
Sukma terkesiap saat mendapati dirinya berada di sebuah hutan yang sunyi dan berkabut. Dalam ketakutan, ia memberanikan diri untuk meminta pertolongan. Perlahan-lahan, gadis kecil itu terbangun dan berdiri. Sesekali ia mengucek mata, seolah-olah tak memercayai bahwa dirinya berada di sebuah hutan yang sangat sunyi.
Tak mau berdiam diri, Sukma berjalan mencari jalan keluar. Disibaknya dedaunan yang menghalangi langkahnya. Akan tetapi, jarak pandangnya tetaplah pendek akibat kabut yang sangat tebal. Semakin ia jauh berjalan, semakin lebat hutan yang dilaluinya.
Cukup lama gadis kecil itu berjalan, hingga akhirnya menemukan sebuah area yang tak ditumbuhi pohon sedikit pun. Ia berpikir, jalan keluarnya sudah ketemu. Namun, kenyataannya ia masih berada di dalam bagian hutan yang tak ditumbuhi pepohonan. Sukma semakin ketakutan dan berteriak meminta pertolongan. Ia menebarkan pandangan ke segala arah sampai berhenti di satu titik.
Seorang wanita tua sedang duduk membelakangi Sukma di atas batang pohon yang tergeletak di tanah. Sukma mencoba mendekatinya. Beberapa kali ia bertanya tentang jati diri wanita tua itu, tapi tak didapatkan jawaban sama sekali.
"Berhenti di situ, Sukma! Jangan mendekat!" seru wanita tua itu.
Sukma mengenali suaranya dan langsung bertanya, "Nenek?! Tapi ... kenapa Dedek nggak boleh dekatin Nenek?"
"Karena kamu akan pergi jika melihat wajahku. Aku nggak mau kamu kembali ke alam manusia sebelum pesanku tersampaikan," jelas Emak.
Sukma tertegun. Ia pun menuruti perkataan Emak dan duduk tak terlalu jauh di belakang neneknya.
"Sukma, tolong jaga Risman baik-baik. Sampaikan permintaan maafku padanya. Aku benar-benar menyesal telah berbuat tidak adil pada putraku," ucap wanita tua itu.
"Baiklah, Nek. Dedek akan berusaha buat jagain Bapak," sahut Sukma.
"Satu lagi dan ingatlah baik-baik! Tolong gunakan kekuatan yang aku berikan itu dengan baik. Jangan sampai kamu salahgunakan untuk menciptakan ketakutan di hati semua orang! Aku benar-benar menyesal telah memiliki kekuatan itu. Tujuanku yang semula mulia, justru berubah di tengah jalan," tutur Emak.
"Emangnya apa tujuan mulia Nenek? Dedek kira, Nenek punya ilmu kayak gitu buat ngebunuh orang," ucap Sukma.
__ADS_1
"Dulu, aku ingin menaikkan derajat keluarga dan mendapatkan kewibawaan. Aku sangat ingin dihargai oleh banyak orang. Selain mendapatkan kekayaan, aku juga ingin membantu banyak orang untuk mendapatkan jalan rezekinya. Akan tetapi, setelah kekayaan telah aku miliki, aku justru melupakan tujuan mulia itu. Keangkuhan telah menggerogoti hidupku, bahkan aku enggan mendengar peringatan dari suamiku. Berkat kekuatan yang aku miliki ini, aku bisa mendengar orang-orang yang menggunjingku dari jarak jauh. Dari situ, aku bisa membunuh orang-orang tanpa perlu mengotori tanganku dengan darah mereka. Bukan itu saja, aku juga bisa memprediksi sesuatu yang akan terjadi sehari sebelumnya. Maka jangan heran jika kamu dapat merasakan kehadiranku sebelum datang ke Indramayu," jelas Emak.
"Astaga, Nenek!" Sukma terkejut dan membekap mulutnya. "Lalu, kenapa Nenek tega mencelakai Bapak? Apa Nenek nggak sayang sama Bapak?"
Emak menggeleng. "Justru dulu aku sangat menyayangi bapak kamu sama seperti anakku yang lain. Aku juga ingin mendidik bapak kamu agar sukses seperti saudara-saudaranya. Tapi, bapak kamu itu berbeda. Dia sangat dekat dengan bapaknya ketimbang saudaranya yang lain. Risman lebih suka mempelajari ilmu agama daripada ilmu sihir ataupun kanuragan. Ia benar-benar terpengaruh oleh ajaran bapaknya. Menurutnya, hidup ini hanya sementara, masih ada akhirat yang menanti setelah mencari bekal di dunia yang fana ini. Bapaknya juga berpikir begitu, bahwa harta tak akan dibawa mati. Hingga saat Risman beranjak remaja, bapaknya memasukkan putra ketigaku itu ke pesantren. Aku benar-benar geram. Aku tidak terima jika ada satu dari anakku yang berbeda pandangan. Maka dari itu, aku berusaha mengguna-guna suamiku, tapi berulang kali gagal. Iman suamiku sangat kuat, sampai hanya takdir Tuhan-lah yang mampu merenggut kehidupannya."
"Ya ampun, Nek! Kenapa Nenek sampai sekejam itu? Bapak dan Kakek sudah berada di jalan yang benar, tapi Nenek nggak mau ikut. Sebenarnya apa, sih, yang bikin Nenek sama saudara-saudara Bapak begitu?"
"Keserakahan, kekuasaan, dan pengakuan masyarakat. Kami tak terima jika harus diejek miskin terus menerus oleh warga desa. Hidup ini cuma sebentar, maka kebahagiaan harus dirasakan sampai benar-benar puas. Makanya, kami nggak suka jika ada orang yang berusaha memperingatkan kami untuk kembali ke jalan Tuhan. Asal kamu tahu saja, sebelum kedua orang tuamu merantau ke kota, kehidupan mereka terbilang berkecukupan. Risman memiliki kebun mangga dan pesawahan yang luas dari warisan bapaknya. Dia juga gencar mengajarkan kami tentang semua yang dipelajarinya dari pesantren, tapi kami tak peduli. Saking kesalnya pada Risman, Agus dan Seto mencuri sertifikat tanah yang diwariskan untuk adiknya, lalu menjualnya. Selain itu, Risman juga sering sakit-sakitan akibat sihir yang kami kirimkan, bahkan kami juga tak mau kalau sampai dia memiliki keturunan."
"Apa Nenek sadar, kalau Nenek udah banyak berbuat salah sama Ibu sama Bapak juga? Apa Nenek sama Uwa dan Bibi nggak pernah sedikit pun menyesal sekalipun Bapak udah berbuat baik sama kalian? Jauh-jauh Bapak datang ke sini buat ketemu kalian, tapi malah dikirimin dedemit," cerocos Sukma kesal.
"Ya, aku baru menyesal saat kamu datang ke tempat pemujaan kami. Risman benar-benar beruntung punya anak sepertimu, Sukma."
Sementara itu, di alam nyata, Bu Inah masih menangisi putrinya yang belum kunjung sadarkan diri. Sudah dua hari si bungsu tak makan, minum, ataupun buang air. Perubahan terjadi pada Sukma seiring ilmu dari Emak yang sudah beradaptasi dengan tubuhnya. Kulitnya berubah menjadi putih pucat, rambutnya tumbuh sangat cepat. Bu Inah sempat panik dan mengira bahwa putri bungsunya telah tiada, mengingat suhu tubuhnya kian menurun. Akan tetapi, kekhawatirannya cepat sirna setelah mengetahui jantung Sukma masih berdetak.
Dari luar rumah Abah, Ustaz Halim bergegas masuk bersama gurunya untuk menyembuhkan Sukma. Ketika mereka bertemu dengan pemilik rumah, kedua orang tua Sukma dan Atikah terkejut melihat kedatangan Kyai Soleh.
"Loh, kirain bukan putri kalian yang lagi nggak sadarkan diri?" ucap Kyai Soleh terbelalak.
"Kami kira juga bukan Pak Kyai gurunya Ustaz Halim," kata Pak Risman.
"Baiklah, ceritakan dengan rinci penyebab Dek Sukma bisa jadi begini. Bukankah sudah saya bilang, kalian harus menjaga anak ini baik-baik?" tutur Kyai Soleh.
__ADS_1
Bu Inah pun menceritakan kronologinya. Mulai dari guna-guna yang dikirimkan ke badan Pak Risman, sampai pertarungan sengit antara putri dan mertuanya. Kyai Soleh menggeleng lemah, lalu menyuruh Pak Risman dan Abah memanggil warga sebanyak empat puluh orang untuk membantunya.
Bergegas Abah dan Pak Risman memanggil satu per satu tetangga yang kebetulan sedang dalam waktu senggang. Tak lupa, mereka menyuruh para tetangga untuk membawa buku Yasin. Pak Risman dapat bernapas lega, para tetangga Abah tak keberatan untuk membantunya menyembuhkan si bungsu.
Berselang beberapa menit, satu per satu tetangga berdatangan ke rumah Abah. Mereka berpakaian rapi dan sopan. Tak lupa, buku Yasin dan Al-Qur'an kecil pun mereka bawa. Kyai Soleh mengembuskan napas lega, mengetahui Pak Risman tak kesulitan meminta bantuan warga sekitar.
Selanjutnya, doa dipimpin oleh Ustaz Halim. Para tetangga membacakan surah Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Nas, serta Ayat Kursi secara bersamaan. Sementara itu, Kyai Soleh membacakan doa sembari menempelkan tangannya di dahi Sukma. Pria itu memejamkan mata, mengerahkan kemampuannya dalam melacak keberadaan sukma dari gadis kecil itu. Dengan dibantu empat puluh orang yang membaca surah Yasin, Kyai Soleh mulai memasuki alam bawah sadar.
Sukma masih berhadapan dengan Emak. Wanita tua itu berdiri perlahan dari batang pohon, lalu berjalan ke arah hutan yang paling gelap. Sukma mengikutinya, tapi Emak tetap mencegah gadis kecil itu.
"Ini saatnya kamu kembali ke alam manusia. Katakan pada Risman, aku tidak akan masuk ke liang lahat sebelum diantarkan olehnya," kata Emak, lantas berjalan memasuki hutan tanpa menoleh pada Sukma sedikit pun.
Gadis kecil itu mengejarnya, tapi sosok Emak tiba-tiba menghilang begitu saja. Sukma mulai kebingungan, ke arah mana ia harus pergi selanjutnya. Ia berputar-putar di sisi paling terang dari hutan itu sembari mencari jalan yang tepat.
Tak lama kemudian, samar-samar terdengar suara gema pengajian orang-orang dari satu sisi hutan. Sukma dengan ragu-ragu menghampiri asal suara itu. Ia berjalan memasuki area hutan yang tak begitu lebat. Masih terlihat jalan setapak di depannya.
Berselang beberapa menit, muncul seekor harimau dari belakang Sukma. Ia berjalan ke depan gadis kecil itu tanpa ada niat untuk menerkamnya. Sukma yang ketakutan, berusaha tetap tenang dan menahan napas.
"Tak usah takut. Saya akan menunjukkan jalan keluarnya. Mari ikuti saya!" ujar harimau itu, kemudian berlari.
Tanpa berpikir panjang, Sukma mengikuti harimau itu pergi. Semakin jauh ia berlari, semakin lapang jalanan yang dilalui. Bukan hanya itu saja, suara orang-orang mengaji pun terdengar semakin nyaring di telinganya.
Berkat bantuan dari harimau itu, Sukma berhasil keluar dari hutan. Ia pun memasuki cahaya terang di hadapannya, mengikuti suara orang-orang yang mengaji. Setelah memasuki cahaya itu, kesadaran Sukma berangsur pulih. Perlahan-lahan, ia membuka mata dan terkejut melihat orang-orang sedang mengaji di dekatnya.
__ADS_1
Kyai Soleh melepaskan tangannya dari dahi Sukma setelah tahu bahwa gadis kecil itu sudah sadarkan diri. Pak Risman dan Bu Inah terharu melihat putrinya terbangun setelah dua hari lamanya. Mereka langsung memeluk Sukma dengan berlinang air mata.
Pada saat yang bersamaan pula, Emak mengembuskan napas terakhirnya. Suasana duka menyelimuti kediaman wanita tua itu. Keempat putra putrinya benar-benar tak kuasa menahan tangis saat mengetahui sang ibu telah tiada.