SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Pesan dari Alam Gaib


__ADS_3

Malam semakin tua. Wanara masih bersemedi di atap rumah Pak Risman, menunggu fajar tiba. Sepulang Pak Risman berdagang, suasana terasa begitu senyap, terlebih saat lewat tengah malam.


Jam dinding menunjukkan pukul satu tepat. Angin yang berembus lembut membelai pepohonan, kian lama terasa kian kencang dan menusuk tulang belulang. Wanara tetap fokus duduk bersila, hingga gemuruh angin akhirnya mengganggu meditasinya. Kera itu membuka mata, melihat benda-benda di sekitarnya beterbangan akibat tiupan angin yang kencang. Bersamaan dengan itu pula, ia merasakan ada hal yang berbeda kala itu. Hatinya dirundung rasa waswas, sampai saat mendongak ke atas, kera itu terkejut bukan main. Gumpalan awan hitam berputar di atas tubuhnya, membentuk lingkaran besar yang siap menarik tubuhnya kapan saja. Wanara mundur beberapa langkah, matanya tak lepas memandangi awan itu.


Berselang beberapa menit, terdengar suara pria terbahak-bahak menggema di atas langit. Wanara terkesiap, tubuhnya seketika ambruk di atap rumah Pak Risman. Entah kenapa hatinya begitu kalut mendengar suara itu.


"S-siapa kamu? Tunjukkan dirimu sekarang juga!" seru Wanara dengan suara gemetar.


"Tidak perlu aku jelaskan siapa diriku, kamu sudah pasti mengenalku," ucap suara pria dari langit.


Wanara mengernyitkan kening sejenak, mengingat-ingat pemilik suara itu. Tak lama kemudian, matanya terbelalak setelah teringat pada peristiwa siluman kera yang dihancurkan oleh bayangan hitam besar dengan suara serupa. Dengan sigap, Wanara menatap lagi ke langit sembari mengepalkan tangan, bersiap untuk melawan pemilik suara itu.


"Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menang melawanku. Simpan saja tenagamu untuk hal yang lain," ujar suara pria itu dengan angkuh.


"Lalu, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Wanara dengan nada lantang.


"Jauhi Sukma! Kamu tidak pantas menemani putriku!"


"Mengapa tidak pantas? Aku sudah mengajarkan banyak hal pada Sukma. Apa alasannya sampai kau menyuruh aku menjauhi putrimu? Bukankah wanita tua yang pernah menunggui Sukma pernah berkata, kalau salah satu dari kami menjaga putrimu, maka akan dijadikan tangan kananmu?"


"Itu jika kamu bisa membuat Sukma berada di jalanku. Sedangkan kamu ..., jangankan membuatnya berada di jalanku, kamu malah membantunya bertarung dengan dedemit lain dan membelanya agar manusia kembali ke jalan yang benar. Apa kamu lupa, kalau tugasmu itu membuat manusia menemani kaum kita di neraka?"


Wanara termenung sejenak. Kali ini, ia benar-benar menyadari perubahan pada dirinya. Sejak bersama Sukma, perangai baik keluarga Pak Risman seakan mempengaruhinya. Ia yang semula merasa bangga dipuja manusia dan dijadikan sekutu untuk menarik kekayaan duniawi, kini justru berbalik menjadi pencari sosok pencipta sejati. Tak hanya itu, meditasi yang ia jalani selama hidup bersama keluarga Pak Risman, perlahan telah membawanya ke arah lain.


"Daripada membawa putriku berubah semakin jauh, lebih baik kau pergi secepatnya. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu," ancam suara pria dari langit.


Untuk sejenak, Wanara menghela napas panjang. Sadar bahwa dirinya telah mengenal Sang Pencipta dan tak bisa sejalan lagi dengan Iblis, maka ia pun membuat keputusan yang cukup berat untuk diambil. Kera itu kembali mendongak ke langit.


"Baiklah, aku akan meninggalkan putrimu. Tapi ... bolehkah aku meminta waktu untuk bersama Sukma sebentar saja? Aku janji, aku tidak akan membawanya berubah lebih jauh," ucap Wanara.


"Tujuh purnama. Jika pada purnama ketujuh kau tidak pergi juga, maka aku akan memusnahkanmu."

__ADS_1


Belum sempat Wanara memohon waktu lagi, gumpalan awan hitam yang memutar di atas kepalanya perlahan berpendar ke segala arah. Suara petir menggelegar dari kejauhan. Embusan angin yang semula begitu kencang, kini mulai berkurang. Rintik-rintik air turun dari langit, hingga deraslah hujan pada malam itu.


Wanara tertunduk lesu, lalu menatap nanar pemandangan di hadapannya. Alam manusia bukanlah tempat yang semestinya ia tinggali. Tuhan telah menciptakannya untuk hidup di alam berbeda; alam gaib. Cepat atau lambat, perpisahan dengan Sukma akan terjadi. Wanara harus menjadikan saat-saat terakhirnya bersama Sukma lebih berharga sampai purnama keenam tiba.


Sementara itu, di dalam kamar, Sukma tampak gelisah dalam tidurnya. Tubuhnya gemetar ketakutan, diiringi dengan peluh yang membasahi dahi. Sesekali gadis itu bergumam tak jelas, hingga membuat kakaknya terbangun.


Rupanya di alam bawah sadar, Sukma begitu kebingungan mendengar suara geraman hewan buas disertai dengan tawa melengking seorang wanita. Pemandangan di sekitarnya terlihat samar, penerangan hanya bulan purnama. Sukma berjalan perlahan-lahan sembari meraba pepohonan tinggi di dekatnya.


Semakin Sukma berjalan, semakin berat pula langkahnya. Gemuruh langkah kaki makhluk-makhluk tak kasat mata kian mendekat. Suara-suara asing di belakangnya membuat Sukma ketakutan. Berulang kali ia berteriak meminta pertolongan, tapi hanya suara mengerikan yang terdengar. Kepanikan menyelimuti jiwanya, hingga akhirnya Sukma jatuh tersungkur ke tanah.


Remang-remang cahaya rembulan menampakkan wujud seekor ular sanca di kaki Sukma. Perlahan ular itu membelit kedua kaki Sukma hingga tak bisa berkutik. Satu per satu ular mendatangi gadis itu. Napas Sukma kian memburu, dadanya terasa sesak seiring dengan lilitan ular yang menjalar cepat ke tubuhnya. Seekor ular kobra menghampirinya, mulutnya terbuka lebar seperti hendak menyemburkan bisa. Suara Sukma tercekat, bahkan untuk bernapas pun semakin sesak.


Di tengah-tengah ketakutannya, suara geraman serta tawa melengking di belakangnya mendadak hilang. Ular sanca yang semula membelit tubuhnya, perlahan pergi. Pun dengan ular-ular yang ada di sekitarnya, tiba-tiba menjauh begitu saja. Sukma terheran-heran, memperhatikan suasana hutan yang senyap seketika. Sembari berdiri, ia menepuk-nepuk tubuhnya dan menghela napas panjang.


Tak lama kemudian, terdengar suara gemerisik dedaunan diinjak dari arah timur Sukma bediri. Gadis itu terkesiap, mundur beberapa langkah dan menatap waspada ke segala arah. Dari balik pohon, tampak bayangan seseorang berjalan mendekati Sukma. Cahaya rembulan menerangi separuh wajah orang itu.


"S-siapa kamu?" tanya Sukma tergagap-gagap. Jantungnya masih berdebar, diliputi oleh rasa takut yang belum usai.


"Sesuatu? Tentang apa?" tanya Sukma sembari mengerutkan dahi, mulai penasaran dengan ucapan lelaki misterius itu.


"Segera pergi dari keluarga Risman. Kamu udah berjalan terlalu jauh dari tujuan utama hidup kamu," ucap lelaki itu. Wajahnya yang terlihat samar oleh cahaya rembulan, berubah tak terlihat.


"Apa?! Nggak. Gimana aku bisa pergi dari keluarga aku sendiri? Emangnya kamu ini siapa? Berani-beraninya misahin anak sama keluarganya," kata Sukma gusar.


"Ternyata kamu lupa, ya, dengan tujuan sebenarnya datang ke alam manusia. Baik, akan aku kasih tahu. Kedatangan kamu di dunia manusia itu bukan buat mengajak manusia ke jalan yang benar, tapi buat menyesatkan mereka biar sejalan sama kita. Kamu anak iblis. Udah seharusnya menyesatkan manusia buat nemenin kita di neraka," jelas lelaki itu lalu tersenyum tipis.


Sukma terbelalak mendengar penjelasan lelaki itu dan berjalan tergesa-gesa sambil menunjuk lelaki di hadapannya. "Hei! Aku bukan anak iblis! Aku anak ibu dan bapakku. Dari kecil, aku diajarin buat nolong sesama dan berbuat baik. Ibuku bilang, di akhirat nanti kami bakal kumpul di surga, bukan neraka," bentaknya tak terima.


"Kamu ini ngeyel banget, ya," kata si lelaki misterius menepis tangan Sukma. "Kalau nggak mau nurutin kemauan ayah kamu, aku bakal paksa kamu buat ngelakuin apa yang dia mau."


"Coba aja kalau bisa! Sampai mati pun aku nggak bakalan mau nyesatin orang buat masuk ke neraka."

__ADS_1


Tanpa basa-basi, lelaki misterius itu mencekik leher Sukma. Gadis itu kesulitan bernapas. Seluruh tenaganya ia kerahkan demi melepaskan cekikan si lelaki di leher. Semakin Sukma berusaha keras melawan, semakin kuat pula cekikan mencengkeram lehernya. Hingga pada saat tubuhnya diangkat, terdengar suara Atikah memanggilnya dari kejauhan.


Lelaki misterius itu menoleh ke segala arah, kemudia melepaskan cekikannya di leher Sukma. Seketika Sukma terkapar di tanah dan terbatuk-batuk. Sesekali ia menghela napas sedikit-demi sedikit sampai seluruh tenaganya terkumpul kembali. Sementara itu, si lelaki misterius berbalik badan dan bergegas pergi.


"Sampai ketemu lagi, Sukma. Suatu hari nanti aku bakal nemuin kamu di dunia manusia," ucap lelaki itu sembari pergi dan tertawa terbahak-bahak.


Belum sempat Sukma bangkit dan mengejarnya, bayangan lelaki itu mendadak hilang. Gadis itu tampak kebingungan, mencari sosok dan suara orang yang mencekiknya tadi. Namun, perlahan perhatiannya mulai teralihkan mendengar suara Atikah.


Rupanya di luar alam bawah sadar Sukma, Atikah sedang menggoyang-goyangkan tubuh adiknya. Tak lupa ia juga mencipratkan air sembari merapalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Berselang beberapa menit, akhirnya sang adik terbangun. Sukma menatap nanar Atikah sembari mengusap wajahnya yang basah.


"Alhamdulillah, akhirnya Dedek bangun juga," ucap Atikah mengembuskan napas lega.


"Teteh abis ngapain muka Dedek? Kok jadi basah gini?" tanya Sukma mengerutkan dahi.


"Tadi Dedek kelihatan gelisah banget pas tidur, bahkan tadi sempet komat-kamit nggak jelas kayak minta tolong. Teteh udah goyang-goyangin badan Dedek, tapi nggak bangun-bangun. Ya udah, Teteh cipratin aja air."


Sukma termenung, tatapannya berubah kosong. Suara lelaki misterius di alam mimpinya masih terngiang jelas di telinganya. Satu kalimat dari lelaki itu yang masih mengganggu benaknya hingga terbangun, kamu anak iblis.


"Dek, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Atikah menepuk pundak Sukma.


Sukma menggeleng, lalu menatap kedua mata kakaknya. "Teh, apa bener kalau Dedek ini anak iblis?"


Atikah tercengang. "Siapa yang bilang gitu, Dek? Temen Dedek?" tanyanya dengan mata terbelalak. "Ah, jangan-jangan Dedek habis mimpi di-bully sama temen-temen sekolah, ya."


"Enggak, enggak, Teh!" Sukma segera menyanggah sambil menggeleng. Raut wajahnya berubah seperti mengingat kembali mimpinya. "Tadi Dedek mimpi ketemu cowok, terus katanya Dedek ini anak iblis."


"Cowok? Siapa? Temen sekolah kamu?"


Sukma mengedikkan bahu. "Nggak tau, Teh. Dedek nggak pernah denger suaranya di sekolah."


"Hm, kalau begitu, itu cuma bunga tidur. Mendingan kita tidur lagi. Besok kita kan sekolah lagi," ujar Atikah mengusap pundak adiknya. "Jangan lupa, baca doa dulu kalau mau tidur."

__ADS_1


Sukma mengangguk, kemudian berbaring di samping kakaknya. Sebelum matanya kembali menutup rapat, ia termenung sejenak. Masih teringat jelas dalam ingatannya tentang dedemit berbaju merah yang mengatakan bahwa Sukma adalah iblis. Lalu kini hadir pula seorang lelaki misterius di mimpinya yang mengatakan hal sama. Sukma segera menepis pikiran-pikiran buruk itu. Mungkin benar kata Atikah, mimpi buruk yang dialami sebelumnya hanyalah bunga tidur. Namun, Sukma tidak serta merta merasa tenang begitu saja. Lelaki itu akan menemuinya di dunia manusia, dan Sukma harus bersiap-siap menghadapinya.


__ADS_2