
Fadil dan keluarga Pak Risman harus menempuh jarak beberapa kilometer dari Stasiun Padalarang sampai ke tempat tujuan. Mereka menaiki taksi online agar cepat sampai ke rumah orang tua Fadil. Lalu, sesampainya di depan rumah, Fadil mengajak masuk keluarga Pak Risman untuk bertemu dengan ayahnya. Namanya Haji Gufron, pemilik kontrakan sekaligus juragan pecel lele yang terkenal di Cimareme.
Dengan canggung, Pak Risman membawa masuk semua anggota keluarganya ke rumah Haji Gufron. Fadil undur diri sebentar setelah mempersilakan duduk keluarga Pak Risman. Ia tak sabar menyampaikan kabar gembira akan kedatangan calon penghuni kontrakan ayahnya.
Fadil mencari ayahnya ke kamar. Ternyata Haji Gufron masih wirid selepas salat Isya. Putra semata wayangnya mengetuk pintu, lalu pria paruh baya berpakaian serba putih dilengkapi peci itu menoleh. Raut wajahnya menyiratkan rasa haru akan kedatangan putranya. Segera ia menghampiri Fadil, kemudian memeluknya.
"Fadil, kenapa kamu baru pulang, Nak? Apa kamu sudah menuntaskan semua mata kuliahmu di ITB?"
"Sudah, Pak, tinggal diwisuda," jelas Fadil.
"Alhamdulillah. Sekarang kamu bisa meneruskan usaha pecel lele Bapak tanpa perlu memikirkan tugas kuliah," kata Haji Gufron.
"Untuk soal itu, aku mau pikir-pikir dulu."
"Baiklah. Tapi, jika menurut kamu ada pekerjaan yang lebih baik, Bapak akan tetap mendukung, kok."
"Terima kasih, Pak." Fadil tersenyum simpul. "Oya, Pak, di ruang tamu ada keluarga Pak Risman. Beliau baru saja tiba di Padalarang, tapi nggak tahu mau tinggal di mana. Ya sudah, aku sarankan untuk tinggal di kontrakan Bapak saja."
"Benarkah? Kalau begitu, Bapak harus menjumpai mereka," cetus Haji Gufron semringah.
Haji Gufron bersama putranya bergegas menemui calon penghuni kontrakan. Betapa bahagianya ia melihat sebuah keluarga kecil yang akan menyewa kontrakan. Ia pun duduk di kursi, berhadapan dengan keluarga Pak Risman.
"Oh, jadi ini keluarga yang diceritakan Fadil. Anda Pak Risman, ya?" sapa Haji Gufron semringah, lalu menyalami Pak Risman.
"Iya, Pak," kata Pak Risman, kemudian menunjuk anggota keluarganya satu per satu. "Ini istri saya, Inah. Dan ini kedua putri saya. Yang sulung namanya Atikah, sedangkan yang bungsu namanya Sukma."
"Ah, iya iya. Alhamdulillah, ya, kalian dikaruniai dua anak perempuan yang cantik."
Pak Risman mengangguk.
Menyadari tamunya belum disuguhi minuman, Haji Gufron berbisik pada Fadil untuk membuatkan teh manis. Fadil mengangguk, lalu berjalan menunu dapur. Setelah istri Haji Gufron meninggal dunia, pria tua itu mengurus segalanya sendiri. Jadi, mumpung putranya ada di rumah, ia tidak segan meminta bantuan.
"Nggak usah repot-repot, Pak," kata Pak Risman sungkan.
"Nggak usah sungkan. Saya tahu, kalian lelah setelah perjalanana jauh. Ngomong-ngomong, kalian berasal dari mana?"
"Saya dan istri berasal dari Indramayu, merantau ke Bandung. Kami berhenti bekerja jadi asisten rumah tangga, makanya pindah kemari."
"Oh, begitu, ya. Jadi, Bapak mau mulai usaha di sini begitu? Atau cari-cari pekerjaan di sebuah pabrik?"
"Sebenarnya ... saya belum tahu rencana ke depannya gimana. Saya kira, saya akan membuka usaha kecil-kecilan. Tapi untuk saat ini, Bapak tenang saja. Uang sewa kontrakan untuk sebulan ke depannya ada kok."
"Nggak usah buru-buru, Pak. Mau dibayar pas tanggal satu juga nggak apa-apa. Tanggung, sekarang mau akhir bulan."
Tak lama kemudian, Fadil datang membawa lima gelas teh manis. Disuguhkannya di hadapan keluarga kecil itu, hingga Pak Risman semakin sungkan. Akan tetapi, sikap Haji Gufron yang ramah, membuat Pak Risman nyaman dan cepat akrab.
Mereka pun membicarakan tentang kontrakan yang akan dihuni. Kontrakan Haji Gufron terdiri dari dua puluh kamar dan dua lantai. Satu bangunan terdapat lima kamar di bawah dan lima kamar lagi di atas, lalu sisanya dibangun berhadapan. Untuk fasilitas, terdapat satu dapur dan satu kamar mandi di dalam. Jadi, tidak perlu mengantre jika sedang terburu-buru berangkat kerja. Biaya sewa sebulannya cukup murah, yakni lima ratus ribu, sudah berikut listrik dan PDAM. Akan tetapi, kini kontrakan itu hanya dihuni satu kamar saja oleh keluarga penjual gorengan. Sudah lama sekali tak ada yang tertarik tinggal di sana, padahal lokasinya sangat strategis.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, Haji Gufron menyerahkan kunci kamar kontrakan pada Pak Risman. Fadil dengan senang hati mengajak keluarga itu menuju kontrakan ayahnya. Hanya butuh beberapa menit berjalan kaki bagi mereka untuk sampai di kontrakan. Dari jalan besar, cukup masuk ke dalam permukiman warga saja, lalu tampaklah sebuah gerbang tinggi di sebelah kanan jalan.
Setibanya di tempat yang dituju, Fadil membuka gerbang kontrakan. Begitu masuk ke sana, suasana terasa hening. Kendati beberapa kamar kosong, lampu-lampu beranda kontrakan tetap menyala dikala malam. Jadi, tidak begitu menyeramkan saat mendatangi area kontrakan.
Sementara Fadil bersama sepasang suami istri itu masuk ke area kontrakan, Sukma dan Atikah terpaku melihat sesosok makhluk berbadan tinggi besar sedang berdiri menunggui gerbang. Tingginya seukuran dengan bangunan dua lantai, badannya kekar seperti manusia dan dipenuhi bulu hitam, kepalanya berbentuk anjing. Ia sedang melipat kedua tangan sembari menatap tajam keduanya.
"D-Dedek ... Dedek, itu apa?" tanya Atikah gemetaran.
__ADS_1
"Itu guguk, Teh," jawab Sukma dengan santai.
"Kok badannya kayak orang?"
Makhluk itu semakin menatap tajam, membuat kedua gadis kecil yang sedang terpaku memandanginya. Ia merasa terganggu, lalu berusaha mendepak mereka. Sontak, Atikah dan Sukma mundur dari gerbang.
"Mau apa kalian ke sini? Pergi!" bentak makhluk itu.
Atikah terdiam, lalu bergerak menjauhi gerbang. Namun, Sukma segera menggenggam tangan kakaknya. Ia menyadari, bahwa kedua orang tuanya sedang memperhatikan mereka dari teras kamar kontrakan.
Tanpa memedulikan makhluk yang sedang marah, Sukma dan Atikah berlari menuju teras kamar kontrakan. Atikah yang masih ketakutan melihat makhluk aneh berkepala anjing itu, sesekali menoleh ke arah gerbang. Beruntung, makhluk itu masih berdiri di depan gerbang dan tidak mengejarnya.
"Ayo, masuk!" ajak Pak Risman membuka pintu kontrakan.
Ketika pintu terbuka, bau apek tercium begitu kuat. Sepertinya kamar itu sudah lama ditinggalkan penghuninya. Fadil pun menyalakan lampu. Terlihat dari banyaknya debu di lantai ubin dan sarang laba-laba pada plafon. Sebuah kasur busa yang digulung di sudut kamar, tampak berdebu dan kotor.
Seluruh keluarga Pak Risman masuk ke ruangan utama yang ukurannya cukup kecil. Untuk melihat ruangan lain di kontrakannya, Pak Risman dan Bu Inah melangkah ke bagian dapur. Ukurannya cukup untuk menyimpan kompor dan berbagai keperluan makan. Saat menengok ke kanan, maka akan ditemukan kamar mandi yang ukurannya tidak begitu besar.
Fadil melihat jam tangannya. Sudah pukul setengah sembilan rupanya. Ia pamit dari Pak Risman dan Bu Inah, lalu menyarankan mereka untuk membersihkan kamar kontrakan demi kenyamanan. Pak Risman mengangguk, kemudian mengantar Fadil pulang hingga depan gerbang.
Sementara itu, Bu Inah membereskan barang bawaan dari paviliun Hilman. Disimpannya barang-barang itu di salah satu sudut ruangan, kemudian mengeluarkan kasur busa dan menepuk-nepuknya hingga debunya hilang. Atikah membantu sang ibu menyapu ruangan, sementara Sukma pergi ke kamar mandi dan menyalakan keran. Airnya sangat bening tatkala gadis kecil itu menaruh ember untuk menampungnya.
Beberapa saat kemudian setelah ember terisi penuh, Sukma mendongak ke atas. Ia merasa ada yang meniup tengkuknya sejak tadi. Namun, setelah dicari, tak ada siapa pun di sana. Sukma dengan acuh tak acuh keluar dari kamar mandi. Ketika hendak pergi ke ruangan utama, terdengar suara rintihan perempuan dari belakang.
Merasa penasaran, Sukma menoleh dan kembali menuju kamar mandi. Dibukakannya pintu kamar mandi, lalu menyapu pandangan ke sekelilingnya. Sama seperti sebelumnya, gadis kecil itu tak menemukan siapa pun di sana. Akan tetapi, ketika ia melangkah lagi menuju ruangan utama, lagi-lagi suara rintihan perempuan terdengar kembali.
Kali ini, Sukma membuka pintu kamar mandi sekeras mungkin. Betapa terkejutnya ia melihat seorang perempuan berbaju merah sedang duduk di dekat ember sambil tersedu-sedu. Sebilah pisau menancap di perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah. Sukma masih terpaku menatapnya dengan mata terbelalak.
"S-siapa Tante? Ngapain Tante ada di sini?" tanya Sukma tergagap-gagap.
Cukup lama Sukma memperhatikan, perempuan itu akhirnya mengangkat kepalanya. Wajah pucatnya penuh luka lebam, seperti habis dihajar oleh seseorang. Sesekali darah mengucur dari hidung dan sudut bibir kirinya. Perempuan itu terus menerus menangis, hingga membuat Sukma iba.
"Sudah, jangan menangis," ujar Sukma masuk ke kamar mandi, lalu menyeka air mata perempuan itu.
Belum sempat berbicara pada Sukma, perempuan itu terkejut melihat kedatangan Bu Inah. Segera ia menghilang dari hadapan gadis kecil itu.
"Dedek lagi ngapain?" tanya Bu Inah.
"Tadi ada tante-tante lagi nangis, Bu," jawab Sukma sambil keluar dari kamar mandi, lalu menunjuk ember. "Di situ tuh."
Penasaran dengan jawaban si bungsu, Bu Inah mencoba mencari tahu ke dalam kamar mandi. Tak ada siapa pun disana. Wanita paruh baya itu keluar dari kamar mandi dengan dahi berkerut.
"Mana, Dek? Kok nggak ada?" tanya Bu Inah.
"Ah, masa?"
"Iya," tegas Bu Inah meyakinkan.
Sukma mengecek kembali kamar mandi. Benar saja, perempuan yang sedang merintih beberapa saat lalu, telah menghilang entah ke mana. Sambil menggaruk kepala belakangnya, Sukma keluar dari kamar mandi.
"Ke mana, ya? Tadi ada di sana kok, Bu. Kenapa nggak ada, ya?" gumam Sukma.
"Mungkin itu halusinasi kamu aja," cetus Bu Inah. "Sudah, mendingan kita istirahat sekarang. Besok kita lanjutin beres-beresnya," ujarnya.
Sukma mengangguk, lalu meninggalkan dapur bersama sang ibu. Sesekali ia menengok ke belakang. Tak ada siapa pun di sana. Gadis kecil itu berani bersumpah, bahwa perempuan yang dilihatnya beberapa saat lalu, benar-benar ada.
__ADS_1
Beberapa meter dari kontrakan, Haji Gufron mondar-mandir di ruang tamu karena merasa gelisah. Khawatir kalau keluarga Pak Risman mendadak membatalkan keputusan untuk tinggal di sana, seperti calon penghuni sebelum-sebelumnya. Menurut pengalamannya, para penghuni terdahulu tak nyaman tinggal di kontrakannya barang semalam pun. Keluhannya tetap sama, diganggu makhluk halus.
Tak lama kemudian, Fadil datang. Haji Gufron yang tak sabar mendengar kabar calon penghuni kontrakan, langsung menghampiri putra semata wayangnya.
"Gimana? Keluarga Pak Risman betah tinggal di kontrakan?" tanya Haji Gufron tidak sabar.
"Baru juga semalam, Pak. Kita lihat saja nanti beberapa hari ke depan," jawab Fadil.
"Mudah-mudahan mereka betah, ya."
"Iya," kata Fadil mengangguk. "Tapi, kenapa Bapak ngasih kunci kontrakan bekas Teh Euis? Bukannya kontrakan itu--"
"Bapak memang sengaja, Fadil. Bapak pikir, jika kamar bekas Euis diisi, semuanya akan membaik seperti dahulu. Kata paranormal yang pernah lewat di depan kontrakan Bapak, kontrakan itu sudah dipenuhi makhluk gaib. Mungkin penyebabnya karena kematian Euis. Tukang gorengan juga bilang ke Bapak, katanya Euis masih gentayangan di kamar sebelahnya."
"Ah, Bapak ini. Yang namanya orang mati, nyawanya sudah ditanyai sama malaikat di alam kubur."
"Terserah kamu aja deh. Bapak cuma ikhtiar agar kontrakan rame lagi kayak sewaktu Ibu masih hidup."
"Ya ampun, Pak. Tapi nggak gitu juga caranya. Padahal kamar kosong masih banyak, Bapak malah nawarin kamar yang ada apa-apanya, pantas saja calon penghuni kontrakan pada kabur."
"Bapak bisa apa lagi, Dil?"
"Coba sekali-kali panggil paranormal atau ahli supranatural buat bersihin kontrakan Bapak. Siapa tahu setelah dibersihkan, makhluk-makhluk itu pada kabur dan kontrakan Bapak rame lagi," saran Fadil.
"Sudah, Dil ... tapi mereka malah balik lagi. Entah ada apa di tanah kontrakan Bapak, sampai-sampai makhluk gaib betah tinggal di sana. Perasaan, dulu Bapak nggak membangun kontrakan di atas tanah kuburan."
"Kalau begitu, besok setelah aku nadran ke makam Ibu, kita pergi nyari orang pinter buat bersihin kontrakan Bapak."
"Iya, tapi siapa?"
"Pokoknya nanti aku cariin deh."
"Harus yang benar-benar bagus, ya. Jangan malah nambah dedemitnya."
"Kalau itu mah urusan Allah, Pak. Ahli supranatural cuma perantara."
"Ya sudah, berarti keputusan Bapak buat ngasih kunci kontrakan bekas Euis sama Pak Risman memang yang paling benar. Lagian kontrakan Bapak sepi itu beberapa bulan setelah kematian Euis."
"Ah, terserah Bapak aja lah. Ngomong-ngomong, Bapak masak apaan di rumah?"
"Pecel lele."
"Ya ampun, pecel lele lagi. Memangnya Bapak nggak mau masak yang lain?"
"Apa daya Bapak, Dil? Bapak cuma bisa masak yang begituan."
...****************...
Jam dinding menunjukkan pukul dua belas tepat. Samar-samar terdengar suara rintihan dari kamar mandi. Atikah yang mendengar suara itu, mendadak terjaga dari mimpi indahnya. Didengarkannya lagi suara rintihan perempuan itu dengan saksama. Kali ini pendengarannya tidaklah salah.
Merasa penasaran, Atikah bangkit dari tempat tidurnya, lalu mengecek pintu masuk kontrakan. Sudah terkunci. Ia berpikir, mustahil ada orang lain yang bisa masuk ke kontrakan jika sudah dikunci rapat.
Lalu, Atikah berjalan perlahan menuju dapur. Jantungnya berdebar kencang tatkala mendengar suara rintihan itu semakin nyaring. Ragu-ragu, Atikah mundur perlahan sambil memandang waspada ke sekitarnya. Setelah beberapa langkah mundur, suara rintihan itu menghilang.
Atikah tertegun. Rasa penasaran yang meliputi benaknya, masih mendorong gadis kecil itu untuk berjalan ke kamar mandi. Pelan-pelan Atikah berjalan ke kamar mandi. Dibukanya pintu perlahan-lahan, terperangah mendapati seorang perempuan berbaju merah yang ditemukan Sukma sesaat setelah menampung air. Sekujur tubuh Atikah seketika melemas, kesadarannya pun lenyap.
__ADS_1