamanya selesai, ia berdiri di belakang Sukma yang sedang berhadapan dengan dedemit berbaju merah.


"Sukma, kamu pukul gadis itu sekeras mungkin sampai sebagian tubuh dedemitnya terlontar keluar. Aku akan membantu kamu untuk menarik si baju merah dari badan gadis itu," bisik Wanara.


Sukma mengangguk, kemudian pasang kuda-kuda. Dini menyerang Sukma dengan membabi buta, gerakan tangannya seperti akan mencakar. Pada serangan pertama, Sukma menghindar. Selanjutnya, gadis berkulit putih pucat itu memberikan serangan balik dengan cara menendang punggung Dini. Akan tetapi, sosok perempuan berbaju merah belum terlontar dari tubuh Dini sedikit pun.


Kali ini giliran Sukma yang menyerang lebih dulu. Ketika Dini mulai berbalik badan, ia langsung meninju wajahnya hingga lebam. Lagi-lagi, si dedemit merah belum keluar dari tubuh Dini. Wanara yang memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, tetap tenang dan mencari celah. Dini yang terlihat geram, berlari menghampiri Sukma dan mencakar lawannya tanpa ampun. Sukma tak mau menyerah. Ia menahan kedua tangan Dini, lalu balik menendangnya hingga tubuh lawan terpental. Untuk serangan selanjutnya, mulut Sukma mulai komat-kamit. Gadis itu melakukan serangan lebih cepat dengan meninju wajah Dini sambil membaca mantra. Dedemit berbaju merah itu seketika terpental keluar, lalu diseret oleh Wanara ke pinggir sumur.


"Sukma, cepat bawa teman kamu dari pergi sini! Aku akan menahannya selagi kamu pergi," ujar Wanara, mencekik perempuan berbaju merah.


Sukma segera memapah Dini yang masih terkulai lemah. Merasa waktunya sangat berharga, ia pun menggendong gadis berambut panjang itu. Secepatnya Sukma berlari menuju area sekolah, lalu membawa Dini ke ruang UKS.

__ADS_1


__ADS_2