SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Datangnya Malapetaka


__ADS_3

Para siswa tampak penasaran dengan seorang wanita gila yang tiba-tiba memeluk Sukma. Tak sedikit dari teman sekelas Sukma yang merekam kejadian itu dan mengolok-olok si gadis aneh berkulit pucat sebagai anak orang gila. Tentu saja adik angkat Atikah itu sangat malu, bahkan tak terima diolok-olok oleh temannya. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Bu Ratmi hingga tersungkur ke tanah.


Sejenak, perhatian Bu Ratmi teralihkan oleh suasana sekitarnya yang begitu ramai. Ketika matanya kembali menatap Sukma, wujud putri semata wayangnya itu berubah menjadi sosok menyeramkan yang pernah ia lihat tiga belas tahun lalu. Sontak, Bu Ratmi pun menjerit histeris. Wanita itu langsung berdiri dan mencekik Sukma yang masih berada di depannya.


"Sialan kau! Rupanya kamu masih hidup! Kalau saja waktu itu saya punya banyak tenaga dan keberanian, sudah saya bunuh kamu dengan tangan saya sendiri!" geram Bu Ratmi, memelototi Sukma.


"Bu ... Lepas-kan! Uhuk ...," ujar Sukma dengan suara tertahan.


Pak Anwar yang berdiri tak jauh dari Sukma, secepatnya melepaskan cekikan Bu Ratmi. Wanara yang masih berada di dalam tubuh guru olahraga itu tak terima jika temannya disakiti oleh orang asing. Dengan sigap, ia berdiri di antara Sukma dan Bu Ratmi, memastikan wanita tak waras itu tak berani lagi menyerang temannya.


"Minggir, kamu! Kamu tidak perlu ikut campur! Urusan saya dengan iblis betina ini belum selesai!" bentak Bu Ratmi berusaha menyingkirkan Pak Anwar.


Di tengah suasana tegang itu, Asih bersama warga segera datang menarik Bu Ratmi dari keramaian. Tentu saja kakaknya itu mengamuk, meminta dilepaskan oleh warga yang memeganginya. Asih benar-benar malu atas tindakan sang kakak yang mengganggu kegiatan anak-anak sekolah.


"Saya mohon maaf, Pak. Kakak saya memang meresahkan," ucap Asih sungkan.


"Oh, tidak apa-apa, Bu. Kami memang kurang mengawasi murid-murid saat turun dari bus," kata Pak Anwar.


Asih kemudian melirik pada Sukma, yang masih terengah-engah setelah dicekik Bu Ratmi. "Adek baik-baik saja, kan?"


Sukma mengangguk. "Ibu nggak usah khawatir, aku nggak kenapa-napa kok," ucapnya sembari tersenyum tipis.


"Aduh, sekali lagi saya minta maaf, ya. Saya janji, nggak akan membiarkan dia kabur lagi," kata Asih. "Kalau begitu, saya pergi dulu."


Pak Anwar dan Sukma mengangguk. Asih segera berlalu, menarik tangan Bu Ratmi supaya menjauh dari keramaian anak-anak sekolah. Begitu juga dengan warga yang membantunya membawa sang kakak pulang kembali ke rumah.


Kendati kerusuhan yang diperbuat oleh Bu Ratmi sudah berlalu, ejekan Sukma sebagai anak orang gila masih menggema di kalangan siswa. Salah satu di antara mereka mengirimkan video rekamannya ke media sosial. Terdengar jelas dalam video itu saat Bu Ratmi mengatakan bahwa dirinya merupakan ibu kandung Sukma.


Tentu saja, hal itu membuat Sukma tidak nyaman. Memang, baginya perundungan dari teman sekelas bukan lagi sesuatu yang asing. Namun, ucapan Bu Ratmi yang menuduhnya sebagai iblis betina kembali mengusik benak. Ucapan dedemit merah dan lelaki misterius di dalam mimpi, terlintas kembali di ingatannya. Sukma pun bertanya-tanya, mengapa mereka bertiga menyebutkan hal yang sama pada dirinya. Anak Iblis.


Perjalanan menuju puncak gunung dimulai. Para siswa dan guru bersiap-siap. Adapun kepala sekolah yang ikut serta dalam perjalanan ke Gunung Ciremai, masih membawa maksud lain sembari mendaki.

__ADS_1


Di tempat lain, Pak Jaka berhasil menemui Mbah Kasiman. Ia menyampaikan maksud kedatangannya dan berharap bisa menemui kesuksesan setelah menghancurkan Pak Risman. Namun, rupanya ada ketentuan tersendiri agar Pak Jaka berhasil melancarkan rencana busuknya.


"Kalau mau berhasil, kamu harus pastikan anak dari sainganmu itu tidak ada di angkringannya," kata Mbah Kasiman.


Pak Jaka mengangguk. "Saya dengar, hari ini anak bungsunya Pak Risman sedang pergi liburan dari sekolahnya. Apa Mbah bisa melakukannya malam ini juga?"


"Akan saya usahakan. Kamu hanya perlu menunggu sampai hari esok tiba. Lihat saja besok sore, pasti saingan kamu tidak akan membuka angkringan," kata Mbah Kasiman meyakinkan.


"Beneran, Mbah? Besok sore saingan saya nggak bakalan dagang?" tanya Pak Jaka dengan mata terbelalak.


Mbah Kasiman mengangguk, kemudian memberikan sebungkus kemenyan ke tangan Pak Jaka. "Taburkan ini ke angkringannya, sebelum saingan kamu berdagang. Pastikan tidak ada yang tahu kalau kamu sedang menaburkannya."


Pak Jaka mengangguk cepat. "Pasti, Mbah."


Setelah cukup lama mengobrol banyak hal, Pak Jaka berpamitan. Dalam perjalanan pulang, ia membawa segenggam keyakinan bahwa dukun sakti itu akan melancarkan rencananya dengan baik. Pria itu tak menyangka, dukun yang berpenampilan seperti orang biasa pada umumnya, justru terkenal lebih sakti dari paranormal langganannya.


...****************...


Kendati demikian, semakin beranjak malam, tubuh Pak Risman mulai terasa pegal. Mungkin masuk angin, pikirnya. Sesekali, Bu Inah memijitnya ketika sedang menunggu pelanggan datang. Alih-alih mendingan, tubuh Pak Risman justru semakin terasa remuk. Pak Risman berusaha menahan rasa sakitnya sampai angkringan pecel lele tutup.


Sesampainya di rumah, Pak Risman mengeluh kesakitan di bagian punggung dan kaki. Bu Inah membawakannya segelas air hangat, sambil menaruh balsam untuk mengerok punggung sang suami. Setelah Pak Risman meneguk air hangat yang dibawakan istrinya, ia lanjut berbaring tengkurap.


"Sebaiknya besok jangan berjualan dulu, Pak. Kayaknya kondisi Bapak lagi nggak fit sekarang ini," ujar Bu Inah sembari mengoleskan balsam dan mengerok punggung Pak Risman.


"Kalau Bapak nggak dagang, gimana kita bisa makan buat esok hari?" keluh Pak Risman sembari meringis.


"Bapak ini nggak boleh keterlaluan dalam bekerja. Kalau kondisinya sedang tidak memungkinkan, sebaiknya istirahat dulu. Tabungan kita masih banyak, Bapak nggak perlu cemas," bujuk Bu Inah.


"Tapi keperluan kita masih banyak, Bu. Anak-anak kita masih sekolah."


"Sudahlah, Bapak sebaiknya sekarang istirahat dulu. Kesehatan Bapak lebih penting. Kalau badan Bapak sampai ambruk, nanti nggak bisa jualannya makin lama."

__ADS_1


Pak Risman mengangguk. Sebelum tertidur, ia teringat pada ucapan paranormal yang datang ke angkringannya tempo hari. Harus jaga iman dan kesehatan, katanya. Kendati demikian, Pak Risman enggan menerka-nerka, siapa orang yang iri pada usahanya. Satu orang yang terlintas di benaknya, penjual pecel lele di seberang jalan. Namun, Pak Risman tak mau berprasangka buruk dulu. Baginya, tak pantas jika sampai ada orang yang iri dengan usaha orang lain, sebab Tuhan telah menakar rezeki pada masing-masing makhluk.


Sementara itu di Gunung Ciremai, para siswa disarankan tidur di dalam bus. Para guru sibuk meminta bantuan warga sekitar untuk mencari tiga siswa kelas delapan yang hilang. Kepala sekolah pun tak terlihat batang hidungnya setelah turun gunung sejak tadi sore.


Adapun Sukma yang telah naik ke dalam bus, merasakan firasat buruk. Hatinya terketuk untuk ikut mencari siswa yang hilang beserta kepala sekolah. Akan tetapi, keberaniannya untuk kembali ke gunung tiba-tiba tertahan, mengingat dirinya sudah berpisah dari Wanara. Sukma merasa tak percaya diri tanpa bantuan dari sahabat keranya.


Dilihatnya lagi keadaan sekitar, wajah-wajah cemas para guru dan raut letih dari siswa-siswa di dalam bus. Adapun Pak Anwar, tampak tak mengerti dengan semua hal yang terjadi setelah Wanara keluar dari tubuhnya. Sukma membayangkan keadaan keempat orang hilang di dalam hutan. Begitu malangnya nasib mereka di sana, pikirnya.


Merasa iba, Sukma bergegas turun dari bus. Guru yang mendampingi para siswa, tampak panik mengetahui gadis berkulit pucat itu berlari masuk ke area pendakian. Tentu saja, tingkah gegabah Sukma membuat keadaan semakin kacau.


Pemandangan sekitar gunung begitu gelap gulita. Sukma cukup kesulitan meraba-raba area hutan yang semakin ke dalam, semakin lebat. Sesekali ia berteriak memanggil Wanara, berharap temannya datang membantu mencari siswa yang hilang. Namun, panggilan Sukma tak terdengar sama sekali oleh Wanara yang sudah berada di sisi lain dari Gunung Ciremai.


Kendati demikian, Sukma tak mau menyerah begitu saja. Ia terus berjalan masuk ke hutan, bermodalkan senter ponsel di tangannya. Akan tetapi, sebuah keanehan tiba-tiba terjadi di sekitarnya. Semakin masuk ke dalam hutan, pemandangan di sekelilingnya menjadi terang. Sukma dapat melihat pepohonan dan hewan-hewan dengan jelas. Berdasarkan pengalamannya, waktu di dimensi alam gaib dan alam manusia berbeda. Ia teringat kembali saat-saat meloloskan diri dari Farida.


Melihat pemandangan di sekitarnya, Sukma bersyukur dapat mencari orang-orang hilang dengan mudah. Secepatnya ia menyisir setiap area hutan. Kali ini gadis itu harus berhati-hati, sebab sedang berada di alam gaib. Makhluk-makhluk di dunia ini bisa saja mengecohnya dalam melakukan pencarian.


Hingga di satu titik hutan, Sukma mendapati suara laki-laki sedang berbincang-bincang. Ia pun mendatangi asal suara itu, dan mendapati tiga orang remaja sedang bercanda di dekat bebatuan. Mereka menoleh, terheran-heran dengan kedatangan Sukma.


"Ngapain kalian duduk-duduk aja di sini? Ayo cepat turun! Orang-orang udah nungguin di bawah," ujar Sukma dengan kesal.


"Santai aja, ini masih siang kok. Nanti kalau udah agak sorean kita bakalan turun," kata salah satu dari ketiga remaja itu dengan tenang.


"Enggak! Kita harus turun sekarang! Apa kalian nggak nyadar, kalau kalian ini lagi tersesat?" cerocos Sukma, semakin panik.


"Tersesat? Tersesat apanya? Tadi yang lain pada lewat sini, nanti juga bakal kelihatan kok kalau murid-murid pada turun gunung," sanggah anak lelaki lainnya.


"Kalian bertiga pada ngeyel, ya," ketus Sukma.


"Ayolah! Perjalanan naik gunung tuh melelahkan. Tadi kami kehausan, nggak bawa minum. Untung ada perempuan cantik pake kebaya yang nawarin air, jadi kita bertiga udah nggak kehausan," ucap anak lelaki berambut ikal.


"Hah? Jadi, kalian minum air dari orang asing?" Sukma makin tercengang. "Aduh, celaka!"

__ADS_1


Ketiga lelaki itu mengangguk. Kini Sukma mengerti penyebab dari mereka tersesat di alam lain. Wanara pernah berkata, jangan pernah menerima apa pun dari orang asing, apalagi dari orang berpenampilan zaman dulu. Itu merupakan salah satu sumber malapetaka yang dialami oleh para pendaki.


__ADS_2