
"Berhenti! Jangan lukai Tante Farah!" seru Sukma.
"Minggir kamu, Anak Setan! Jangan halangi aku!" bentak Mbah Suro sembari memelototi gadis kecil itu.
Sukma tetap berdiri di depan ibunya dan Farah, dengan tatapan tajam menusuk yang mengarah pada Mbah Suro. Bu Inah tak terima si bungsu dikatai Anak Setan oleh pria tua itu. Ia meminta Hilman untuk memegangi Farah, lalu berjalan dengan tegap ke hadapan Mbah Suro.
"Siapa yang kamu sebut 'anak setan', ha? Berani-beraninya kamu menyebut anak saya sebagai Anak Setan!" bentak Bu Inah balik memelototi Mbah Suro.
"Minggir dari hadapanku, Dasar Babu! Kamu tidak tahu apa-apa tentang anak itu!" maki Mbah Suro dengan lantang.
"Saya ibunya!" tegas Bu Inah menunjuk diri sendiri. "Sampai kapan pun saya tidak akan terima kalau anak saya dihina!"
"Alah, minggir kamu! Mengganggu saja," kata Mbah Suro mendorong Bu Inah sampai tersungkur.
Bu Inah kesulitan berdiri tatakala Mbah Suro mendekati Sukma. Ia khawatir, putri bungsunya akan dicelakai olah pria tua itu. Sekuat tenaga, Bu Inah berusaha berdiri dan mencegah Mbah Suro untuk menyakiti Sukma. Namun, kekuatan Mbah Suro yang begitu besar, membuat wanita paruh baya itu terpental kembali ke belakang.
Sukma masih menatap tajam Mbah Suro. Ia tetap berdiri di depan Farah, tanpa gentar sedikit pun. Mbah Suro yang merasa geram melihat tingkah sok jagoan Sukma, tak sabar ingin memberi pelajaran untuk gadis kecil itu.
Mbah Suro mulai mengumpulkan semua kekuatannya di tangan, lalu mengerang Sukma dengan sekuat tenaga. Alih-alih membuat gadis kecil itu lumpuh, kekuatan Mbah Suro tak ada apa-apanya si hadapan Sukma. Gadis kecil itu baik-baik saja dan tak terdorong sedikit pun oleh tenaga dalam Mbah Suro. Sukma masih berdiri tegak di depan Farah sambil mengepalkan tangan.
Wanara yang menyaksikan keanehan itu, seketika terpaku memandang Sukma. Di matanya, gadis kecil itu telah berubah ke wujud aslinya. Aura merah gelap berpendar dari tubuh Sukma, hingga membuat Wanara gemetar.
Mbah Suro masih menyepelekan Sukma. Serangan demi serangan dilancarkannya agar gadis kecil itu segera tumbang dan enggan melawan. Namun, kenyataannya Sukma masih berdiri hingga Mbah Suro menyadari sesuatu.
Sukma menyerap semua serangan Mbah Suro sampai wujud aslinya tampak di depan dukun itu.
Mbah Suro melangkah mundur perlahan. Penglihatannya akan gadis kecil berambut pendek, kian lama kian berubah. Wujud Sukma menjadi lebih mengerikan di mata Mbah Suro. Tubuhnya yang hitam legam dengan aura merah gelap berpendar, justru membuat pria tua itu gemetar ketakutan.
"A-ampun ... ampuni saya," Mbah Suro memeohon seraya menyatukan kedua telapak tangannya.
Sukma terus melangkah mendekati Mbah Suro dengan tangan mengepal. Matanya merah menyala, seperti terbakar api amarah yang bergejolak dalam hatinya. Ketika mulutnya terbuka, maka terlihat empat taring tajam di dalamnya.
Melihat Mbah Suro yang semakin ketakutan, membuat Farah, Hilman, dan, Bu Inah merasa heran. Pria tua yang sejak tadi terlihat angkuh, mendadak ciut nyali di hadapan Sukma. Bahkan, ia sampai tersungkur dan beringsut mundur dari gadis kecil itu.
Berkali-kali Mbah Suro memohon ampun pada Sukma. Namun, usahanya untuk menghindari gadis kecil itu, tetaplah gagal. Sukma sudah berdiri sangat dekat dengannya, seperti siap untuk menyerangnya. Pria tua itu kehilangan daya, hingga tak sanggup untuk berdiri lagi.
Tak peduli pada pria tua yang memohon ampun berkali-kali, Sukma tetap berjongkok di dekatnya. Ditempelkannya telapak tangan ke dada Mbah Suro, lalu berkomat-kamit merapal mantra yang entah dari mana dipelajarinya. Pria tua itu semakin ketakutan melihat mata merah menyala-nyala dari si gadis kecil bertanduk. Tak lama kemudian, sekujur tubuhnya terasa panas terbakar. Mbah Suro bergelinjang sambil menjerit kesakitan akibat tenaganya yang diserap oleh Sukma. Semua ajian dan amalan yang dipelajarinya semasa muda, seakan tak berarti di hadapan anak iblis itu.
Bu Inah mendadak panik, melihat Mbah Suro menggelinjang hebat dan menjerit-jerit. Ia tak mau jika Sukma melakukan hal buruk pada pria tua itu. Sekuat tenaga, wanita paruh baya itu bangkit. Sebisa mungkin ia beringsut meraih si bungsu agar tidak menyakiti Mbah Suro lebih parah lagi.
Berhasil meraih tangan putrinya, Bu Inah mencoba untuk membujuknya. "Dedek, jangan sakiti dia. Ibu baik-baik saja. Tolong, maafkan dia, Dek."
Meski berdekatan, suara Bu Inah terdengar sangat jauh oleh Sukma. Gadis kecil itu hanya mendengar bujukan ibunya samar-samar. Tangannya masih menekan dada Mbah Suro. Aliran darahnya mengalir deras, seperti mendapatkan banyak tenaga dari tangannya.
Setelah seluruh tenaga Mbah Suro terserap dan jantungnya tak berdetak lagi, Sukma melepaskan tangannya dari dada pria tua itu. Ia berdiri, lalu menatap kosong pada mayat Mbah Suro yang mulutnya masih menganga dengan lidah menjulur. Selanjutnya, gadis kecil itu memandang sang ibu yang terperangah dengan perlakuannya pada Mbah Suro.
"Ibu, kita pulang, yuk!" ujar Sukma memegang tangan ibunya.
Bu Inah mendongak pada putrinya, lalu berkata, "Dek, apa yang udah Dedek lakuin ke kakek ini? D-dia ... dia sudah ... s-sudah nggak bernapas lagi."
"Dedek nggak ngapa-ngapain, Bu. Cuma nempelin tangan ke kakek itu, terus dia jerit-jerit."
Bu Inah termenung memandangi pria tua tak bernyawa itu. Secepatnya ia menggendong Sukma ke teras rumah Hilman, lalu memandangi Hilman dan Farah. Keduanya tampak syok setelah menyaksikan kejadian aneh di depan mata. Seorang pria tua ketakutan pada anak kecil, lalu mati secara tiba-tiba ketika dadanya ditekan oleh Sukma.
__ADS_1
"Pak, Bu. Maafkan anak saya. Anak saya tidak bermaksud untuk--"
"Tidak, Bu Inah. Ibu nggak usah meminta maaf," kata Hilman.
"Tapi anak saya ... anak saya sudah berulah, Pak."
"Tidak, tidak. Justru saya harus berterima kasih sama Dek Sukma. Berkat dia, Farah selamat dari serangan dukun itu," ucap Hilman, berusaha menenangkan kecemasan Bu Inah.
Bu Inah melirik Sukma. Si bungsu tampak tersenyum-senyum, lalu berlari dengan lincah ke halaman belakang rumah. Ia benar-benar tak mengerti dengan semua kejadian aneh hari ini. Mbah Suro yang menurutnya sangat kuat itu, akhirnya tewas ketika Sukma meletakkan telapak tangan di dadanya.
Arini tersenyum lega, sepupunya sudah tiada. Ia juga merasa tenang setelah rahasianya terungkap di hadapan keponakannya. Setidaknya, beban di pundaknya sudah berkurang. Tak peduli Farah akan tetap menerimanya atau tidak, Arini tetap bahagia akan kesembuhan keponakannya.
Bu Inah memapah Farah masuk ke rumah, lalu membaringkannya di kasur. Sementara itu, Hilman membopong Arini ke dalam ruang tamu. Wanita tua itu kini benar-benar lumpuh. Ia hanya bisa memandang dan berbicara saja, sedangkan semua bagian tubuh lainnya benar-benar tak berfungsi.
Sukma yang sejak tadi bermain bersama Wanara, berlari masuk ke rumah Hilman. Ketika sampai di ruang tamu, Arini memanggilnya dengan suara lemah. Meski begitu, Sukma masih bisa mendengar panggilan Arini. Segera gadis kecil itu menemui seseorang yang memanggilnya, laku duduk di sebelah sofa pembaringan Arini.
"Tante Arini, Tante masih bisa ngomong?" tanya Sukma dengan polos.
Arini menjawabnya dengan senyum simpul dan kedipan mata.
"Tante bisa duduk?"
"Enggak, Dek," jawab Arini dengan lemah. "Dedek bisa sembuhin Tante nggak?"
Termenung Sukma memandangi tubuh Arini dari ujung kepala sampai kaki. Mulutnya mengerucut, matanya menatap kosong. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya mulut Sukma mulai terbuka.
"Tante, aku nggak mau Tante meninggal kayak kakek-kakek jahat itu," jawab Sukma.
"Bukan itu, Tante. Badan Tante sudah rusak semua. Kalau aku pegangin Tante buat disembuhin, nanti Tante mati."
Arini hanya bisa berpasrah. "Ya udah, nggak apa-apa."
"Maaf, ya, Tante. Aku cuma pengin Tante hidup. Biar aku bisa lihat Tante terus."
Arini tersenyum menatap wajah lugu Sukma. Ia kemudian membiarkan gadis kecil itu kembali bermain. Mendengar kepedulian Sukma padanya, hati Arini merasa terharu. Menurutnya, didikan tata krama dari Bu Inah pada Sukma sudah berhasil.
...****************...
Selesai mengembalikan jenazah Mbah Suro pada keluarganya, Hilman mengantar Bu Inah dan Sukma pulang ke Padalarang. Setibanya di kontrakan, Hilman ikut mengantar keduanya, lalu bertemu dengan Pak Risman sebentar. Hati kecilnya masih ingin berusaha membujuk keluarga kecil itu untuk tinggal lagi di paviliun. Ia berharap, Pak Risman setuju dan dapat bekerja lagi di rumahnya.
Ketika Pak Risman membuka pintu, Hilman menyapanya dengan ramah. Pak Risman mengajak Hilman masuk ke kontrakannya, lalu menyuguhkan air minum.
"Nggak usah repot-repot, Pak. Saya ke sini cuma sebentar," ucap Hilman sungkan.
"Pak Hilman ini, kenapa buru-buru segala? Di rumah ada Bi Reni yang jagain Bu Farah, kan?"
"Iya, tapi Bi Reni nggak seandal Bu Inah kalau urusan menjaga orang," kata Hilman.
Sementara kedua orang tuanya becakap-cakap dengan Hilman, Sukma membawa Wanara berkeliling area kontrakan bersama Atikah. Bangunan itu kini sudah tampak bersih, seperti sedia kala. Ke mana pun Sukma berlari, akan tercium aroma wangi dari pembersih lantai. Ia sangat senang bisa kembali ke kontrakan sambil membawa Wanara. Setidaknya, gadis kecil itu tak kesepian lagi jika berada di rumah sendirian.
Hilman mulai menyatakan maksudnya pada Pak Risman. Katanya, ia ingin Pak Risman dan keluarganya kembali ke paviliun. Akan tetapi, rupanya Pak Risman tidak langsung setuju, mengingat istri dan anaknya yang tak sanggup lagi dihina oleh Farah.
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak mau tinggal lagi di paviliun saya?" tanya Hilman memastikan.
__ADS_1
"Aduh, bagaimana, ya?" Pak Risman bingung.
"Sekarang Bapak tinggal di sini harus bayar uang sewa, kan? Kalau kembali ke paviliun, Bapak tak perlu memikirkan banyak biaya hidup. Semuanya sudah ditanggung oleh saya, tinggal Bapak dan Ibu nyaman bekerja saja," bujuk Hilman berusaha meyakinkan.
Sejenak, Pak Risman dan Bu Inah saling tatap. Mereka masih memikirkan perkataan orang-orang tentang aib yang sebenarnya tidak pernah dilakukan Pak Risman. Bukan hanya itu saja, Arini yang sekarang lumpuh pun, tak bisa berbuat banyak untuk mengembalikan nama baik keluarga Pak Risman.
"Bagaimana, Pak, Bu?" tanya Hilman sekali lagi.
"Aduh, Pak. Kami bukannya nggak mau. Masalahnya, orang-orang sudah mencap buruk keluarga kami. Kami nggak bisa kembali lagi ke sana," jawab Bu Inah.
"Soal itu, akan saya coba selesaikan. Bapak dan Ibu cukup bekerja saja dengan tenang, nggak perlu memikirkan perkataan orang-orang."
"Tapi kami tetap nggak bisa, mengingat Bu Farah ...." Bu Inah mendadak termenung. Terlintas di pelupuk matanya akan seberapa kejam Farah menghina dirinya dan anak-anak.
"Ada apa dengan Farah? Dia suka berbicara ketus sama Ibu?" tanya Hilman dengan rasa sungkan.
"Begini, Pak. Sebenarnya setelah pergi dari rumah Bapak, kami berencana untuk membuka usaha saja. Kalau terus-terusan bekerja di rumah Bapak, kapan kami bisa hidup mandiri?" jelas Pak Risman. "Setiap keluarga juga memiliki beban biaya hidup dan lain sebagainya. Biarlah kami hidup begini saja."
"Tapi, Pak. Saya sangat ingin membalas budi baik dan kejujuran Bapak. Maafkan istri saya jika dia sudah memperlakukan kalian secara tidak baik. Dia memang begitu. Harap dimaklumi, Pak."
Pak Risman tersenyum sejenak, lalu menatap Hilman. "Tidak, Pak. Ini bukan tentang istri Bapak," ucapnya. "Saya hanya ingin hidup mandiri dan tidak lagi membebani orang lain. Saya banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Pak Hilman, karena sudah menaikkan derajat hidup kami. Kalau masalah pekerjaan, Bapak tak perlu memikirkan saya. Tadi pagi pemilik kontrakan sudah menawarkan pekerjaan baru buat saya."
"Oh, begitu, ya. Sebenarnya, Bapak tak perlu merasa Bapak dan keluarga sudah membebani saya. Itu sudah kewajiban saya memberi upah pada Bapak atas kerja kerasnya."
"Iya, Pak. Kami tahu. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih," ucap Pak Risman.
"Kalau begitu, saya nggak akan memaksa Bapak untuk kembali ke rumah kami. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya jika perlakuan keluarga kami tidak menyenangkan."
"Nggak apa-apa, Pak. Kami sudah memaafkannya, kok," ucap Pak Risman disertai senyum simpul.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, ya. Kapan-kapan main ke sana," pamit Hilman sembari berdiri.
"Iya, Pak. Insya Allah kalau ada waktu, kami akan menyempatkan untuk mainke sana."
Hilman beranjak dari kamar kontrakan Pak Risman. Untuk menghormati tamunya, Pak Risman mengantar mantan majikannya sampai ke gerbang. Sukma dan Atikah berlari menghampiri Hilman yang sedang berjalan menuju mobilnya.
"Om Hilman! Om Hilman! Tunggu!" seru Sukma sembari berlari.
Mendengar teriakan gadis kecil yang telah menolong istrinya, Hilman berhenti sejenak. Ia akan sangat merindukan kedua putri Pak Risman yang lucu saat pulang nanti. Untuk mengenang kedua putri Pak Risman, pengusaha itu berdiri sejenak sampai anak-anak itu datang.
Sukma segera meraih tangan Hilman dan menciumnya, begitu juga dengan Atikah. Hilman mengusap kepala keduanya sambil tersenyum simpul.
"Om Hilman, Om nanti bakal main ke sini lagi, kan?" tanya Sukma dengan mata berbinar-binar.
"Insya Allah, Dek. Nanti kalau Om ada waktu, Om main lagi ke sini," jawab Hilman.
"Oya, Om. Kalau mampir ke sini, jangan lupa ajak A Albi juga, ya. Udah lama banget aku nggak main sama A Albi gara-gara dimarahin terus sama Tante Farah," ucap Atikah.
"Tante Farah suka marahin kamu kalau main sama Albi, gitu?" tanya Hilman heran.
"Iya, Om. Makanya, lain kali ajak A Albi ke sini juga, ya."
Hilman mengangguk, lalu berpamitan pada mereka dan memberi kedua putri Pak Risman uang, masing-masing mendapatkan lima puluh ribu rupiah. Ia pun memasuki mobilnya, lalu melajukannya menuju arah Bandung. Hati kecilnya masih merasa berat melepaskan keluarga Pak Risman.
__ADS_1