SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Orang Tua Idaman


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak boneka Susan dibakar, Sukma enggan berbicara pada ayah dan kakaknya. Sikapnya cenderung lebih pemurung dari biasanya. Hatinya merasakan penyesalan yang amat besar pada Maurin. Sukma seperti kehilangan segala gairah untuk menjalani hidup.


Acap kali Bu Inah membujuk Sukma agar bersemangat seperti biasanya. Tak lupa, wanita paruh baya itu memenuhi janjinya untuk membelikan putri bungsunya boneka baru. Namun, gadis kecil itu tetap cemberut. Boneka baru itu bukan Susan, dan Sukma tidak suka.


Selepas Ashar, Sukma diantar oleh ibunya pergi mengaji ke mesjid. Di antara anak kecil seusianya yang asyik bermain dan berlari di area madrasah, maka Sukma-lah yang paling pemurung. Setibanya di bangku, ia hanya duduk bersedekap di meja, sambil memandangi anak-anak yang berlarian.


"Sukma, main kucing-kucingan, yuk!" ajak Giska menarik tangan Sukma.


"Nggak mau," kata Sukma menggeleng.


"Ayo, seru loh mainnya!"


"Kalau aku bilang nggak mau, ya nggak mau," bentak Sukma bersungut-sungut.


"Ih, kok kamu malah marahin aku, sih? Aku, 'kan, cuma ngajakin kamu main."


Tak mau masalahnya dengan Sukma berkepanjangan, Giska berlari menghampiri anak-anak lain. Sukma hanya mendelik sebentar, kemudian melamun lagi di mejanya. Wajahnya masih ditekuk, mulutnya mengerucut.


Setelah cukup lama, akhirnya Bu Rahma pun masuk ke madrasah. Seperti biasa, anak-anak mengawali pelajaran dengan membaca doa dilanjutkan menghafal surat-surat pendek. Sukma hanya terdiam sambil berkedip. Mulutnya yang biasanya komat-kamit mengikuti hafalan anak lain, kini benar-benar tertutup rapat.


Melihat sikap Sukma yang aneh, Bu Rahma merasa heran. Sebelum berpikir yang aneh-aneh, wanita berkacamata itu menengok ke arah tempat Sukma duduk.


"Sukma, kenapa kamu nggak ikutan baca surat-surat pendek seperti yang lain?"


"Nggak mau, Bu."


"Loh, kok nggak mau? Kita ke sini untuk belajar, Sukma."


"Aku mau belajar, tapi kesel."


"Kesel kenapa? Dijahilin sama Deden?"


Deden yang tidak terima dengan dugaan Bu Rahma pun menyahut, "Salah aku apa, Bu? Aku nggak ngapa-ngapain Sukma."

__ADS_1


"Aku nggak dijahilin sama Deden, Bu. Au ah, aku nggak mau ngaji."


Sukma menggendong tasnya, kemudian mencium tangan Bu Rahma sebelum pergi. Bu Rahma yang merasa heran, tak mau membiarkan muridnya pergi begitu saja. Ia merasa harus tahu penyebabnya. Sebelum Sukma keluar dari mesjid, Bu Rahma memegang tangannya.


"Sukma, ayo ceritakan sama Ibu. Ada masalah apa sebenarnya, sampai kamu mau pulang?"


"Aku benci sama Bapak, Ibu, bahkan Teh Atikah. Mereka semua nakal! Mereka membakar boneka Susan-ku," tutur Sukma dengan wajah cemberut.


"Sukma, mungkin mereka melakukan semua itu demi kebaikanmu. Mereka sebenarnya sayang sama kamu dan mau ngasih boneka baru yang lebih bagus, makanya ...."


"Ibu sama aja kayak mereka!"


Sukma berlari meninggalkan mesjid tempatnya mengaji. Tak sedikit pun niat dari hatinya untuk kembali ke paviliun tempat keluarganya tinggal. Hatinya sudah diliputi kebencian yang sangat pekat.


Sementara itu, Bu Rahma tak mampu mencegah kepergian Sukma. Murid-murid lain masih menunggu di madrasah untuk diajari. Ia meminta pada salah satu orang tua murid untuk mengejar Sukma. Akan tetapi, kecepatan Sukma berlari sulit untuk dikejar.


Sukma menangis tersedu-sedu sepanjang jalan. Ia bingung harus ke mana. Tempat-tempat yang ia hafal hanya sekitar kediaman Hilman, mesjid, dan sekolahnya. Gadis kecil itu memutuskan untuk ke sekolah saja. Mungkin dengan berada di sana, hatinya akan tenang.


Jarak antara mesjid dan sekolahnya cukup jauh, bahkan harus melewati area kuburan terlebih dahulu. Namun, itu bukanlah masalah besar bagi Sukma. Ke mana pun ia pergi, makhluk gaib memang selalu mengikutinya, dan Sukma tidak sadar akan hal itu karena kesedihannya yang mendalam.


"Eh, anak cantik kok nangis?" Suara lembut seorang wanita dewasa tiba-tiba membuat Sukma terhenyak.


Merasa penasaran, Sukma mendongak dan mendapati seorang wanita seumuran Farah sedang berdiri di hadapannya. Rambutnya panjang terurai, parasnya yang manis dengan bibir merah merekah semakin membuat penampilannya menarik. Ia memakai kaus putih yang dibalut blazer berwarna pastel dengan setelan rok span selutut. Wanita itu bersimpuh di hadapan Sukma, sehingga membuat gadis kecil itu sedikit ketakutan.


"T-Tante m-mau apa?" tanya Sukma sedikit beringsut.


"Kamu nggak perlu takut, Sayang. Panggil saja aku Tante Farida. Tante kasihan lihat kamu nangis sendirian di sini."


"Terus kalau aku nangis, mau Tante temenin, gitu?"


"Bukan cuma temenin kamu, tapi Tante akan penuhi semua kemauan kamu."


Kedua mata Sukma seketika membesar mendengar ucapan Farida. "Beneran, Tante?"

__ADS_1


"Iya."


"Kalau begitu, Tante bisa balikin Susan, nggak? Aku sayang banget sama dia."


"Susan? Siapa dia? Adikmu?"


"Bukan. Susan itu boneka. Memang sudah lusuh, tapi berkat dia, aku punya teman baru."


"Begitu, ya. Kalau boneka lusuh, Tante punya yang kayak gitu."


"Beneran?!"


"Iya. Itu boneka lama Tante. Biarpun sudah lama, tapi tetap Tante simpan."


"Kalau begitu, aku boleh pinjam, ya?"


"Tentu saja," ucap Farida sambil mengangguk. "Sudah, jangan nangis lagi. Sekarang kita pergi ke rumah Tante, ya. Tante akan siapin makanan enak buat kamu."


Keduanya pergi meninggalkan taman kanak-kanak tempat Sukma menuntut ilmu. Mereka berjalan ke arah yang Sukma lalui sebelumnya. Farida memegang tangan gadis kecil itu. Akan tetapi, seketika wanita itu melepas tangan Sukma tatkala merasakan hawa panas menjalar ke sekujur tubuhnya. Sukma mengernyitkan kening, kemudian mendongak pada Farida.


"Ada apa, Tante? Kok tangan aku dilepas lagi?"


"E-Enggak apa-apa. Kita jalan beriringan saja, ya. Sebentar lagi akan sampai ke rumah Tante."


Dan benar saja, tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di rumah Farida. Rumah itu tidak begitu besar, tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Pekarangannya yang minimalis, ditumbuhi berbagai bunga dan tanaman hias. Sukma mengikuti Farida ke teras. Setelah pintu dibuka, Sukma dipersilakan masuk, lalu disusul Farida dari belakang.


Di kediaman Pak Risman, Atikah yang sudah siap pergi mengaji, menatap jam dinding. Ini sudah pukul enam kurang seperempat, dan sebentar lagi hampir magrib. Biasanya, Sukma akan pulang pukul lima lebih tiga puluh menit.


Melihat kecemasan di wajah Atikah, Bu Inah merasa heran. Ia duduk di sebelah putrinya.


"Bu, sebentar lagi magrib. Tapi, kenapa Dek Sukma belum pulang juga, ya?" tanya Atikah menoleh pada Bu Inah.


"Iya, ya. Apa perlu Ibu susul ke mesjid, ya?"

__ADS_1


"Nggak perlu, Bu. Aku berangkat sekarang, ya. Mudah-mudahan aja ketemu sama Dek Sukma."


__ADS_2