SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kembali ke Alam Manusia


__ADS_3

Tiga hari sudah Sukma dan ketiga siswa kelas delapan belum saja ditemukan. Bu Ratmi terus saja keluyuran di dalam hutan, mencari putrinya yang hilang. Pikirannya memang sangat kacau dan acak. Bahkan, tak jarang wanita gila itu meracau memanggil-manggil seseorang yang disebut "Abah" di dalam hutan.


Kian hari, kian jauh ke dalam gunung Bu Ratmi mencari sosok yang dipercayai dapat membantunya menemukan Sukma. Hingga pada akhirnya, ia mendapati sosok seorang pria tua sedang duduk bersila di sebuah batu dekat sungai. Tanpa ragu, Bu Ratmi bergegas menemui pria berpakaian serbaputih dengan sorban di kepalanya.


"Abah! Abaaah!" panggil Bu Ratmi tergopoh-gopoh.


Pria tua itu menoleh dan beranjak dari tempatnya semula duduk. "Ada apa kamu datang kemari?"


"Abah, bisakah membantu saya sekali ini saja? Bukankah Abah selalu menyelamatkan orang yang tersesat?" pinta Bu Ratmi dengan wajah memelas.


"Saya hanya bisa membantu menunjukkan jalan keluar, bukan menyelamatkan. Soal selamat atau tidak, itu kembali pada orang yang mau dibantu," kata pria tua itu sambil mengulas senyum tipis di bibirnya.


Tiba-tiba Bu Ratmi merasa canggung dan mali. Ingatannya terlempar kembali pada saat pertama kali ia hendak melakukan pesugihan di Gunung Ciremai. Pria tua itu datang dan memperingatkannya untuk kembali ke jalan yang diridhoi oleh Tuhan. Namun, saat itu Bu Ratmi benar-benar gelap mata, sampai tak menyadari peringatan dari pria tua yang dipanggilnya "Abah".


"Saya tidak butuh ceramah Abah. Saya butuh bantuan Abah. Saya mohon, sekali ini saja tolong anak saya untuk keluar dari hutan ini," pinta Bu Ratmi sedikit memaksa.


"Memangnya sejak kapan putrimu tersesat di hutan ini?" tanya pria tua itu.


Bu Ratmi menggeleng. Kewarasannya yang hilang membuatnya linglung akan waktu. Pria tua itu mengangguk pelan, mencoba memahami kekhawatiran seorang ibu yang putrinya tersesat di hutan.


"Baiklah. Saya harap, putrimu tidak keras kepala seperti kamu," ujar pria tua itu bergegas pergi.


Bu Ratmi bersyukur, pria tua itu mau membantunya. Bergegas ia mengikuti orang yang menolongnya dari belakang. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah, wanita itu telah kehilangan jejak "Abah" dalam sekejap. Bu Ratmi panik, lalu mencari-cari pria tua itu ke segala penjuru.


Sementara itu, kondisi Pak Risman sudah berangsur pulih. Sejak dirawat di rumah sakit, sebenarnya pria paruh baya itu sudah perlahan membaik, bahkan rasa pegal di sekujur tubuhnya hilang seketika. Namun, Bu Inah dan Atikah yang khawatir melihat tubuhnya lesu dan pucat, membuat Pak Risman harus dirawat inap. Setelah tiga hari menjalani pengobatan, akhirnya Pak Risman kembali segar bugar seperti biasa. Hari ini pun ia sudah diperbolehkan pulang.


Tentu saja, hal ini membuat Bu Inah bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya salah satu kekhawatirannya sudah teratasi. Segera ia pun berkemas untuk pulang, dibantu oleh Atikah.


Ketika melewati lobi rumah sakit, seorang pemuda tampan berusia satu tahun lebih tua dari Atikah datang menyapa keluarga Pak Risman. Pemuda itu sekonyong-konyong mencium tangan Bu Inah sembari tersenyum simpul. Awalnya Bu Inah merasa risih dengan sikap yang ditunjukkan oleh si pemuda, tapi beberapa saat kemudia ia mulai mengenali orang di depannya saat mencium tangan Pak Risman dan menyapa Atikah.


"Adek ini kalau nggak salah anaknya ...," ucap Bu Inah mulai menerka-nerka ingatannya.


"Ya Allah, Bu ... Masa Ibu lupa sama aku? Aku Albi, anak yang dulu pernah diasuh sama Ibu," jelas pemuda itu sambil terkekeh


"Oh, Albi. Anaknya Pak Hilman, ya? Ya ampun! Kamu pangling banget," ucap Pak Risman tersenyum lebar. "Gimana kabar keluarga kamu?"


"Alhamdulillah sehat, Pak," jawab Albi.


"Terus, kamu ke sini mau jenguk siapa?" tanya Atikah.


"Oh, itu ... Bu Inah masih ingat sama Tante Arini, kan? Bibinya mama aku," ucap Albi. "Dia sekarang lumpuh total, kadang-kadang koma sampai berhari-hari."


Pak Risman tercengang. "Terus, keadaan dia sekarang gimana?"

__ADS_1


"Kemarin udah agak mendingan, sih. Udah bisa nyambung lagi kalau diajak ngobrol, tapi namanya udah lumpuh, jadi nggak bisa kayak dulu lagi," jelas Albi. "Aku suka ngerasa kasihan sama dia. Anak-anaknya pada sibuk, suaminya di luar negeri. Jadi sekarang, cuma Papa sama aku yang ngerawat dia."


"Kalau Bu Farah? Apa dia juga ikut merawat Bu Arini?" tanya Bu Inah penasaran.


Albi menggeleng lesu. "Mama udah nggak mau lagi ngurusin dia sejak tahu kalau Tante Arini berasal dari keluarga miskin yang ngelakuin praktek perdukunan. Papa kasihan banget sama Tante Arini, jadinya aku sama Papa aja yang ngerawat dia."


Mendengar kisah memilukan Tante Arini, hati Bu Inah terenyuh. Namun, jika mengingat lagi fitnah yang dilemparkan wanita tua itu pada keluarganya, Bu Inah justru merasa puas. Kendati demikian, ia harus memaafkan dan melupakan kesalahan Tante Arini di masa lalu.


Di tengah percakapan mereka, ponsel milik Bu Inah berdering. Rupanya telepon dari pihak sekolah yang mengabarkan Sukma dan ketiga kakak kelasnya belum saja ditemukan. Dada Bu Inah terasa sesak mendengar tak ada kemajuan dari pencarian putri bungsunya itu. Pihak sekolah pun mengatakan akan menjemput orang tua dari siswa yang hilang.


Setelah telepon ditutup, Bu Inah memandangi Pak Risman dengan panik. Matanya berkaca-kaca, seperti tak mampu lagi membendung kesedihan yang menyesakkan dada.


"Ada apa, Bu?" tanya Pak Risman penasaran.


"Dedek belum ditemukan, Pak. P-pihak sekolah akan menjemput orang tua siswa sekarang," jawab Bu Inah terisak-isak.


"Kalau begitu, kita harus segera pulang," ujar Pak Risman.


"Tapi gimana dengan keadaan Bapak? Bapak nggak apa-apa, kan, kalau ditinggal pergi Ibu sebentar?" tanya Bu Inah cemas.


"Bapak udah bener-bener sembuh, kok. Lagian masih ada Atikah yang jagain Bapak," kata Pak Risman.


"Iya, Bu. Sebaiknya Ibu pergi saja ke sana. Mungkin dengan keberadaan Ibu, Dedek bisa cepet ditemuin," ujar Atikah.


Atikah mengangguk. "Sudah tiga hari Dedek hilang di gunung. Doain, ya, biar Dedek cepet ketemu."


"Pasti." Albi mengangguk cepat.


Keluarga Pak Risman berpamitan pada Albi, kemudian pergi meninggalkan rumah sakit dengan tergesa-gesa. Atikah yang sudah lama tak bertemu dengan Albi, menoleh sebentar untuk melepaskan kerinduannya. Selain itu, ia pun terkesima dengan paras teman masa kecilnya yang semakin rupawan saat beranjak dewasa.


Di dalam hutan, Sukma dan ketiga kakak kelasnya masih berputar-putar di tempat yang sama. Berkali-kali mereka mencari jalan berbeda, tapi tetap saja kembali ke tempat sebelumnya. Hingga matahari tampak menggelincir ke ufuk barat, mereka kelelahan dan lapar.


"Kirain kamu bakal bawa kita ke jalan keluar, tau-taunya cuma ngajakin muter-muter doang," keluh si jaket merah.


"Tau begini, kita nggak usah dengerin kamu," cetus si ikal terengah-engah.


"Kita cuma buang-buang tenaga doang, sampe kelaperan," sambung si kupluk hitam. "Kita cari makanan, yuk!"


"Istirahat dulu lah. Kamu nggak tau kakiku sampai pegel begini?" kata si jaket merah, mengurut kedua kakinya.


Sukma bingung, mengapa ia tak bisa menemukan orang yang dimaksud oleh Wanara pada saat yang genting ini. Kemampuannya membawa orang lain kembali ke dimensi manusia pun tak berguna dikala merasa lelah. Saking frustrasinya, gadis itu terkapar di tanah sembari menghela napas panjang.


"Hei! Kamu ini bukannya tanggung jawab, malah baringan di tanah. Cepet bangun!" nyinyir si ikal kesal.

__ADS_1


"Ayolah! Aku juga sama-sama capek, mana perut aku keroncongan lagi," keluh Sukma sembari bangkit dengan lesu.


"Nah, kan, kamu juga lapar. Kita cari makanan, yuk!" ajak si kupluk hitam bersikukuh.


"Enggak, enggak! Kita nggak boleh makan makanan yang ada di sini. Kamu pengin kita nggak ketemu sama orang tua sampai berminggu-minggu?" tolak Sukma panik.


"Terus kita mesti ngapain? Makan angin doang sampai mati?" keluh si jaket merah jengkel.


Sukma tak tahu harus berkata apa lagi. Setelah rasa penat berkurang, mereka melanjutkan perjalanan. Sembari tetatih-tatih si jaket merah mengikuti kawan-kawannya mencari jalan keluar. Begitu pula dengan si kupluk hitam yang tak henti mengelus perutnya yang keroncongan.


Ketika sudah cukup jauh berjalan, keempat siswa itu tak sengaja berpapasan dengan pria tua berbaju putih yang sedang mendaki gunung. Sukma tak menyadari, bahwa orang yang dicarinya sudah ditemukan. Rasa lelahnya begitu besar, sampai-sampai keinginan untuk pulang mendesak batinnya.


"Kalian mau ke mana?" tanya pria tua berpakaian serba putih.


"Kami pengin pulang, Kek. Dari tadi muter-muter terus, nggak tau harus ke mana lagi," keluh si ikal dengan lesu.


"Oh, begitu. Mari, ikut saya!" ajak si pria tua.


"Ke mana?" tanya Sukma lunglai.


"Sudahlah, kalian ikuti saya saja. Bukankah kalian semua ingin pulang?" ucap pria tua itu dengan kalem.


Ketiga lelaki itu merasa girang saat ada orang yang menyadari keberadaan mereka dan bersedia mengantar pulang. Pun dengan Sukma, bersyukur sudah ada yang mau membantu mereka. Pria tua itu dengan tenang mengantar keempatnya menuju jalan keluar dari hutan.


Setelah cukup jauh berjalan, keempatnya sudah hafal arah yang akan ditempuh berikutnya. Jalan itu tidak lain merupakan tempat awal masuk ke hutan. Mereka sangat lega, sudah bisa menemukan arah untuk pulang.


"Sepertinya kalian sudah tau arahnya ke mana. Saya antar sampai sini saja," kata pria tua itu.


"Terima kasih banyak, Kek. Kalau kami nggak ketemu Kakek di sini, kayaknya bakal muter-muter lagi," ucap si ikal sembari mengulas senyum tipis.


"Kalau begitu, saya pamit dulu," kata si pria tua bergegas.


"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak, Kek," ucap Sukma tersenyum lebar.


Pria tua itu tersenyum sembari mengangguk. Keempat siswa yang hilang itu melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, Sukma kembali menoleh ke belakang, memastikan pria tua yang menolong mereka masih ada. Namun, rupanya si kakek penolong sudah tak terlihat wujudnya sama sekali. Akhirnya ia baru menyadari, bahwa kakek itu merupakan orang yang dimaksud oleh Wanara.


Ketika berhasil keluar dari hutan dan tiba di tempat parkir, para guru serta tim penyelamat segera menyambut keempat siswa yang dikabarkan hilang. Rupanya di alam manusia sudah menginjak hari ke empat pencarian siswa di hutan. Sukma mendongak ke langit yang semula berlukiskan lembayung, berubah menjadi suasana pagi menyegarkan. Mentari tampak bersinar cerah di ufuk timur.


Bersamaan dengan kedatangan para siswa yang disambut oleh para guru, Bu Ratmi berlari keluar hutan menuju tempat Sukma berdiri. Mengetahui putrinya sudah selamat, ia sangat bersyukur. Dipeluknya Sukma dengan erat, hingga membuat gadis itu terperanjat.


"Sukma, anakku! Kamu sudah selamat, Nak," kata Bu Ratmi melepaskan pelukannya sembari menyentuh kedua pipi Sukma dan menatap kedua mata mutrinya itu dengan penuh haru.


Melihat kejadian mengharukan itu, Bu Inah yang sejak kemarin datang ke Gunung Ciremai untuk menemukan putrinya, seketika terhenyak. Secepatnya, ia menarik Bu Ratmi dari hadapan Sukma dan mendorongnya. Dengan memeluk putri angkatnya, ia mencoba menjauhkan diri dari Bu Ratmi.

__ADS_1


"Berani-beraninya kamu peluk anak saya!" bentak Bu Inah memelototi ibu kandung Sukma.


__ADS_2