
Sukma menghela napas dalam-dalam, sembari mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Semua mata para makhluk mengerikan di sekitar rumah Mbah Kasiman tertuju padanya. Mereka hanya berani memandang, sebab mengetahui sosok lain dari gadis muda yang berjalan di belakang majikannya.
Mbah Kasiman terus mengembangkan senyum, mempersilakan Sukma duduk di ruang tamu. Perlakuannya kali ini sangat berbeda pada tamu khusus yang sudah lama ia tunggu. Biasanya, pria tua itu hanya menjamu tamu di gazebo saja. Jarang ada yang dipersilakan masuk ke dalam, kecuali jika ada klien yang akan melakukan ritual penting seperti ngipri. Di dalam rumahnya terdapat pula ruangan khusus klien untuk melakukan ritual tertentu. Sedangkan untuk bermeditasi, Mbah Kasiman memiliki area tersendiri di bawah tanah.
Sebelum Mbah Kasiman membuka obrolan, seorang asisten rumah tangga menyuguhkan makanan dan minuman di meja. Sukma terheran-heran dengan semua hidangan yang dipersembahkan untuknya. Pria tua itu terkekeh melihat raut wajah Sukma yang lugu.
"Silakan dinikmati makanannya, Neng," ujar Mbah Kasiman dengan ramah.
Seketika, Sukma merasa segan dengan sopan santun yang ditunjukkan oleh Mbah Kasiman. Sesekali ia mengingat perkataan Atikah untuk berbasa-basi dulu sebelum menyampaikan maksud tujuannya datang ke rumah orang lain.
"Nggak usah malu-malu. Saya menyuruh asisten rumah tangga buat menyajikan semua makanan ini khusus buat Eneng," ucap Mbah Kasiman membuka tutup toples berisi kue kering.
"Ah, nggak, Kek. Saya masih kenyang. Sebelum datang kemari, saya sudah sarapan," tutur Sukma dengan sungkan.
Mbah Kasiman mengangguk pelan, lalu tersenyum menatap Sukma. "Sepertinya Eneng punya maksud tertentu buat datang ke sini. Katakan saja, Eneng butuh apa dari saya."
Sukma terperangah mendengar ucapan Mbah Kasiman. Ternyata benar kata Wanara, pria tua itu selalu tahu lebih dulu maksud dari kedatangan setiap tamunya. Gadis itu menelan ludah, tenggorokannya terasa kering tatkala dihadapkan dengan pemilik ilmu hitam tertinggi yang sangat santun dan ramah.
"Kalau Eneng haus, diminum dulu airnya. Eneng pasti lelah sudah datang jauh-jauh kemari," ujar Mbah Kasiman dengan wajah ibanya.
"E-Enggak, Kek. Saya nggak haus," tolak Sukma dengan tergagap-gagap. Ia mengingat dengan baik pesan dari Wanara untuk tidak makan atau minum apa pun dari hidangan di rumah Mbah Kasiman jika bertemu.
"Oh, begitu. Sayang sekali, ya. Padahal saya udah siap-siap dari subuh nyuruh pembantu bikinin makanan-makanan enak buat Eneng. Soalnya Eneng satu-satunya tamu khusus yang saya tunggu sejak dulu," tutur Mbah Kasiman, menatap Sukma sambil menyeringai.
"Maksud Kakek apa? Saya tamu khusus Kakek?!" Sukma mulai bingung mendengar ucapan Mbah Kasiman. Awalnya ia menduga, bahwa pria tua itu akan menyerang lebih dulu karena mengetahui dirinya ingin membuat perhitungan atas penyakit yang diderita Pak Risman.
"Iya, Eneng itu satu-satunya tamu istimewa buat saya. Eneng senang, kan, datang ke sini?"
Sukma semakin tidak mengerti. Sembari menggeleng pelan, keningnya mengernyit. "Gimana saya bisa senang datang ke sini, Kek? Bapak saya kena penyakit aneh gara-gara teluh yang dikirim Kakek."
"Teluh?" Mbah Kasiman terkekeh. "Anggap saja itu sebagai undangan dari saya biar Eneng mau datang ke sini."
"Tapi itu nggak baik, Kek. Masih ada cara lain jika Kakek ingin mengundang saya kemari. Kakek bisa pakai orang suruhan yang dikirim buat mengungtit saya tempo hari," tukas Sukma mulai jengkel.
"Saya hanya ingin melakukan cara istimewa buat mengundang orang. Lagipula, saya senang jika ada orang yang datang kemari dengan perasaan dendam, dengki, dan putus asa. Akan saya layani dengan sangat baik," jelas Mbah Kasiman.
"Saya tidak butuh pelayanan Kakek. Saya ke sini cuma ingin membuat perhitungan sama Kakek. Saya nggak mau sampai bapak, ibu, ataupun Teh Atikah celaka," tutur Sukma sembari beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Membuat perhitungan sama saya? Jadi benar, Eneng ke sini cuma buat nantangin saya bertarung?" tanya Mbah Kasiman dengan seringai mengerikan.
"Ya. Saya harus musnahin biang keladinya biar nggak ngeganggu keluarga saya lagi," cerocos Sukma berapi-api
"Kamu yakin?" tanya Mbah Kasiman, ikut berdiri dari tempat duduknya.
Hawa dingin menyeruak ke dalam ruang tamu. Mbah Kasiman berdiri tegap, sembari tersenyum mengejek Sukma. Baginya, kemampuan bertarung gadis itu belumlah sebanding dengan berbagai jurus serta ilmu silat yang dimilikinya. Kendati demikian, Mbah Kasiman memang ingin bertarung satu lawan satu dengan anak iblis hasil dari ritual sesat yang pernah dilakukan kedua orang tua Sukma.
Adapun Sukma yang kesal dengan tatapan mengejek Mbah Kasiman, mulai gemetar tatkala melihat wujud lain dari pria tua itu. Sosoknya seperti raksasa berbadan hitam yang memiliki kepala mirip kerbau. Matanya merah menyala, seolah-olah siap membuat Sukma tumbang. Gadis itu menghela napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk bertarung melawan musuh pemilik ilmu hitam yang tinggi. Dengan pelan, Sukma mengangguk pasti. Ia yakin dapat mengalahkan Mbah Kasiman dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.
"Baiklah. Kalau Eneng mau melihat kemampuan saya, kita bertarung di pendopo," ujar Mbah Kasiman, sembari melangkah santai ke luar rumah.
Sukma mengikutinya dari belakang. Sesekali rasa waswas mengganggu keyakinannya. Namun, bagaimanapun pertarungan ini penting bagi Sukma. Keselamatan keluarga Pak Risman ada di tangannya. Masih teringat jelas oleh Sukma tentang perkataan Emak sebelum pergi ke alam baka. Wanita tua itu sempat memberikan amanat padanya untuk menjaga Pak Risman.
Pada saat yang bersamaan, Bu Inah merasakan firasat buruk akan menimpa Sukma. Pak Risman yang sedang membersihkan ikan lele pun tiba-tiba dihentikan oleh istrinya. Begitu pula dengan Atikah yang hendak pergi bermain bersama teman-temannya, mendadak dilarang pergi oleh sang ibu.
"Ibu kenapa, sih, ngedadak ngelarang aku pergi? Katanya kemarin aku boleh ikut ke Ciwidey," gerutu Atikah kesal.
"Ibu merasakan firasat buruk sama adikmu, Atikah. Sebaiknya kamu diam di rumah," ujar Bu Inah dengan wajah gelisah.
"Pergi ke Ciwidey bisa kapan-kapan lagi. Sebaiknya kamu diam di rumah," tegur Bu Inah bernada tegas.
Dengan lesu, Atikah kembali ke kamarnya. "Ibu ini nggak adil. Dedek diizinin pergi, sedangkan aku enggak. Emangnya Ibu tahu, Dedek mau pergi ke mana?"
"Tadi dia bilang mau menuntaskan rasa penasaran," ucap Bu Inah. "Ibu pikir dia mau ke rumah temennya buat main gim."
Atikah mendengkus. "Astaga, Ibuuu ... Dedek tuh mau pergi ke rumah orang yang ngirim guna-guna ke Bapak! Kenapa Ibu izinin Dedek pergi gitu aja?"
"Apa?!" Bu Inah terhenyak.
"Harusnya Ibu ngelarang Dedek pergi, bukan ngelarang aku."
Seketika rasa penyesalan mengendap di dada Bu Inah. Pikirannya kacau balau setelah mendengar pernyataan Atikah. Secepatnya, ia menghampiri Pak Risman yang baru saja selesai membersihkan ikan lele.
"Pak, gawat, Pak! Kita harus segera nyusul Dedek!" seru Bu Inah bernada panik.
"Nyusul Dedek ke mana? Ke rumahnya Giska?" tanya Pak Risman mengernyitkan kening.
__ADS_1
"Bukan, Pak. Kita harus susulin Dedek ke rumah dukun yang ngirim guna-guna sama Bapak," jawab Bu Inah dengan suara gemetar.
"Apa?!" Pak Risman terperangah. "Emangnya Dedek tahu rumah dukun itu? Orang suruhannya aja nggak ngasih tahu alamatnya secara jelas ke kita."
"Aduh! Gimana ini? Pokoknya kita harus cariin Dedek sekarang juga. Perasaan ibu nggak karuan mikirin keselamatan Dedek."
"Iya, Bapak tahu. Tapi kita harus nyariin Dedek ke mana? Alamat rumah dukun itu aja kita nggak tahu."
"Kita cari ke mana ajalah. Mudah-mudahan Allah ngasih petunjuk buat sampai ke rumah dukun itu," usul Bu Inah gelagapan.
"Oke. Bapak beresin dulu ikan lelenya. Nanti kita cari Dedek sama-sama," ucap Pak Risman dengan tenang. "Ibu masih ingat nama dukun yang dibilang sama orang suruhannya itu?"
Seketika Bu Inah termangu. Ia tak ingat satu pun nama yang disebut oleh pemuda suruhan Mbah Kasiman. Atikah yang mendengar percakapan kedua orang tuanya, segera memberi jawaban.
"Namanya Mbah Kasiman," celetuk Atikah.
"Mbah Kasiman." Pak Risman mengangguk. "Tapi kalau kita ke sana, nanti orang-orang nganggapnya kita ini mau tanya-tanya ke orang pinter, Bu."
"Pak, kita nggak perlu jujur-jujur amat kalau ditanya sama orang lain. Jawab aja kita pergi ada keperluan," ujar Bu Inah.
"Ah, Bapak benar-benar khawatir kalau sampai nanti ketemu sama salah satu pelanggan, terus nggak sengaja nanya-nanya Mbah Kasiman sama orang itu. Nanti kita kena fitnah lagi. Ibu mau kalau sampai itu terjadi lagi?"
"Bapak ini lebih mikirin dagangan, ya, daripada anak sendiri. Ayolah, Pak! Sekali ini saja. Demi keselamatan Dedek," bujuk Bu Inah.
"Kalau Bapak nggak mau berangkat nyariin Dedek. Biar Atikah aja yang nemenin Ibu," usul Atikah menyela.
"Enggak! Ibu nggak akan izinin Atikah buat nyariin Dedek. Atikah di rumah aja. Ibu nggak mau sampai dua anak Ibu pada celaka," tukas Bu Inah.
"Habis, gimana lagi, Bu? Bapak aja banyak alasan buat nggak nyariin Dedek," keluh Atikah.
"Iya, iya. Bapak bakal cariin Dedek." Pak Risman berajak sambil mengangkat baskom berisi ikan lele. "Sekarang Ibu ganti baju. Kita siap-siap buat pergi ke rumah Mbah Kasiman."
Akhirnya Bu Inah merasa sedikit lega, melihat kesediaan sang suami mencari si bungsu. Atikah tampak bosan jika harus menunggu di rumah. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya tersimpan penyesalan pada keengganannya mengantar sang adik. Seandainya tadi ia tak menolak permohonan Sukma, mungkin kedua orang tuanya tidak akan sepanik ini.
Sementara itu, Sukma dibawa ke pendopo tempat murid Mbah Kasiman berlatih silat. Hari ini padepokan silat pria tua itu sepi, sebab para murid berlatih silat pada malam hari. Sukma mengedarkan padangan ke sekelilingnya. Pendopo itu bukan hanya sebagai tempat berlatih silat saja, melainkan arena bertarung bagi dirinya dan Mbah Kasiman.
Para dedemit piaraan Mbah Kasiman berkumpul di tempat itu untuk menyaksikan majikannya bertarung. Sukma bergidik ngeri, melihat para penonton yang merupakan makhluk-makhluk gaib berupa menyeramkan. Namun, semua makhluk di sekeliling pendopo tak ada apa-apanya dibandingkan Mbah Kasiman.
__ADS_1