
Firasat Sukma semakin memburuk saja ketika senja menjelang. Wanara yang memperhatikan gerak-gerik saudara Pak Risman sejak tadi, hanya bisa berdiam di satu pojok rumah. Kehadiran makhluk halus piaraan Emak, satu per satu muncul dari perabotan. Rumah yang sebenarnya terlihat sunyi, justru semrawut jika dilihat dari sudut pandang gaib. Makhluk-makhluk halus terlihat hilir mudik, berkeliaran di sekitar rumah.
Sukma ikut menyadari akan kehadiran berbagai makhluk halus di rumah itu dan tak mau melepaskan tangannya dari sang kakak. Pun dengan Atikah yang merasa tidak nyaman jika harus menginap di rumah Emak. Kedua bocah itu datang pada sang ayah yang baru selesai salat Asar di salah satu kamar. Bahkan, saking takutnya, Sukma menangis sesenggukan di depan ayahnya.
"Dek, kenapa Dedek nangis? Dijahilin sama Teteh?" tanya Pak Risman menyeka air mata Sukma.
"Ih, Bapak ini. Jangan suka nyalahin aku dong, Pak. Aku nggak ngapa-ngapain Dedek," bantah Atikah memberengut.
"Terus, kenapa Dedek nangis begini? Ada apa? Dedek mau jajan?" tanya Pak Risman mendudukkan Sukma di pahanya.
Sukma menggeleng cepat sambil mengusap pipinya. "Dedek nggak mau jajan, Pak. Dedek maunya pergi dari sini. Sejak di bus tadi, Dedek takut sama nenek-nenek itu. Pokoknya Dedek nggak mau nginep di sini, Pak. Nyari tempat lain aja."
"Loh, kok, gitu? Di sini rumah keluarga Dedek juga. Dedek nggak kesepian, kok. Ada Uwa, ada Bi Neneng, bahkan sepupu-sepupu Dedek juga bakalan nginep di sini," bujuk Pak Risman.
"Nggak mau, Pak. Mereka semua jahat. Mereka juga aneh-aneh. Wa Agus bawa harimau gede, tapi badan hewannya kayak orang. Wa Seto juga aneh, badannya banyak sisik kayak ular. Belum lagi Bi Neneng suka bawa-bawa buaya di rumah. Terus Nenek ... dia kayak bukan orang, Pak," rajuk Sukma mulai rewel.
"Itu cuma penglihatan imajinasi Dedek aja. Buktinya Bapak nggak lihat ibu sama saudara Bapak bawa hewan-hewan yang disebutin Dedek," kata Pak Risman.
Sukma menangis sekencang-kencangnya. Ia memukul badan Pak Risman, sampai Atikah ikut turun tangan menghentikan pukulan adiknya. Gadis kecil itu benar-benar rewel dan tak bisa diajak kompromi.
Mendengar tangisan Sukma begitu nyaring dari kamar, Bu Inah yang baru saja selesai wudhu, bergegas masuk menghampiri suami dan kedua putrinya. Ia benar-benar cemas jika Sukma mulai menangis seperti itu. Bu Inah pun segera menegur si bungsu tatkala mendapatinya memukuli Pak Risman.
"Dedek, nggak boleh pukul-pukul gitu sama Bapak. Jelek!" tegur Bu Inah.
Sukma berhenti memukuli ayahnya, lalu menghampiri Bu Inah. Ia memeluk ibunya dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Tentu saja, Bu Inah merasa heran oleh tingkah Sukma yang rewel kali ini.
"Bicara sama Ibu! Dedek mau apa? Kalau ada keinginan itu bilang, jangan sambil pukul-pukul segala," tegur Bu Inah berjongkok di hadapan Sukma sambil menyeka air mata putrinya.
"Tadi Dedek udah bilang sama Bapak, Dedek nggak mau nginep di sini, tapi Bapak ngeyel terus," kata Sukma sembari sesenggukan.
"Apa alasan Dedek sampai nggak mau nginep di sini segala? Bilang sama Ibu," tanya Bu Inah menatap kedua mata si bungsu lekat-lekat.
"Dedek nggak suka orang-orang di sini. Semuanya Aneh. Wa Agus dan Bi Neneng pada bawa hewan. Belum lagi Wa Seto sama Nenek kayak bukan orang. Pokoknya Dedek nggak mau nginep di sini. Ibu harus nyari tempat lain buat Dedek bobo," tutur Sukma merajuk, mukanya semakin cemberut.
"Dedek benar, Bu. Makin ke sini, Atikah juga ngerasa ada yang beda. Aku bener-bener nggak ngerasa nyaman tinggal di sini, Bu," keluh Atikah sambil mengusap-usap lehernya, merasakan bulu kuduknya merinding.
"Baiklah, nanti sehabis Ibu salat Asar, kita ke rumah abahnya Ibu," ucap Bu Inah mantap.
"Beneran, Bu?" tanya Sukma.
"Iya," jawab Bu Inah singkat.
"Loh, Bu. Kenapa mau ke rumah Abah? Apa Ibu nggak malu kalau nanti dicibir sama Emak dan saudara Bapak? Nanti mereka bilang yang enggak-enggak sama kita," ucap Pak Risman tak setuju.
"Lebih baik tinggal di rumah Abah dan menghindari omongan mereka, Pak. Apa Bapak nggak sadar, kalau perilaku mereka sama kita ini berbeda? Apa Bapak nggak ingat sama sikapnya Neneng? Sejak awal ketemu, Ibu pikir dia udah berubah. Eh, pas saudara-saudara Bapak yang lain datang, dia malah kayak ngejauhin kita," cerocos Bu Inah dengan suara lirih.
"Wajar lah, Bu, Neneng bersikap begitu. Keluarga Kang Agus dan Kang Seto itu kaya. Mereka lebih pantas dihargai," sanggah Pak Risman.
"Oh, jadi Bapak pikir kalau manusia itu hanya pantas dihargai lewat seberapa banyak harta bendanya aja, begitu? Memangnya kita nggak pantes dihargai, apa? Kita juga manusia, Pak, sama-sama saudara Neneng dan anak Emak. Orang-orang di luar sana juga ada yang menghargai kita karena punya sikap dan ucapan yang baik, bukan karena banyaknya harta. Lihat aja Pak Hilman sama Pak Haji, mereka tetap menghargai kita sekalipun punya harta berlimpah, padahal punya ikatan darah sama kita aja enggak," cerocos Bu Inah kesal.
Pak Risman tertegun mendengar ocehan istrinya. Ia berpikir, bahwa ada benarnya juga kata Bu Inah. Tak semua orang menilai manusia dari banyaknya harta, tapi perilaku dan ucapan pun dapat membuat diri sendiri dihargai.
"Udahlah, Pak. Pokoknya malam ini kita nginep di rumah Abah, Ibu kasihan sama anak-anak. Daripada mereka nginep di sini, tapi rewel terus, mending di rumah Abah aja. Seenggaknya kita nggak denger kata-kata pahit dari saudara Bapak pas anak-anak kita lagi rewel," ucap Bu Inah sembari mengenakan mukena.
Mendengar ibunya membela mereka, Atikah dan Sukma merasa senang. Kedua bocah itu berlari ke luar kamar sambil melompat kegirangan. Sukma berlari ke sudut rumah, menghampiri Wanara yang sedang duduk melihat makhluk-makhluk gaib berjalan ke luar.
__ADS_1
"Wanara, ada berita bagus!" kata Sukma dengan mata berbinar-binar.
"Ada berita apa?" tanya Wanara sambil berdiri.
"Malam ini kita nggak bakal nginep di sini. Jadi, kita aman!"
"Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Dari tadi aku khawatir, kamu dan keluarga akan menginap di sini," ucap Wanara.
"Iya, aku juga sebenarnya nggak mau nginep di sini, banyak orang aneh."
"Bukan itu saja, Sukma. Saudara-saudara ayahmu dan nenekmu telah merencanakan sesuatu. Mereka akan menangkapmu malam ini," jelas Wanara.
"Nangkap aku? Emangnya aku mau diapain?" tanya Sukma terperangah.
"Tadi samar-samar aku mendengar mereka mengobrol di dapur, katanya mau menguras kekuatan kamu buat ... buat apa, ya?" Wanara mencoba mengingat-ingat kembali sambil menggaruk kepala.
"Buat apa?" tanya Sukma semakin penasaran.
"Pokoknya masih ada kaitannya sama bapak kamu, deh. Soalnya tadi pendengaran jarak jauhku sempat terhalang oleh dedemit bawaan mereka."
Sukma bersikap lebih waspada setelah mendengar kabar dari Wanara. Ia memasukkan kera kesayangannya ke dalam botol kecilnya lagi. Khawatir kalau-kalau kehadiran Wanara dicurigai oleh uwa dan bibinya.
Tak lama kemudian, Bu Inah keluar dari kamar bersama Pak Risman sembari menggendong tas berisi pakaian. Dari arah dapur, Bi Neneng datang menghampiri Bu Inah dan Pak Risman yang hendak berpamitan untuk mampir ke rumah Abah. Bi Neneng memanggil Emak dan saudara-saudaranya di halaman belakang.
Selang beberapa menit, Bi Neneng dan Emak datang dari arah dapur. Tampak raut kecewa di wajah Emak tatkala melihat Bu Inah menggendong tas besar. Dengan sedih, ia berhadapan dengan putra dan menantunya.
"Kalian mau pada ke mana?" tanya Emak.
"Malam ini kami menginap di rumah abahnya Inah, Mak," jawab Pak Risman.
"Kenapa kalian nggak nginep di sini aja? Kamar-kamar masih kosong, kalau mau tidur di luar, kasurnya juga ada," ucap Bi Neneng.
"Oh, begitu. Kirain kalian emang nggak niat buat pulang kampung ke sini," celetuk Bi Neneng mendelik.
"Nggak kayak gitu, Neng. Saya sebenarnya pengin nginep di sini, tapi karena lihat anak-anak rewel, saya jadi nggak tega," sanggah Pak Risman.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Tapi besok kalian ke sini lagi, kan?" tanya Emak.
"Iya, pasti kami ke sini lagi," tegas Pak Risman.
"Kalau begitu, kami pergi dulu, Mak, Neng," pamit Bu Inah.
Bergegas keluarga Pak Risman meninggalkan kediaman Emak. Semakin jauh mereka berjalan, Sukma merasa aman. Desa tempat tinggal keluarga Bu Inah bersebelahan dengan desanya Emak. Maka tak perlu memakan waktu lama untuk segera tiba di kediaman Abah.
Sementara itu, Bi Neneng merasa kesal. Rencana yang dibuat bersama kakak-kakaknya rupanya tak berjalan dengan mulus. Jika saja keluarga Pak Risman menginap malam ini, mereka akan mengambil Sukma dengan mudah.
Cukup jauh keluarga Pak Risman berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah berukuran lebih kecil dari kediaman Emak dan pekarangannya pun tak begitu luas. Kendati demikian, Sukma merasa tentram berada di sana. Dengan semringah, Bu Inah mengetuk pintu sambil mengucap salam. Tak lama kemudian, terdengar suara seorang pria menyahut dari dalam.
Ketika pintu terbuka, tampak seorang pria seusia Hilman menyambut keluarga Pak Risman dengan wajah semringah. Dari belakang, muncul istrinya ikut menyambut kerabat yang sudah lama tak bertemu. Mereka tidak lain adalah adik Bu Inah, Wawan, bersama istrinya yang bernama Narti.
"Teteh?! Ini Teteh beneran pulang?" kata Mang Wawan, senyum lebar mengembang di bibirnya.
"Iya, ini Teteh," jawab Bu Inah dengan mata berkaca-kaca.
Mang Wawan langsung menyalami tangan Bu Inah, lalu memeluk kakaknya. Setelah itu, ia ikut menyalami Pak Risman dan memeluknya dengan penuh rasa haru. Pun dengan Bi Narti yang menyapa Bu Inah sangat ramah dan mencium pipi kanan-kiri kakak iparnya.
__ADS_1
Melihat perlakuan tulus nan ramah dari Mang Wawan, Atikah tak merasa canggung lagi mencium tangan pamannya. Pun dengan Sukma, yang ikut mencium tangan paman dan bibinya tanpa disuruh oleh kedua orang tuanya. Ia tidak lagi rewel, sebab suasana di keluarga Abag terasa berbanding terbalik dari kediaman Emak.
"Ayo, masuk, Teh! Abah pasti seneng lihat kalian pulang," ajak Mang Wawan dengan semangat, lalu menatap istrinya. "Neng, panggilin Abah ke sini. Pasti Abah udah nggak sabar ketemu sama Teteh."
"Iya, Kang."
Ketika keluarga Pak Risman masuk, seorang pria tua yang berjalan membungkuk, datang menghampiri anak dan menantunya. Setelan pakaian yang dikenakannya tak berubah dari dulu; kaus oblong, sarung, ditambah kopiah hitam di kepalanya. Meski kulitnya sudah keriput, wajahnya yang tampak bersih membuat Sukma sangat senang pada Abah. Dengan mendahului kedua orang tuanya, ia mencium tangan Abah sambil tersenyum lebar.
"Abah, Abah sehat?" tanya Sukma dengan polosnya.
Abah tertawa sambil mengelus rambut Sukma. "Alhamdulillah, Abah sehat, Dek." Selanjutnya, ia mengalihkan pandangan pada Bu Inah dan Pak Risman. "Ini putri bungsu kalian, ya? Manis sekali."
"Iya, Bah. Dia memang suka begitu kalau ketemu sama orang baru yang disukainya," ucap Bu Inah, lalu mencium tangan Abah. Disusul oleh Pak Risman dan Atikah selanjutnya.
"Begitu, ya. Syukurlah, Abah senang lihat rumah tangga kalian tetap utuh sampai akhirnya diberi momongan," ucap Abah. "Mari, silakan duduk."
Mereka pun duduk di tikar. Sukma benar-benar merasa damai berada di sana, meskipun ruangan rumah itu tak begitu luas. Adapun Abah yang tampak berseri-seri akan kedatangan keluarga putrinya, begitu bersemangat berbincang-bincang mengenai kehidupannya. Di usianya yang sudah tak lagi muda, Abah masih bersemangat menggarap sawah dan ladang. Terkadang, ia rindu pada Ambu, ibunya Bu Inah. Menurutnya, jika saja Ambu masih hidup, maka rasa letihnya setelah seharian menggarap sawah akan sangat terobati.
Sementara itu, Pak Risman juga menceritakan kemajuan dalam hidupnya saat ini. Sejak anak keduanya hadir, perekonomiannya berangsur membaik. Abah sangat lega, kehidupan anak dan menantunya lebih maju daripada sewaktu tinggal di desa. Kini Pak Risman tak lagi sakit-sakitan, juga Bu Inah yang sudah dikaruniai dua orang putri.
"Oya, apa kalian sudah berkunjung ke rumahnya Emak di desa sebelah?" tanya Abah ketika teringat pada guna-guna yang terus dikirimkan saudara dan ibu Pak Risman pada keluarga putrinya.
"Sudah, Bah. Alhamdulillah mereka baik-baik saja," jawab Bu Inah.
"Abah bukan mau menanyakan itu," tegas Abah, lalu menoleh pada Wawan yang duduk di sebelahanya. "Wan, ajak anak-anak ke dapur lihatin bibinya bikin kolak. Pasti mereka senang."
"Baik, Bah," ucap Mang Wawan sembari mengajak dua putri Pak Risman ke dapur. Atikah dan Sukma mengikuti sang paman dari belakang, meninggalkan kedua orang tuanya berbicara dengan Abah.
Setelah memastikan anak-anak sudah pergi, Abah menatap putri dan menantunya. Ia mengangguk takzim, seperti sedang memikirkan sesuatu dalam-dalam. Akhirnya, ia pun yakin dan mulai menanyakan hal yang dimaksud dari hatinya.
"Abah mau nanya apa soal keluarga saya?" tanya Pak Risman penasaran.
"Bagaimana perlakuan mereka sama kamu sekarang? Sudah ada perubahan?" Abah menatap kedua mata Pak Risman.
"Begitulah, Bah. Sekarang Neneng sudah bersikap ramah," jawab Pak Risman diselingi tawa kecil.
"Sebenarnya nggak ada yang berubah, Bah. Sikap mereka masih sama kayak dulu, bahkan sekarang cenderung merasa jijik sama kami karena miskin," kata Bu Inah memperjelas.
Abah menggeleng lemah. "Astaghfirullahaladziim. Sepuluh tahun berlalu, tapi mereka masih tetap saja begitu. Belum puas menguras harta warisan dan kesehatan Risman, sekarang malah bersikap seperti orang asing saja. Abah juga sebenarnya masih tidak terima anak Abah dipersulit untuk memiliki putra oleh mereka."
"Nggak apa-apa, kok, Bah. Kami ikhlas. Bagaimanapun juga, mereka tetap keluarga saya," kata Pak Risman menunduk lesu.
"Beruntung kamu punya hati yang bersih, Man. Kalau kamu sama-sama dengki, guna-guna mereka akan terus menyakiti kamu. Oya, apa kamu masih menjalani saran Abah?" tanya Abah.
"Masih, Bah. Salat Dhuha dan Tahajjud. Alhamdulillah, dari situ kehidupan kami berangsur membaik," jawab Pak Risman mengulas senyum, menatap Abah.
"Dan tidak terlalu percaya pada hal gaib dan sihir?" tanya Abah menelisik.
"Iya, Bah," jawab Pak Risman singkat.
"Tetaplah seperti itu. Mereka tidak akan bisa mengusik hidup kalian lagi. Selama percaya pada Allah saja, segala macam sihir tidak akan berani menyakiti kalian," kata Abah.
"Tapi, Bah, putri bungsu kami memiliki kemampuan semacam bisa melihat hal gaib. Bahkan saat bertarung melawan orang dewasa pun, dia punya kekuatan yang sangat besar. Apa kami harus tetap tidak percaya pada hal gaib, Bah? Dedek masih butuh perhatian lebih," ucap Bu Inah cemas.
"Tidak apa-apa, biarkan saja dia seperti itu. Selama kalian mengarahkan putri bungsu kalian ke jalan yang benar, dia akan menggunakan kelebihannya untuk hal-hal yang baik. Kalau dia mengatakan tentang hal gaib, iyakan saja. Sebab kalau dia mulai menentang kalian, akibatnya bisa fatal," jelas Abah.
__ADS_1
Pak Risman dan Bu Inah mengangguk. Saran Abah memang tak pernah salah. Selain menyuruh mereka untuk tidak terlalu percaya pada hal gaib, Abah juga dulu menyarankan sepasang suami istri itu untuk pergi merantau ke kota agar terhindar dari sihir keluarga Pak Risman.
Sementara itu di kediaman Emak, Bi Yati, anak keempat dari lima bersaudara, baru saja tiba menemui keluarga besarnya. Bersama anak dan suaminya, ia berjalan dengan pongah. Kehadirannya seketika menjadi angin segar bagi Emak dan saudara Pak Risman. Bi Yati selalu punya ide cemerlang dalam mengatur strategi mengirim guna-guna pada orang yang tidak disukainya.