SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Sandekala


__ADS_3

Pak Beni semakin gugup dan tersudut. Melihat Haji Gufron, Fadil, dan Sukma menatapnya dengan penuh curiga, pria berbadan gemuk itu bergegas kembali ke rumahnya yang tak jauh dari kontrakan. Haji Gufron melihatnya sampai wujud Pak Beni benar-benar lenyap dari pandangannya.


Bu Inah yang baru berhasil menggapai Sukma, segera memegangi tangan putri bungsunya itu. Wajahnya tampak geram melihat tingkah Sukma yang membuat Pak Beni menjadi gelagapan dan kabur.


"Dedek apa-apaan, sih? Dedek mau minta uang lagi sama bapak-bapak itu?" tanya Bu Inah dengan bersungut-sungut.


"Dedek nggak ngapa-ngapain Pak Beni, kok, Bu. Dianya aja yang kabur," jawab Sukma.


"Dedek, lain kali kalau--"


"Sudahlah, Bu. Jangan marahi Dek Sukma, dia nggak salah apa-apa, kok," potong Haji Gufron membela Sukma. "Itu mah Pak Beni aja yang merasa malu gara-gara ada kami."


"Aduh, maaf ya, Pak Haji. Soalnya Dek Sukma suka kadang-kadang begini kalau ketemu orang baru," kata Bu Inah dengan sungkan.


"Iya, nggak apa-apa," ucap Haji Gufron disertai tawa kecil. "Namanya juga anak-anak, Bu. Wajar usil-usil sedikit mah."


"Tapi Dedek nggak minta uang sama Pak Beni, kok. Sumpah! Dedek cuma nanya 'tumben nggak sambil bawa dedemit', gitu doang," kata Sukma menegaskan.


"Itu tetap aja nggak sopan, Dek," tegur Bu Inah.


Sukma tertunduk lesu. Ia kemudian berjalan dengan gontai untuk beristirahat di rumahnya. Akan tetapi, Fadil segera menahannya. Pemuda itu memegang kedua bahu Sukma, lalu berjongkok di hadapannya.


"Jadi, Dedek suka lihat Pak Beni bawa dedemit, ya?" tanya Fadil sembari menatap kedua mata Sukma lekat-lekat sambil tersenyum simpul.


Sukma mengangguk lemah dengan muka masih cemberut. "Iya. Dedek kemarin juga lihat, Pak Beni lagi gendong nenek-nenek. Terus, nenek-nenek itu diturunin di sini pas Pak Haji lagi ngobrol sama penghuni baru kontrakan."


"Terus, Dedek lihat apa lagi? Apa cuma nenek-nenek aja?" tanya Fadil semakin serius.


"Iya, kemarin Dedek cuma lihat nenek-nenek doang. Dia ngikutin tante yang lagi hamil sambil jilat-jilatin perutnya," tutur Sukma, matanya berkedip-kedip dan nada bicaranya tak kalah serius dengan Fadil.


Terperangahlah Fadil mendengar penuturan Sukma. Pemuda itu tertegun sejenak, menyadari bahwa dugaannya mengenai kegugurannya Citra memang berkaitan dengan makhluk halus. Masih teringat jelas di dalam pikirannya saat Lukman dan Citra membicarakan tentang kehamilan anak pertama mereka. Perkembangan janinnya bagus, bahkan ketika di-USG dua hari yang lalu, tidak ditemukan masalah sedikit pun.


"Bukan itu saja yang Dedek lihat, A Fadil. Malamnya saat tante itu pergi ke rumah sakit, Dedek lihat tangan sama mulut nenek-nenek itu banyak darah," kata Sukma sembari membesarkan matanya.


"Beneran, Dek? Dedek lihat itu juga?" tanya Fadil terhenyak.


Sukma mengangguk pasti. Fadil pun berdiri, lalu menatap ayahnya sambil mengangguk. Haji Gufron yang sejak tadi mendengar penuturan Sukma, semakin yakin bahwa Pak Beni-lah pelakunya.


Sementara itu, Bu Inah bergeming memperhatikan gerak-gerik tiga orang di hadapannya. Ia beepikir, bahwa Haji Gufron dan Fadil memercayai ucapan Sukma. Kali ini, wanita paruh baya itu tak berniat untuk mengelak ucapan Sukma. Mungkin Haji Gufron dan Fadil sangat membutuhkan informasi itu, pikirnya.


Sebelum meninggalkan kontrakan, Fadil memberikan selembar uang sepuluh ribu pada Sukma. Wajah cemberut gadis kecil itu berubah menjadi berseri-seri tatkala menerima pemberian dari Fadil. Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih pada pemuda itu.


Bu Inah masih saja merasa sungkan pada Fadil dan Pak Haji Gufon. Ia meminta maaf sebanyak-banyaknya jika ucapan Sukma melantur. Akan tetapi, Haji Gufron berusaha memberi pengertian pada Bu Inah agar tak selalu menampik perkataan Sukma. Sebab, bagi Haji Gufron, kehadiran putri bungsu Bu Inah merupakan pembawa berkah. Tak lupa, pria itu meminta agar Bu Inah menyayangi putrinya dan tidak membentaknya.


Selepas Haji Gufron dan Fadil pergi, Sukma dituntun oleh ibunya ke kontrakan. Ketika hendak masuk ke rumah, Sukma tiba-tiba menjerit di ambang pintu, melihat sosok wanita tua pemakan janin mengejutkannya dari bawah ventilasi. Bu Inah yang baru saja masuk ke kontrakan, segera menoleh pada Sukma.


"Ada apa, Dek? Ayo masuk!" ujar Bu Inah.

__ADS_1


"N-nenek ... n-nenek itu ada di sini, Bu. Dedek nggak mau masuk!" pekik Sukma, sembari terpaku memandangi wanita tua yang menyeringai ke arahnya.


Gadis kecil itu berlari ke gedung kontrakan lain sambil memanggil-manggil Wanara. Namun, kera itu tak muncul juga. Sukma pun duduk di pojok area kontrakan lantai atas sambil sesekali menengok ke bawah. Terlihat Bu Inah muncul dari rumah kontrakannya, sedang memanggil Sukma dan melambaikan tangan.


Sementara itu di kediaman Pak Beni, tampak wanita dengan dandanan menor keluar dari kamar. Wajahnya yang sudah keriput dengan dandanan tebal, membuatnya terlihat seperti makhluk jadi-jadian. Ia tidak lain adalah Bu Lastri, istri Pak Beni yang terkenal cerewet dan congkak.


Di hadapan suaminya, Bu Lastri berkacak pinggang. Raut wajahnya tampak masam, menatap kegugupan yang ditunjukkan oleh Pak Beni. Bu Lastri menyuruhnya berdiri, kemudian mengajaknya pergi ke dapur.


"Gimana? Bapak udah berhasil naruh dedemitnya di kontrakan Pak Haji?" tanya Bu Lastri menatap tajam. "Awas aja kalau sampai ketahuan sama bocah itu lagi."


"Justru itu, Bu. Tadinya Bapak mau naruh dedemit sebanyak-banyaknya di sana, tapi nasib mujur nggak berpihak sama kita," kata Pak Beni tergugu-gugu.


"Apa maksudnya nasib mujur nggak berpihak sama kita? Bapak ketahuan lagi sama anak itu?"


"Bukan itu aja, Bu. Haji Gufron juga. Anak itu bilang sama Bapak, 'tumben nggak bawa dedemit lagi' gitu. Bapak kira nggak ada Pak Haji. Eh ... malah ketangkap basah."


Bu Lastri menepuk jidat, lalu mendorong Pak Beni dengan kasar. "Bapak ini gimana, sih? Ngerjain tugas yang gampang aja nggak becus! Bapak tahu, kan, akibatnya kalau sampai mereka tahu kita pelakunya? Bisa-bisa nama baik kita hancur, bahkan kontrakan kita nggak bakal ada penghuninya."


"Terus, Bapak harus gimana? Bapak udah berusaha menaruh dedemit itu dengan diam-diam."


Bu Lastri terdiam sebentar hingga sebuah ide muncul dari kepalanya. "Begini saja, kita minta saran lagi sama Ki Purnomo. Kalau bisa, bawa lagi persyaratan buat bungkusan yang ditanam di kontrakannya Haji Gufron. Siapa tahu dibutuhkan juga."


"Benar juga. Nanti akan Bapak cari dulu persyaratannya. Ibu ini memang cerdas!" Pak Beni mengacungkan jempol pada istrinya.


"Dan, Bapak dari dulu nggak pernah bisa mikir! Ibu aja terus yang mikir dan berusaha. Kalau bukan karena Ki Purnomo, yang ada Ibu bakalan terus-terusan kerja di pabrik sampai modar, sedangkan Bapak enak-enakan tidur di rumah. Dasar laki-laki nggak guna!"


Selesai mengolok-olok suaminya, Bu Lastri pergi ke warungnya. Pak Beni yang berusaha berbesar hati, tak mampu membantah perkataan pedas istrinya, mengingat sadar diri akan kekurangannya selama ini. Ia mengikuti istrinya dari belakang, lalu mengambil barang dagangan dan menatanya di etalase.


Seiring matahari tenggelam, semburat merah memanjang di cakrawala. Biasanya, para dedemit akan bertambah kekuatannya kala senja tiba. Pun dengan wanita tua yang mengincar Sukma, kekuatannya bertambah sepuluh kali lipat setelah memakan janin mangsanya. Cara berjalannya yang semula merangkak, akhirnya dapat berdiri tegak seperti manusia pada umumnya.


Sukma yang memperhatikan wanita tua itu, duduk meringkuk di sudut ruang utama kontrakan setelah Atikah pergi mengaji. Matanya masih memandang waspada, meski sesekali melirik ke dapur dan berharap ibunya datang. Ia berusaha beringsut dari tempat duduknya, tanpa melepaskan pandangan pada wanita tua itu.


Merasa tak sabar ingin membawa Sukma ke alamnya, wanita tua itu perlahan-lahan berjalan ke pojok ruang utama kontrakan. Sukma terkesiap, lalu berlari ke luar sambil menjerit. Bu Inah yang sedang mengemas barang dagangan, terkejut mendengar jeritan Sukma yang semakin menjauh.


Maka bergegaslah Bu Inah ke luar, mendapati Sukma yang menaiki tangga menuju lantai atas. Sukma yang sudah berada di gedung seberang, masih menengok ke kontrakan tempat tinggalnya. Kendati banyak sekali makhluk halus hilir mudik di area kontrakan kala senja tiba, Sukma tak peduli. Ia hanya ingin menjauh dari wanita tua yang menurutnya sangat mengerikan sejak dulu.


"Dedek! Sedang apa di sana? Ayo turun!" seru Bu Inah dari bawah.


"Nggak mau, Bu. Nenek itu ada di dalam," sahut Sukma.


"Nggak ada nenek-nenek di sini. Cuma ada Bapak sama Ibu," teriak Bu Inah.


"Enggak! Nenek-nenek itu ada di dalam."


Tak lama kemudian, makhluk yang dibicarakan keluar dari kontrakan. Wanita tua itu berjalan dengan cepat, lalu meniti tangga satu per satu. Sukma terpojok. Ia mengedarkan pandangannya, memanggil-manggil Wanara. Namun, nyatanya kera itu tak kunjung datang meski dipanggil beberapa kali sejak pagi.


Di tengah ketakutannya, lamat-lamat terdengar bisikan dari dalam dada Sukma. Suaranya seperti pria, terdengar dalam dan berat. Ia menyuruh gadis kecil itu untuk berdiri tegap, menyingkirkan ketakutannya. Sukma menurutinya, kemudian bangkit sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


Ketika wanita tua itu mendekat, Sukma berdiri tegap seakan-akan siap menghadapinya dan mengalahkan rasa takut di dalam benaknya. Wanita tua itu mengulurkan tangan ke arah leher Sukma, mencoba untuk mencekiknya. Sementara itu, bisikan pria di dalam dada Sukma masih terdengar. Suara pria itu menyuruh Sukma untuk memegang tangan si wanita tua dan menjambak rambutnya. Ia juga mengatakan, bahwa kelemahan wanita tua itu berada di rambutnya.


Sukma pun menuruti bisikan dari dadanya. Ia mencengkeram tangan si wanita tua erat-erat sampai menjerit kesakitan. Selanjutnya, gadis kecil itu memelintir tangannya dan menjambak rambut putihnya. Aliran darahnya kian mengalir deras tatkala menyerap energi si wanita tua itu. Ia merasa mendapatkan tenaga berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.


"Ampuuun! Lepaskan aku!" pekik wanita tua itu memegangi rambutnya.


Sukma bergeming. Aura yang berasal dari tubuh wanita tua itu mengalir deras ke tubuhnya. Kian lama Sukma menjambak rambutnya, kian banyak pula kekuatan masuk ke tubuhnya.


Seketika, makhluk-makhluk gaib yang menyaksikan wujud asli Sukma, terperangaj melihatnya. Beberapa di antara mereka tampak terkesima, sedangkan yang lainnya justru gemetar, terutama makhluk-makhluk gaib kiriman Pak Beni. Mereka berlari tnggang langgang keluar kontrakan, takut kalau-kalau Sukma melakukan hal yang lebih mengerikan.


Lambat laun, tenaga wanita tua itu terkuras habis. Sekujur tubuhnya melemas, hingga akhirnya terkapar di lantai. Untuk memastikan makhluk itu masih hidup atau tidak, Sukma berdiri di sampingnya. Tampak wanita tua itu lemah tak berdaya dan memohon ampun pada Sukma.


Kendati demikian, Sukma tak memiliki belas kasih lagi pada wanita tua yang semalam memakan janin tetangganya itu. Ia menginjak wanita tua itu sampai tak bernapas lagi. Setelah yakin si pemakan janin tewas, Sukma melemparnya ke bawah dan wujudnya lenyap seketika. Bersamaan dengan itu pula, keberaniannya semakin bertambah.


Bu Inah dan Pak Risman yang memperhatikan tingkah aneh Sukma, segera berlari menghampiri putri bungsunya ke lantai atas. Bu Inah memegangi badan Sukma dan menyentuh kedua pipinya. Gadis kecil itu masih memandang kosong, meski kedua orang tuanya bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi.


Melihat Sukma yang masih bergeming, Pak Risman menggendongnya turun ke kontrakannya. Gadis kecil itu masih memandang kosong tanpa berkedip sedikit pun. Bu Inah yang memperhatikan putri bungsunya, merasa khawatir dengan keadaannya. Ia teringat kembali pada mimpi buruk, tentang ayah kandung Sukma yang tak akan membiarkannya berjalan di jalan lurus.


Setibanya di rumah kontrakan, azan Maghrib berkumandang. Sukma yang sejak tadi terdiam kaku, mendadak terhenyak dan memandang ke sekelilingnya. Ditatapnya Bu Inah yang sedang cemas, lalu mengayun-ayunkan tangan ibunya.


"Ibu, kenapa Dedek bisa ada di sini? Perasaan, tadi Dedek ada di lantai atas," kata Sukma dengan terheran-heran.


"Tadi Bapak gendong Dedek ke sini. Emangnya Dedek nggak inget?" tanya Pak Risman mengerutkan dahi.


Sukma menggeleng cepat. "Kapan Bapak ngegendong Dedek?"


"Tadi, waktu sebelum azan Maghrib," jawab Pak Risman.


Sukma masih termangu.


"Dek, kenapa tadi Dedek nggak jawab pertanyaan Bapak sama Ibu? Sebenarnya apa yang terjadi sampai Dedek gerakin badan kayak lagi berantem?" tanya Bu Inah.


"Oh, itu. Tadi Dedek habis ngelawan nenek-nenek itu, Bu. Dedek jambak rambutnya, terus nginjek badannya sekaliam biar nggak bangun lagi. Nah, habis nenek itu mati, Dedek lempar deh ke bawah. Eh ... nenek-neneknya malah ngilang," tutur Sukma dengan nada yang sangat serius.


Pak Risman menggeleng sambil tersenyum, lalu bergegas ke dapur. Sementara itu, Bu Inah berpikir bahwa kali ini Sukma tidak main-main. Ia membelai rambut Sukma, lalu mencoba menasihatinya.


"Dedek, membunuh itu tidak baik. Dedek masih ingat, tentang Teh Euis yang pernah Dedek ceritakan sama Ibu? Dedek nggak suka, kan, lihat pembunuh?"


Sukma menggeleng cepat.


"Makanya, kalau Dedek nggak suka atau takut sama seseorang, jangan sampai melukainya. Kasihan dia, masih ingin hidup. Lagi pula, kalau Dedek ketahuan membunuh, nanti ditangkap polisi terus dimasukin ke penjara, loh. Terus, nggak bisa kumpul lagi deh sama Bapak, Ibu, dan Teh Atikah. Dedek mau kayak gitu?"


"Enggak, Bu. Dedek, kan, baik. Suka pengin nolongin banyak orang. Tapi Dedek nggak mau bunuh orang yang nyebelin juga, Bu. Buktinya Tante Farah masih hidup."


"Nah, itu bagus. Sering-seringlah bantuin orang. Kalaupun ada orang yang nyakitin Dedek, jangan Dedek lawan sepenuhnya sampai nyawanya melayang. Kasihan."


"Tapi, Bu. Dedek cuma ngejambak rambut nenek-nenek itu doang, terus cahaya dari badannya pindah ke bdan Dedek. Nenek-nenek itu jadi lemes deh, nggak bisa lawan Dedek lagi. Kata bapak-bapak yang bisikin Dedek, Dedek udah melakukan hal yang benar sama muji-muji kalau Dedek ini hebat."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Sukma, seketika bulu kuduk Bu Inah meremang. Tak perlu berpikir lama, ia langsung bisa menebak pria yang membisiki Sukma sejak di lantai atas tadi. Segera, Bu Inah memeluk tubuh mungil Sukma, kemudian mengecup kepalanya.


"Lain kali jangan dengerin bisikan bapak-bapak itu lagi, ya. Dengerin Ibu aja."


__ADS_2