
Seperti dini hari sebelumnya, Pak Risman terbangun untuk melaksanakan salat tahajjud. Akan tetapi, ketika kesadarannya terkumpul penuh, ia terkejut mendapati si sulung tak ada bersama Bu Inah dan Sukma.
Segera Pak Risman beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke pintu masuk. Diceknya pintu itu, masih terkunci. Mustahil menurutnya jika Atikah pergi ke luar malam-malam. Pak Risman pun berjalan menuju kamar mandi yang letaknya bersebelahan di dapur.
Setibanya di dapur, betapa terkejutnya pria paruh baya itu mendapati putri sulungnya tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi. Ia mendekap Atikah, lalu menepuk-nepuk pipi putrinya itu. Atikah masih tidak sadar juga. Cepat-cepat Pak Risman membopongnya ke ruang utama, lalu menepuk pipinya kembali.
Suara kepanikan Pak Risman tak sengaja membangunkan Bu Inah dan Sukma. Betapa terkejutnya Bu Inah saat mendapati Atikah tak kunjung sadarkan diri di pangkuan ayahnya. Segera Bu Inah mengambil sebotol kecil minyak kayu putih dan menaruhnya di depan hidung Atikah. Sembari berusaha membangunkan putrinya, Bu Inah memencet unjung ibu jari kaki Atikah.
"Pak, sebaiknya Bapak minta bantuan dari tetangga, siapa tahu mereka bersedia membantu," ujar Bu Inah.
"Tapi Bapak nggak enak bangunin mereka, Bu."
"Ah, Bapak ini gimana, sih?"
Sementara kedua orang tuanya sibuk membangunkan Atikah, Sukma melenggang ke kamar mandi dengan alasan ingin buang air kecil. Menurutnya, Atikah pingsan disebabkan oleh kehadiran perempuan dengan pisau di perutnya, yang terkadang muncul tiba-tiba.
Setibanya di depan kamar mandi, Sukma membuka pintu. Ketika masuk ke sana, ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar mandi. Tak ada apa pun di sana.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, gadis kecil itu keluar dari kamar mandi. Namun, saat beberapa langkah lagi menuju ruang utama, Suka merasakan ada seseorang berdiri di belakangnya sambil meniupkan semilir angin lembut yang membelai tengkuknya. Merasa terganggu, ia pun menepuk-nepuk tengkuknya, lalu menengok ke belakang. Tak ada siapa pun di sana.
Sukma kembali ke ruangan utama. Atikah masih saja belum sadarkan diri. Sukma yang merasa iba pada sang kakak, ikut membantu menyadarkannya. Dipegangnya tangan Atikah, lalu memejamkan kedua matanya. Pak Risman dan Bu Inah mempertanyakan tingkahnya yang aneh, tapi Sukma tetap bergeming. Ia menghelanya napas dalam-dalam, hingga tubuhnya perlahan melemas dan tak sadarkan diri di pelukan Bu Inah.
Sepasang suami istri paruh baya itu semakin panik melihat kedua putrinya tak sadarkan diri. Bu Inah mendesak Pak Risman untuk meminta bantuan tetangga. Kali ini, Pak Risman pun setuju dengan permintaan istrinya, lalu bergegas mencari bantuan tetangga sebelah. Bu Inah lanjut menaruh botol minyak kayu putih ke depan hidung kedua putrinya secara bergantian, sambil menyebut nama mereka agar segera terbangun.
Sementara kedua orang tuanya sibuk mencari bantuan, Atikah dan Sukma semakin dalam memasuki alam bawah sadar. Saat membuka mata, Sukma terkejut mendapati dirinya berada di dapur kontrakan yang dihuninya beberapa waktu lalu. Terdengar suara keributan dari ruangan utama. Gadis kecil itu bergegas mencari tahu ke luar dapur. Betapa terperangahnya ia mendapati kakaknya sedang melindungi seorang perempuan dari serangan pria berwajah sangar yang memegang sebilah pisau di tangannya.
"Teteh! Menjauh dari sana!" seru Sukma.
"Dedek?" Atikah tercengang mengetahui sang adik berada di tempat yang sama. "Cepat pergi dari sini!"
Sukma yang keras kepala, segera menarik tangan Atikah hingga terjengkang. Sementara itu, si pria berwajah sangar menusuk perut perempuan yang dilindungi Atikah tadi. Darah mengucur deras dari perempuan itu, hingga membuat si pria berwajah sangar merasa puas. Sejenak, dada Sukma terasa sesak menyaksikan pembunuhan mengerikan yang terjadi di depan matanya.
"Dedek ngapain, sih, narik tangan Teteh segala?" gerutu Atikah kesal. "Teteh pengin nolongin perempuan itu. Kasihan dia, dari tadi dipukulin terus sama laki-laki itu sampai nangis-nangis minta ampun."
Sukma terhenyak, laku menatap kedua mata kakaknya dengan penuh penyesalan. "M-maafin Dedek, Teh. Dedek cuma nggak mau Teteh kenapa-kenapa."
Atikah mendengus sebal melihat raut penyesalan di wajah adiknya. Akan tetapi, Sukma yang masih termangu melihat kejadian mengenaskan beberapa saat lalu, tak terlalu memedulikan kekesalan sang kakak. Ia justru melihat pria berwajah sangar itu tersenyum puas dan berlalu ke kamar mandi untuk membasuh tangan dari lumuran darah si perempuan.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali dari kamar mandi. Tanpa memedulikan perempuan yang sedang sekarat di salah satu sudut ruangan, dengan santai ia melenggang keluar seperti tak pernah ada kejadian apa pun. Tentu saja, sikapnya yang santai itu membuat Atikah semakin geram.
Atikah berlari menyusul pria itu ke luar kamar kontrakan. Akan tetapi, langkahnya seketika terhenti tatkala Sukma memegang tangannya. Atikah menatap tajam pada Sukma.
"Lepasin tangan Teteh nggak?" bentak Atikah geram.
"Teteh, nggak ada gunanya ngejar om itu. Ayo, kita pulang!"
"Pulang? Pulang ke mana?"
"Ke alam kita, Teh. Ini bukan alam kita. Ayo!"
__ADS_1
"Dedek ngomong apaan, sih?"
"Pokoknya Teteh ikut pulang aja sama Dedek. Kasihan Bapak sama Ibu nungguin kita di rumah."
Atikah mengurungkan niatnya mengejar pria berwajah sangar itu. Sambil mengikuti Sukma dari belakang, sesekali ia memandang miris pada perempuan yang telah dihabisi dengan bengis oleh pria itu. Namun di sisi lain, hati kecilnya menyadari bahwa ada yang ganjil di sana. Setiap kali ia berteriak untuk menolong perempuan itu, tak ada yang menggubrisnya, seolah-olah kehadirannya dianggap tiada.
Sesampainya di depan kamar mandi, Sukma menyuruh Atikah masuk terlebih dulu. Atikah menurutinya, lalu masuk ke kamar mandi. Pandangan Atikah pun kian menggelap. Samar-samar terdengar suara ayah dan ibunya sedang memanggilnya dari jauh. Suara Pak Risman dan Bu Inah semakin terdengar sangat dekat, sampai akhirnya Atikah mulai tersadar bahwa yang dialaminya beberapa saat lalu hanyalah mimpi. Seiring kesadarannya terkumpul penuh, ingatan tentang pembunuhan perempuan itu perlahan lenyap.
Dengan lemah, Atikah membuka kedua mantanya. Kecemasan di wajah Pak Risman dan Bu Inah, akhirnya berubah menjadi raut semringah. Mereka tampak lega setelah melihat anak sulungnya siuman.
"Bapak, Ibu ...." kata Atikah dengan suaranya yang parau.
"Atikah, syukurlah, akhirnya kamu sudah siuman," ucap Pak Risman memeluk erat tubuh Atikah.
Sepasang suami istri yang merupakan tetangga sebelah kediaman Pak Risman, ikut senang dengan Atikah yang sudah sadarkan diri. Kendati demikian, kebahagiaan di antara mereka belum sepenuhnya kembali. Sukma masih tak sadarkan diri. Bu Inah dan istri tetangganya, Lina, masih berusaha menepuk-nepuk gadis kecil yang bergeming, seperti sedang tertidur sangat pulas.
"Begini saja, Pak. Saya minta pertolongan dulu sama Pak Suwandi, kebetulan dia cukup andal dalam menangani hal seperti ini," usul pria yang merupakan tukang gorengan, namanya Ujang.
"Memangnya ada apa dengan anak saya? Dia cuma pingsan biasa," kata Pak Risman.
"Kalau cuma pingsan biasa, mana mungkin selama ini. Sekarang mau subuh, Pak Suwandi biasanya sudah bangun," ucap Lina.
"Enggak, enggak. Pasti Dedek sebentar lagi bangun kok," ucap Pak Risman bersikukuh.
Bu Inah masih cemas, menggoyang-goyangkan tubuh Sukma. Gadis kecil itu masih belum bangun. Ujang, tukang gorengan itu berusaha membujuk Pak Risman untuk meminta bantuan Pak Suwandi. Begitu pula dengan Lina, yang terus memberikan Pak Risman pengertian, bahwa hal tak biasa sedang terjadi pada Sukma dan harus diselesaikan oleh kekuatan metafisik. Sedangkan Atikah yang tak mengingat apa-apa lagi tentang kejadian yang dialaminya selama pingsan, hanya bisa termenung menyaksikan adiknya.
Jauh di alam lain, Sukma rupanya belum mau pulang ke alam manusia. Ia masih berada di kontrakan yang dihuni perempuan sekarat tadi. Pelan-pelan gadis kecil itu menghampiri perempuan berbaju merah yang tetkapar di sudut ruangan utama.
"Iya. Tolong aku, Dek. Tolooong," ucap perempuan itu terengah-engah.
"Kalau boleh tahu, siapa nama Tante? Kenapa Tante sampai ditusuk sama om jahat itu?"
"Namaku Euis. Aku tidak tahu kenapa suamiku sampai tega membunuhku."
"Oh, jadi yang tadi suami Tante? Jahat banget dia nusuk perut Tante."
"Sebenarnya dia sudah lama berbuat begitu. Bahkan setiap kali pulang dari rumah istri pertamanya, dia selalu berbuat kasar padaku," jelas Euis dengan suara parau.
"Oh, apa jangan-jangan Tante sudah bikin kesalahan sama dia?"
"Aku cuma minta nafkah dan keadilan. Dia terlalu lama menghabiskan waktunya bersama istri pertamanya, sampai lupa bahwa ada aku yang harus dinafkahi," jelasnya. "Apa aku salah jika meminta nafkah pada suamiku sendiri?"
Sukma menggaruk-garuk kepalanya sambil meringis tidak mengerti. Yang dimengertinya hanya soal nafkah saja. Ia tahu tentang nafkah karena ibunya sering berulang kali membicarakan hal itu dengan ayahnya. Selama ini Pak Risman hanya memberi nafkah secukupnya, tapi Bu Inah yang mengelolanya sampai semua biaya hidup tetap terpenuhi.
Euis menangis tersedu-sedu. Wajahnya semakin sayu. Sukma tidak tega melihatnya terus menerus menangis, sampai harus menepuk-nepuk pundak Euis.
"Sudahlah, Tante. Mungkin om jahat memang nggak suka sama Tante," bujuk Sukma mengasihani Euis.
"Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa begini terus. Sejak aku melepaskan diri dari ragaku, aku tetap kesakitan karena pisau yang menancap di perut. Darahku seperti tidak berhenti mengalir terus. Sakiiit sekali."
__ADS_1
Sukma yang merasa penasaran dengan pisau di perut Euis, mencoba mencabutnya. Sekuat tenaga ia menarik gagang pisau, tapi benda itu seperti enggan lepas dari badan Euis. Kendati demikian, gadis kecil itu pantang menyerah. Pada percobaan yang kedua kalinya, Euis menjerit kesakitan sampai akhirnya pisau itu berhasil dicabut.
Darah dari perut Euis masih mengalir. Sukma kebingungan, mencari kain atau obat yang bisa menghentikan pendarahan di perut Euis. Akan tetapi, perlahan darah yang menetes dari perut wanita itu perlahan berhenti sebelum Sukma berhasil menemukan kain pembalut luka.
"Dek, lukanya ... lukanya berhenti," kata Euis berdecak kagum.
"Benarkah?" Sukma tersenyum simpul, lalu melihat luka yang disebabkan oleh mata pisau di perut Euis.
Diusapnya perut wanita itu perlahan-lahan. Euis masih saja meringis akibat rasa perih yang menusuk-nusuk di perutnya. Sebuah cahaya biru gelap tiba-tiba muncul dari telapak tangan Sukma. Perlahan-lahan, luka menganga di perut Euis pun tertutup dan tak lagi mengeluarkan darah setetes pun.
"Wah! Tante sudah sembuh! Tante nggak sakit lagi, kan?" decak Sukma terkagum-kagum.
"Kamu memang berbakat sekali, Dek. Luka di perutku sudah sembuh. Terima kasih, Adek Kecil," kata Euis, lalu memeluk tubuh kecil Sukma.
"Tante, aku mau pulang dulu. Aku khawatir, Bapak dan Ibu sedih," ucap Sukma melepas pelukan Euis.
"Baiklah," ucap Euis. "Tapi kamu harus mendoakanku supaya tenang selamanya. Aku akan kembali ke tempat yang seharusnya. Sekali lagi, terima kasih, Dek."
Sukma beranjak pergi dari hadapan Euis. Ia berjalan ke ruangan tempat pertama kali datang ke sana. Namun ketika hendak masuk ke dapur, seorang pria paruh baya berpakaian serba putih datang menggenggam tangannya. Sukma memberontak, takut pria itu mencelakainya.
"Siapa Bapak? Apa yang mau Bapak lakukan padaku?" tanya Sukma panik.
"Bapak sama Ibu kamu nungguin dari tadi. Ayo cepat pulang!" ajak pria itu.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya terang menyinari area dapur hingga membuat Sukma silau. Bersama itu pula, kesadaran Sukma mulai terkumpul sampai akhirnya siuman dari pingsannya. Perlahan Sukma membuka mata, menatap satu per satu orang yang berada di dekatnya. Tiga orang dapat dikenali, sementara tiga lainnya terlihat asing. Bu Inah dan Pak Risman tampak gembira melihat si bungsu sudah siuman. Namun, tidak bagi Sukma yang merasakan nyeri di pergelangan tangannya.
"Ibu, tangan aku sakit," keluh Sukma dengan sedikit merengek.
"Nggak apa-apa, Dek. Tadi Pak Suwandi pegangin tangan Dedek biar cepet bangun," jelas Bu Inah, mengusap-usap pergelangan tangan Sukma.
"Syukurlah, Dedek sudah siuman," kata Pak Suwandi mengusap kepala Sukma.
Sukma memeluk Bu Inah semakin erat, sambil sesekali menatap Pak Suwandi dengan sinis. Pun dengan Pak Risman, yang sebenarnya tidak suka meminta bantuan orang pintar untuk menyelesaikan masalahnya. Meski begitu, ia tetap mengucapkan terima kasih atas bantuan Pak Suwandi beserta tetangganya.
"Lain kali kalau butuh bantuan, panggil saya saja. Rumah saya dekat kok, tinggal jalan ke depan sedikit melewati tiga rumah," kata Pak Suwandi berbasa-basi sebelum pergi.
Pak Risman tersenyum sembari mengangguk, walaupun hatinya tak suka jika harus meminta bantuan Pak Suwandi.
"Ngomong-ngomong, tadi Dek Sukma kenapa sampai susah siuman? Padahal tadi sudah dikasih bau minyak kayu putih, jempol kakinya juga sudah dipencet," tanya Lina penasaran.
"Oh, itu. Dia tersesat ke alam lain. Jadi pingsannya bukan sembarangan pingsan," jelas Pak Suwandi.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak," kata Pak Risman, sebenarnya ingin menolak keras pernyataan Pak Suwandi, tapi merasa tak enak.
"Iya, Pak. Saya pamit dulu."
Pak Suwandi melenggang pergi menuju gerbang kontrakan, sementara dua orang lainnya masuk kembali ke kontrakan di sebelah kamar Pak Risman. Selepas mereka pergi, Pak Risman kembali menemui putrinya. Sukma masih cemberut, tangannya sakit karena dicengkeram oleh Pak Suwandi.
"Bapak-bapak itu jahat. Padahal aku mau pulang sendiri, tapi tangan aku malah dipegangin kuat-kuat. Dedek kan nggak nakal, Bu. Dedek cuma bantuin Tante Euis buat lepasin pisau dari perutnya. Kasihan dia, nangis terus gara-gara pisaunya nggak bisa dilepas," celoteh Sukma sambil mengelus-elus pergelangan tangannya.
__ADS_1
Bu Inah terus membujuk Sukma untuk memaafkan Pak Suwandi. Tak lupa, ia juga berkata bahwa sakit pada pergelangan tangannya akan segera sembuh. Akan tetapi, Bu Inah dan Pak Risman tak peduli dengan cerita Sukma. Mereka berpikir, putri bungsunya hanya bermimpi dalam pingsannya tadi.