
Seiring mentari yang kian meninggi, Bu Inah bergegas pergi ke Bandung, untuk mengurus kepindahan dari sekolah Atikah dan Sukma. Dengan bermodalkan nekat, wanita paruh baya itu meninggalkan kontrakan.
Sebenarnya, Pak Risman tak tega membiarkan istrinya pergi sendiri. Namun karena keadaan yang tidak memungkinkan, ia akhirnya harus menuruti perkataan Bu Inah untuk mengurus anak-anak saja di kontrakan baru. Bu Inah takut, kalau-kalau pergi ke Bandung berempat, maka kehadiran mereka akan diketahui Hilman. Bukan itu saja, orang-orang sekitar komplek akan mengenali mereka dan menghina Pak Risman.
Ketika melewati kediaman Haji Gufron, tak sengaja Bu Inah bertemu dengan Fadil yang sedang mengeluarkan motor dari bagasi rumah. Fadil pun segera mengendarai motornya, lalu membukakan gerbang.
"Bu Inah mau ke mana?" tanya Fadil dengan ramah.
"Saya mau ke stasiun, mau ke Bandung dulu buat ngurus kepindahan sekolah anak-anak saya," jelas Bu Inah.
"Oh, kalau begitu mari, saya antar! Saya juga mau ke pasar sekalian, disuruh Bapak buat beli bahan makanan," ujar Fadil.
"Ah, nggak usah repot-repot, Dek Fadil. Saya bisa pergi sendiri."
"Nggak perlu sungkan, Bu. Saya ikhlas kok ngantar Ibu sampai ke stasiun. Ayo, Bu, saya bonceng."
Bu Inah yang semula sangat canggung menerima bantuan dari Fadil, akhirnya menyetujui saran putra Haji Gufron itu. Setelah naik ke jok belakang motor Fadil, keduanya pun pergi meninggalkan kediaman Haji Gufron.
Selama di perjalanan, Fadil menjelaskan angkot jurusan mana saja yang bisa dinaiki agar cepat sampai ke kontrakan. Katanya, angkot-angkot itu beroperasi hingga malam. Ia juga berujar, Bu Inah tak perlu khawatir jika pulang kemalaman.
Setibanya di stasiun, Bu Inah berterima kasih banyak pada Fadil yang sudah bersedia mengantarnya. Ia tak tahu bagaimana jadinya jika pergi ke stasiun hanya modal nekat saja. Bisa-bisa, waktu yang seharusnya sangat singkat untuk pergi ke stasiun, justru menjadi panjang gara-gara tersesar. Fadil pun senang sudah membantu Bu Inah. Ia berpamitan, lalu bergegas ke Pasar Padalarang.
Saat masuk ke stasiun, Bu Inah melirik jam dinding. Sudah pukul delapan rupanya. Tak mau berlama-lama, ia segera membeli tiket. Rupanya perlu menunggu seperempat jam lamanya hingga kereta tujuan Stasiun Bandung.
Sementara itu di kontrakan, Atikah tampak sibuk mengejar adiknya yang berlarian ke sana kemari. Beruntung, tetangga sebelah tidak ada di kamar kontrakannya, jadi mereka bisa bebas bermain tanpa ada yang merasa terganggu. Mang Ujang sedang jualan gorengan, istrinya bekerja di pabrik, sedangkan anak laki-lakinya sedang sekolah.
"Ayo, Teteh, tangkap aku!" teriak Sukma sambil berlari.
"Dedek! Bisa berhenti sebentar nggak? Teteh capek ngejar kamu terus," seru Atikah dengan terengah-engah.
Sukma menuruti kakaknya yang sedang membungkukkan badannya di teras salah satu kamar kontrakan. Sambil menunggu sang kakak mengejarnya, gadis kecil itu iseng-iseng mengintip jendela. Tampak ruangan kosong nan gelap di dalamnya. Cukup lama ia mengintip ke dalam sana, hingga ada sesuatu bergerak dari arah dapur. Seperti ada jemari seseorang yang merayap perlahan di dinding.
Atikah yang sudah mengumpulkan tenaga untuk mengejar adiknya, segera bangkit dan berjalan dengan gontai. Melihat Sukma yang masih berdiri sambil menempelkan wajah dan tangannya ke kaca jendela, Atikah berniat untuk mengagetkannya. Sambil tersenyum geli, ia berjalan dengan mengendap-endap.
Akan tetapi, sebelum Atikah berhasil mengagetkan Sukma, jantung adiknya itu berdebar semakin kencang tatkala melihat sebuah tangan keluar dari dinding dekat kamar mandi. Napasnya kian memburu, seiring dengan kemunculan sebuah wajah pucat dengan seringai ngeri di bibirnya dari arah dapur. Seketika Sukma terlonjak kaget, kemudian menoleh pada sang kakak yang sudah berdiri di dekatnya sejak tadi.
"Ada apa, Dek? Belum juga Teteh kagetin, malah lompat duluan," kata Atikah terheran-heran.
"I-Itu, Teteh! Ada orang di dalam sana!" pekik Sukma.
Atikah penasaran dengan sesuatu yang dilihat adiknya. Ia pun mengintip ke dalam kamar kontrakan, lalu memandang lagi sang adik.
"Mana? Nggak ada," kata Atikah dengan rigan.
"Tadi ada, Teh. Dia nyengir ke Dedek!"
"Ah, sudahlah. Ayo kita main lagi! Mungkin itu halusinasi Dedek aja," ujar Atikah.
Sukma yang tidak percaya pada perkataan sang kakak, mengintip kembali ke dalam kamar kontrakan kosong itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat wajah dengan seringai mengerikan itu sudah ada di depan kaca. Gadis kecil itu kemudian berlari menuruni tangga, menuju kamar kontrakan ayahnya yang ada di bawah.
Sementara Sukma bergegas ke dalam kamar kontrakan untuk mengambil permainan monopoli, Bu Inah baru saja tiba di sekolahnya Atikah. Wanita paruh baya itu berjalan dengan cepat untuk menemui staf sekolah. Dipandanginya orang-orang sekitar, yang terlihat saling berbisik-bisik sambil sesekali memandang sinis padanya. Mereka yang mengenal Bu Inah, enggan menyapa karena aib yang ditorehkan Pak Risman pada keluarga Hilman.
Selesai mengurus raport dan kepindahan Atikah, selanjutnya Bu Inah bergegas ke sekolahnya Sukma. Betapa gugupnya ia menghadapi ibu-ibu yang sedang mengobrol di halaman sekolah, menunggui putra-putrinya belajar. Dengan canggung, wanita paruh baya itu berjalan sambil sesekali tersenyum. Para ibu itu seakan-akan acuh tak acuh pada kehadiran Bu Inah.
Namun, dari sekian banyak orang yang membenci Bu Inah akibat aibnya di rumah Hilman, hanya ibunya Giska yang masih ramah menyapa. Wanita berambut pendek itu menghampiri Bu Inah dengan tersenyum simpul seperti biasanya.
"Bu Inah, mana Dek Sukma? Nggak sekolah?" tanya ibunya Giska.
__ADS_1
"Enggak, Bu. Kami sudah pindah," jawab Bu Inah.
"Oh, pindah. Kirain masih sekolah."
"Iya, kami pindah dua hari yang lalu, tapi belum sempat ngurus kepindahan sekolah anak-anak," jelas Bu Inah.
"Ya iyalah belum sempat. Kan udah diusir karena kepergok mau numbalin majikannya," kata ibunya Nurul memandang sinis, lalu disusul oleh gelak tawa ibu-ibu lainnya.
"Astaghfirullah, Bu Inah. Apa benar begitu, Bu?" tanya ibunya Giska dengan mata membelalak.
"Saya nggak peduli apa kata orang lain, Bu. Yang jelas, saya ini nggak pernah melakukan hal seperti itu dan hanya menyerahkan semuanya sama Allah. Itu saja."
Ibunya Giska mengusap pundak Bu Inah dengan penuh empati. "Saya percaya, Bu. Ibu sekeluarga mustahil berbuat seperti itu."
"Sejengkel-jengkelnya saya sama majikan, saya nggak akan berani berbuat sekeji itu. Bagaimanpun juga, keluarga Pak Hilman adalah atasan saya. Saya harus menghormatinya."
"Iya, Bu. Saya mengerti. Makanya, saya nggak terlalu dekat-dekat dengan ibu-ibu itu karena suka bergosip yang tidak jelas asal-usulnya."
Bu Inah mengangguk. "Terima kasih, ya, sudah percaya sama saya. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mau ngurus kepindahan Dedek."
"Silakan."
Selama mengurus kepindahan Sukma dari sekolah, Bu Inah tidak banyak bicara. Ia hanya menjelaskan bahwa keluarganya sudah tidak betah lagi tinggal di paviliunnya Hilman. Tak lupa, wanita paruh baya itu memberitahu alamatnya sekarang ini dengan rahasia. Takut jika Hilman mencarinya suatu saat nanti.
Selesai mengurus semua administrasi sekolah kedua putrinya, Bu Inah tak mau berlama-lama di Bandung. Bergegas ia menunggu angkot yang menuju langsung ke stasiun. Namun, saat angkot hendak datang mengangkut Bu Inah, wanita paruh baya itu tiba-tiba dihampiri oleh Arini.
"Bu, tolong jangan pergi dulu. Farah, Bu, Farah ...." ujar Arini dengan wajah memelas sambil memegangi tangan Bu Inah.
"Maaf, Bu. Saya sudah tidak mau berurusan lagi sama keluarga Pak Hilman," kata Bu Inah melepas genggaman Arini dari tangannya.
"Lalu urusannya dengan saya apa, Bu? Saya sudah nggak mau tahu. Silakan kalian bawa Bu Farah ke dokter spesialis atau mungkin berobat ke luar negeri. Kalian banyak uang untuk pergi ke dokter yang lebih bagus," cerocos Bu Inah kesal.
"Kami sudah mencobanya, Bu Inah. Hasilnya tetap sama, tak ditemukan penyakit serius di badan Farah."
"Kalau begitu, cari saja dokter yang lain. Saya sedang buru-buru, Bu."
"Saya mohon, Bu Inah. Hanya Sukma yang bisa menolong Farah."
Bu Inah mengernyitkan kening ketika mendengar permohonan Arini. "Sukma?" tanyanya heran. "Apa yang bisa dilakukan putri bungsu saya pada Farah? Dia masih kecil, Bu. Jangankan ilmu medis, berhitung saja masih harus diajari."
"Ini nggak ada kaitannya dengan ilmu medis, Bu Inah. Tapi dengan--"
"Cukup, Bu! Apa Ibu tidak malu, menyuruh suami saya berbohong di depan Farah agar kami pergi dari sana? Lalu, setelah kami sudah tenang tinggal jauh dari kalian, Ibu malah minta-minta anak saya menolong Bu Farah. Sebenarnya apa masalah Ibu dengan keluarga saya?"
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Sebenarnya, saya berbuat begitu karena ingin menyembunyikan rahasia saya."
"Rahasia? Rahasia apa?" bentak Bu Inah. "Ibu ini egois sekali. Demi rahasia pribadi, Ibu berani mengusir kami dengan tuduhan yang keji. Astaghfirullah."
Ternyata, Arini sudah dibuntuti oleh Hilman sejak pagi. Pria itu mulai mencurigai Arini saat mencari keluarga Pak Risman ke arah timur. Kali ini, usahanya perlahan-lahan membuahkan hasil. Ia menguping pembicaraan antara dua wanita itu, dan akhirnya sudah menemukan alasan sebenarnya keluarga Pak Risman pergi dari rumahnya.
Merasa geram dengan Arini yang sudah ikut campur dalam rumah tangganya, Hilman mencoba untuk melabrak bibi dari istrinya itu. Namun, sekali lagi ia berpikir, jika sampai Arini disergap saat ini juga, maka rahasianya yang lain tidak akan terungkap. Hilman tetap tenang bersembunyi di pohon dekat dengan mobilnya terparkir.
"Saya mohon, Bu. Saya mohon dengan sangat. Kalau Bu Inah tidak mengizinkan Sukma untuk menolong Farah, maka biarkan saya bertemu dengan putri bungsu Ibu."
"Untuk apa Ibu bertemu dengan putri bungsu saya? Dia nggak akan bisa berbuat apa-apa untuk Bu Farah."
"Saya mohon, Bu."
__ADS_1
"Baiklah. Tapi, Ibu jangan coba-coba membujuknya untuk datang menemui Farah, ataupun menghasut suami saya agar kembali ke kediaman Pak Hilman. Saya sudah lelah dihina terus, Bu."
"Iya. Saya janji," kata Arini dengan segaris senyum pahit di bibirnya. "Sekarang mari. Saya akan mengantar Ibu pulang."
Melihat keduanya melenggang menuju mobil Arini, Hilman segera masuk ke mobilnya dan membuntuti mereka. Ia pun ingin segera bertemu dengan Sukma, mengingat mimpi yang pernah diceritakan oleh Farah.
Sebenarnya Hilman tak pernah berhenti memikirkan perihal mimpi yang dialami Farah sejak malam itu. Terlebih saat mencari keluarga Pak Risman ke arah timur Kota Bandung seharian. Cukup jauh ia berkelana mencari keluarga orang kepercayaannya itu, tapi hasilnya tetaplah nihil. Kendati demikian, Hilman tak mau menyerah begitu saja, setelah mengorbankan jam kerjanya demi menemukan Pak Risman. Hingga suatu ketika, ia didatangi oleh seorang pria saat beristirahat di sebuah warung pinggir jalan, tepatnya di daerah Majalaya.
"Lagi nyari keluarga pembantu, ya?" tanya pria asing itu.
"Keluarga pembantu?" Hilman balik bertanya dengan kening mengernyit.
"Iya. Keluarga orang yang kamu percayai."
"Keluarga Pak Risman?" tanya Hilman dengan wajah yang mulai berseri. "Bapak tahu di mana mereka?"
"Kalau kamu mau mencari mereka, harusnya ke arah barat, bukan timur," jelas pria asing itu.
Hilman masih tidak mengerti dengan ucapan pria itu.
"Kamu ini katanya orang terpelajar, tapi nggak paham dengan maksud saya," kata pria itu sambil terkikik-kikik. "Untuk apa kamu nyari mereka ke sini? Di sini, kamu nggak bakal menemukan apa pun. Mereka pergi ke barat. Bisa saja ke Lembang atau Padalarang."
Tertegun Hilman mendengar ucapan pria asing itu. Setelah lama berpikir, ia melirik si pria asing dengan dahi berkerut.
"Dari mana Bapak tahu kalau mereka pergi ke arah barat?"
"Saya cuma kasihan sama kamu," jawabnya. "Kamu ingin meminta maaf, tapi orangnya nggak ketemu. Istri kamu juga sedang kena penyakit dari makhluk kiriman."
"Loh, bagaimana Bapak bisa tahu kalau istri saya lagi sakit? Bapak paranormal, ya?"
"Tidak, saya hanya menerawang saja. Saya sarankan, kalau kamu mau cari keluarga pembantumu itu, selidiki dulu orang sekitar kamu. Jangan-jangan dia yang menyebabkan penyakit istri kamu semakin parah."
"Siapa?"
"Kamu pasti tahu sendiri," kata pria asing itu mengangguk takzim. "Sekali-kali kamu ajak ngobrol dia baik-baik. Kalau tidak bisa, perhatikan saja gerak-geriknya sampai kamu tahu jawabannya."
Dan, Hilman pun mencurigai Arini. Memang, setelah kedatangannya ke rumah beberapa hari lalu, Farah merasakan gatal yang hebat di sekujur tubuhnya. Akan tetapi, ia tak mau langsung menuduh bibi istrinya itu, mengingat ada orang lain yang dicurigainya, Ratna.
Kini, ia tak mau menyerah dalam memata-matai bibi istrinya, apalagi saat mengetahui mobil Arini menuju ke arah barat. Hilman mengira, mereka akan pergi ke arah Lembang. Namun rupanya, dugaan Hilman salah. Mobil yang ditumpangi oleh Arini dan Bu Inah, melaju ke arah Padalarang.
Setelah cukup lama mengingat-ingat jalur menuju kontrakan, akhirnya Bu Inah pun tiba bersama Arini di depan gerbang kontrakan Haji Gufron. Arini mengikuti Bu Inah dari belakang, malu ia jika memang harus bertemu dengan Pak Risman. Dengan tergugu, wanita tua itu berjalan di belakang Bu Inah.
Tak lama setelah pintu diketuk, Pak Risman membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat istrinya datang bersama Arini. Pun dengan Sukma, yang sudah lama mendambakan ingin bermain dengan wanita tua itu.
"Bu Arini?!" Pak Risman membelalakkan mata. "Kenapa Ibu--"
"Saya ingin meminta maaf pada kalian. Atas kesalahan saya, penyakit Farah semakin kritis," ucap Arini dengan tertunduk lesu.
"Bu, maafkan saya sebelumnya jika saya berbuat lancang," kata Bu Inah. "Sebenarnya saya mau tanya, tujuan Ibu memberi uang pada suami saya untuk mengaku menumbalkan Bu Farah itu apa? Sungguh, saya tidak mengerti dengan sikap Ibu."
"Sebenarnya ... saya punya rahasia yang belum pernah Farah ketahui."
"Iya, tapi rahasia apa?" tanya Bu Inah mendesak.
"Kalian janji, ya, nggak akan mengatakan ini sama keluarga Farah."
Bu Inah dan Pak Risman mengangguk. Sukma yang mengetahui identitas asli Arini, hanya duduk menyimak di dalam kamar kontrakan sembari tersenyum-senyum. Hilman yang samar-samar mendengar ucapan Arini dari kejauhan, mulai mendekati gerbang kontrakan sambil menatap waspada. Khawatir kalau Arini sampai memergokinya telah membuntuti sejak tadi.
__ADS_1