
"Baiklah, tapi kenapa kalian buru-buru pengin ke rumah Abah? Apa kalian nggak mau ketemu sama Uwa dan Bibi dulu?" tanya Pak Risman.
"Nggak mau, Pak. Mulut mereka jahat banget. Masa sama saudara sendiri kayak sama musuh? Sebenarnya Bapak punya masalah apa sama mereka?" jelas Atikah sembari memonyongkan bibirnya. "Daripada dengerin mereka jelek-jelekin Bapak, mendingan aku pulang sama Dedek aja. Ayo, Dek!"
Sukma menautkan tangannya ke lengan Atikah, lalu berjalan sembari mendelik ke arah rumah Emak. Sementara itu, Bu Inah yang sejak tadi duduk di teras, bergegas menghampiri suaminya. Ia pun tidak sabar mendengar alasan kedua putrinya ingin cepat pulang pada Pak Risman.
"Pak, Dedek sama Atikah minta pulang ke rumah Abah, ya?" tanya Bu Inah.
"Iya. Ibu coba bujuk mereka, gih. Nggak enak kalau kita pulang begitu aja tanpa basa-basi dulu sama saudara Bapak," ujar Pak Risman.
"Baiklah, Pak. Tapi kita jangan lama-lama di sininya. Soalnya anak-anak takutnya rewel kalau kelamaan," ucap Bu Inah.
Sementara Bu Inah menyusul kedua putrinya, Pak Risman melenggang masuk ke kediaman Emak. Tampak saudara-saudaranya duduk termenung di ruang tamu, ditemani oleh anak dan istri mereka. Dengan canggung, Pak Risman duduk di antara mereka sambil menatap kakak dan adiknya satu per satu.
Betapa prihatin Pak Risman melihat kondisi fisik keempat saudaranya. Akibat pertarungan melawan si bungsu, mereka harus menerima konsekuensinya. Pak Risman menggeleng lemah, lalu menghela napas dalam-dalam.
"Ngapain kamu lihatin kami, Kang? Apa Kakang senang lihat kami babak belur gara-gara ulah anak angkat kamu?" tanya Bi Neneng dengan sinis.
"Justru saya prihatin lihat kalian semua kayak gini. Lagipula, ngapain kalian adu ilmu kanuragan segala? Hidup ini cuma sebentar," ucap Pak Risman.
"Alah, bilang aja kamu puas balas dendam lewat anak kamu. Kalau aja kamu nggak dikasih anak setan kayak si Sukma, kamu nggak bakal selamat kayak sekarang dan Emak pasti masih tetap hidup," sungut Wa Agus.
Tak lama kemudian, Bu Inah datang bersama Atikah dan Sukma. Sukma yang tidak sengaja mendengar perkataan Wa Agus, segera menghampirinya. Dengan berang, gadis kecil itu memukuli Wa Agus sampai meringis kesakitan.
Bu Inah segera menarik badan si bungsu. Ia langsung berjongkok, memandang kedua mata Sukma yang masih menatap tajam pada salah satu kakak Pak Risman. Adapun Wa Agus hanya meringis kesakitan akibat terkena pukulan di bagian kakinya yang pincang.
"Dedek nggak boleh gitu! Dia itu uwa kamu," tegur Bu Inah dengan mata melotot.
"Dedek nggak suka sama Uwa sama Bibi! Mereka itu nyebelin. Coba aja kalau malam itu Wanara nggak datang, udah Dedek lenyapin satu satu kayak penjahat yang nyulik A Albi," cerocos Sukma kesal.
__ADS_1
Keempat saudara Pak Risman terbelalak mendengar ucapan Sukma. Tubuh mereka menggigil, membayangkan maut yang datang jika malam itu mereka tak melawan kera siluman. Dengan pikiran kalut, mereka pun menunduk. Selain itu, kekuatan Emak yang sudah beralih pada Sukma, membuat nyali mereka ciut dan tak bisa berkutik.
Melihat suasana berubah hening, Pak Risman mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan pendapatnya. Berusaha melepaskan kecanggungan, pria paruh baya itu mulai membuka pembicaraan.
"Begini, saya mau tanya sama kalian semua. Apa kalian akan mengadakan acara tahlilan buat Emak?" tanya Pak Risman dengan seulas senyum pahit di bibirnya.
"Tentu saja. Emangnya Emak mati itu nggak butuh doa, apa?" ketus Bi Neneng sembari mendelik.
"Masalah itu biar kami yang urus. Dananya ada, tinggal persiapannya saja," jawab Bi Yati.
"Hm, baiklah. Kira-kira, akan dilakukan sampai berapa hari?" tanya Pak Risman.
"Sampai tujuh hari. Sebagaimana yang biasa dilaksanakan sama banyak orang," jawab Wa Agus.
"Baiklah kalau begitu, kita kumpulkan dana dulu. Habis itu, laksanakan tahlilan. Saya juga akan ikut menyumbang dana, tapi nggak akan ikut acara tahlilannya," ucap Pak Risman.
"Loh, kenapa begitu? Kang Risman anaknya juga, kan? Harusnya ikut tahlilan. Apalagi Kang Risman paling hafal doa-doanya daripada kami," kata Bi Neneng heran.
"Kakang yakin nggak bakal ikut tahlilan?" tanya Bi Yati.
"Iya. Kan sudah saya bilang, kita nggak sejalan. Harap kalian mengerti," jelas Pak Risman.
"Baiklah kalau Kang Risman nggak mau. Biar semuanya kami urus. Kalau Kang Risman mau pulang ke Bandung, silakan aja. Emak masih punya kami, kok," kata Bi Neneng dengan sinis.
"Syukurlah kalau kalian mengerti. Kami pulang dulu, ya. Saya khawatir anak-anak rewel," pamit Pak Risman beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu, Risman! Ada satu hal yang mau kami sampaikan," ujar Wa Agus.
"Apa?" tanya Pak Risman.
__ADS_1
"Mulai saat ini, kami berjanji nggak akan mengguna-guna kamu lagi," kata Wa Agus.
"Benarkah? Jadi, kalian udah menyesal sama perbuatan kalian dan mau bertaubat?" tanya Pak Risman dengan raut semringah.
Bi Neneng menggeleng, menghampiri kedua kakaknya. "Kami nggak akan mengguna-guna Kakang lagi bukan karena mau taubat, tapi karena Sukma."
Pak Risman mengernyitkan kening. "Sukma? Emang kenapa dengan Dedek?"
"Dia sudah memiliki semua kekuatan Emak. Kalau sampai kami bertindak gegabah, maka kami yang akan kena batunya," jelas Bi Yati sembari memegangi dadanya.
Pak Risman menghela napas, kemudian berpamitan pada keempat saudaranya sembari menyelipkan uang sebanyak lima ratus ribu ke tangan Wa Agus. Selanjutnya, ia bersama istri dan kedua putrinya melenggang keluar rumah. Ini merupakan hari terakhirnya berkunjung ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan. Namun, semua kenangan itu sudah memudar seiring dengan berjalannya waktu, hingga dikotori oleh kemusyrikan dan kedengkian dari saudara-saudaranya sendiri.
Sembari berjalan ke rumah Abah, sesekali Pak Risman menoleh ke belakang. Pemahamannya akan orang tua musyrik yang tak layak didoakan, sudah diterapkan. Menurutnya, mengharap kemurahan Tuhan untuk mengampuni kemusyrikan orang tua, tidaklah berguna. Justru, ia sangat menyesali karena tak sempat menuntun ibunya ke jalan yang benar sewaktu masih hidup.
...****************...
Pada hari keenam lebaran, Pak Risman beserta keluarga kecilnya kembali ke Bandung. Ia tak peduli dengan semua perkataan orang-orang mengenai dirinya yang tak menunggu sampai hari ketujuh kematian Emak. Pria paruh baya itu hanya tersenyum, lalu melenggang pergi menuju jalan raya.
Selama di perjalanan, Sukma merasa kegerahan karena kerudung yang menutupi rambut panjangnya yang gimbal. Ia tak mau dipotong rambut sebelum pulang ke Bandung. Selain itu, tubuhnya yang masih menyesuaikan dengan ajian dari Emak, membuatnya beberapa kali tumbang. Namun, meskipun begitu, ia akan cepat pulih kembali seperti sedia kala.
Selama di dalam bus, Sukma tertidur pulas. Ia merasakan aliran darahnya begitu deras mengalir, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat. Perlahan, mimpinya membawa Sukma berjalan lebih dalam. Suara bising kendaraan dan orang-orang di dalam bus, tak lagi terdengar olehnya. Gadis kecil itu mulai masuk ke alam bawah sadarnya yang paling dalam.
Di sana, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan gelap. Perlahan-lahan, cahaya memasuki ruangan gelap itu, hingga memunculkan suasana-suasana berbeda setiap detiknya. Bermula dari kemunculan sosok wanita seusia Bu Inah yang sedang meronta-ronta di dalam bekas kandang ayam, lalu beralih ke sebuah rumah megah di perkomplekan yang dihuni oleh sepasang suami istri. Selanjutnya, dengan cepat mimpi itu beralih pada tragedi mengerikan yang mengenai wanita paruh baya penghuni rumah megah itu bersama suaminya. Tak hanya itu saja, Sukma juga melihat sosok besar berwarna hitam sedang manarik paksa nyawa pria yang mengalami kecelakaan itu di ruang ICU.
Sukma menghela napas dalam-dalam, lalu suasana berubah menjadi malam gelap gulita yang disertai hujan petir. Sosok wanita penghuni rumah datang lagi dalam pandangannya. Ia melihat makhluk yang merenggut nyawa pria di ruang ICU berubah menjadi sosok suami dari wanita itu. Mereka masuk ke dalam rumah, sebagaimana pasangan suami istri harmonis lainnya. Berlanjut pada sosok baru lagi, yang kini berupa pria seumuran Mbah Suro. Pria itu sedang duduk di padepokan dan didatangi oleh suami wanita yang mengalami kecelakaan. Ia diintimidasi oleh tamunya, sampai tak berdaya.
Kini, mimpinya beralih lagi pada kehadiran sosok pemuda tampan memakai seragam SMA. Senyumnya begitu menawan, hingga membuat banyak gadis remaja terpikat oleh parasnya. Sukma tersenyum lebar. Akan tetapi, semuanya berubah tatkala melihat sosok seorang gadis berkulit pucat dengan rambut panjang terurai, sedang diolok-olok oleh temannya. Mimpinya seketika melompat pada peristiwa seorang anak laki-laki menangis tersedu-sedu melihat kakeknya meregang nyawa. Dari mata anak laki-laki itu, muncul lagi sosok mengerikan yang merenggut nyawa pria di ruang ICU. Ia membuka mulutnya lebar-lebar hingga Sukma terbangun dibuatnya.
"Dibangunin dari tadi malah keenakan bobo. Ayo kita turun! Sebentar lagi naik angkot," ujar Bu Inah.
__ADS_1
Sukma dengan terengah-engah, berjalan di depan ibunya. Satu per satu tangga bus dipijaknya. Pikirannya masih tertuju pada mimpi aneh dengan kejadian acak beberapa saat lalu. Ia berpikir, bahwa pengaruh kekuatan Emak sudah menyatu dengan tubuhnya.